Pages

Showing posts with label Purchasing. Show all posts
Showing posts with label Purchasing. Show all posts

Thursday, June 12, 2025

Bullwhip Effect

Getaran Kecil yang Mengguncang Rantai Pasok

Dalam dunia manajemen rantai pasok (supply chain management), salah satu fenomena paling merugikan namun sering terjadi adalah bullwhip effect. Istilah ini menggambarkan bagaimana fluktuasi kecil dalam permintaan konsumen di ujung rantai bisa menyebabkan perubahan yang jauh lebih besar di seluruh sistem distribusi—ibarat cambuk yang hanya disentak sedikit di ujungnya, namun menghasilkan gelombang besar ke arah pegangan.

Apa Itu Bullwhip Effect?

Bullwhip effect adalah kondisi di mana variasi permintaan menjadi semakin besar ketika bergerak naik ke arah hulu rantai pasok, dari pengecer ke distributor, produsen, hingga pemasok bahan baku. Fluktuasi kecil di tingkat konsumen diperparah oleh keputusan masing-masing pihak dalam rantai, terutama saat memesan persediaan.

Misalnya, jika konsumen tiba-tiba membeli sedikit lebih banyak dari biasanya, pengecer akan menambah pesanan mereka secara proporsional—kadang berlebih karena ingin berjaga-jaga. Distributor melihat kenaikan pesanan dari pengecer dan menyimpulkan bahwa permintaan sedang naik tajam, lalu memesan lebih banyak ke produsen. Begitu seterusnya, menciptakan efek berantai yang berlebihan.

Penyebab Bullwhip Effect

Beberapa faktor utama penyebab bullwhip effect antara lain:

  • Kurangnya visibilitas informasi permintaan antar level rantai pasok.

  • Order batching, yaitu praktik memesan dalam jumlah besar sekaligus untuk menghemat biaya pengiriman.

  • Fluktuasi harga/promosi, yang mendorong pembelian dalam jumlah besar secara tidak teratur.

  • Lead time panjang, yang mendorong spekulasi dalam jumlah pemesanan.

  • Perilaku manusia, seperti overreacting terhadap data historis yang terbatas.

Dampak Bullwhip Effect

Dampak negatif dari bullwhip effect sangat besar bagi perusahaan, antara lain:

  • Overstocking atau penumpukan stok yang tidak diperlukan.

  • Stockout (kehabisan barang) karena ketidaktepatan dalam memperkirakan kebutuhan riil.

  • Inefisien biaya produksi dan distribusi, karena perubahan mendadak dalam kapasitas dan jadwal.

  • Penurunan layanan pelanggan, akibat keterlambatan atau ketidaksesuaian pengiriman.

Cara Mengurangi Bullwhip Effect

Untuk mengendalikan bullwhip effect, perusahaan dapat menerapkan beberapa strategi:

  • Berbagi informasi permintaan aktual secara real-time antar anggota rantai pasok.

  • Koordinasi dan kolaborasi dalam perencanaan, seperti dalam sistem VMI (Vendor Managed Inventory).

  • Mengurangi waktu tunggu (lead time) dalam pengiriman dan produksi.

  • Menghindari fluktuasi harga yang ekstrem agar permintaan lebih stabil.

  • Penerapan sistem digital dan forecasting berbasis data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat.


Bullwhip effect adalah tantangan klasik dalam rantai pasok, namun pemahamannya sangat penting dalam menciptakan sistem distribusi yang adaptif dan efisien. Di era supply chain modern yang semakin terintegrasi secara digital, kolaborasi dan transparansi menjadi kunci untuk meredam efek cambuk ini.

Monday, February 24, 2025

Perbedaan antara Procurement, Sourcing, dan Purchasing dalam Rantai Pasok

Dalam dunia bisnis dan manajemen rantai pasok, tiga istilah yang sering digunakan secara bergantian tetapi memiliki makna yang berbeda adalah Procurement, Sourcing, dan Purchasing. Ketiga konsep ini memiliki peran penting dalam memastikan perusahaan mendapatkan bahan baku, barang, atau jasa yang dibutuhkan dengan cara yang paling efisien dan hemat biaya. Namun, meskipun saling berkaitan, ketiganya memiliki cakupan yang berbeda dalam proses pengadaan.


1. Procurement: Proses Pengadaan Secara Keseluruhan

Procurement adalah istilah yang paling luas dan mencakup seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pengadaan barang atau jasa dalam suatu organisasi. Proses ini meliputi perencanaan strategis, pemilihan pemasok, negosiasi kontrak, manajemen risiko, dan pemantauan kinerja pemasok. Procurement tidak hanya fokus pada pembelian barang tetapi juga bagaimana suatu perusahaan dapat mendapatkan nilai terbaik dari sumber daya yang mereka beli.

Elemen Utama dalam Procurement

  1. Identifikasi Kebutuhan: Menentukan barang atau jasa yang diperlukan oleh perusahaan untuk mendukung operasional bisnis.
  2. Analisis Pasar dan Risiko: Melakukan riset terhadap pasar untuk menemukan pemasok yang paling sesuai serta menilai risiko yang mungkin muncul dalam pengadaan.
  3. Pemilihan dan Negosiasi Pemasok: Mengidentifikasi pemasok potensial, melakukan evaluasi, serta negosiasi harga dan syarat kontrak.
  4. Pembelian dan Administrasi Kontrak: Membuat pesanan pembelian (Purchase Order/PO), menandatangani kontrak, dan memastikan kesepakatan diikuti oleh pemasok.
  5. Manajemen Hubungan Pemasok: Mengawasi kinerja pemasok, mengembangkan hubungan jangka panjang, serta meningkatkan efektivitas pengadaan.
  6. Manajemen Risiko dan Kepatuhan: Memastikan bahwa proses pengadaan mematuhi regulasi, kebijakan internal, serta standar industri.
  7. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan: Melakukan analisis terhadap kinerja pengadaan untuk mencari peluang peningkatan efisiensi dan efektivitas.

Procurement dalam Perspektif Strategis

Procurement bersifat strategis karena tidak hanya berfokus pada mendapatkan barang atau jasa dengan harga terbaik tetapi juga bagaimana keputusan pengadaan dapat mempengaruhi efisiensi, keberlanjutan, dan keunggulan kompetitif perusahaan dalam jangka panjang.

Contoh Procurement dalam Bisnis:

  • Sebuah perusahaan manufaktur membutuhkan bahan baku baja untuk produksi. Tim procurement akan melakukan analisis pasar, mengevaluasi pemasok potensial, bernegosiasi kontrak, dan memastikan bahwa bahan baku yang dibeli memiliki kualitas terbaik dengan harga yang kompetitif.

2. Sourcing: Menemukan dan Memilih Pemasok

Sourcing adalah bagian dari procurement yang berfokus pada identifikasi, evaluasi, dan seleksi pemasok yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Tujuan utama sourcing adalah mendapatkan pemasok yang dapat memberikan kualitas terbaik, harga yang kompetitif, dan layanan yang andal.

Elemen Utama dalam Sourcing

  1. Riset Pasar: Meneliti pemasok yang tersedia di pasar dan menganalisis kompetensi mereka.
  2. Evaluasi Pemasok: Menilai kredibilitas pemasok berdasarkan rekam jejak, kapasitas produksi, kepatuhan terhadap standar industri, dan faktor lainnya.
  3. Negosiasi Kontrak: Menyusun kesepakatan dengan pemasok, termasuk harga, syarat pembayaran, jadwal pengiriman, dan persyaratan kualitas.
  4. Manajemen Hubungan dengan Pemasok: Membangun kemitraan jangka panjang dengan pemasok untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok.

Sourcing dalam Perspektif Strategis

Sourcing dapat bersifat strategis atau taktis. Strategic sourcing melibatkan perencanaan jangka panjang untuk mendapatkan pemasok yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan, sementara tactical sourcing lebih berfokus pada pembelian jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Contoh Sourcing dalam Bisnis:

  • Sebuah perusahaan teknologi ingin mendapatkan komponen elektronik untuk produknya. Tim sourcing akan mencari pemasok di berbagai negara, mengevaluasi kualitas produk mereka, menegosiasikan harga, serta menentukan apakah mereka dapat memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

3. Purchasing: Proses Pembelian Secara Langsung

Purchasing adalah aspek paling operasional dalam procurement yang berfokus pada eksekusi transaksi pembelian barang atau jasa dari pemasok. Purchasing memastikan bahwa perusahaan mendapatkan produk yang telah disepakati dalam kontrak dengan pemasok dan bahwa barang tersebut dikirim sesuai dengan spesifikasi dan jadwal yang telah ditentukan.

Elemen Utama dalam Purchasing

  1. Pembuatan Purchase Order (PO): Mengeluarkan dokumen resmi untuk memesan barang atau jasa dari pemasok.
  2. Verifikasi Harga dan Syarat Pembayaran: Memastikan harga dan syarat pembayaran sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat dalam tahap sourcing.
  3. Penerimaan Barang atau Jasa: Menerima barang yang telah dipesan dan memeriksa apakah sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.
  4. Proses Pembayaran: Melakukan pembayaran kepada pemasok sesuai dengan faktur yang diberikan.

Purchasing dalam Perspektif Operasional

Purchasing lebih berorientasi pada proses transaksi dan administrasi pembelian. Aktivitas ini lebih banyak berkaitan dengan kegiatan harian yang memastikan barang atau jasa dapat diperoleh sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

Contoh Purchasing dalam Bisnis:

  • Sebuah restoran membutuhkan bahan makanan segar setiap hari. Tim purchasing akan membuat pesanan ke pemasok sayur dan daging, memeriksa kualitas saat barang datang, dan memastikan pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.

Kesimpulan: Perbedaan Antara Procurement, Sourcing, dan Purchasing

AspekProcurementSourcingPurchasing
DefinisiProses pengadaan menyeluruh yang mencakup strategi, hubungan pemasok, dan manajemen risiko.Proses pencarian, evaluasi, dan pemilihan pemasok terbaik.Eksekusi transaksi pembelian barang atau jasa.
Fokus UtamaMenciptakan efisiensi dan keunggulan kompetitif dalam pengadaan.Menemukan pemasok terbaik dengan harga, kualitas, dan layanan yang optimal.Memastikan pembelian dilakukan sesuai kebutuhan dan kontrak.
Jangka WaktuJangka panjang dan strategis.Bisa bersifat strategis atau taktis.Jangka pendek dan lebih operasional.
Aktivitas UtamaPerencanaan, manajemen pemasok, analisis risiko, pemantauan kinerja.Identifikasi pemasok, evaluasi, negosiasi kontrak.Membuat PO, menerima barang, melakukan pembayaran.
Keterlibatan dalam Rantai PasokMengelola seluruh siklus pengadaan.Berfokus pada pemilihan pemasok terbaik.Menangani eksekusi transaksi pembelian.

Dalam praktiknya, Procurement mencakup Sourcing dan Purchasing, dengan Sourcing berfokus pada pemilihan pemasok dan Purchasing berfokus pada eksekusi pembelian. Ketiganya bekerja secara sinergis untuk memastikan perusahaan mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan dengan cara yang paling efisien, hemat biaya, dan sesuai standar kualitas yang diinginkan.

Wednesday, December 25, 2024

Perbedaan dan Hubungan Antara Supply Chain Management, Procurement, dan Purchasing

Supply Chain Management (SCM), procurement, dan purchasing adalah elemen penting dalam alur pengelolaan sumber daya, tetapi memiliki fungsi dan fokus yang berbeda. Berikut penjelasannya:

1. Supply Chain Management (SCM)

  • Definisi: Proses pengelolaan seluruh alur barang dan jasa dari pemasok hingga pelanggan akhir.
  • Fokus: Koordinasi rantai pasok secara keseluruhan, termasuk produksi, distribusi, logistik, dan hubungan dengan pemasok.
  • Tujuan: Efisiensi operasional, pengurangan biaya, dan peningkatan kepuasan pelanggan.

2. Procurement

  • Definisi: Aktivitas strategis untuk memperoleh barang dan jasa yang dibutuhkan organisasi dari pemasok.
  • Fokus: Pemilihan pemasok, negosiasi kontrak, dan memastikan nilai terbaik untuk organisasi.
  • Tujuan: Mengelola pengadaan dengan optimal dan mendukung strategi bisnis.

3. Purchasing

  • Definisi: Proses operasional dalam pengadaan barang atau jasa, seperti pemesanan dan pembayaran.
  • Fokus: Pelaksanaan taktis dari aktivitas procurement, termasuk administrasi dan pemrosesan pesanan.
  • Tujuan: Memastikan barang diterima sesuai waktu, jumlah, dan spesifikasi.

Hubungan Ketiga Elemen

  • SCM adalah payung besar yang mencakup seluruh rantai pasok, termasuk procurement dan purchasing.
  • Procurement adalah bagian strategis dari SCM yang bertugas memastikan sumber daya terbaik.
  • Purchasing adalah komponen operasional yang melaksanakan keputusan procurement secara praktis.

Ketiganya saling mendukung untuk memastikan rantai pasok berjalan lancar, efisien, dan memberikan nilai tambah bagi organisasi.

Monday, December 9, 2024

Perbedaan Antara Pengadaan dan Pembelian

Meski sering dianggap serupa, pengadaan (procurement) dan pembelian (purchasing) adalah dua proses yang berbeda dalam manajemen rantai pasok. Memahami perbedaannya penting untuk efisiensi organisasi.


1. Pengertian

  • Pengadaan:
    Proses strategis yang mencakup identifikasi kebutuhan, pencarian pemasok, negosiasi kontrak, hingga manajemen hubungan pemasok. Fokusnya adalah jangka panjang dan nilai bisnis secara keseluruhan.
    Contoh: Menentukan vendor terbaik untuk kontrak tahunan penyedia bahan baku.

  • Pembelian:
    Aktivitas operasional untuk mendapatkan barang atau jasa, termasuk pembuatan pesanan pembelian (PO), pembayaran, dan pengiriman. Fokusnya adalah eksekusi dan pemenuhan kebutuhan secara cepat.
    Contoh: Membeli alat tulis kantor melalui platform e-commerce.


2. Fokus Proses

  • Pengadaan: Berorientasi strategis, mencakup perencanaan, evaluasi, dan hubungan jangka panjang.
  • Pembelian: Berorientasi taktis, mencakup transaksi spesifik untuk memenuhi kebutuhan langsung.

3. Langkah dalam Proses

  • Pengadaan:

    1. Identifikasi kebutuhan.
    2. Penelitian pasar.
    3. Pemilihan dan negosiasi pemasok.
    4. Pengelolaan kontrak dan kinerja pemasok.
  • Pembelian:

    1. Pembuatan pesanan pembelian.
    2. Pemrosesan pembayaran.
    3. Pengambilan atau pengiriman barang.

4. Orientasi Jangka Waktu

  • Pengadaan: Fokus pada manfaat jangka panjang, termasuk efisiensi biaya dan kualitas pemasok.
  • Pembelian: Berorientasi pada kebutuhan jangka pendek dan pemenuhan barang atau jasa.

5. Contoh Aplikasi

  • Pengadaan: Menentukan strategi untuk membeli bahan baku dari pemasok yang dapat memenuhi kriteria keberlanjutan.
  • Pembelian: Memesan barang untuk mengganti stok yang habis di gudang.

Kesimpulan

Pengadaan adalah proses strategis yang berfokus pada pengelolaan pemasok dan nilai jangka panjang, sedangkan pembelian adalah aktivitas operasional untuk memenuhi kebutuhan secara langsung. Keduanya saling melengkapi dalam memastikan keberlangsungan rantai pasok organisasi.

Monday, November 18, 2024

Pelatihan untuk Purchasing

Kisi-kisi pelatihan untuk Purchasing yang dirancang agar peserta memahami proses, strategi, dan keterampilan penting dalam pengelolaan pembelian dan pengadaan barang/jasa:

1. Pengantar dan Dasar-Dasar Purchasing

  • Materi:
    • Peran Purchasing dalam Supply Chain Management.
    • Hubungan Purchasing dengan fungsi lain (Finance, Production, Logistics).
    • Terminologi penting dalam Purchasing.
  • Tujuan: Memahami dasar-dasar purchasing dan pentingnya dalam mendukung efisiensi perusahaan.

2. Proses Purchasing

  • Materi:
    • Langkah-langkah proses pengadaan (identifikasi kebutuhan, seleksi vendor, negosiasi, kontrak, penerimaan barang).
    • Dokumentasi yang diperlukan dalam purchasing (PO, invoice, dll.).
    • Alur kerja menggunakan sistem ERP (contoh: SAP, Oracle).
  • Tujuan: Peserta mampu memetakan alur kerja purchasing secara efisien.

3. Pemilihan dan Manajemen Vendor

  • Materi:
    • Kriteria seleksi vendor/supplier (harga, kualitas, waktu pengiriman, reputasi).
    • Teknik pengelolaan hubungan vendor (Vendor Relationship Management).
    • Evaluasi kinerja vendor (Key Performance Indicators - KPI).
  • Tujuan: Meningkatkan kemampuan memilih dan mengelola vendor secara strategis.

4. Negosiasi dan Strategi Harga

  • Materi:
    • Teknik-teknik negosiasi efektif.
    • Strategi mendapatkan harga terbaik tanpa mengorbankan kualitas.
    • Studi kasus negosiasi kontrak jangka panjang.
  • Tujuan: Mengembangkan keterampilan negosiasi untuk meningkatkan efisiensi biaya.

5. Pengelolaan Risiko dalam Purchasing

  • Materi:
    • Identifikasi risiko dalam pengadaan (keterlambatan, kualitas rendah, harga fluktuatif).
    • Strategi mitigasi risiko.
    • Contingency planning dalam purchasing.
  • Tujuan: Peserta memahami cara mengantisipasi dan mengatasi risiko pengadaan.

6. Etika dan Kepatuhan dalam Purchasing

  • Materi:
    • Prinsip etika dalam pengadaan (transparansi, integritas, anti-korupsi).
    • Kepatuhan terhadap kebijakan internal perusahaan.
    • Regulasi yang relevan (contoh: UU Anti-Korupsi, aturan tender).
  • Tujuan: Menanamkan etika kerja yang sesuai dengan regulasi.

7. Continuous Improvement dan Teknologi

  • Materi:
    • Penerapan Continuous Improvement (kaizen, lean management) dalam purchasing.
    • Pemanfaatan teknologi (E-Procurement, Data Analytics) untuk meningkatkan kinerja purchasing.
  • Tujuan: Mengoptimalkan proses purchasing melalui inovasi dan teknologi.

8. Studi Kasus dan Simulasi

  • Materi:
    • Analisis kasus nyata dalam purchasing.
    • Simulasi negosiasi dan manajemen vendor.
    • Diskusi kelompok tentang pengadaan strategis.
  • Tujuan: Melatih keterampilan praktis dan pengambilan keputusan.

Durasi Pelatihan

  • Hari 1: Pengantar, Proses Purchasing, dan Pemilihan Vendor.
  • Hari 2: Negosiasi, Pengelolaan Risiko, dan Etika.
  • Hari 3: Teknologi, Studi Kasus, dan Evaluasi.

Target Peserta

  • Staff purchasing baru.
  • Supervisor atau manajer yang ingin mengembangkan keterampilan strategis.
  • Karyawan lintas departemen yang berhubungan dengan pengadaan.

Monday, November 23, 2020

Untung dengan Sales Pipeline

5 Teknik Menghasilkan Untung dengan Sales Pipeline

1. Tentukan Jumlah Kesempatan Yang Kita Inginkan.

Pertama-tama, kita harus menyiapkan jumlah jangkauan pelanggan. Bagaimana kita membuat bisnis kita menarik pelanggan untuk mengenal kita dan menghubungi kita dengan lebih baik?


Perkirakan berapa banyak untuk menutup penjualan

  • Berapa banyak transaksi yang harus saya tutup?
  • Persentase apa
  • Berapa lama

Misalnya, tujuan mengumpulkan pendapatan. Bulan ini adalah 30.000 USD. Ini berarti kesepakatan rata-rata akan jatuh pada $ 2.000 per transaksi. Yang berarti kita harus menutup 15 kesepakatan untuk mencapai tujuan kita.


2. Siapkan Laporan CRM dan Dasbor CRM dengan Metrik dan Pemicu (pemicu).

Persentase dalam tawar-menawar. Jika kita berpikir bahwa negosiasi kita hanya memiliki peluang 50%, kita harus mempersiapkan proses pelatihan dan menunggu.

Tes acak. Ini akan membantu kita mendeteksi lebih banyak kebocoran dalam masalah perusahaan kita.

Tetapkan tanggal pengiriman

Persentase Peluang Kutipan. Kita harus memberikan kutipan kepada pelanggan sebelum pelanggan membuat cacat harga kepada kami.

Pekerjaan tindak lanjut karena sangat diperlukan. Bahwa kita harus melacak pekerjaan di setiap langkah untuk membawa informasi ke dalam sistem CRM perusahaan untuk memantau pekerjaan jika ada risiko.

Tetapkan Waktu. Periode utama negosiasi sekitar 10 hari, tetapi tidak lebih dari 15 hari.

Jumlah waktu rata-rata per langkah. Dengan langkah ini jangan sampai terjadi penutupan penjualan berkepanjangan. Karena hal sebaliknya akan menimbulkan resiko berupa tidak bisa menarik perhatian konsumen.


3. Bentuk Tim Setidaknya Sekali Seminggu Untuk Berdiskusi.

Setelah kita memilih bagaimana kita akan menggunakan prinsip motivasi, maka bentuklah tim bersama. Duduk dan diskusikan untuk melihat apakah ada yang punya masalah?


4. Memprediksi Probabilitasnya

Ketika segala sesuatunya mulai lebih pas, maka mulailah menetapkan tanggal penutupan kesepakatan dengan menggunakan program CRM untuk membantu terus menonton penjualan di mana kita bisa mengatur sistem itu. Saya ingin menampilkannya setiap minggu, bulanan, atau triwulan.


5. Tetapkan Moderator

Pertama-tama, kita tidak boleh lupa untuk mengatur data ini di dashboard, baik itu

Penawaran yang tidak bisa ditutup atau gagal lolos

Transaksi yang sudah lewat waktu atau tidak dekat waktunya


Melewati batas waktu. Jumlah angka di bagian ini harus lebih rendah dari 20, jika lebih dari 20 bisa bersiap untuk mengisi kebocoran. Dari fakta bahwa kita telah mempelajari Sales Pipeline pada saat yang sama, semua orang akan menyadari pentingnya peranti lunak CRM yang penting untuk digunakan sebagai bantuan dalam organisasi kami.

Juga, semua 5 teknik yang kita bawa hari ini dianggap sebagai bentuk langkah-langkah yang dapat kita tarik untuk digunakan. Sejak masa memulai bisnis, proses negosiasi harga dilakukan untuk menutup penjualan. Di mana jika kita mencoba menghadirkan metrik dan menstimulasi pola upsell untuk mengikuti ini, saya dapat meyakinkan Anda bahwa pekerjaan ini, penjualannya akan optimis. Karena selain memberikan prediksi penjualan yang akurat, dapat juga membantu mendorong bisnis kita agar sukses sesuai keinginan.


Sumber: 

https://www.saleshacker.com/sales-pipeline/

Jalur Penjualan Anda

Rencanakan Jalur Penjualan Anda Dalam 3 Langkah.

Langkah 1: Menangkan Apa Yang Bisa Dimenangkan

Sebuah non-stop pipeline. Ini adalah sistem yang berhasil dan akan dianggap menang. Sukses di sini artinya tim penjualan tersebut mampu mencapai tujuan dari arus penjualan yang telah mereka tetapkan. Dalam situasi apa pun. Banyak tahapan rencana penjualan sering kali memiliki ‘kriteria keluar’, atau apa yang diharapkan dari suatu tujuan agar berhasil. Namun terkadang, jenis kriteria ini tidak selalu berhasil.


Buat Keterlibatan Pembeli

Pada dasarnya, setiap tim penjualan harus menetapkan metode untuk meyakinkan pelanggan agar melakukan pembelian. Bagaimanapun, keputusan pelanggan untuk membeli secara langsung bergantung pada pelanggan. Tidak mungkin tim penjualan bisa mengendalikannya. Oleh karena itu harus berusaha mencari cara untuk memodifikasi berbagai bentuk untuk menyesuaikan dengan perilaku kelompok pelanggan yang paling sesuai.

Karena tujuan Sales Pipeline berarti mendefinisikan berbagai jenis aktivitas. Itu akan membantu perusahaan sukses. Ini tidak hanya mencoba mendorongnya ke garis finis, tetapi memiliki sistem Sales Pipeline yang baik. Ini akan membutuhkan rencana penyesuaian agar sesuai dengan gaya organisasi Anda.


Dan hadirnya Buyer Verifier akan membantu untuk melihat arah sasarannya.


Pembeli Verifikator

Ini adalah tindakan atau peluang yang harus diambil sekelompok pelanggan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh tim penjual. Ini adalah tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh pelanggan.

Setelah tujuan ini dibuat dan 1 hingga 2 Pembeli Verifier dapat mencapai tujuan yang mereka tetapkan. Perumusan rencana lain akan lebih mudah bagi tim penjualan.


Tetapkan Tujuan

Tujuan dari Sales Pipeline adalah untuk membuat rencana yang akan memungkinkan tim penjualan untuk memperluas prospek perusahaan.

Dan berikut adalah lima tips yang akan membantu Anda membuat perencanaan itu lebih efisien.


1. Transaksi yang Macet

Sangat penting untuk menetapkan lama waktu untuk setiap transaksi. Jika tim memiliki waktu tetap untuk menyelesaikan setiap tugas, akan membantu kasus ini tidak diabaikan dan akhirnya ditinggalkan.


2. Promo yang Harus Dimenangkan

Tugas ini adalah untuk menentukan peluang demi meningkatkan strategi atau untuk menentukan tujuan akhir secara keseluruhan. Sehingga karyawan dapat mencapai tujuannya


3. Transaksi Tidak Selaras

Beralih ke sistem CRM untuk mencocokkan pemverifikasi pembeli dengan rencana penjualan saat kita memiliki tabel perbandingan yang jelas. Akan lebih mudah untuk memodifikasi model penjualan.


4. Transaksi Outlier

Untuk tim penjual yang menangani kasus yang mungkin lebih besar dari kasus normal. Penting untuk diingat untuk memeriksa rencana dan aktivitas penjualan. Lebih hati-hatilah karena detail kecil bisa diubah.


5. Transaksi yang Didorong

Cobalah untuk mendefinisikan struktur dan garis waktu dengan jelas dalam proses penjualan. Saat penjual memiliki rencana waktu yang baik, maka akan lebih akurat untuk menunjukkan tanggal penutupan kasus.


Langkah 2: Capai Keseimbangan

Banyak perusahaan punya ‘Rasio keuangan’ yang dimaksudkan untuk mengatur saluran bagi karyawan penjualan untuk mencapai tujuan mereka. Pemimpin yang hebat membantu merumuskan rencana kerja sesuai dengan sifat dan kemampuan masing-masing penjual.

Perhitungan indikator ini harus dilakukan secara rutin, setiap bulan, setiap triwulan, atau setiap tahun anggaran. Hal ini dapat membantu untuk lebih mengidentifikasi perubahan atau perbaikan apa yang diperlukan untuk setiap karyawan.


Langkah 3: Menetapkan Tujuan Pelatih

Menargetkan pekerja penjualan di pipeline yang dihasilkan harus memiliki tujuan yang jelas. Sehingga setiap karyawan tahu apa lagi yang harus dilakukan atau melakukan sesuatu yang berbeda.

Bos yang baik harus memiliki tujuan yang jelas. Untuk membuat berbagai perencanaan penjualan ini didasarkan pada faktor Buyer Verifiers, sederhana, ini adalah percakapan coaching.

Perbedaan antara percakapan sederhana dan coaching talk adalah: Komitmen dan keseriusan dalam konten. Jadi cobalah berbicara dengan karyawan Anda bahwa mereka merasa ini penting untuk dicapai semua orang.

Itu dia, percakapan sederhana. Akan lebih berguna dan itu dapat membantu mereka mengembangkan diri untuk memiliki potensi yang lebih baik daripada sekadar karyawan yang bekerja keras.


Sistem Sales Pipeline Yang Harus Dihindari Oleh Tim Penjual

Saat bertemu tim penjualan, sistem Pipeline sering kali lebih disukai untuk digunakan dalam rapat. Namun terkadang alih-alih mendapatkan kesimpulan yang bagus, kadang kesimpulan yang dihasilkan tidak benar-benar tepat pada intinya, yang mana tindakan ini akan menyebabkan lebih banyak kesalahan. Marilah kita lihat beberapa hal yang harus dihindari pada sistem Sales Pipeline.


# 1 Deraan Forecast

Terkadang mengajukan pertanyaan, “Jadi bagaimana menurut Anda?”, pengawas tersebut membuat pekerja penjualan merasa terdorong untuk menemukan jawaban yang tepat dan diinginkan kepada atasan. Saat bos mulai menanyakan pertanyaan seperti ini alih-alih berfokus pada metode yang sebenarnya, jawabannya sering dibuat dengan menebak daripada merencanakan dengan benar. Tekanan semacam ini tidak memberikan jawaban yang sebenarnya. Tetapi perencanaan adalah jawabannya.


# 2 Penopang, Bukan Pelatih

Proses pertemuan jalur penjual harus menjadi kesempatan unik bagi supervisor untuk memperkenalkan pedoman kepada karyawan mereka. Tetapi terkadang saran itu mungkin terlalu berisi banyak kontrol atau perintah. Sebaliknya karyawan berkembang menjadi sebaliknya. Jadi cobalah untuk tidak salah menafsirkan coaching.


# 3 "Percayalah"

Sering kali dalam rapat Sales Pipeline, karyawan penjualan cenderung melaporkan informasi. Diberikan kepada bos dengan akhir kata “Anda bisa mempercayainya,” yang bisa diterjemahkan dengan banyak cara. Namun secara umum seringkali kata yang digunakan penjual untuk membuat bos mengabaikan masalah penguji dan berdoa untuk lebih banyak keberuntungan.

Saat waktunya meninjau Pipeline, pastikan untuk mempertimbangkan masalah verifikasi, perencanaan, dan pembinaan untuk setiap karyawan. Ikuti saja 3 langkah utama yang telah kita sebutkan. Itu saja, tenaga penjual Anda pasti akan terkesan. 


Sumber :

https://www.saleshacker.com/sales-pipeline-reviews/

Pentingnya Clean Pipeline

Karena pekerjaan di tim penjualan, kita sudah mengetahuinya, bahwa setiap bulan kita perlu memiliki pelacakan penjualan/sales tracking. Dan menetapkan target penjualan untuk tim di mana kita tidak pernah memperhatikan istilah Sales Pipeline sebelumnya akan menyebabkan terjadinya pekerjaan sistematis. Kondisi ini akan membuang-buang waktu bekerja dengan berantakan

Tetapi jika kita mencoba untuk duduk dan berbicara satu sama lain di tim baru dengan menggunakan prinsip Sales Pipeline untuk membantu memprediksi penjualan tim penjualan kita di masa depan, maka kondisi ini akan menampilkan informasi yang membantu kita memfilter semua peluang penjualan. Memungkinkan kita menerapkan semua pedoman penjualan seiring dengan bisa melihat arah keseluruhan di masa depan, juga berapa banyak lagi pelanggan yang kita miliki yang harus menyelesaikan transaksi untuk memenuhi target kita.


Alat Untuk Membersihkan Sales Pipeline

Prinsip pipeline yang bersih, kita mungkin harus menggunakan bantuan seperti Insight Sales Process untuk membantu memperkirakan penjualan setiap bulan. Untuk membawa ringkasan dari ikhtisar yang muncul demi membantu meningkatkan peluang penutupan penjualan setiap bulan untuk memenuhi target.

Kita kemudian menggunakan alat Insight Sales Panel untuk mendapatkan gambaran umum tentang penjualan yang telah kita tutup. Untuk membantu kita menentukan peringkat itu yang mana yang tertutup/sudah berakhir, dan apakah masih ada lagi? Itu masih perlu menjadi fokus khusus. Ini juga akan menghemat waktu dan juga mengarah pada pekerjaan yang lebih efisien.

Tidak ada perusahaan yang menginginkan karyawannya bekerja dalam bentuk dan tanpa tujuan. Terutama pekerjaan tim penjualan. Jika kita tidak memiliki bantuan yang baik sebanyak program yang kita sajikan untuk membantunya, ini akan menyebabkan pekerjaan tim penjualan kehilangan fokus dan tidak mampu mencapai target penjualan. Sehingga Clean Pipeline pun menjadi bak pahlawan. Clean Pipeline akan membantu mendorong semua orang di tim untuk bekerja dengan cara yang sama. Hasilnya, secara efektif dapat meningkatkan penjualan dan menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan dan permanen bagi perusahaan.


Sumber: 

http://www.raybec.com/blog/cleaning-your-sales-pipeline-for-sales-effectiveness

Sumber gambar :

https://www.quora.com/What-are-the-steps-in-a-sales-pipeline

Sales Pipeline

Apa Itu Sales Pipeline? Panduan Untuk Meningkatkan Penjualan

Dalam dunia kerja di divisi sales, sistem ‘Sales Pipeline’ sangatlah penting, terutama jika ada yang bekerja di dalam divisi dan harus menghadapi berbagai masalah yang belum terselesaikan, seperti perencanaan untuk mencapai tujuan penjualan. Keterampilan negosiasi dan merampingkan berbagai model penjualan semakin banyak saya lakukan, namun saya rasakan hasilnya semakin tidak seperti yang diharapkan. Kita ingin semua orang mencoba untuk fokus pada istilah Sale Pipeline. Memiliki pipeline yang baik dan stabil akan membantu kelancaran pekerjaan bos dan karyawan. Bagaimana Anda membuat Sales Pipeline yang baik? Anda pasti tahu bahwa Sale Pipeline-lah yang akan membantu kita mencapai target penjualan. Dan juga menjadi pahlawan yang sangat penting untuk diperhatikan, karena kita tidak bisa hidup tanpanya.


Apa itu Sales Pipeline?

Sales Pipeline adalah sistem perencanaan penjualan atau alat untuk membantu mengelola penjualan sejak awal hingga proses pengonfirmasian proses penyelesaian penjualan. Ini memberi kita gambaran yang jelas tentang keseluruhan proses penjualan. Sehingga karyawan bisa saling mengerti berdasarkan informasi mengenai perilaku pembeli, baik itu preferensi, keputusan, maupun tindakan, jadi terdapat berbagai macam bentuk tindakan. Dengan pipeline yang jelas, perencanaan keuangan mingguan atau bulanan menjadi lebih mudah untuk diprediksi. Ini adalah Platform Intelijen Penjualan yang harus dimiliki setiap perusahaan, dan tidak sulit untuk mengelola Sales Pipeline secara efektif. Karena jika kita memiliki teknik yang bagus, Sales Pipeline akan memungkinkan kita melihat penjualan secara detail. Bisa dalam format mingguan,bulanan atau triwulanan

Tips: Sales Pipeline dan Sales Funnel terdengar serupa. Tetapi akan digunakan dalam kondisi yang berbeda


Apa Yang Seharusnya Menjadi Sales Pipeline Yang Baik?

1. Bahkan Daftar Pelanggan Itu Penting.

Prinsip penjualan, tentu saja, kita akan memiliki daftar lengkap kontak pelanggan. Yang mana masalahnya berapa banyak usaha yang harus kita lakukan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau pelanggan, cobalah ini. Usahakan daftarkan pelanggan hanya yang tingkat tinggi, karena jika kita hanya mendapatkan daftar pelanggan sederhana, kita juga harus buang waktu, kan? Jadi, coba saja. Dengan begini, waktu kita dalam penjualan akan banyak berkurang.

Dan, juga, setiap hari kita harus mengirimi Anda pembaruan. Atau memberi tahu kita tentang berita untuk mengundang pelanggan agar tertarik dengan produk kami lewat LinkedIn dan Twitter. Meski sepertinya banyak orang yang bermain tetapi anggaplah itu real. Itu masih bukan tempat periklanan terbaik, bahkan melalui surel yang menurut saya berhasil, ini belum disebut yang paling keren. Karena beberapa orang hampir tidak perlu menyentuhnya atau yang lain akan memilih untuk membaca hanya jika mereka benar-benar ingin membaca, jadi cara terbaik adalah telepon sekarang. Ini adalah penolong terbaik untuk tim penjualan!


2. Melakukan Panggilan Telepon. Itu Yang Terbaik!

Dan meskipun panggilan telepon adalah cara terbaik, tetapi berbicara juga membutuhkan efisiensi juga. 5 detik pertama kita harus menggunakan nada pembukaan dengan suara yang enak didengar. Dan gunakan nada yang paling ramah, jika tidak, lawan bicara Anda tidak mau diajak bicara, bukan?

Dalam kalimat kita ingin menjual, gunakan nada yang tertinggi dan terlihat sedikit menarik untuk mendapatkan poin perhatian dari pelanggan Dalam kalimat tersebut Anda ingin memberi contoh. Saya fokus berbicara dengan contoh singkat tentang bagaimana kita akan membantu Anda memecahkan beberapa masalah.

Jika pelanggan berbicara tentang masalah tersebut, kita harus punya contoh atau bersimpati dengan pelanggan untuk membahas topik yang ingin kita jual Penutupan pada akhir penjualan, ini adalah tujuan penting meneleponnya di bagian ini, yang membutuhkan kemampuan murni.

Jangan pikirkan ritme, spasi, dan nada. Tidak masalah. Anda harus siap berlatih berbicara dengan baik

 

Sumber: 

https://blog.sellingpower.com/gg/2019/03/how-to-stuff-your-sales-pipeline.html

Sumber gambar :

https://www.intellicrm.com/insights/setting-up-your-sales-pipeline/

Monday, January 6, 2020

Supply Chain Planning

5 Levels of Time Horizon and Complexity Hierarchy

Supply Chain Planning within an organisation exists on many levels, as well as in many functional areas. At a minimum, most organisations formally update their Profit Plans on a yearly basis. However, planning is an ongoing process that happens at different levels and different times dependent on resource availability and this is recognised by the 5 levels of Supply Chain Planning Horizon. Additionally, it is important that all the functional plans tie together to ensure that they mesh and support the company’s overall plan and objectives.

It is important to have a plan of different time frames (time-phased plans) that fit together to support the long-term plan. The complexity also changes with each time-phase. The figure below shows how the 5 different level of Supply Chain Planning Horizon fit together, their review frequency and complexity in organisation from Low to High.

Generally, organisations use a variety of terms to explain the various planning levels. In this blog I will briefly discuss what Profit Plan, Sales Inventory & Operations Planning (SIOP), Master Plan, Material Plan (Mat. Plan) and Factory Plan or Line Scheduling are which make the Supply Chain Planning building block in a typical organisation.


1. Profit Plan- Yearly/Quarterly

At the highest level of Supply Chain Planning, which also extends the furthest in time, is the Profit Plan, which is mostly extended to 12 months and generally reviewed on a quarterly basis. The profit plan serves as a basis for financial planning. With the information developed from the profit plan, you can anticipate the need for increased investment in receivables, inventory, new product introduction, head counts, capital investment or facilities.

The profit plan considers an organisation’s objectives, overall service requirements, and how management intends to achieve its organisation’s vision. These plans are complex and usually include cross functional teams which adds to complexity of the process. This stage of Supply Chain Planning defines projected implications of supply chain activities within the business and their financial implication on revenues, cost and working capital.



2. Sales Inventory & Operations Planning (SIOP) – Monthly

SIOP in itself requires several blogs or even book(s) to cover its basics, as it is one of the core processes in any organisation or should be one! Simplistically speaking, The SIOP process does exactly what it says on the tin – it provides a general overview of company’s Sales, Inventory and Operations Planning method! Its purpose is to aid you in understanding the planning balance between supply and demand.

It represents an organizational improvement process which will…
  1. Balance employee understanding of supply capacity and market demand.
  2. Establish a common language for information sharing among all functional groups

SIOP is a cross-functional Supply Chain Planning process designed to keep demand and supply in balance by:
  1. Monitoring external market demand changes through the Sales department.
  2. Communicating market changes to the internal organization

The SIOP which is 5 Step monthly process (shown below) helps the business and Supply Chain communities proactively plan for changes in demand by Monitoring the External Market.

SIOP as Supply Chain Process:
  • is a forecasting and decision making process,
  • involves every department in the business,
  • gives the visibility and alignment on the middle term demand (2-18 months)

It is a monthly process
  • That provides realistic demand, production, and inventory plans to meet customer requirements.
  • That is implemented by a cross-functional team
  • That is documented and agreed by all parties
  • That provides communication and co-ordination of activities in different department

3. Master Plan or Master Production Schedule (MPS)- Monthly/Weekly

The master level or top-level schedule used to set the production plan in a manufacturing facility on a monthly basis but spread over a number of weeks. APICS considers the term Master Production Schedule (MPS) and Master Schedule to be synonymous and defines them as “The anticipated build schedule for those items assigned to the master scheduler. It represents what the company plans to produce expressed in a specific configurations, quantities and dates.” However, Everdell (1987) defines the master schedule as referring to the “presentation of information that expresses how a master scheduler has decided to satisfy the demand placed on the ‘end item’ by determining production quantities to be completed on specific schedule.”

In theory, Master Production Schedule is the linking pin between the marketing and sales (sales orders, forecasting), manufacturing operations and engineering functions. The MPS function should aim to develop and maintain a manufacturing plan which is satisfactory for all three functions. Moreover, the master schedule is reconciled monthly with the rough cut supply plan resulting from the SIOP Supply planning process.

The Master Production Scheduler (or equivalent process owner) creates and maintains the Master Production Schedule in the ERP system. The MPS is used to drive and direct all manufacturing, purchasing, and manufacturing related engineering activities. To have successful MPS, BOM Accuracy and Inventory Accuracy are key.

BOM Accuracy– The Engineering Manager (or equivalent process role) creates and maintains the engineering BOM’s and facilitates the translation of engineering BOM’s into manufacturing BOM’s. The Manufacturing Manager (or equivalent process role) creates and maintains the manufacturing BOM based on coordination with the Engineering Manager’s engineering BOM’s.

Inventory Accuracy– Demonstrating inventory management abilities by performing cycle counting on a regular basis and an annual physical inventory. There needs to also be a demonstrated ability to identify and correct inventory errors outside of these physical counts on a daily basis.


4. Materials Planning – Weekly/Daily

In most companies there is a material planning process that maintains valid material plans along with a control process that communicates priorities through either MRP, production schedules, supplier schedules, Min/Max planning and / or Kanban for replenishment as an example on daily or weekly basis. Materials planning are daily to weekly activity in most operations to maintain required customer service. Again like SIOP, material planning is a topic of greater depth and breadth in terms of the key concepts. However, here are brief definitions of some key techniques:

Min max planning- An inventory planning technique that uses min and max inventory values for items and maintains on hand balances between these two levels

Kanban planning- An inventory planning technique that determines Kanban size, number of Kanban cards, minimum order quantity, lead times, lot multipliers and safety stock days

Reorder point planning- An inventory planning technique that uses reorder point and reorder quantity values for items and maintains on hand balances required to meet forecasted demand during lead time plus safety stock

MRP- The original MRP dates back to 1960s, when letters stood for materials requirements planning (now called MRP or MRP I). MRP enables a company to calculate how many materials of particular types are required, and at what times they are required (Slack et. al., 2004*). MRP in itself is massive topic and entire chapter can be dedicated to explain this!


5. Factory Plan or Line Scheduling – Daily

The production line scheduling process is owned by Supply Chain/Materials Planning Team. The Supply Chain/Materials team decides how constrained materials will be allocated to meet what customer demand. Operations/Manufacturing is involved in constrained capacity decisions to meet the line schedule (demand) which is presented in shape of work orders which is to be released when MRP run over night daily (if you are using ERP/MRP). If managed by Kanban or Min-Max systems, then planners need to maintain inventory levels to the trigger levels to maintain Min-Max stocks or Kanban quantities.

Planners must ensure line schedules are aligned with MPS or SIOP; also work orders are maintained for aging or volume to assure alignment with SIOP or actual demand, in other words, line scheduling process has to be fully integrated with SIOP. The daily work that is given to lines/cells should be in line with the agreed upon production plan level with production folks. Furthermore, attainment and/or linearity to this plan is tracked and managed.

Lastly, line scheduling processes must be aligned with the On Time Delivery (OTD) Policy, drive sufficient inventory visibility and reduction in premium freight.


Conclusion
As a supply chain professional, you’ll always feel like you have more work to do.

Instead of burning yourself out, look for ways to do supply chain planning more efficiently at different levels, so we have to fire fight less.

The 5 levels of Supply Chain Planning I have mentioned in this blog have always been there in some shape or form. What I have tried to do is drive the focus in the frequency of these planning ‘horizons’ and how they are stacked in the planning ‘hierarchy’, so you can improve your supply chain performance and possibly business as a whole.

If you actually apply some of them, you will be able to get the same results in half the time I did!

If you have any questions about the Supply Chain Planning horizons & complexity or have any experience applying it in your life or business, leave your thoughts in a comment below—I’d love to hear from you


*Slack, N., Chambers, S., and Johnston, R. (2004), Operations Management, Pearson Education Limited, Essex.


Sumber :
http://www.scmdojo.com/supply-chain-planning/

Wednesday, September 11, 2019

Procurement dan Purchasing

Banyak orang yang sering tertukar dalam menggunakan istilah Procurement dan Purchasing. Hal ini terjadi karena memang terdapat kesamaan antara Procurement dan Purchasing.

Namun demikian antara Procurement dan Purchasing tetaplah suatu hal yang berbeda. Oleh karena itu mari kita meluruskan perbedaan diantara keduanya.


A. Procurement

Procurement melibatkan banyak proses seperti perencanaan strategis,  penentuan kebutuhan, sistem persetujuan atas permintaan  suatu kebutuhan, pemilihan vendor, manajemen kontrak, pembelian barang atau jasa, proses penerimaan barang atau jasa dan pencatatan aset.

Procurement berkaitan dengan mengakuisisi (pengadaan) semua barang, jasa dan pekerjaan yang sangat penting untuk sebuah organisasi. Procurement pada dasarnya adalah  keseluruhan (general)  dari suatu proses pembelian itu sendiri.

Karena Procurement merupakan istilah umum yang mencakup beberapa fungsi bisnis inti. Oleh karena itu Procurement   harus dianggap sebagai bagian inti dari strategi perusahaan setiap organisasi.


B. Purchasing

Purchasing adalah salah satu bagian dari Procurement. Purchasing pada umumnya hanya mengacu pada pada pembelian barang dan atau jasa, penerimaan dan pembayaran  saja.


Sumber :
http://eprocurement.co.id/procurement-vs-purchasing/

Thursday, September 5, 2019

5 Ways to improve your Procurement Process

ByMarc Wins
November 18, 2016E-LearningProcurement

Ensuring efficiency in your procurement process has a positive chain reaction within your entire organization. The objectives of a world-class procurement organization is far beyond the traditional belief that procurement’s primary role is to obtain goods and services in response to internal needs. In fact, a successful procurement process aims to optimize the whole process to create significant business value.


5 Ways to improve your Procurement Process

According to a survey by Wax’s Digital new Procurement Innovation Pathway report , procurement is at the gist of many businesses, as a follower rather than a leader. Based on the survey, out of the 100 senior procurement professionals, 69% considered themselves pivotal to business innovation while 80% expect to be so in the future. While 76% said that they are involved in a range of business innovation, only 27% are leading those innovations. The research found that the emphasis is mainly about collaborating which prevents procurement from taking a position of leadership in innovation.

There are various ways to improve the procurement process; some are minor changes that focus on improving part of the process such as creating essential internal documentation. Other major changes can go as far as improving the whole process. Here are some examples of ways to improve the procurement process which adds value to an organization:

Incorporating a contract management system
Technology creates wonders! So why not make the most of it as it can help you save lots of time and be more efficient. One way of using technology to improve the procurement process is by incorporating a contract management system. Let’s admit it: creating contracts is time consuming and businesses often work with hundreds of vendors every year. Using a contract management system will alleviate the whole task of creating new contracts every time you onboard a new supplier. It will help you understand which contract can be reused from one supplier to the next. This will allow you to create standard contract templates which will require only minor updates when they are used.

Increasing employee capability through training and development
Training and development remains one of the key factors that lead to a successful business. A three-year researched project commissioned by Middlesex University’s institute for work based learning  found that from a 4300 workers sample, 74% felt that they were not achieving their full potential at work due to lack of development opportunities. The result of this research highlights the importance of training and development to ensure successful business continuity. It benefits not only the employees’ personal evolution but also impacts on the company’s productivity and profitability as a whole. It reinforces the goodwill of the business, allows it to maintain the competitive edge and leads to higher customer satisfaction, lower costs and faster growth. The emergence of innovative training solutions is increasingly being adopted by leading procurement organizations. For instance: high-impact eLearning solutions combined with simulations where employees can apply what they are learning in their jobs. As a form of effective communication, training can lead to an increase in productivity and allow employees to make the best decisions for the company’s progress.

Maintain good supplier relationships
A procurement professional needs to be surrounded by a group of happy and qualified suppliers. Of course, a bid request can be put out to new vendors whenever you need a product and service but those bids will take a huge amount of time to finalize. Having to start over again every time you need to issue a bid request involves a long process of researching each new supplier, learn about their industry position and identify their negotiation tactics. To prevent this from happening, it is better to maintain a good relationship with a group of suppliers you can trust. Streamlining the procurement in this way will make your job more efficient. Besides, it might also increase your goodwill as a happy supplier might tell others how good you are to work with which might lead to new sourcing avenues. All you need to do is: be fair with the suppliers in your business dealings, ensure that they are paid on time, put out detailed and straightforward RFPs and appreciate their professionalism and skills.

Reduce Expenses
One of the most appreciated qualities of procurement professionals is the ability to reduce costs while procuring the items a company need. The one question which comes to the mind is how? The key is to think carefully before making a purchase. It sounds easy but any procurement professional will understand this point since they might get tempted to create purchase orders for every request that comes at their desk. This is where the trap lies, leading to unnecessary expenses! According to Caps research, for every one dollar you spend on supply management gives you an estimated return of $6.77. This leads us to understand that when you take the time to identify, research, acquire and manage the products and services you company rely on, you are more apt to reduce expenses considerably.

Using analytical and negotiation skills
As a procurement professional, juggling between planning and executing projects, dealing with multiple vendors and negotiating the best deals, it goes without saying that you have some great analytical skills. To make the most of these skills, they should be applied to more than one area in the process. For example, an in-depth understanding of quantitative data is essential to make the best financial decision for your company. A procurement professional needs to walk on fine line as far negotiation is concerned. The struggle is between making the best deal for the company and at the same time makes sure that a good relationship is established with the suppliers. A good way to sharpen your negotiation skills is through advanced simulations and training.

Conclusion:

An effective procurement process will improve an organization’s bottom line and increase efficiency and profitability. This will definitely add significant value to your organization as a whole.  Of course, making changes can seem daunting at first but in the long run, they prove to be beneficial in multiple ways.


Sumber :
https://www.procurement-academy.com/5-ways-improve-procurement-process/

Saturday, January 12, 2013

Purchasing dalam Sistem Logistik

Purchasing merupakan salah satu bagian penting dari sistem logistik.

Dalam prosesnya, sistem logistik bisa kita bagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Inbound logistics
Inbound logistics merupakan aliran masuk yang mencakup kegiatan purchasing/procurement. Jadi, aliran barang dari supplier ke perusahaan tersebut.

Istilah lain untuk inbound logistics adalah material management.

2. Storage
Storage adalah kegiatan penyimpanan untuk sementara waktu, baik penyimpanan dalam bentuk raw material, work-in-process, atau finished goods.

3. Outbound logistics
Outbound logistics merupakan aliran keluar yang mencakup kegiatan pengiriman barang dari suatu level perusahaan atau dari suatu lokasi, Kegiatan outbound logistics misalnya pengiriman dari gudang bahan baku ke bagian produksi, pengiriman produk jadi dari manufaktur ke retailer.

Outbound logistics disebut juga physical distribution.

Jika kita membagi logistik atas aliran (flow) dan penyimpanan (storage), maka aliran tersebut adalah inbound logistics dan outbound logistics. Aliran-aliran ini bisa berupa aliran internal, maupun eksternal perusahaan.

Sumber : milis SCI

Sunday, March 11, 2012

Beda Supplier dengan Vendor


Pengertian supplier & vendor dari APICS Dictionary, 12th ed.

Supplier
1) Provider of goods or services. 2) Seller with whom the buyer does
business, as opposed to vendor, which is a generic term referring to
all sellers in the marketplace.

Vendor
Any seller of an item in the marketplace

Evaluasi Supplier


Vendor Management & Claim di sebuah perusahaan logistic yang menangani masalah evaluasi supplier agar simple dan mudah di cerna banyak orang bisa menerapkan penilaian pada :
  1. Validitas data, baik legal maupun kondisi perusahaan berupa kapasitas dan penunjang produksinya (Registrasi).
  2. Delivery time.
  3. Product Quality per PO/Delivery dan Quantity delivered.
  4. Support service atas claim product bermasalah.
  5. TOP dan Analisa harga.
  6. Customer service support, pelayanan/komunikasi mulai dari registrasi sampai adanya supply product.
Dari semua penilaian diatas untuk point 2-6 dibuat skala nilai.


Sumber foto :
https://www.industryweek.com/supplier-relationships/case-supplier-development

Related Posts