Pages

Wednesday, December 29, 2021

Arus Barang di Gudang Berikat Diperketat

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.155/PMK.04/2019 tentang Gudang Berikat, Kemenyerian Keuangan menekankan bahwa pengetatan pengawasan ini dilakukan dalam dua bentuk baik dari sisi perpajakan maupun mekanisme pemasukan barang. 

Edi Suwiknyo - Bisnis.com 10 November 2019  |  15:51 WIB 

Pemerintah memperketat pengawasan barang di gudang berikat untuk menyesuaikan perubahan-perubahan di Pusat Logistik Berikat dan Kawasan Berikat. Dalam Peraturan Menteri Keuanga (PMK) No.155/PMK.04/2019 tentang Gudang Berikat, Kementerian Keuangan menekankan bahwa pengetatan pengawasan ini dilakukan dalam dua bentuk baik dari sisi perpajakan maupun mekanisme pemasukan barang. 

https://jdih.kemenkeu.go.id/fullText/2019/155~PMK.04~2019.pdf

Dari sisi perpajakan, melalui beleid ini pihak otoritas menjelaskan bahwa barang yang masuk ke gudang berikat harus memenuhi mekanisme misalnya wajib membuat faktur pajak dan harus dibuktikan dengan dokumen pemberitahuan pabean serta menyimpan dan memelihara dengan baik buku dan catatan serta dokumen yang terkait dengan pemasukan barang ke Gudang Berikat. 

“Faktur pajak sebagaimana dimaksud harus diberikan keterangan "PPN tidak dipungut dipungut sesuai dengan Peraturab Pemerintah tempat penimbunan berikat,” tulis beleid yang dikutip Bisnis, Minggu (10/11/2019). 

Sementara itu dari sisi pemasukan barang, otoritas juga menyatakan bahwa setiap barang yang masuk ke gudang berikat juga harus mempehatikan sejumlah ketentuan. 

Pertama, terhadap barang yang dimasukkan ke gudang berikat wajib dilakukan pembongkaran (stripping). Kedua, pembongkaran (stripping) dilakukan segera setelah barang dimasukkan ke Gudang Berikat. Ketiga, jika karena proses bisnis perusahaan sehingga menyebabkan pembongkaran (stripping) tidak dapat dilakukan dengan segera, barang yang dimasukan ke Gudang Berikat dapat dilakukan penundaan pembongkaran (stripping) dengan persetujuan dari Kepala Kantor Pabean. 

Namun demikian, ketentuan tersebut dikecualikan terhadap barang cair, curah, gas atau sejenisnya serta barang lain  berdasarkan persetujuan dari Kepala Kantor Pelayanan Utama atau Kepala Kantor Pabean dengan mempertimbangkan profil risiko perusahaan. 

Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Deni Surjantoro tak menampik jika aturan ini akan memperketat proses pengawasan keluar masuknya barang di gudang berikat. 

“Bisa dikatakan demikian, termasuk menyesuaikan juga dengan perubahan-perubahan yang ada di Pusat Logistik Berikat dan Kawasan Berikat,” kata Deni kepada Bisnis. 

Sementara itu terkait barang-barang yang sudah masuk ke gudang berikat, pemerintah menekankan bahwa barang-barang tersebut tidak boleh dipindahtangankan selama dua tahun, kecuali barang berupa pengemas yang digunakan untuk mengemas barang timbun yang akan dikeluarkan ke perusahaan tujuan distribusi. 

Gudang berikat sendiri merupakan adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor, dapat disertai 1 atau lebih kegiatan berupa pengemasan, pengemasan kembali, penyortiran, penggabungan (kitting), pengepakan, penyetelan, pemotongan, atas barang-barang tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191110/9/1168761/arus-barang-di-gudang-berikat-diperketat.

Prosedur Pengajuan Fasilitas Gudang Berikat

PASAL 6 PER-18/BC/2019 TENTANG TATA LAKSANA GUDANG BERIKAT

PERSYARATAN BANGUNAN DAN TEMPAT UNTUK GUDANG BERIKAT (GB)

  1. Terletak di lokasi yang dapat dilalui oleh sarana pengangkut peti kemas dan/atau sarana pengangkut lainnya;
  2. Mempunyai batas-batas dan luas yang jelas;
  3. Mempunyai tempat untuk pemeriksaan fisik;
  4. Mempunyai tempat untuk penimbunan, pemuatan, pembongkaran, serta pintu pemasukan dan pengeluaran barang;
  5. Mempunyai tata letak dan batas yang jelas untuk melakukan setiap kegiatan; dan
  6. Dalam hal menimbun barang curah, harus dilengkapi dengan alat ukur yang telah ditera oleh instansi yang berwenang, atau surat pernyataan sanggup untuk menyediakan alat ukur yang memadai.


PASAL 10 PER-18/BC/2019 TENTANG TATA LAKSANA GUDANG BERIKAT

SYARAT ADMINISTRATIF

Perusahaan yang bermaksud menjadi Penyelenggara Gudang Berikat harus:

  1. Memiliki Nomor Induk Berusaha;
  2. Memiliki izin usaha perdagangan, izin usaha industri, atau izin lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan gudang atau tempat;
  3. Memiliki hasil konfirmasi status wajib pajak sesuai dengan aplikasi yang menunjukkan valid;
  4. Memiliki bukti kepemilikan atau penguasaan suatu kawasan, tempat, atau bangunan yang mempunyai batas-batas yang jelas berikut peta lokasi/tempat dan rencana tata letak/denah yang akan dijadikan Gudang Berikat; dan
  5. Telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak dan telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak terakhir sesuai dengan kewajibannya.

Permohonan dapat diajukan setelah atau sebelum fisik bangunan berdiri termasuk ruangan dan sarana kerja bagi Petugas Bea dan Cukai.

Dalam hal persyaratan fisik belum dipenuhi, izin Penyelenggara Gudang Berikat dapat diberikan dengan ketentuan perusahaan yang akan menjadi penyelenggara Gudang Berikat wajib memenuhi persyaratan dalam batas waktu tertentu yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Kantor Pelayanan Utama.


PASAL 11 PER-18/BC/2019 TENTANG TATA LAKSANA GUDANG BERIKAT

Perusahaan yang bermaksud menjadi Pengusaha Gudang Berikat atau PDGB harus:

  1. Memiliki Nomor Induk Berusaha;
  2. Memiliki izin usaha perdagangan, izin usaha industri, atau izin usaha lain yang dipersamakan dengan izin usaha industri;
  3. Memiliki hasil konfirmasi status wajib pajak sesuai dengan aplikasi yang menunjukkan valid;
  4. Memiliki bukti kepemilikan atau penguasaan suatu kawasan, tempat, atau bangunan yang mempunyai batas-batas yang jelas berikut peta lokasi/tempat dan rencana tata letak/denah yang akan dijadikan Gudang Berikat; dan
  5. Telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak dan telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak terakhir sesuai dengan kewajibannya;
  6. Mendapat rekomendasi dari Penyelenggara Gudang Berikat dalam hal perusahaan mengajukan permohonan izin PDGB.


PASAL 12 PER-18/BC/2019 TENTANG TATA LAKSANA GUDANG BERIKAT

ALUR PENGAJUAN PERMOHONAN GUDANG BERIKAT

  1. Permohonan disampaikan secara elektronik melalui portal Indonesia National Single Window (INSW) di https://www.insw.go.id/;
  2. Dalam hal permohonan tidak dapat dilakukan secara elektronik, permohonan disampaikan secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah melalui Kepala Kantor Pabean;
  3. Dalam hal permohonan disampaikan secara elektronik, sistem komputer pelayanan memberikan respon kepada kepala Kantor Pabean untuk:
    1. Melakukan pemeriksaan dokumen dan lokasi;
    2. Menerbitkan berita acara pemeriksaan lokasi;
  4. Dalam hal permohonan disampaikan secara tertulis, Kepala Kantor Pabean:
    1. Melakukan pemeriksaan dokumen dan lokasi;
    2. Menerbitkan berita acara pemeriksaan dokumen dan lokasi;
  5. Pemeriksaan dokumen dan lokasi meliputi:
    1. Validasi Nomor Induk Berusaha, izin usaha, dan bukti penguasaan lokasi;
    2. Validasi konfirmasi status wajib pajak;
    3. Validasi pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak terakhir;
    4. Pemeriksaan terhadap pemenuhan kriteria, seperti:
      1. Pendayagunaan teknologi informasi untuk pengelolaan pemasukan dan pengeluaran barang (IT Inventory) dan closed circuit television (CCTV);
      2. Terletak di lokasi yang dapat dilalui oleh sarana pengangkut peti kemas dan/atau sarana pengangkut lainnya di air;
      3. Batas-batas lokasi yang jelas;
      4. Tempat untuk pemeriksaan fisik;
      5. Tempat untuk penimbunan, pemuatan, pembongkaran serta pintu masuk dan pengeluaran barang;
      6. Alat ukur yang memadai atau yang telah ditera oleh instansi yang berwenang, dalam hal menimbun barang curah; dan
      7. Rekomendasi dari Penyelenggara Gudang Berikat dalam hal izin PDGB; dan
  6. Melakukan pemeriksaan terhadap:
    1. Kontrak kerja sama antara Pengusaha Gudang Berikat atau PDGB dengan perusahaan tujuan distribusi untuk perusahaan yang mendistribusikan barang ke manajemen yang berbeda; dan
    2. Keterkaitan antara jenis barang yang ditimbun oleh Pengusaha Gudang Berikat atau PDGB dengan izin kawasan berikat, izin toko bebas bea, izin usaha industri, atau izin usaha yang lain yang dipersamakan dengan izin usaha industri dari perusahaan tujuan distribusi.
  7. Melakukan pemeriksaan lainnya terkait pemenuhan kriteria, yang dipandang perlu berdasarkan prinsip manajemen risiko, seperti:
    1. Sistem Pengendalian Internal (SPI) perusahaan;
    2. Analisa dampak ekonomi yang dihasilkan dari pemberian izin Gudang Berikat; dan
    3. Pemenuhan kewajiban sebagai Gudang Berikat.
  8. Pemeriksaan dokumen, lokasi, dan penerbitan berita acara pemeriksaan lokasi dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak tanggal kesiapan pemeriksaan lokasi sesuai pernyataan yang disampaikan dalam permohonan;
  9. Tata cara penyampaian permohonan dilakukan sesuai dengan Lampiran huruf B PER-18/BC/2019;
  10. Berita Acara Pemeriksaan Dokumen dan Lokasi sesuai contoh format Lampiran huruf A PER-18/BC/2019.


PASAL 13 PER-18/BC/2019 TENTANG TATA LAKSANA GUDANG BERIKAT

PEMAPARAN PROSES BISNIS

  1. Pihak yang akan menjadi penyelenggara Gudang Berikat, Pengusaha Gudang Berikat, atau PDGB harus melakukan pemaparan proses bisnis kepada Kepala Kantor Wilayah;
  2. Pemaparan dilakukan oleh wakil anggota direksi perusahaan;
  3. Pemaparan dilakukan paling cepat pada hari kerja berikutnya atau paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal penerbitan berita acara pemeriksaan dokumen dan lokasi;
  4. Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri memberikan:
    1. Persetujuan dengan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai izin Penyelenggara Gudang Berikat, izin Pengusaha Gudang Berikat, atau izin PDGB; atau
    2. Penolakan dengan menerbitkan surat penolakan yang disertai dengan alasan penolakan
  5. Persetujuan atau penolakan diberikan paling lama 1 (satu) jam setelah pemaparan selesai dilakukan.


Sumber :

https://kwbcsumut.beacukai.go.id/prosedur-pengajuan-fasilitas-gudang-berikat

Wednesday, December 8, 2021

Apa itu Gudang Berikat?

Selain Kawasan Berikat, salah satu bentuk fasilitas dari Kementerian Keuangan kepada perusahaan yang diatur dan dijalankan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah Gudang Berikat. 

Gudang berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan berupa pengemasan/pengemasan kembali, penyortiran, penggabungan (kitting), pengepakan, penyetelan, pemotongan, atas barang-barang tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali

Tempat Penimbunan Berikat itu sendiri adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun, mengolah, memamerkan dan/atau menyediakan barang untuk dijual dengan mendapatkan penangguhan Bea Masuk.

Selain mendapatkan penangguhan bea masuk, kepada Gudang Berikat juga diberikan fasilitas kemudahan pelayanan perijinan, kemudahan pelayanan kegiatan operasional dan kemudahan kepabeanan dan cukai lainnya. 

Terhadap Gudang Berikat juga dapat dilakukan pemeriksaan pabean dalam rangka pengawasan, namun dilakukan secara selektif berdasarkan manajemen resiko dengan tetap menjamin kelancaran arus barang.

Ada 3 (tiga) jenis Gudang Berikat, yaitu:

  1. Gudang Berikat Pendukung Kegiatan Industri, yaitu Gudang Berikat yang menimbun dan menyediakan barang impor untuk didistribusikan kepada industri di dalam daerah pabean atau Kawasan Berikat. Industri yang dimaksud dapat berupa: manufaktur, pertambangan, alat berat, atau industri jasa perminyakan;
  2. Gudang Berikat Pusat Distribusi Khusus Toko Bebas Bea, yaitu Gudang Berikat yang menimbun dan mendistribusikan barang impor ke Toko Bebas Bea; atau
  3. Gudang Berikat Transit, yaitu Gudang Berikat yang menimbun dan mendistribusikan barang impor ke luar daerah pabean.

Sedangkan subjek Gudang Berikat itu sendiri ada 3 (tiga), antara lain:

  1. Penyelenggara Gudang Berikat, yaitu pihak yang melakukan kegiatan menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan kawasan berikat, izinnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan dan mempunyai masa berlaku ijin selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang;
  2. Pengusaha Gudang Berikat, yaitu pihak yang melakukan kegiatan pengusahaan Gudang Berikat, izinnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan dan mempunyai masa berlaku ijin selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang;
  3. Pengusaha di Gudang Berikat merangkap Penyelenggara di Gudang Berikat (PDGB).


Sumber :

https://bcbogor.beacukai.go.id/layanan/gudang-berikat/

Tempat Penimbunan Berikat

Tempat Penimbunan Berikat adalah bangunan, tempat atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun, mengolah, memamerkan dan/atau menyediakan barang untuk dijual dengan mendapatkan penangguhan Bea Masuk.

Terdapat 6 (enam) jenis Tempat Penimbunan Berikat (TPB) yaitu 

  1. Gudang Berikat (GB), 
  2. Kawasan Berikat (KB), 
  3. Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat (TPPB), 
  4. Toko Beras Bea (TBB), 
  5. Tempat Lelang Berikat (TLB), 
  6. Kawasan Daur Ulang Berikat (KDUB).

Mari kita bahas satu persatu definisi dari 6 jenis TPB diatas

  1. Gudang Berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan berupa pengemasan/pengemasan kembali, penyortiran, penggabungan (kitting), pengepakan, penyetelan, pemotongan, atas barang-barang tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali.
  2. Kawasan Berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean guna diolah atau digabungkan, yang hasilnya terutama untuk diekspor.
  3. Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor dalam jangka waktu tertentu, dengan atau tanpa barang dari dalam Daerah Pabean untuk dipamerkan.
  4. Toko Bebas Bea adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang asal impor dan/atau barang asal Daerah Pabean untuk dijual kepada orang tertentu.
  5. Tempat Lelang Berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor dalam jangka waktu tertentu untuk dijual secara lelang.
  6. Kawasan Daur Ulang Berikat adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor dalam jangka waktu tertentu yang di dalamnya dilakukan kegiatan daur ulang limbah asal impor dan/atau asal Daerah Pabean sehingga menjadi produk yang mempunyai nilai tambah serta nilai ekonomi yang lebih tinggi.


Sumber :

https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/2009/32TAHUN2009PP.htm

https://www.beacukai.go.id/faq/pengertian-tempat-penimbunan-berikat.html

http://repository.stei.ac.id/849/3/BAB%202%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf

Wednesday, November 24, 2021

'Kiamat' Kontainer Makin Gawat

'Kiamat' Kontainer Makin Gawat, Korsel Minta Bantuan ke RI

23 November 2021

Pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid - 19 dinilai lebih cepat dari yang diekspektasi banyak pihak. Sehingga produksi dan perdagangan melonjak signifikan yang membuat ketidakseimbangan pasar, yang berimbas pada kekurangan bahan baku dan kelangkaan kontainer.

Menteri BUMN Erick Thohir bicara mengenai permasalahan rantai pasok global yang menjadi tantangan bagi Indonesia ke depan. Salah satu yang menjadi permasalahan adalah kelangkaan kontainer.

Kelangkaan kontainer terjadi karena tidak ada keseimbangan perdagangan dunia. Jadwal kapal berlayar semakin sedikit yang membuat harga pengiriman kargo atau freight melonjak drastis. Sehingga beberapa negara banyak terkendala pasokan bahan baku.

"Kontainer sangat kekurangan, kemarin saya rapat dengan Dubes Korea Selatan untuk pertama kali Korea Korea kekurangan untuk UREA Industri minta kita ekspor ke sana. Kebijakan perdagangan global disampaikan presiden waktu G20 supply chain ini mempengaruhi, sehingga kita diminta kirim raw material sebanyak-banyaknya," kata Erick dalam webinar Potret Masa Depan Industri Logistik Indonesia di Era Disrupsi, Selasa, (23/11/2021).

Erick mewanti-wanti perlu adanya antisipasi supaya tidak terjadi shock di Indonesia. terlebih ada tekanan global shock dimana harga komoditas sedang tinggi.

Selain itu Erick Thohir juga menyinggung biaya logistik Indonesia yang masih mahal. Dimana Indonesia tercatat 23% dari Gross Domestic Product (GDP), beda dengan Singapura hanya 8%, Malaysia 13%, dan India 13%.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo resah dengan gangguan rantai pasok global. Ini yang menjadi masalah bau yang menghantui dunia usai pandemi Covid - 19.

"Bingungnya negara-negara sekarang ini berkaitan dengan global supply chain dan ketergantungan kita pada satu, dua, tiga negara. Juga kesulitan kontainer, hampir semua ini karena disrupsi yang memang mengacaukan dan kompleksitas tambah, semakin bertambah," tegas Jokowi.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20211123155050-4-293793/kiamat-kontainer-makin-gawat-korsel-minta-bantuan-ke-ri

Tuesday, September 28, 2021

Inventory Management yang Efektif

10 Tips Penting Cara Inventory Management yang Efektif

Inventory management adalah bagian penting yang membuat bisnis anda mendapatkan profit. Tapi, sayangnya banyak bisnis kecil ngga mempraktikkan manajemen yang baik dan efektif terkait dengan barang atau produk yang mereka jual.

Beberapa bisnis punya inventory yang terlalu sedikit. Mereka ngga bisa memenuhi harapan customer dengan memastikan produk mereka selalu tersedia.

Hal ini seringkali membuat customer pergi. Kadang mereka beralih ke bisnis lain, yaitu kompetitor Anda. Dan itu bisa berarti untuk seterusnya. Ya, Anda kehilangan customer Anda.

Di sisi lain, banyak juga bisnis yang melakukan hal sebaliknya. Mereka menimbun barang berlebihan dengan alasan “untuk berjaga-jaga”.

Betul, Anda akan selalu punya barang yang dicari customer Anda. Tapi, cara ini juga punya risiko. Anda akan mengeluarkan uang berlebihan dari bisnis Anda yang terikat dalam bentuk inventory. Tentu saja itu akan berpengaruh pada cash flow bisnis Anda.

Kelebihan inventory ngga cuma mengikat cash flow Anda yang berharga, tapi juga lebih mahal untuk disimpan dan dilacak.

Nah, inventory management yang efektif itu, terletak di antara dua sisi ekstrem ini.

Meskipun butuh lebih banyak pekerjaan dan perencanaan supaya bisa mencapai proses manajemen yang efisien, tapi keuntungan Anda akan tercermin dalam usaha Anda.


Jenis inventory

Sebelum Anda bisa menjalankan inventory management yang efektif, Anda harus paham dulu dengan tepat, apa yang termasuk dalam inventory.

Ini adalah beberapa dari banyak jenis inventory:

  • Bahan mentah, atau bahan yang Anda gunakan untuk memproduksi produk Anda.
  • Produk yang belum selesai (unfinished products), ini adalah produk work-in-process yang belum siap untuk dijual.
  • Produk jadi (finished products), yang biasanya Anda simpan di gudang sampai dijual atau dikirim.
  • Barang dalam perjalanan (in-transit goods), yang ngga lagi berada di gudang dan sedang dalam proses pengangkutan ke tujuan akhir.
  • Cycle inventory, atau produk yang dikirim ke bisnis Anda dari supplier atau produsen, kemudian segera dijual ke customer.
  • Anticipation inventory, atau kelebihan produk yang Anda simpan untuk mengantisipasi lonjakan penjualan.
  • Decoupling inventory, yaitu suku cadang, inventory, atau produk yang Anda sisihkan untuk mengantisipasi perlambatan atau penghentian produksi.
  • Barang MRO, yang merupakan singkatan dari Maintenance (pemeliharaan), Repair (perbaikan), dan Operating supplies,dan mendukung proses produksi.
  • Inventory penyangga (buffer inventory), atau inventory pengaman (safety stock), yang berfungsi sebagai bantalan kalau terjadi masalah yang ngga Anda duga atau membutuhkan lebih banyak inventory.

Daftar di atas bisa membantu untuk mengurutkan inventory Anda. Jadi, Anda tahu item mana saja yang termasuk dalam kategori yang sama. Dan kemudian, Anda bisa mengelolanya.

Misal, Anda akan menangani produk jadi Anda dengan cara yang berbeda dari bahan mentah Anda.


Apa program terbaik untuk inventory management?

Banyak program inventory management software yang tersedia untuk bisnis kecil. Tapi, yang terbaik untuk bisnis Anda tentunya bergantung pada banyak faktor.

Misal, Anda tentu ingin mempertimbangkan budget yang Anda punya, jenis bisnis Anda, dan fitur-fitur tertentu yang Anda cari, seperti aplikasi seluler atau cloud backup.

Terlepas dari software yang akan Anda gunakan, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara mengelola inventory dengan efektif?

Sebelum kita masuk ke bahasan penting ini, saya mau ajak Anda juga untuk bergabung dengan channel telegram scmguide karena ada banyak lagi tips dan artikel seputar inventory management yang saya bagikan di sana. Jadi, pastikan Anda juga bergabung ya.


Tips untuk mengelola inventory

Sekarang, ayo kita lihat 10 tips penting yang bisa Anda gunakan untuk mengelola inventory Anda secara efektif, yang pastinya bisa meningkatkan profitabilitas dan cash flow management Anda.


Buat prioritas pada inventory Anda

Mengelompokkan inventory Anda ke dalam beberapa kategori bisa membantu Anda memahami item mana yang perlu Anda pesan lebih banyak dan lebih sering. Juga, item mana yang penting bagi bisnis Anda, tapi mungkin lebih mahal dan bergerak lebih lambat.

Para ahli biasanya akan menyarankan untuk mengelompokkan inventory Anda ke dalam grup A, B, dan C.

Item dalam grup A adalah item dengan nilai inventory lebih tinggi, yang Anda butuhkan lebih sedikit.

Barang-barang dalam kategori C adalah barang-barang berbiaya rendah dan cepat habis.

Kelompok B berada di antara kategori A dan C. Itu adalah barang-barang yang punya harga sedang dan bergerak lebih lambat daripada barang-barang C, tapi lebih cepat daripada barang-barang A.


Lacak semua informasi produk

Pastikan Anda menyimpan catatan informasi produk untuk item dalam inventory Anda.

Informasi ini harus mencakup SKU, data barcode, supplier, negara asal, dan nomor lot.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk melacak biaya setiap item dari waktu ke waktu. Jadi, Anda tahu faktor-faktor apa yang bisa mengubah biaya, seperti kelangkaan dan musim, misalnya.


Audit inventory Anda

Beberapa bisnis melakukan penghitungan komprehensif inventory setahun sekali.

Yang lain melakukan penghitungan inventory bulanan, mingguan, atau bahkan harian, untuk barang-barang yang bernilai bagi mereka.

Banyak yang melakukan semua hal tersebut.

Terlepas dari seberapa sering Anda melakukannya, pastikan Anda menghitung inventory Anda secara fisik dengan teratur, untuk memastikannya sesuai dengan apa yang Anda pikir Anda miliki.


Menganalisis kinerja supplier

Supplier yang ngga bisa diandalkan bisa menyebabkan masalah pada inventory Anda.

Kalau Anda punya supplier yang biasanya terlambat dalam pengiriman, atau sering kekurangan dari sisi jumlah barang yang dikirim, inilah saatnya untuk Anda mengambil tindakan.

Diskusikan hal itu dengan supplier Anda dan cari tahu apa masalahnya.

Bersiaplah untuk mengganti supplier, atau Anda akan berurusan dengan tingkat stok yang ngga pasti dan kemungkinan kehabisan inventory sebagai akibatnya.


Terapkan aturan inventory 80/20

Sebagai aturan umum, 80% keuntungan Anda berasal dari 20% stok Anda.

Nah, Anda harus memprioritaskan pengelolaan inventory untuk 20% item ini.

Anda harus paham life cycle penjualan lengkap dari barang-barang ini, termasuk berapa banyak yang sudah Anda jual dalam seminggu atau sebulan, dan memantaunya dengan cermat.

Ini adalah barang-barang yang menghasilkan uang paling banyak untuk Anda. Jadi, jangan sampai Anda gagal dalam mengelolanya.


Konsisten dalam cara Anda menerima stok

Anda tentu tahu kalau inventory yang masuk itu harus diproses. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah Anda punya proses standar yang diikuti semua orang? Atau, apakah setiap karyawan Anda yang menerima dan memproses stok masuk melakukannya secara berbeda-beda?

Perbedaan kecil dalam bagaimana stok baru diterima bisa membuat Anda menggaruk-garuk kepala di akhir bulan atau tahun, bingung kenapa jumlah barang Anda ngga sesuai dengan pesanan pembelian (purchase order).

Jadi, pastikan semua staf yang menerima stok melakukannya dengan cara yang sama, semua boks diverifikasi, diterima, dibongkar bersama-sama, dihitung secara akurat, dan diperiksa keakuratannya.


Lacak penjualan

Anda harus tahu setiap hari, barang apa yang Anda jual dan berapa banyak, dan tentu saja memperbarui total inventory Anda.

Tapi di luar itu, Anda harus menganalisis data ini.

Apakah Anda tahu kapan barang-barang tertentu terjual lebih cepat atau malah drop? Apakah itu musiman? Apakah ada hari tertentu dalam seminggu ketika Anda menjual barang-barang tertentu lebih tinggi daripada hari-hari lainnya? Apakah beberapa barang hampir selalu dijual bersamaan?

Paham ngga cuma total penjualan Anda, tapi gambaran yang lebih luas tentang bagaimana barang terjual, penting untuk menjaga inventory Anda tetap terkendali.


Pesan restock sendiri

Beberapa vendor menawarkan untuk melakukan pemesanan ulang inventory untuk Anda.

Sekilas, kelihatannya baik ya? Anda jadi bisa menghemat tenaga staf dan waktu Anda dengan membiarkan orang lain mengelola proses untuk setidaknya beberapa item Anda.

Tapi ingat, prioritas vendor Anda, ngga sama dengan Anda.

Mereka berusaha untuk menjual barang-barang mereka, sedangkan Anda berusaha untuk menyimpan hanya barang-barang yang paling menguntungkan bisnis Anda.

Jadi, luangkan waktu untuk memeriksa inventory dan melakukan pemesanan ulang semua barang Anda sendiri.


Berinvestasi dalam teknologi inventory management

Kalau bisnis Anda cukup kecil, mengelola delapan hal pertama dari daftar ini secara manual, dengan spreadsheet dan buku catatan misalnya, bisa saja dilakukan.

Tapi, seiring tumbuhnya bisnis Anda, Anda malah akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengelola inventory daripada bisnis Anda. Atau, akan ada risiko stok Anda lepas kendali.

Inventory management software yang tepat, membuat semua tugas ini lebih mudah.

Sebelum Anda memilih salah satu solusi software, pastikan Anda paham apa yang Anda butuhkan, kalau solusi tersebut menyediakan Anda analitik yang penting bagi bisnis dan mudah digunakan.


Menggunakan teknologi yang terintegrasi dengan baik

Inventory management software bukan satu-satunya teknologi yang bisa membantu Anda mengelola stok.

Hal-hal seperti mobile scanner dan sistem POS juga bisa membantu Anda tetap di jalur yang tepat.

Saat Anda berinvestasi dalam teknologi, pastikan Anda memprioritaskan sistem yang bisa bekerja sama.

Punya sistem POS yang ngga bisa “berkomunikasi” langsung dengan inventory management software Anda memang bukan akhir dari segalanya. Tapi, Anda mungkin akan memerlukan waktu ekstra untuk mentransfer data dari satu sistem ke sistem lain. Dan itu mudah berakhir dengan penghitungan inventory yang ngga akurat.


Sumber :

https://scmguide.com/10-tips-penting-cara-inventory-management-yang-efektif/

Thursday, September 23, 2021

Logistik Targetkan 70 Persen

Pengusaha angkutan logistik targetkan faktor muat 70 persen

Jumat, 24 September 2021 5:03 WIB

Dokumentasi - Proyek Simpang Susun Teluk Lamong Surabaya dibangun untuk mempermudah akses angkutan logistik ke berbagai daerah yang berasal dari kapal-kapal yang berlabuh di Terminal Teluk Lamong Surabaya. (ANTARA Jatim/ Didik Suhartono)

Surabaya (ANTARA) - Salah satu usaha yang terdampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di masa pandemi virus corona (COVID-19) adalah angkutan logistik.

Faktor muat menurun hingga 40 persen di masa PPKM karena mayoritas supplier menghentikan pengiriman setelah barang-barangnya kurang laku akibat pembatasan jam operasional mal dan toko-toko, selain banyak penyekatan di jalan raya.

Setelah Jawa Timur dinyatakan berstatus zona kuning COVID-19, faktor muat angkutan logistik diyakini bakal kembali tumbuh hingga mencapai 70 persen.


Sumber :

https://jatim.antaranews.com/berita/528225/pengusaha-angkutan-logistik-targetkan-faktor-muat-70-persen

Tuesday, September 14, 2021

Rantai Pasok Caterpillar Terganggu

Kekurangan Tenaga Kerja Ganggu Rantai Pasok Caterpillar 

Perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

15 September 2021  |  11:25 WIB 

Produsen alat berat Caterpillar Inc. menghadapi kesulitan mendapatkan material akibat adanya kekurangan tenaga kerja dari pemasoknya. Hal ini memperparah bisnis industri alat berat yang tengah menghadapi kurangnya pasokan chip global. 

Chief Executive Officer Caterpillar Jim Umpleby mengatakan perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

Masalah yang lebih besar adalah kekurangan tenaga kerja yang dialami oleh para pemasok industri alat berat yang berimbas pada keterlambatan pengiriman material. 

"Ini lebih menjadi masalah bagi sejumlah pemasok kami yang bermasalah dengan tenaga kerja daripada yang kami alami, tetapi memang tenaga kerja sedang ketat, tidak ada keraguan soal itu,” kata Umpleby selama wawancara di Las Vegas, seperti dikutip Bloomberg pada Rabu (15/9/2021). 

Setelah banyaknya pekerja yang kehilangan mata pencaharian pada tahun lalu, sejumlah industri menderita akibat kekurangan tenaga kerja setelah perekonomian kembali aktif. Hal ini menambah kendala yang memperlambat rantai pasok dan memicu kekhawatiran inflasi. 

Sebuah laporan pekan lalu menunjukkan rekor tertinggi pada lowongan pekerjaan baru di AS. 

CEO Union Pacific Corp. mengatakan masalah kekurangan tenaga kerja akan meningkatkan kemacetan kargo pada tahun depan. Kekhawatiran tersebut menimbulkan risiko lebih lanjut dari hambatan rantai pasok setelah Caterpillar mengatakan pada April bahwa kelangkaan di industri semikonduktor dapat mengganggu pengiriman material tahun ini. 

Saat ini Caterpillar tengah membuka lowongan pekerjaan secara global dengan menawarkan gaji yang kompetitif. Ketika ditanya apakah akan menaikkan gaji atau memperbesar tunjangan, Umpleby mengiyakan, tetapi tidak menjelaskan secara spesifik. 

Caterpillar yang berbasis di Deerfield, Illinois akan terus mengimbangi kenaikan biaya bahan baku dengan menaikkan harga peralatannya, kata Umpleby. Menanggapi pertanyaan tentang apakah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dari pemasok domestik, Umpleby mengatakan akan terus mengeksplorasi opsi. Namun, dia menolak berkomitmen untuk mengambil dari produsen yang berbasis di AS.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210915/620/1442533/kekurangan-tenaga-kerja-ganggu-rantai-pasok-caterpillar?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

Sebelum Bersaing di Pasar Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

14 Sep 2021, 17:31 WIB

Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya mendorong pelaku UMKM untuk menjalin Kemitraan dengan pelaku usaha besar. Tujuannya agar UMKM bisa berkontribusi dalam rantai pasok nasional hingga global.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut salah satu upaya yang dilakukan KemenkopUKM, yaitu meminta e-commerce untuk menutup akses impor 13 jenis produk yang sebenarnya bisa diproduksi oleh UMKM.

“Kementerian Koperasi dan UKM terus melakukan upaya perlindungan produk lokal UMKM dalam perdagangan online atau perdagangan melalui sistem elektronik. Belum lama ini kami meminta salah satu e-commerce cross border untuk menutup 13 jenis produk yang dapat diproduksi UMKM,” kata Teten dalam Webinar Nasional Umkm Naik Kelas Melalui Pengawasan Kemitraan, Selasa (14/9/2021).

Selain itu, upaya lainnya KemenkopUKM bersama dengan Kementerian Perdagangan menyiapkan revisi Peraturan Menteri perdagangan Nomor 64 tahun 2020 tentang perubahan atas peraturan menteri perdagangan tentang pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik.

Tak berhenti disitu, KemenkopUKM juga menggandeng Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian untuk melakukan piloting melalui kemitraan dengan 291 UMKM dengan 6 BUMN, yaitu Pertamina, PLN, Kimia Farma, Perhutani, RNI dan Krakatau Steel.

“Kemitraan usaha besar dengan UMKM ini termasuk BUMN ini menjadi strategi kita untuk mendorong UMKM kita bertransformasi dari usaha-usaha kecil-kecil, usaha mandiri menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional atau global dan menjadi rantai pasok BUMN,” ujarnya.

Dengan begitu, Teten berharap para pelaku UMKM bisa bertransformasi ke produk-produk yang berbasis inovasi teknologi, sehingga usahanya tidak melulu di sektor-sektor yang tidak punya daya saing.

“Oleh karena itu Kemitraan menjadi penting. Idealnya kalau usaha tumbuh berkembang maka UMKM juga tertarik terangkat skala usahanya,”’ ujarnya.

Melalui upaya tersebut , Menkop Teten berharap usaha besar tidak bersaing dengan usaha kecil melainkan menjalin kemitraan.

“Karena  itu maka menjadi penting kemitraan dan karena itu salah satu nafas undang-undang cipta kerja adalah mendorong kemitraan yang sehat antara usaha kecil dan besar,” pungkasnya.   


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4658084/sebelum-bersaing-di-pasar-global-umkm-harus-masuk-rantai-pasok-nasional

DHL Supply Chain di Tengah Covid-19

DHL Supply Chain Raup Untung Rp55,81 T di Tengah Covid-19

Selasa, 14/09/2021 

DHL Supply Chain meraup keuntungan sebesar 3,31 miliar euro atau setara Rp55,81 triliun (kurs Rp16.863 per euro) pada kuartal II 2021. Angkanya naik 21,3 persen dari periode yang sama tahun lalu, yakni 2,73 miliar euro atau sekitar Rp46,03 triliun.

CEO DHL Supply Chain Oscar de Bok menjelaskan kinerja perusahaan juga menanjak sepanjang 2020 atau ketika pandemi covid-19 mulai merebak di dunia. Sepanjang tahun lalu, perusahaan membukukan keuntungan sebesar 12,54 miliar euro atau Rp211,46 triliun.

"Pada awalnya banyak pelanggan yang mengurangi aktivitas, tetapi jika membicarakan Deutsche Post DHL Group sepanjang 2020, kami justru melihat ada peningkatan," ungkap Bok dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

Ia menjelaskan DHL Supply Chain adalah perusahaan yang bergerak di bidang logistik untuk rantai pasok. Perusahaan ini bagian dari Deutsche Post DHL Group.

Layanan yang diberikan DHL Supply Chain meliputi pergudangan, transportasi, distribusi, dan manufaktur.

Ia mengatakan aktivitas perusahaan selama pandemi justru meningkat. Hal ini seiring dengan perkembangan e-commerce yang kian pesat.

"Ada percepatan perkembangan terkait e-commerce dan optimalisasi rantai pasok. Oleh karena itu, kami melihat aktivitas kami benar-benar meningkat. Saat ini, kami sangat dekat dengan konsumen," jelas Bok.

Bok memaparkan kenaikan pendapatan ditopang oleh sejumlah sektor. Misalnya saja, industri otomotif dan fesyen yang mulai bangkit.

"Semua sektor sedang bangkit. Industri otomotif telah bangkit meski saat ini menghadapi masalah yang berbeda karena gangguan dalam rantai pasok," terang Bok.

Sementara, industri makanan dan minuman (mamin) selalu berada di puncak tertinggi. Menurutnya, mayoritas sektor mulai bangkit pasca krisis pandemi tahun lalu.

"Di awal krisis, kami mengurangi aktivitas kami di negara-negara yang melakukan lockdown. Namun, ada juga beberapa negara seperti AS yang masih bergerak," jelas Bok.

Berdasarkan catatannya, DHL Supply Chain meraup untung dari bisnisnya di AS sebesar 1,21 miliar euro atau Rp20,48 triliun pada kuartal II 2021. Angkanya naik 16,8 persen dari kuartal II 2020 yang sebesar 1,04 miliar euro atau Rp17,54 triliun.

Lebih lanjut Bok menjelaskan pihaknya akan fokus mengembangkan sistem digital di perusahaan. Pasalnya, ia mengklaim rantai pasokan semakin kompleks saat ini.

"Karena pertumbuhan e-commerce, kompleks mengandalkan rantai pasokan dan itu membutuhkan fleksibilitas," ujar Bok.

Untuk itu, kata Bok, perusahaan terus berinvestasi untuk mengembangkan digitalisasi. Salah satunya dengan membangun smart warehouse di Cikarang.

"Juga dalam robotik, tidak hanya dalam robotik fisik tapi juga robotic process automation (RPA) yang memastikan kami mengoptimalkan proses," jelas Bok.

Dalam warehouse tersebut, kata Bok, karyawan dapat mendapatkan instruksi secara digital, akses ke analisis data, perencanaan, dan akses yang lebih baik ke rantai pasokan pelanggan perusahaan.

"Kami terus melakukan investasi pada tempat-tempat seperti Cikarang dan kami juga menyediakan investasi untuk fasilitas baru, gudang, dan juga transportasi di 27 kota di seluruh Indonesia," tutup Bok.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210914143109-92-694097/dhl-supply-chain-raup-untung-rp5581-t-di-tengah-covid-19

Monday, September 6, 2021

Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s

Forget Finance. Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s Must-Have MBA Degree

The just-in-time inventory systems embraced by many businesses led to empty shelves and costly bottlenecks. That’s put a rare spotlight on supply-chain programs, which are attracting more students.

By Matthew Boyle

September 3, 2021, 3:00 PM GMT+7

Stores with no toilet paper. Colossal cargo ships run aground in the Suez Canal. Factory shutdowns in Vietnam. Ports closed in China. It almost seems that not a day goes by without reports of another supply-chain snafu wrought by the pandemic, which dismantled just-in-time inventory systems that couldn’t cope with massive, simultaneous disruptions of supply and demand.

Companies have struggled to adapt, with some taking unusual steps. Walmart Inc. and Home Depot Inc. are chartering their own private cargo vessels so they don’t get caught short as the holiday season approaches, and logistics experts say disruptions from congested ports won’t end anytime soon. The tumult has forced companies to lavish more attention on their supply-chain professionals, who typically toil in obscurity until disaster strikes. It’s also prompted business schools to refresh their supply-chain curricula to make sure the next generation of logistics managers are prepared for future crises.

“For years, we had sort of taken logistics for granted,” says Skrikant Datar, the dean of Harvard Business School. “The pandemic caused us to rethink it.”

The problem, says Hitendra Chaturvedi, a supply-chain management professor at Arizona State University’s W.P. Carey School of Business, was that supply-chain education and theories had grown as rigid as some of the practices out in the real world. “After years of teaching without any tremors,” he says, “our courses had become less flexible.”

In response to those tremors, business schools are now emphasizing things such as risk mitigation, data analytics, and production reshoring—while also carving out room to explore more intangible topics like ethics, communication, and sustainability. Penn State’s Smeal College of Business is adding a master’s course in supply-chain risk management next year, with lessons taken straight from the pandemic experiences of corporate partners including Hershey Co. and Dell Technologies Inc. The course will count toward a new certificate program in risk management that’s also in the works. The W.P. Carey School of Business also plans to offer a certificate in supply-chain resilience.

“It’s not like we don’t cover risk already, but this would give them a deeper dive,” says Kevin Linderman, chair of Smeal’s Department of Supply Chain and Information Systems, which has grown more popular with students thanks to high-profile incidents such as the grounding of the Ever Given cargo ship in the Suez Canal in March, which snarled global commerce for nearly a week. This academic year more than 400 juniors in Smeal’s undergrad program have declared their intent to major in supply-chain management, up from about 270 the previous year.

Incoming business students who once defaulted to finance or marketing now want to explore supply-chain management, says Alok Baveja, a professor at Rutgers Business School, whose faculty includes former executives of nearby pharmaceutical giants such as Johnson & Johnson. When they graduate, they’ll have plenty of options: A record 50 companies plan to attend a supply-chain career fair at Georgia Tech in September—about double the number that typically come to recruit students of the program—including newcomers Honda, Honeywell, and Procter & Gamble.

Students who pursue supply-chain degrees this fall are certain to get an earful about the limitations of just-in-time inventory systems, which grew in popularity during the 1990s as companies aimed to mimic the success of auto makers like Toyota Motor Corp., the gold standard of lean manufacturing. For some companies, though, getting lean “became a religion,” says Penn State’s Linderman, and their orthodoxy became their undoing when the pandemic hit and there was no surplus stock to be found.

Covid-19 exposed the weaknesses of legacy inventory systems, which typically emphasize cost reduction above all else, says Hyun-Soo Ahn, a professor at University of Michigan’s Ross School of Business. The pendulum is now shifting the other way: At Walmart, whose bottom-line focus is legendary, U.S. inventory rose 20% last quarter as it doesn’t want product shortages come Christmastime. Still, shuttered factories, port congestion, and trucker shortages have brought more chaos to already overtaxed supply chains, raising prices on groceries and jeopardizing the delivery of millions of presents for the holidays.

Classroom discussions at Penn State and other supply-chain specialists will now delve into the downsides of sourcing too much from China or any single country, while they also explore the role that new technologies like machine learning and artificial intelligence can play in manufacturing and inventory decisions. Old research, meanwhile, is getting reinterpreted through the pandemic’s lens, says Gopalakrishnan Mohan, chair of ASU’s supply-chain department.

What’s also needed, though, is a realization in corporate C-suites that logistics isn’t just an expense—it can actually create value when done well, according to MIT’s Jarrod Goentzel. He’s the principal research scientist at the school’s Center for Transportation and Logistics, which works with corporations such as Amazon.com Inc. and Intel Corp. and also a lecturer in the center’s one-year master’s program in supply-chain management. It helps that high-profile chief executive officers like Apple Inc.’s Tim Cook and Mary Barra of General Motors Co. spent time running complex supply chains before they got the top jobs, but logistics educators say greater boardroom acknowledgement of the make-or-break role such skills play is long overdue.

“Any company that says they fully understand their supply chain is lying,” says Goentzel, who believes that supply-chain practitioners should be certified just like accountants. “It’s time for the profession to wake up. The 20th century was about finance. The 21st century should be about supply chains.”


Sumber :

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-09-03/business-school-mba-students-forgo-finance-for-supply-chain-management-degree

Friday, September 3, 2021

Warehouse vs Logistik

Apa sih perbedaan perusahaan Warehouse dan Logistik?

5 Apr 2020

Masih banyak orang yang mengira kalau perusahaan Logistics dan Perusahaan Warehouse adalah perusahaan yang sama. Memang sama-sama memiliki gudang, tapi jika dilihat lebih dalam lagi, penggunaan gudang tersebut bisa dikatakan berbeda walaupun cuma sedikit.

Yuk kita bahas apa itu perusahaan Logistics dan apa itu perusahaan Warehouse.


Perusahaan Warehouse

Biasanya perusahaan ini adalah perusahaan pergudangan yang di mana di gudang ini akan memproduksi suatu bahan/barang dan menghasilkan jumlah dalam periode waktu tertentu yang nanti akan dikirimkan ke pelanggan sesuai pesanan. Warehouse tidak hanya menyimpan barang, tapi juga membuat, mengolah, dan mengirimkan ke para pelanggan.

Contoh perusahaan Warehouse : perusahaan STOQO, HappyFresh, PT.Gumindo, dan ID Commerce


Perusahaan Logistics

Perusahaan ini bisa disebut sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan juga pergudangan. Pergudangan di perusahaan logistik digunakan untuk menyimpan barang untuk sementara. Barang ini bisa berasal dari produsen atau perusahaan lain, yang menggunakan jasa perusahaan logistik untuk mengirimkan barang tersebut ke pelanggan.

Contoh perusahaan Logistik : ID Express, Ninja Xpress, Rara Delivery, JET Express, dan lain-lain


Intinya, kedua perusahaan ini bisa disatukan menjadi satu kategori menjadi Logistics&Warehouse. Soalnya, perusahaan ini sama-sama menggunakan gudang dan sama-sama melakukan pengiriman dari gudang ke konsumen atau ke produsen yang lain. Bedanya hanya penggunaan gudang yang ke dua perusahaan ini miliki.

Sumber : https://www.workmate.asia/id/blog/apasih-perbedaan-perusahaan-warehouse-dan-logisitik


Ketahui Apa Itu Warehouse & Logistik, Serta Kegunaannya

June 2, 2021

Warehouse dan logistik mempunyai fungsi yang berbeda meskipun tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mari kita pahami lebih dalam mengenai perusahaan warehouse dan perusahaan logistik serta perbedaan mendasar dari keduanya.


Pengertian Perusahaan Warehouse

Perusahaan warehouse adalah perusahaan yang bergerak di jasa pergudangan. Akan tetapi, perusahaan warehouse tidak hanya menyimpan barang. Perusahaan ini juga memproduksi produk dengan jumlah tertentu pada periode tertentu untuk kemudian dikirimkan kepada para pelanggan sesuai dengan pesanan yang dibuat.


Pengertian Perusahaan Logistik

Perusahaan logistik lebih fokus di jasa transportasi dan pergudangan. Memang benar bahwa perusahaan logistik dan warehouse adalah perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang pergudangan. Akan tetapi, perusahaan logistik menggunakan pergudangannya hanya untuk menyimpan produk untuk sementara. 

Perusahaan logistik tidak memproduksi barang yang disimpan di dalam warehouse sendiri. Barang yang disimpan dalam pergudangan perusahaan logistik berasal dari perusahaan lain yang menggunakan layanan perusahaan logistik untuk mengirimkan barang tersebut ke alamat pengiriman pelanggan.


Warehouse Logistik

Jika disederhanakan, perusahaan warehouse adalah pergudangan perusahaan yang memproduksi barang untuk dikirim langsung ke pelanggan, sementara perusahaan logistik adalah perusahaan jasa pengiriman yang menggunakan pergudangan untuk menyimpan barang kiriman pelanggan untuk sementara.

Akan tetapi, kedua jenis perusahaan ini sering disatukan ke dalam satu kategori, yaitu warehouse logistik. Mengapa demikian? Lihat saja, kedua perusahaan tersebut sama-sama memakai pergudangan dalam rantai produksinya. Selain itu, keduanya juga sama-sama mengirim produk dari gudang ke pelanggan baik konsumen maupun produsen lain. Tidak heran jika kedua perusahaan tersebut sering dianggap sama walaupun pemanfaatan gudang logistik dan warehouse adalah berbeda sama sekali.


Manfaat Warehouse Logistik

Berikutnya kita bahas manfaat warehouse logistik sehingga kita tak perlu ragu untuk menggunakan jasa perusahaan warehouse logistik. 

Alasan pertama untuk menggunakan jasa perusahaan warehouse logistik adalah kontrol kualitas barang yang disimpan di dalamnya. Perusahaan warehouse logistik menyediakan fasilitas yang sesuai dengan barang yang akan disimpan. Gudang produk makanan misalnya mempunyai fasilitas yang berbeda dengan gudang penyimpanan barang bukan makanan. Kualitas produk yang disimpan dalam gudang tetap terjaga sebelum dikirim karena kondisi produk akan dicatat secara berkala.

Selain itu, warehouse juga menjadi pusat informasi yang berguna bagi perusahaan. Dari warehouse, perusahaan bisa mendapatkan informasi mengenai ketersediaan produk, permintaan dan penawaran, perputaran produk, dan pergerakan produk tersebut ke konsumen. Dari data tersebut, produsen bisa mengambil keputusan berdasarkan produk mana yang akan tren maupun tidak.

Karena lengkapnya data warehouse, pengiriman produk akan menjadi lebih efisien. Tak hanya membuat produk lebih cepat diterima oleh konsumen, menggunakan jasa warehouse juga akan membuat kepuasan pelanggan meningkat.

Walaupun pada dasarnya warehouse adalah tempat untuk menyimpan produk, warehouse juga bisa memberikan ruang untuk merakit barang sebelum dikirim ke konsumen. Warehouse juga bisa menjadi pusat pengembalian barang.

Sumber : https://blog.shipper.id/tips/ketahui-apa-itu-warehouse/

Tuesday, August 17, 2021

Paradigma Pembangunan Infrastruktur Perlu Diubah

Dalam Pidato Kenegaraan (16/8), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan walaupun sangat berkonsentrasi dalam menangani permasalahan kesehatan, tetapi perhatian terhadap agenda-agenda besar menuju Indonesia maju tidak berkurang sedikit pun.

Presiden juga menegaskan penyelesaian pembangunan infrastruktur yang memurahkan logistik, untuk membangun dari pinggiran dan mempersatukan Indonesia, terus diupayakan.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan, infrastruktur merupakan salah satu pilar penting peningkatan efisiensi logistik nasional.

“Salah satu pemicu biaya logistik yang tinggi adalah masalah penyebaran infrastruktur yang tidak merata antar wilayah,” ungkap Setijadi dalam keterangannya, Selasa (17/8).

Membangun dari pinggiran menurut Setijadi penting untuk meningkatkan keseimbangan pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Pada tahun 2020, distribusi Produk Domestik Bruto (PDB) masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen). Empat wilayah lainnya masih harus ditingkatkan kontribusinya, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen).

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) memerlukan perubahan paradigma dari ship follow the trade menjadi ship promote the trade. 


Sumber:

https://fin.co.id/2021/08/17/paradigma-pembangunan-infrastruktur-perlu-diubah/

Sunday, August 15, 2021

Garuda Bikin Gudang Logistik Canggih, Kirim Barang e-Commerce Makin Cepat

PT Garuda Indonesia (Persero) melakukan kerja sama pembuatan fasilitas warehouse alias gudang logistik. Hal itu dilakukan dengan PT Perigi Raja Terpadu, alias Perigi Logistic.

Gudang ini akan terintegrasi untuk layanan logistik impor dan e-commerce. Gudang ini memiliki fasilitas canggih, yang memudahkan arus barang logistik dan impor di bandara.

Di dalamnya ada sistem dan peralatan terbaru yang terintegrasi dengan smart conveyer belt dan terhubung langsung dengan sistem Bea Cukai, sehingga proses pelayanan importasi barang akan lebih cepat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengungkapkan bahwa pengembangan layanan ini merupakan salah satu upaya Garuda Indonesia memaksimalkan layanan pengiriman logistik yang aman dan terpercaya.

"Peluncuran layanan ini menjadi salah satu upaya kami dalam menghadirkan nilai tambah bagi para pengguna jasa kami, khususnya untuk pengiriman barang impor serta transaksi e-commerce," kata Irfan dalam keterangannya, dikutip Minggu (15/8/2021).

Sementara itu, Direktur Utama PT Perigi Jasa Terpadu, Indra Buana, mengungkapkan kerja sama ini dapat mengoptimalkan pertumbuhan pengiriman barang e-commerce yang saat ini terus meningkat. Menurutnya, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan barang e-commerce mencapai 500%.

"Kerja sama ini diharapkan dapat mengoptimalkan layanan bea cukai dalam rangka peningkatan pertumbuhan pengiriman e-commerce di mana yang saat ini perkembangan logistik khususnya e-commerce sedang melesat tinggi," kata Indra.


Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5682812/garuda-bikin-gudang-logistik-canggih-kirim-barang-e-commerce-makin-cepat


Thursday, August 12, 2021

Turunkan Biaya Logistik, SCI Rekomendasikan Perbaikan Infrastruktur

Transportasi.co | Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan biaya logistik Indonesia sebelas persen lebih mahal 13 persen dari rata-rata biaya logistik dunia, pada Rabu (11/8). Biaya logistik Indonesia sebesar 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) berdampak Indonesia kurang bersaing dengan negara-negara lain.

Erick menyebut biaya logistik Indonesia yang mahal disebabkan oleh fasilitas infrastruktur dalam negeri yang kurang memadai, sehingga infrastruktur BUMN tetap harus diperbaiki meski di tengah pandemi.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan evaluasi atas daya saing dan kondisi infrastruktur Indonesia bisa mengacu terhadap The Global Competitiveness Index yang dikeluarkan World Economic Forum secara berkala.

The Global Competitiveness Index 4.0 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat 50 dari 141 ekonomi. Dengan peringkat itu, Indonesia turun 5 peringkat dari tahun sebelumnya. Di antara negara-negara ASEAN, posisi Indonesia itu di bawah Singapura (peringkat ke-1), Malaysia (27), dan Thailand (40).

Setijadi menyampaikan analisis atas infrastruktur Indonesia yang berada pada peringkat 72. Untuk pilar infrastruktur, khususnya konektivitas, peringkat terendah pada konektivitas jalan (peringkat 109), diikuti liner shipping connectivity (36). Airport connectivity Indonesia sangat baik pada peringkat 5.


Sumber:

http://transportasi.co/turunkan_biaya_logistik_sci_rekomendasikan_perbaikan_infrastruktur_4635.htm

Wednesday, August 11, 2021

Erick Thohir Sebut Biaya Logistik RI Lebih Mahal dari Dunia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan biaya logistik Indonesia sebelas persen lebih mahal dari dunia.

Menurutnya, porsi biaya logistik Indonesia 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi ketimbang rata-rata dunia yang sebesar 13 persen. Hal ini mengakibatkan biaya logistik Indonesia kurang bersaing dengan negara lain.

"Biaya logistik Indonesia kurang lebih 24 persen, dunia rata-rata 13 persen. Jadi logistik kita jauh lebih mahal 11 persen, gimana mau compete (bersaing)?" ujarnya pada siaran live Chat Room CNN Indonesia, Rabu (11/8).

Erick menyebut mahalnya biaya logistik disebabkan oleh minimnya fasilitas infrastruktur dalam negeri. Karena itu, ia menyebut meski di tengah pandemi, infrastruktur BUMN tetap harus diperbaiki.

Ini termasuk penyuntikan Penanaman Modal Negara (PMN) kepada BUMN yang beberapa saat lalu sempat dikritik ekonom dan anggota DPR. Menurut Erick, infrastruktur tetap harus dibangun selama pandemi karena pembangunan ditujukan untuk jangka panjang.

"Kemarin banyak yang bilang ini PMN BUMN buat apa? Sedangkan ini Covid. Tapi, kita membangun bangsa tidak hanya sekarang, tapi pasca Covid. Infrastruktur tetap kunci," ujarnya.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210811120857-92-679117/erick-thohir-sebut-biaya-logistik-ri-lebih-mahal-dari-dunia


Tuesday, June 22, 2021

Rantai pasok yang Boros

Rantai pasok yang boros dan sampah makanan bisa bernilai Rp550 triliun

21/06/2021 06:03 WIB

Tahukah Anda bahwa nilai sisa makanan kita ditambah kehilangan (loss) dalam proses produksi bahan makanan bisa mencapai Rp550 triliun? Hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menunjukkan betapa besarnya manfaat yang hilang akibat inefisiensi dalam proses produksi dan cara makan yang keliru.

Kementerian PPN mengkaji masalah tersebut bersama Waste4Change dan didukung oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta United Kingdom Foreign, Commonwealth, and Development Office (UKFCDO). Fokus penelitian ini pada Food Loss and Waste (FLW).

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang antara proses panen dan proses konsumsi. Food loss adalah hilangnya kualitas makanan pada proses rantai pasokan, mulai dari produksi (panen), pengemasan, penyimpanan, distribusi, penjualan, sampai diterima konsumen.

Sementara itu, food waste mengacu pada sisa makanan yang timbul pada bagian akhir supply chain, yaitu penjualan dan konsumsi, baik karena tidak termakan, rusak, atau kedaluwarsa. Saban tahun, setiap orang rata-rata membuang lebih dari 100 kilogram sampah makanan atau setara dengan 61 sampai 125 juta porsi makanan.

Kerugian ekonomi akibat food waste selama 20 tahun terakhir bahkan setara 4 sampai 5 persen PDB, atau mencapai Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahun. Fakta ini mengemuka dalam webinar yang mendiskusikan hasil kajian Food Loss and Waste (FLW) Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (9/6/2021).

Dalam webinar tersebut juga dikemukakan bahwa kerugian di sektor lingkungan akibat timbulan FLW pada periode 2000-2019 atau selama dua dekade, mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan limbah per kapita sebesar 115-184 kilogram per tahun.

Pada periode yang sama, efek kehilangan pasca-produksi dan sampah makanan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) ternyata sangat besar. Timbulan sampah makanan tersebut menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara 7,29 persen rata-rata emisi GRK Indonesia per tahun.

Kehilangan (loss) dalam mata rantai pasokan didominasi oleh jenis padi-padian, seperti beras, jagung, gandum, dan produk-produk sejenis. Namun, jenis pangan yang prosesnya paling tidak efisien adalah sayur-sayuran. Kehilangannya bisa mencapai 62,8 persen dari seluruh suplai domestik sayur-sayuran yang ada di Indonesia.

“Dengan menyajikan sejumlah hasil analisis yang bersifat evidence-based, kajian Food Loss and Waste di Indonesia ini bisa menjadi pedoman atau referensi bagi para pengambil kebijakan, sehingga implementasi pembangunan rendah karbon di Indonesia dapat memenuhi target” ujar Menteri Suharso Monoarfa dalam webinar tersebut.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan komposisi sampah di Indonesia pada 2020 didominasi sisa makanan, yakni mencapai 39,74 persen.

William, mantan chef hotel bintang empat di Indonesia berkisah, sebelum pandemi, setiap hari sampah dari dapur hotel bisa lebih dari tiga tempat sampah ukuran 240 liter. “Setiap hari ada bahan dan makanan yang harus dibuang. Tidak boleh dibagikan atau dibawa pulang karyawan karena alasan liabilitas,” ujar William kepada Lokadata, Jumat (11/6/2021).

Produk makanan seperti daging ayam, sapi, dan ikan hampir 80 persennya bisa diolah. Sisanya ada yang bisa dimanfaatkan, tapi tidak semua hotel melakukannya. Lain halnya dengan sayur-mayur. Biasanya hanya 60 persen yang layak olah. "Kehilangan banyak terjadi saat mengupas kulit atau membuang bagian sayur yang tidak layak olah."

Banyaknya volume sampah yang dibuang hotel tergantung aktivitas pada hari itu. Semakin banyak event dan orang yang terlibat, semakin banyak pula sampah makanan yang dibuang.


Memanfaatkan makanan terbuang

Lewat gerakan food bank, Garda Pangan mencoba mengumpulkan dan memanfaatkan makanan yang terbuang atau tidak laku terjual. Social enterprise yang berbasis di Surabaya dan Malang, Jawa Timur ini melakukannya lewat penyelamatan makanan dari berbagai industri hospitality dan bisnis makanan.

Garda Pangan bekerja sama dengan restoran, toko roti, distributor buah, dan lain sebagainya. “Kalau ada makanan yang tidak terjual hari itu dan masih sangat layak makan, dijemput oleh teman-teman relawan. Kemudian kita sortir untuk memastikan higienitas dan keamanannya, dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Eva Bachtiar, salah satu pendiri Garda Pangan.

Sumber food waste lain adalah acara berskala besar seperti festival atau resepsi perkawinan. Garda Pangan pernah menyelamatkan 500 porsi makanan yang akan dibuang pada satu pesta.

Masalah food loss dan food waste kian mendesak untuk diatasi. Mengurangi 50 persen sampah makanan pada 2030 juga jadi salah satu target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.

Menurut Rosa Vivien Ratnawati, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup, dalam webinar yang sama mengungkapkan, setidaknya ada tiga aktor besar yang punya andil dalam masalah food loss dan food waste ini.

Pertama, peritel atau distributor. Misalnya, promosi buy one get two seringkali membuat konsumen membeli makanan yang tidak perlu. Karena itu, manajemen stok yang efisien sangat dibutuhkan agar stok yang tersedia menjadi sampah. Upaya ini seharusnya masuk dalam strategi pemasaran, dan penyimpanan produk.

Kedua, industri jasa makanan. Semua restoran memiliki standar porsi yang sama untuk semua orang. Akibatnya, kata Rosa, selalu saja ada makanan tersisa. Selain itu, model penjualan all you can it juga menjadi penyumbang sampah makanan. Model ini membuat konsumen mengambil makanan yang berlebihan.

Ketiga, konsumen juga menjadi penyumbang yang besar. Misalnya, banyak konsumen membeli makanan yang sebetulnya tidak dibutuhkan, tidak menghabiskan makanan yang sudah dibeli, dan membeli bahan makanan yang terlalu banyak, sehingga mengakibatkan busuk atau kedaluwarsa.

Menurut Rosa, setiap tahun Indonesia membuang sampah makanan sebanyak 20,8 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 30,58 persen dari total makanan yang dikonsumsi. Rata-rata sampah makanan di Indonesia masih lebih rendah dari negara-negara Asia Tenggara yang mencapai 43,5 persen.

Tapi, tentu saja, hal itu tak bisa jadi pembenar bahwa sampah makanan kita tak sebanyak negara tetangga.


Sumber :

https://lokadata.id/artikel/rantai-pasok-yang-boros-dan-sampah-makanan-bisa-bernilai-rp550-triliun

Wednesday, April 14, 2021

5 Supply Chain Myths—Busted

Whether you have established your career or are just starting out in supply chain management, you'll come up against persistent misconceptions. Inbound Logistics puts five of the most common myths to the test.

Like any industry segment, the supply chain offers fertile ground for myths to propagate. Here are five of the most persistent supply chain myths, along with the thorough debunking they deserve.


MYTH 1: SUPPLY CHAIN MANAGEMENT IS BORING.

No way, say the folks educating the next generation of supply chain professionals. A logistics whiz may not become the hit of happy hour by spouting supply chain trivia, but the field—contrary to its bum rap—does not induce spontaneous comas.

Still, the "supply chain is boring" myth looms large among the general public, among college students looking for a major, and even among business professionals with spreadsheet expertise.

"The main reason is that they don't understand what supply chain is," says Nick Little, director of railway education at Michigan State University's Center for Railway Research and Education.

For example, when high school and college students begin thinking of career options, they are likely to link the supply chain with its less strategic jobs. "If Johnny went home and said to his family, 'I want a supply chain career,' they might answer, 'You don't really want to be a truck driver, do you?'

"The other thing that people sometimes don't understand is that working in supply chain involves a lot of trade-offs," Little adds—noggin-taxing trade-offs that require informed decision-making. That's true in every link of the chain, from product design, materials management, and procurement—"Do we go with cheap materials or something that is more reliable?"—to transportation and distribution. No part of the job can be executed on autopilot.

Supply chain's relationship to the entire business enterprise attracts Little. "Supply chain is strategic because it is so closely linked to the business model," he says. "Supply chain is touched by every part of the business and every part of the business is touched by the supply chain.

"The good thing about supply chain management," he says, "is that no two days are ever the same, and you don't know what tomorrow will bring."


MYTH 2: YOU NEED AN ENGINEERING DEGREE TO NEGOTIATE THE SUPPLY CHAIN.

Tell that to Lamar Johnson, who as a college student never dreamed that he would spend 15 rewarding years in supply chain management at a major brand.

"I retired in 2004 from Procter & Gamble but I had a finance undergraduate degree and 18 years in sales," he says. "When I retired I was managing all of the outbound portion of Procter & Gamble North America's supply chain," he says, adding that he was unusual at that time, a bird with different plumage in an aviary of engineers.

"What I brought to the party was a knowledge of our customer," Johnson says. "I had analytical skills—at one point I had been a math major. I also had very good soft skills: leadership skills, collaboration skills—all of the things you need to knit together not only the parts of your own discipline but also other entities within the company."

Johnson is now senior associate director of the University of Texas' Supply Chain Management Center at the McCombs School of Business. And he's all about reminding business leaders that supply chain professionals benefit from a strong foundation of business and communication skills.

"Most supply chain leadership historically has come from engineering; therefore they tend to value people who come along behind them that have an engineering degree," Johnson explains. "It's kind of a fraternity or sorority. I don't mean that to be unfair. I am saying that they value the skills that engineers bring to the party and sometimes discount the skills of people with backgrounds other than engineering."

That's changing, he says, and it's a good thing. Professionals with engineering expertise will always be an essential part of the supply chain equation but, "We need different kinds of leaders in the future," Johnson notes. "We need leaders who have strong business skills, analytical skills, and soft skills. If you take that on face value, lots of different backgrounds belong at the table."


MYTH 3: SUPPLY CHAINS THAT RELY ON AUTOMATION INSTEAD OF PEOPLE ARE ALWAYS BETTER.

"False," says Jack Buffington, who is responsible for warehousing and fulfillment for Colorado-based brewing company MillerCoors.

At least for now.

Buffington, who is also a professor of supply chain management at the Daniels College of Business, University of Denver, says it's not uncommon for business ventures to overvalue the automated supply chain.

Take the case of a celebrated technology company and its much-ballyhooed all-electric luxury vehicle. "The company obviously makes a good product that people want," Buffington says. "And as production has ramped up, it has had challenges meeting its targets. The reason why is the manufacturing facilities were overautomated. The company looked at what the big automakers were doing and thought, 'Well, that's good, but more automation would be better.'"

But that's not how manufacturing facilities should work, particularly on questions related to cadence—and to keeping things flowing consistently and in accordance with business strategy. When it comes to the big picture, "It's not about maximizing; it's about optimizing," Buffington explains.

"Automation is good for doing things quickly, but it may not necessarily be good for flexibility," he adds. "The company found that it needed to take some automation out of the process, because, as an overall system, it didn't work as effectively."

Such case-by-case thinking also should prevail in warehousing and distribution, Buffington argues. If the operation does not require troubleshooting or flexibility, a fully automated warehouse may be the ticket.

"Automated facilities are super efficient: Robots move pallets of product, they never take breaks, they take the same path," Buffington says. "But when orders get too complex, they run into some difficulties."

In fact, any time there is a change in plans, he notes, "you have to redesign the control system."

Complexity can certainly confound human beings, but unlike robots, they can puzzle their way through a problem. And at the very least, they can ask for help and advice, Buffington says.


MYTH 4: IN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT, DATA—NOT PEOPLE—RULES.

Like most of his peers, John Magee, president and CEO of Houston-based 3PL Crane Worldwide Logistics, believes that data should inform decisions. But he also says that supply chain management is as much about craft as it is about terabytes. Without the former, the latter only gets you so far.

"Data paints a picture, but it doesn't tell a story," he says. "There are times when the picture is enough. But there are times when you need the story."

And that's where the craft comes in. "Data can be misleading if you don't know what you are looking for," Magee says. "If you look at a slice of information the wrong way, it can be bad."

A good supply chain professional always wants to know more. But it's also important to know what to do with all that data and to understand what is happening behind the scenes. That may seem like common sense, but it takes experience to put data in context.

Say a client complains that your firm's service is slipping. And the data supports that contention: It now takes 23 days to deliver a product, up from 22.

The data doesn't tell you what's behind that slippage—whether it's attributable to inefficient operations at home base, whether a carrier went out of business, or whether a natural disaster necessitated route changes. A response to the data, Magee explains, can only be crafted by someone savvy enough to ask the right questions.

With blockchain on the rise, businesses along the chain are ever-more committed to using data in decision-making. But, Magee says, "I am not so sure blockchain is going to become everything that people say it is." After all, the "garbage in/garbage out" rule still applies, and blockchain as envisioned depends on what Magee calls "flawless execution of integrated systems."

"People are saying they need more data, but they're still trying to figure out how to use it better," Magee says. And no matter how much data is on hand, one fundamental truth remains: When it comes to managing the supply chain, Magee says, "you can't take the craft out of it."


MYTH 5: COST CUTTING IS THE FIRST GOAL OF EVERY SUPPLY CHAIN.

As a working professional with warehousing and distribution operations to monitor, Jack Buffington of MillerCoors knows that cost pressures are real and require constant attention. But in his role as a professor, the preoccupation with reducing costs sends his blood pressure well north of healthy.

"The goal isn't to reduce costs; it's to reduce waste and improve efficiency," he says.

In fact, the supply chain might be one place where increasing costs makes sense. Spending a little to improve efficiency could pay off in increased sales.

"It's a bad way to think about things," Buffington says of the cost-cutting obsession. It can even backfire. "Too many supply chain people try to reduce costs and they end up actually increasing costs or impacting sales.

"Cost can help solve a problem," he adds. "If you increase costs, you can actually reduce problems and increase opportunities and grow markets. But the problem is we focus too much on the short term and lose sight of the bigger picture."

Well, that's not universally true. "The best supply chain people in the world focus on reducing waste, improving efficiency, and increasing sales," Buffington says. "Cost is a factor in those goals, but it's not discrete."


Sumber :

https://inboundlogistics.com/cms/article/5-supply-chain-myths-busted/

Monday, March 15, 2021

Tujuan Supply Chain Management

Tujuan Supply Chain Management dan PenerapannyaTujuan Supply Chain Management dan Penerapannya

Supply chain management atau SCM sangat penting bagi perusahaan. Perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing melalui penyesuaian produk, mutu tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan distribusi maka penting untuk memperhatikan supply chain. Management rantai pasokan merupakan integrasi dari berbagai macam aktivitas. Aktivitas tersebut seperti pengadaan bahan, mengubah barang menjadi produk akhir, pengiriman ke seluruh pelanggan. Hal tersebut akan mencakup aktivitas pembelian dan outsourcing, kemudian ditambah dengan fungsi lainnya yang penting antara hubungan pemasok dengan distributor. 

Definisi sederhana supply chain management adalah mekanisme yang menjadi penghubung antara semua pihak yang bersangkutan. Kemudian mengonversikan bahan mentah dan mengubahnya menjadi barang jadi. Semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan bertanggung jawab untuk bisa memberikan barang-barang hasil produksi kepada pelanggan tepat waktu dan di tempat yang tepat. Jadi pada dasarnya SCM ini akan melibatkan pemasok, pabrik, manufaktur, penyedia logistik, dan tentunya yang paling terlibat adalah pelanggan.


Tujuan Manajemen Rantai Pasokan

Tujuan umum dari supply chain management ini adalah menyeimbangkan antara permintaan dan juga penawaran agar lebih efektif dan juga efisien. Sejumlah masalah utama dalam rantai pasokan ini berhubungan dengan penentuan tingkat outsourcing yang tepat, manajemen pengadaan barang, manajemen pemasok, pengelola hubungan dengan pelanggan, identifikasi masalah dan merespons masalah tersebut, yang terakhir adalah manajemen risiko. Tujuan strategis yang ingin dicapai dari rantai pasokan adalah memenangkan persaingan minimal perusahaan bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat. Oleh sebab itu jika menjadi pemenang dalam persaingan pasar maka rantai pasokan tersebut harus mampu menyediakan produk dengan harga murah, berkualitas, tepat waktu, dan juga lebih bervariasi.


Hal yang Dikendalikan SCM

Ada sejumlah hal yang dikendalikan oleh supply chain management yaitu mengetahui wilayah jaringan distribusi, jumlah, fasilitas produksi, lokasi supplier, pusat distribusi, dan gudang sampai dengan pelanggan. Dalam melakukan distribusi umumnya mereka akan berpikir tentang strategi distribusi yang akan dilakukan seperti desentralisasi atau sentralisasi. Manajemen rantai pasokan memerlukan sistem informasi yang bisa di integrasikan secara langsung dan cepat supaya proses distribusi barang ini bisa berjalan dengan lancar. Informasi yang harus dibagikan saat itu pula adalah harga, inventaris sampai dengan urusan transportasi. SCM ini juga mewajibkan dalam mengatur syarat pembayaran beserta metologinya.


Penerapan Supply Chain Management

SCM menjadi konsep atau mekanisme untuk bisa meningkatkan produktivitas perusahaan secara total di dalam rantai pasok dengan optimalisasi waktu, pengelolaan lokasi, dan juga aliran kuantitas bahan. Dalam kegiatan manufaktur penerapan SCM akan mendorong perusahaan untuk bisa memenuhi kepuasan pelanggan, pengembangan produk tepat waktu, menghemat biaya saat menyediakan dan menyerahkan produk, pengelolaan industri secara cermat dan fleksibel. 

Saat ini konsumen semakin kritis sehingga menuntut penyediaan produk secara tepat watu sehingga menyebabkan perusahaan harus melakukan antisipasi agar tidak kehilangan pelanggan. Menggunakan software yang mendukung SCM menjadi solusi terbaik untuk bisa memperbaiki tingkat produktivitas diantara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Untuk SCM ini sangat cocok diterapkan karena memiliki kelebihan berupa mampu mengelola aliran barang atau produk di dalam suatu rantai pasok. Dalam hal ini SCM akan mengaplikasikan bagaimana jaringan produksi bersama distribusi mampu bekerja bersama-sama untuk bisa memenuhi semua tuntutan konsumen. 

Ada beberapa hal dalam penerapan SCM yang harus diperhatikan supaya tidak terjadi hambatan saat menjalankan rantai pasokan tersebut yaitu pengukuran kinerja, customer service yang harus bisa didefinisikan dengan jelas, ukuran keterlambatan respons dalam pelayanan, status data pengiriman yang akurat, sistem informasi yang efisien, analisis metode pengiriman yang lengkap, dan lain sebagainya.


Sumber :

https://www.soltius.co.id/id/blog/read/tujuan-supply-chain-management-dan-penerapannya

Monday, January 25, 2021

Teknologi Supply Chain Masa depan

Sistem Manajemen Rantai Pasokan, Gebrakan Teknologi Masa depan


Rantai Pasokan Terbaru

International Investor Club – Pertumbuhan bisnis yang mengesankan, dibarengi dengan pengembangan teknologi berkelanjutan menjadikan Amazon sebagai salah satu kiblat inovasi di sektor e-commerce.

Menyadur data terakhir perusahaan tersebut, pertumbuhan bisnis dari tahun 2018 ke 2019 telah mencapai 30%. Sementara 13% keuntungan didapat dari transaksi global, termasuk di kawasan Asia Pasifik.


Rantai pasokan

Secara lebih mendetail, banyak hal yang bisa dipelajari dari kesuksesan perusahaan yang dibangun Jeff Bezos tersebut. Manajemen rantai pasokan menjadi salah satunya, memungkinkan Amazon mengakomodasi ekspektasi pelanggan terkait pengiriman barang yang dilakukan cepat. Salah satu realisasinya dalam fitur “same day delivery”.

Saat ini, konsep serupa tengah masif diterapkan oleh pemain e-commerce di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Transformasi besar-besaran dilakukan agar memungkinkan jalur distribusi barang menjadi lebih efisien. Untuk beberapa pengiriman ke kota besar, khususnya wilayah Jabodetabek, platform seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan sebagainya sudah mungkinkan pengiriman sehari, memanfaatkan kerja sama dengan aplikasi ride-sharing seperti GoJek, Grab, dll.

Dalam sajian berita KataData dituliskan, proses rantai pasokan telah berubah dari masa ke masa. Di era sebelum e-commerce, prosesnya hanya melibatkan pembeli dan pemilik toko, karena transaksi terjadi secara langsung di tempat.

Di era jual-beli online, aktivitasnya menjadi lebih panjang. Pada setiap aspek rantai pasokan terdapat berbagai aktivitas pertukaran informasi, transaksi dana, pengelolaan barang, manajemen logistik, hingga proses pelaporan.


Pengantaran

Kemitraan strategis dengan pihak ketiga dijadikan solusi agar alurnya efisien. Masing-masing perusahaan dengan kompetensinya melakukan pengelolaan di masing-masing bidang.

Misalnya, platform e-commerce fokus menyediakan kanal, perusahaan logistik konsentrasi pada distribusi produk dan perusahaan rantai pasokan sediakan gudang.

Di titik sekarang ini, fragmentasi layanan e-commerce justru menghadirkan permasalahan baru. Dengan ekspektasi sama soal pengiriman cepat, sistem logistik sering terseok-seok hadapi traksi pesanan yang membludak. Hal ini rutin terjadi di momen-momen khusus, misalnya perayaan hari belanja atau mendekati hari raya.

Tak mau pasrah dengan keadaan, beberapa perusahaan e-commerce mulai bangun infrastruktur secara mandiri. Seperti yang dilakukan Tokopedia melalui visinya untuk menjadi “Infrastruktur as a Services” di sektor ritel. Mereka membangun layanan pemenuhan (fullfilment) TokoCabang untuk memperlancar proses distribusi produk.


Head of Fulfillment Tokopedia, Erwin Dwi Saputra kepada DailySocial menjabarkan cara kerjanya.

TokoCabang memungkinkan penjual menitipkan stok produk di gudang Tokopedia di berbagai daerah, terutama di wilayah di mana permintaan produk cenderung tinggi. Dengan layanan pemenuhan yang efisien, penjual kini tidak perlu lagi mempertimbangkan isu operasional pemenuhan pesanan, terutama ketika usaha penjual mulai berkembang pesat.


Rantai Pengiriman

Selanjutnya barang-barang tersebut dikelola pengirimannya oleh 12 mitra logsitik yang telah bekerja sama dengan Tokopedia. Selain lebih cepat, memungkinkan perusahaan memberikan ongkos kirim yang lebih terjangkau. Tokopedia menyebut fitur tersebut sebagai “instant delivery”.

Visi penguatan logistik turut digaungkan oleh perusahaan lain. JD.id salah satunya, disampaikan President & CEO Zhang Li bahwa prioritas mereka saat ini mengupayakan layanan “same day delivery”, dimulai dari seluruh wilayah Jabodetabek. Layanan yang dimaksud memungkinkan pesanan dikirim ke pelanggan pada hari yang sama jika pemesanan dilakukan sebelum pukul 10.00 WIB.

Zhang mengklaim 85% pesanan di Jabodetabek telah memakai same day delivery. Angka tersebut turut menjadi pendorong memperkuat infrastruktur logistik, karena saat ini kecepatan tersebut jadi layanan unggulan.

Untuk perluasan, pihaknya sudah bangun 11 gudang yang tersebar di berbagai kota, termasuk Medan, Makassar, Surabaya, Semarang dan Pontianak.


Sumber :

https://internationalinvestorclub.com/2020/01/14/sistem-manajemen-rantai-pasokan-gebrakan-teknologi-masa-depan/

https://id.pinterest.com/pin/528539706265972669/

Thursday, January 14, 2021

Rantai Pasok Buah Nasional

Permasalahan Seputar Rantai Pasok Buah Nasional

24 Oktober 2019


Beragam bunga seperti krisan, mawar, dan anggrek menyelimuti sebuah mobil. Di bagian depan beragam buah lokal seperti semangka, pisang, dan nanas turut menghias mobil itu. Lima mobil yang semuanya berhias bunga dan buah itu berderet-deret di lapangan kampus lama Institut Pertanian Bogor di kawasan Baranangsiang dan bersiap mengelilingi Kebun Raya Bogor.

Ribuan anak-anak, remaja hingga dewasa dari berbagai kalangan mengikuti pawai kendaraan hias itu. Mereka adalah organisasi mahasiswa utusan daerah, pelajar SMA se-Bogor, sivitas akademika Institut Pertanian Bogor dan masyarakat pencinta buah.

Panen Dragon fruit 3 Kali SetahunBibit Buah Naga Kuning Hasil Pembiakan Teknik Sambung Ramai Dicari Pekebun


Pesta bunga

Bahkan ada juga yang membawa buah seperti durian dan jeruk pamelo khas kota Madiun, Jawa Timur. Sedikitnya 10.000 orang tumpah-ruah untuk memeriahkan puncak perayaan Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2018 di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, pada 12 Oktober 2018. “Ini adalah pawai terbesar di kota Bogor,” ujar Wakil Walikota Bogor Ir Usmar Hariman saat menghadiri pembukaan FBBN 2014.

Panitia juga menyelenggarakan pameran berbagai tanaman hias di antaranya mawar, krisan, lili, dan jahe-jahean hasil riset Balai Penelitian Tanaman Hias. Beberapa buah unggulan nasional pun seperti jeruk keprok batu 55, pisang kirana, salak, pepaya calina, dan merah delima, jambu kristal, dan hasil olahan buah dipamerkan oleh sekitar 70 gerai selama 3 hari.

Ketika membuka acara, Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu II, Dr Ir Suswono MMA, mengungkapkan, “Impor produk hortikultura Indonesia sejatinya sangat kecil. Jadi tidak perlu takut,” ujarnya. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim, “Dari volume 7-8% impor hortikultura, volume impor buah hanya 3-4%. Buah-buahan Nusantara mendominasi dibanding buah impor. Namun, karena buah impor kerap mengisi pasar-pasar swalayan, kesannya menjadi besar dan banyak,” ujarnya.

Bagaimana dengan nilainya? Hasil analisis Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), nilai impor buah dan sayur beserta olahannya pada 2011 mencapai 17,61-triliun. Nilai itu lebih tinggi dari impor beras sebesar Rp l0,6-triliun, jagung (Rp 8,61 triliun), kedelai (Rp 9,38 triliun), dan gandum (Rp l7,02 triliun). Pada kurun 2007-2011 tingkat pertumbuhan 3%.

Khusus buah segar, data Badan Pusat Statistika (BPS) menyebutkan volume impor Indonesia pada 2011 mencapai 832.000 ton dengan menghabiskan devisa Rp 8,5-triliun. Akibatnya tingkat pertumbuhan impor rata-rata dari 2007-2011 mencapai 17,98% per tahun. Data itu menunjukkan pada 2007-2011, total produksi buah nasional mencapai 17,56 juta kg per tahun dengan tingkat pertumbuhan 3,07% per tahun.

“Sementara data konsumsi buah mencapai 12,7 juta kg per tahun dengan tingkat pertumbuhan 3,54% per tahun,” ujar Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, MSc, guru besar Institut Pertanian Bogor, saat menjadi pembicara pada temu bisnis bertajuk Forum Investasi dan Bisnis Hortikultura Indonesia (FIBHI) di IPB International Convention Center (IICC), Botani Square, Bogor pada 11 Oktober 2014. Acara itu mempertemukan calon pembeli dari pasar modern domestik dan eksportir. Forum itu juga menyelenggarakan pelatihan ekspor buah.


Kerusakan buah Panen Mencapai 60%

Dari data produksi dan konsumsi buah nasional sekilas terlihat Indonesia mencapai swasembada buah dan bisa ekspor kelebihannya. Namun, ternyata tak demikian. Indonesia masih tetap mengimpor buah hingga kini. Itu karena tingkat kerusakan buah sangat tinggi, mencapai 30%-60% mulai dari kebun hingga pascapanen. Menurut Prof Roedhy salah satu solusinya adalah memperbaiki manajemen rantai pasokan atau supply chain management.

Rantai pasokan adalah proses perencanaan, implementasi, koordinasi, dan pengawasan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi dan penyaluran produk sesuai permintaan pasar dan seefisien mungkin. “Supply Chain Management akan menentukan kualitas, kontinuitas, dan konsistensi kehadiran buah Nusantara di pasar domestik dan internasional,” ujar alumnus Ehime University, Jepang, itu. Hasilnya adalah penambahan nilai dan daya saing buah nusantara.

Roedhy mengatakan rantai pasok buah Nusantara saat ini semrawut, mahal, dan kurang efisien, sehingga perlu perbaikan. Untuk membangun rantai pasok yang berkualitas, khususnya untuk tujuan pasar domestik modern dan ekspor, perlu kebun produksi lebih dari 500 hektar dan kebun antara 5-50 ha per hamparan. “Hal itu juga wajib ditunjang penanganan pascapanen di sentra-sentra produksi, keberadaan infrastruktur logistik dan teknologi distribusi,” ujar Prof Roedhy 

Sebagai standardisasinya adalah mensyaratkan penerapan good agricultural practises (GAP) pada proses produksi buah, good handling practices (GHP) pada proses penanganan pascapanen dan good manufacturing practices (GMP).

Sebagai puncak kemeriahan acara FBBN 2018, IPB mengadakan karnaval dan pelaksanaan ikrar cinta bunga dan buah. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memimpin ikrar dan membuka karnaval dan jalan pagi. Acara itu juga dimeriahkan aneka lomba dan demo bertema buah antara lain menggambar, melukis bunga dan buah, hias boneka horta, busana anak, merangkai buah, serta fotografi.

Selain itu dilakukan demo mengukir buah dan bunga. “Acara lomba-lomba untuk meningkatkan semangat anak-anak, remaja, hingga orang tua untuk mencintai buah dan bunga nusantara,” ujar Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc, Rektor IPB. Menteri BUMN berharap gaung FBBN tak hanya di Bogor dan Jawa Barat saja, melainkan hingga seluruh pelosok nusantara.


Sumber :

https://www.mitrausahatani.com/permasalahan-seputar-rantai-pasok-buah.html

https://supplychainindonesia.com/rantai-pasok-pangan-food-supply-chain/

Wednesday, January 6, 2021

Vaccine Supply Chain Management

The Complex Logistical Challenges of Vaccine Distribution


January 4, 2021 · By Newcastle Systems     

Humans have been benefitting from vaccines for over two centuries, but the process for developing and distributing vaccines effectively has been neither neat nor direct.

As the COVID-19 pandemic continues to rage across the country, the sense of urgency for a solution has never been greater.

As a group of potential vaccines for COVID seems within reach, the next hurdle facing experts is how to safely distribute and administer them to hundreds of millions of people. It’s an unprecedented logistical challenge.

Unlike most other medical breakthroughs, the public is being made aware for the first time of the extensive details of what goes into the process – how it was developed, who’s involved, how it’s being paid for, the hiccups, the concerns, the regulatory hurdles (or potential shortcuts) and so much more.

For this particular vaccine, we are also seeing how much variance there is in how vaccines get stored, transported, distributed, and delivered. But historical awareness can help inform some short and long-term solutions to the issues currently faced relative to vaccine production and supply.

What We Know About Early Vaccine Logistics
Edward Jenner, a country doctor in England, is credited with coming up with the first vaccine in 1796 when he took the pus from a cowpox lesion on a milkmaid’s hand to inoculate a small boy against smallpox. Logistically, distributing this type of vaccine initially required sharing the knowledge with health experts around the world.

Once accepted, many countries began mass inoculation programs. The Spanish government adopted a ten-year campaign to bring the smallpox vaccine to its Asian and American countries. In an expedition beginning in 1803, Doctor Francisco Xavier de Balmis brought the vaccine to seven countries in a chain of arm-to-arm distribution.

Advances in Logistics for Vaccine Distribution
Arm-to-arm distribution is neither a practical nor expeditious method for modern  vaccine distribution. One of the barriers to effective vaccine distribution has always been financial.

In the nineteenth century, there was an increased shift away from government entities controlling vaccines in favor of commercial enterprises. The idea was that private companies would foster superior production, increased competition, and lower costs.

But, over the past 50 years, many larger pharmaceutical companies have backed off from the vaccine business because it is encumbered by regulatory barriers and is considered low-margin. For example, ten of the basic childhood vaccines (chickenpox, MMR, DTaP) are produced by just two companies.

Still, the research and development of vaccines takes place largely in the private sector. And public organizations like the World Health Organization (WHO) and the Centers for Disease Control (CDC) will coordinate distribution where appropriate. The WHO does R&D for vaccines where there are no existing options or ones that are being underutilized. Its research arm also helps to improve the introduction and monitoring of vaccines once introduced.

Even though governments may contribute to the development and distribution of certain vaccines, their prices continue to soar. GlaxoSmithKline puts the cost of its DTaP-IPV vaccine at $32.75 per dose a decade ago compared to $42.56 today, a 30% cost increase.

What’s included in those costs? According to the WHO, some of the costs associated with introducing a new vaccine include:
  • Vaccines - You have to have the vaccine itself, and this where big pharma plays  the biggest role.
  • Syringes, Labels, & Safety Boxes - When a vaccine is introduced on a mass scale, it must be safely packaged for transport with the right type of syringes and safety boxes.
  • Waste Management - With mass inoculation comes mass waste. How will this be handled, and what will it cost?
  • Transportation - What is the most practical, safest, and fastest way to get the vaccine to the people that need it?
  • Cold Chain Equipment - Can transportation and storage equipment accommodate the temperature requirements of the vaccine?
  • Training Materials - Health care workers must receive training on the handling and administration of the vaccine as well as how to recognize potential side effects.
  • Social Mobilization - How will you inform both healthcare workers and the general public about the introduction of the vaccine?

Unique Challenges Facing COVID-19 Vaccine Companies
With reference to the COVID-19 vaccine, there are a lot of players and moving parts emerging, creating unique challenges to successful distribution. This pandemic wasn’t even a blip on anyone’s radar a year ago, yet the world is braced for mass inoculation against a deadly virus.

Typically, vaccines take an average of 10-15 years to develop, and the fastest vaccine ever developed until now was the mumps vaccine that took four years. To say that this will be the most logistically challenging vaccination campaign in history might be an understatement. There’s every reason to be optimistic, but some of the potential hurdles that lie ahead are substantial.

Vaccine Approval
There are currently some 250 COVID-19 vaccine candidates, but just three have become frontrunners to have a vaccine approved for distribution in the next one to two months. Those are Pfizer, Moderna, and AstraZeneca/Oxford.
  • Pfizer/BioNTech announced that its vaccine is 95 percent effective and is scheduled for emergency FDA review in December.
  • Moderna states that its vaccine has a 94.1 percent efficacy rate. If approved by the FDA in December, the first injections could start on Dec. 21.
  • AstraZeneca/Oxford announced that its vaccine is 90 percent effective and is completing its trials. It has not yet filed for emergency approval.

Extreme Storage Requirements
As public health officials get ready for the largest vaccine distribution campaign in history, they must also tackle some unprecedented cold storage requirements. In the U.S. alone, Pfizer has committed to producing 100 million doses of its vaccine in December with the option for another 500 million more. In total, the company says it has the capacity to produce 1.2 billion doses within the next year.

The challenge with the Pfizer vaccine is that it falls apart if not kept in extreme temperature environments (the other vaccines don’t have this constraint). Specifically, it needs to be chilled to minus 70 degrees Celsius (minus 94 degrees Fahrenheit) until it’s time for injection. This sounds like an impossible task, but Pfizer is trying to help:
  • The company has developed packing and storage innovations that will suit a range of locations and situations.
  • Its specially-designed thermal shippers will use dry ice as well as GPS sensors to track the location and temperature of the vaccine.
  • The company has developed strategic partnerships with transportation providers.
The vaccine can be stored in the thermal shippers with dry ice for up to 15 days when the dry ice is refilled as well as in normal hospital refrigeration units for an additional five days.

Transportation and Delivery
During the first half of 2020, managing the PPE supply chain was challenging enough. But, things were running smoother, and plenty of lessons were learned by the Summer of 2020, particularly when it came to distributing COVID-19 testing kits that were once in limited supply.

Given the urgency of the pandemic, the vaccines are likely to be transported via air for longer distances. We’re talking about roughly 15,000 flights over two years to move 10 billion doses on pallets.

While aviation has a solid track record with regard to refrigerated cargo, dealing with freezing temperatures is another matter. Dry ice adds a significant amount of weight to a shipment, which will add to the cost and time for distribution.

Further, what happens between the airport and the final destination will be critical. One of the most complex parts of the logistics chain will be the last mile from the airport or local frozen warehouse to the distribution site. As long as additional dry ice is available, shippers can achieve positive results.

The Nursing Shortage
201209 The Complex Logistics of Vaccines BLOG 4aUnfortunately, there remains a shortage of trained healthcare staff to administer the vaccine, particularly in the U.S. Even though healthcare workers will be the first to  receive the vaccine, this industry has been hard-hit by the pandemic.

If there are any flu-like side effects associated with the vaccine, there’s a chance that providers will have to be sidelined in an abundance of caution. For this reason, many facilities may refrain from vaccinating everyone at the same time. These same workers will also need to be trained in handling the storage and administration of the COVID vaccine.

As the vaccine infrastructure takes shape and more advanced versions of vaccines are developed without such extreme requirements, the logistical challenges may not be as severe. In fact, Pfizer is already developing a powdered version of its vaccine with hopes of a 2021 release.


Sumber :
https://www.supplychain247.com/article/the_complex_logistical_challenges_of_vaccine_distribution/newcastle_systems?oly_enc_id=4024G0699590H1Y

Related Posts