Pages

Sunday, December 25, 2022

Peran Indonesia dalam Global Value Chain

Kamis, 15 November 2018 / 14:23 WIB

Peran Indonesia dalam global value chain

Bagi para pelaku industri transportasi dan logistik, pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu menyiratkan gambaran ke mana arah perdagangan global ke depan.

Dari ajang tersebut ada dua hal utama yang harus diantisipasi dari arah perdagangan global. Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi di regional Asia, khususnya Asia Timur. Hingga tahun 2017, negara Asia berkontribusi paling tinggi dalam pertumbuhan perdagangan global sebesar 8%, ketimbang rata-rata pertumbuhan perdagangan global sebesar 4%. China, Jepang dan India berkontribusi hampir seperlima dari seluruh perdagangan global sampai tahun 2017.

Tapi, data World Development Indicator Bank Dunia menunjukkan region Asia Timur mengalami perlambatan ekonomi, perdagangan dan investasi yang cukup signifikan dalam periode 10 tahun terakhir. Misalnya; sampai dengan 2010, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Asia Timur 9,8% per tahun dan menjadi 6,6% di tahun 2017. Arus masuk investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) menyusut dari 3,8% terhadap PDB pada 2010 menjadi 1,6% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2017. Biaya penelitian dan pengembangan (R&D) sebagai salah satu indikator tingkat inovasi, menyusut dari 57% terhadap PDB di tahun 2010 menjadi 47% di tahun 2017.

Walhasil, moderasi pertumbuhan ekonomi terlihat di dua negara dengan perekonomian terbesar di Asia. Pertumbuhan ekonomi China menyusut dari 10,6% di 2010 menjadi 6,7% di 2017. Sementara pertumbuhan ekonomi Jepang melambat dari 4,2% menjadi 1,7% pada periode sama. Dari sisi perdagangan, total impor Jepang menurun dari 20% terhadap PDB di tahun 2013 menjadi 15% di 2016. Sementara proporsi sama di China menurun dari 22% menjadi 18%.

Mengapa statistik ini penting? China dan Jepang adalah negara tujuan ekspor Indonesia pertama dan ketiga. Nilai ekspor Indonesia ke kedua negara tersebut mencapai seperempat dari total ekspor Indonesia. Dengan demikian, kontraksi perekonomian di kedua negara ini dan negara Asia Timur akan berdampak langsung terhadap penurunan pertumbuhan ekspor Indonesia ke depannya.

Kedua, perselisihan perdagangan mungkin akan menjadi hal yang normal (new normal). Perselisihan perdagangan ini tidak hanya terjadi di antara Amerika Serikat (AS) dan China, juga antara AS dengan beberapa negara lain. Seperti Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa, negara yang telah menjadi sekutu AS.

Kebijakan ini mengagetkan banyak mitra dagangnya. Pierre Marcovci menggambarkan bagaimana Prancis dan Jerman mulai gerah dengan ketergantungan dunia terhadap dollar AS sebagai anchor currency perdagangan global dan ingin Euro diberlakukan lebih luas di perdagangan Eropa dan mitra.

Sedikit mengkhawatirkan, Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Roberto Azevedo dalam sesi pertemuan Bank Dunia-IMF tidak memberikan sinyal tegas berapa lama sengketa ini berakhir dan kebijakan yang akan ditempuh. Sehingga sebagai small and open economy, disrupsi perekonomian di global tidak bisa dikontrol Indonesia. Hanya bisa mengantisipasi dengan baik.

Dari sisi domestik, nilai ekspor non migas Indonesia sampai 2017 sekitar US$ 153 juta, sementara sampai Agustus 2018 sekitar US$ 108 juta, 10% lebih tinggi dari periode sama tahun lalu. Produk utama ekspor kita yakni minyak nabati, mesin dan peralatan listrik serta karet dan olahannya. Lima komoditas impor utama kita adalah mesin, alat elektronik, plastik, besi baja dan bahan kimia organik.

Indonesia mengalami defisit neraca transaksi berjalan sejak tahun 2011 sampai saat ini. Bank Dunia memperkirakan defisit ini masih berlanjut sampai 2019 di kisaran 2,3%–2,4% terhadap PDB

Bagaimana karakteristik komoditas ekspor Indonesia? Jika berkaca data OECD, Indonesia salah satu negara dunia yang menikmati nilai tambah domestik terbesar dari setiap US$ 1 barang ekspor.


Cerita kontradiktif

Dari data OECD, setiap US$ 10 nilai ekspor Indonesia, sekitar US$ 8,8 (88%) nilai tambah domestik. Proporsi ini sangat tinggi jika dibandingkan negara lain. Seperti China (71%), India (79%), Malaysia (61%), Thailand (62%), dan Vietnam (63%). Tapi ada cerita kontradiktif, yakni rendahnya peranan Indonesia dalam pembentukan mata rantai nilai tambah global atau global value chain.

Global value chain menurut Hummels et al. (2001) adalah sebuah proses pembentukan nilai tambah atas suatu barang yang melibatkan tiga hal. Yakni proses produksi barang secara bertahap, terdapat dua atau lebih negara memberikan nilai tambah dan terjadi proses ekspor dan impor barang setengah jadi untuk proses produksi selanjutnya. Keterlibatan suatu negara dalam global value chain dapat dideteksi dengan indeks partisipasi.

Indeks partisipasi ini dipecah menjadi dua, yaitu partisipasi mundur (backward participation), menjelaskan kandungan nilai tambah negara lain dalam komoditas ekspor Indonesia. Dan partisipasi maju (forward participation), menggambarkan berapa kandungan nilai tambah Indonesia dalam ekspor suatu negara.

Ternyata, Indonesia memiliki partispasi maju cukup tinggi yang menjelaskan kita banyak mengekspor bahan setengah jadi yang kemudian diproses lebih lanjut di luar negeri. Namun partispasi mundur kita masih sangat rendah. Komoditas ekspor tidak memiliki keterkaitan dengan input negara lain. Contoh, kecilnya ekspor high-tech products kita dibandingkan negara ASEAN. Bank Dunia mendefinisikan sebagai komoditas dengan kandungan R&D tinggi meliputi produk komputer, mesin elektronika dan farmasi. Dan hingga 2016, Indonesia adalah negara dengan high-tech export paling rendah dibandingkan negara ASEAN lain dengan porsi 5,8% dari total ekspor manufaktur.

Coba lihat Filipina yang memiliki global value chain .tinggi. Lantaran jasa manufaktur elektronik (EMS) dan manufaktur semikonduktor (SMS) menyumbang 51% dari pendapatan ekspor negara.

Rendahnya partisipasi Indonesia dalam global value chain. juga berhubungan dengan rendahnya porsi penelitian dan pengembangan (R&D). Data Bank Dunia (2013) menunjukkan gross expenditure on R&D (GERD) per PDB kita cuma 0,8% di bawah Vietnam (0,37%), Thailand (0,44%), Singapura (2%) dan Filipina (0,4%).

Analisa global value chain penting untuk melihat perubahan dan pergeseran pola produksi, keterhubungan antarnegara dan kontribusi dari masing-masing negara dalam proses pembentukan nilai tambah suatu barang dan jasa. Global value chain. juga bisa menggambarkan spesialisasi, kualitas tenaga kerja, serta transfer teknologi.

Antisipasinya, Indonesia harus memiliki visi meningkatkan partisipasi dalam global value chain. Strategi ini juga akan mengurangi risiko terpuruknya neraca transaksi berjalan akibat sensitivitas terlalu tinggi terhadap perubahan harga komoditas dunia. Sesuatu yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir.•


Ibrahim Kholilul Rohman

Kepala Riset Ekonomi Samudera Indonesia


Sumber :

https://analisis.kontan.co.id/news/peran-indonesia-dalam-global-value-chain

Sunday, October 30, 2022

Penerapan Rantai Dingin Logistik Penting untuk Kurangi Sampah Pangan

Bos SCI sebut Penerapan Rantai Dingin Logistik Penting untuk Kurangi Sampah Pangan

Senin, 31 Oktober 2022 05:00 WIB

Chaiman Supply Chain Indonesia (SCI) Setiaji mengatakan penerapan cold chain logistics (CCL) atau rantai dingin logistik sangat penting untuk mengurangi kerugian dan pemborosan terhadap pangan. Dia pun menyitir data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengenai pemborosan terhadap berbagai komoditas pangan.

Pemborosan untuk komoditas buah dan sayur, misalnya, sebesar 45 persen. Kemudian daging sebesar 20 persen dan perikanan sebesar 35 persen.

“CCL juga sangat penting dalam rantai pasok produk farmasi, termasuk vaksin. Kegagalan menjaga suhu dalam proses penyimpanan dan pendistribusian dapat menurunkan kualitas vaksin,” ujar Setiaji dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 30 Oktober 2022. 

Setiaji mengutarakan kebutuhan CCL bisa dilihat dari perbandingan antara kapasitas cold storage atau kamar pendingin yang tersedia serta jumlah populasi di suatu negara. Menurutnya, berdasarkan analisis SCI, Amerika Serikat dan India membutuhkan ruang pendingin 0,36 dan 0,1 meter kubik per orang. Sedangkan di Indonesia hanya 0,05 meter kubik per orang.

“Pengetahuan mengenai CCL sangat penting bagi para mahasiswa Prodi Manajemen Logistik sebagai generasi muda yang akan berkecimpung dalam bidang logistik karena SDM menjadi salah satu faktor keberhasilan implementasi CCL. Faktor lainnya adalah teknologi seperti armada dan fasilitas/infrastruktur, serta proses operasional," ujar Setiaji.

Adapun SCI mengapresiasi Universitas Padjajaran yang menyelenggarakan pelatihan “Basic Logistics” bagi mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bisnis Logistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad. Pelatihan yang difasilitasi SCI itu dilakukan secara daring melalui platform Ruang Logistik (ruanglogistik.id).

Adapun pelatihan yang digelar luring bertujuan agar mahasiswa dapat memahami konsep-konsep dasar logistik dan cara-cara yang efektif dalam pengelolaan logistik. Materi pelatihan mengacu pada skema Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang logistik berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 94 Tahun 2019.

“Sehingga peserta sekaligus dapat mempersiapkan keikutsertaan dalam sertifikasi profesi logistik nasional dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),”  kata Setiaji.


Sumber :

https://bisnis.tempo.co/read/1651134/bos-sci-sebut-penerapan-rantai-dingin-logistik-penting-untuk-kurangi-sampah-pangan

Sunday, March 20, 2022

Ekosistem Rantai Pasok Halal

Airlangga: RI Perlu Memperkuat Ekosistem Rantai Pasok Halal


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia perlu memperkuat ekosistem rantai pasok halal (halal value chain) untuk mendukung ekonomi syariah dan industri halal nasional.
 
"Perlu menjadi perhatian juga, ekonomi syariah dan industri halal di Indonesia merupakan sektor yang memiliki peluang pertumbuhan menarik secara global," ujar Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 20 Maret 2022.
 
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai bauran kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah pada 2022. Salah satunya dengan memberikan stimulus bagi pengembangan ekonomi syariah melalui penguatan ekosistem halal value chain terutama sektor pertanian yang terintegrasi, kuliner halal, dan fesyen muslim.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?HappyInspireConfuseSad
Selain itu, akan dilakukan percepatan perluasan implementasi halal assurance system sebagai percepatan sertifikasi halal pelaku UMK, perluasan penyaluran Cash-Waqf Linked Sukuk (CWLS), penerapan pembiayaan kreatif syariah, serta implementasi layanan syariah BPJamsostek.
 
"Saat ini kita juga sedang mengalami pertumbuhan ekonomi digital, didorong oleh terjadinya pergeseran perilaku masyarakat ke platform digital. Oleh karena itu, dukungan untuk pengembangan ekosistem ekonomi digital untuk mendorong produktivitas masyarakat juga akan terus dilakukan," terangnya.
 
Berbagai strategi telah diterapkan antara lain melalui Kartu Prakerja, Gerakan Nasional Literasi Digital, Digital Talent Scholarship, serta Digital Leadership Academy sehingga mendukung pengembangan digital talent dan digitalisasi UMKM termasuk UMKM yang bergerak di sektor halal.
 
Menurut Airlangga, penyiapan talenta digital memerlukan dukungan dari sektor pendidikan. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp541,7 triliun pada 2022. Adapun upaya yang dilakukan pemerintah yaitu reformasi pendidikan dengan arah kebijakan yang secara umum difokuskan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan nasional.
 
Pendidikan juga menjadi salah satu isu yang diangkat dalam working group dan engagement group G20. Dalam Presidensi G20 Education Working Group, Indonesia dipandang sebagai negara yang berhasil melakukan transformasi pendidikan menyeluruh yang berkualitas meskipun diterpa pandemi.
 
"Pemerintah Indonesia mengajak untuk saling bahu membahu dalam hal peningkatan pendidikan dan kebudayaan. Ajakan ini dirumuskan dalam bentuk empat agenda prioritas pada Education Working Group G20, antara lain Pendidikan Berkualitas untuk Semua, Teknologi Digital dalam Pendidikan, Solidaritas dan Kemitraan, serta Masa Depan Dunia Kerja Pasca Covid-19," tutup Airlangga.


Sumber :
https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/nbwMorxK-airlangga-ri-perlu-memperkuat-ekosistem-rantai-pasok-halal

Pemerintah Perkuat Ekosistem Halal Value Chain

Dorong Ekonomi Syariah, Pemerintah Perkuat Ekosistem Halal Value Chain 

Pemerintah memberikan stimulus bagi pengembangan ekonomi syariah melalui penguatan ekosistem halal value chain.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah sudah mengeluarkan berbagai bauran kebijakan guna mendukung pertumbuhan ekonomi syariah pada 2022. Ekonomi syariah dan industri halal menjadi perhatian pemerintah lantaran kedua sektor tersebut memiliki peluang pertumbuhan menarik secara global. 

Sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi syariah, pemerintah telah memberikan stimulus bagi pengembangan ekonomi syariah melalui penguatan ekosistem halal value chain terutama sektor pertanian yang terintegrasi, kuliner halal dan fesyen muslim. 

"Selain itu, akan dilakukan percepatan perluasan implementasi halal assurance system sebagai percepatan sertifikasi halal pelaku UMK, perluasan penyaluran Cash-Waqf Linked Sukuk (CWLS), penerapan pembiayaan kreatif syariah, serta implementasi layanan syariah BP Jamsostek," kata Airlangga dalam siaran pers, dikutip Minggu (20/3/2022). 

Tak hanya dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi syariah, Airlangga mengatakan pemerintah juga terus mendukung pengembangan ekosistem ekonomi digital guna mendorong produktivitas masyarakat. Strategi yang telah diterapkan antara lain melalui Gerakan Nasional Literasi Digital, Digital Talent Scholarship, Kartu Prakerja dan Digital Leadership Academy. 

Strategi-strategi ini diharapkan mampu mendukung pengembangan digital talent dan digitalisasi UMKM termasuk UMKM yang bergerak di sektor halal. Kendati demikian, penyiapan digital talent juga membutuhkan dukungan dari sektor pendidikan. 

Oleh karena itu, di 2022 pemerintah telah mengalokasikan  anggaran sebesar Rp541,7 triliun dan mereformasi pendidikan dengan arah kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. 

"Pemerintah Indonesia mengajak untuk saling bahu membahu dalam hal peningkatan pendidikan dan kebudayaan. Ajakan ini dirumuskan dalam bentuk empat agenda prioritas pada Education Working Group G20, antara lain Pendidikan Berkualitas untuk Semua, Teknologi Digital dalam Pendidikan, Solidaritas dan Kemitraan, serta Masa Depan Dunia Kerja Pasca Covid-19," ujarnya.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20220320/9/1512827/dorong-ekonomi-syariah-pemerintah-perkuat-ekosistem-halal-value-chain

Monday, February 21, 2022

FOB Freight Collect dan Freight Prepaid

FOB FREIGHT COLLECT DAN FOB FREIGHT PREPAID

Penggunaan INCOTERMS sering menimbulkan urusan yang agak berbelit – belit, baik dari pembayaran biaya, tanggung jawab dan resiko dari penjual (seller) kepada pembeli (buyer). Urusan ini tidak selalu sama pada setiap titik pergerakan kargo.

Saat ini penggunaan FOB Freight Collect dan Freight Prepaid sering digunakan dalam mengatasi hal tersebut.


Apa itu FOB Freight Collect dan FOB Freight Prepaid?.

FOB Freight Collect adalah sebuah istilah yang digunakan, dimana pembeli (buyer) bertanggung jawab terhadap semua biaya pengiriman dan akan membayarkannya saat pembeli (buyer) menerima kargo.

Penggunaan FOB Freight collect tidak menghilangkan tanggung jawab penjual (seller) terhadap kargo yang rusak atau hilang selama kargo transit. Ini disebabkan karena ketika kargo transit, penjual (seller) masih diasumsikan sebagai pemilik.

FOB Freight prepaid adalah sebuah istilah yang digunakan, dimana penjual (seller)  memikul tanggung jawab atas semua biaya pengiriman termasuk mengatur pengiriman dari titik pusat pemuatan ke titik bongkar.

Semua biaya yang dikeluarkan untuk transportasi tersebut diatas, selanjutnya ditagihkan kepada pembeli (buyer), dan untuk asuransi, dapat diatur oleh salah satu pihak.

Penggunaan FOB Freight prepaid sama dengan penggunaan Freight collect yang tidak menghilangkan tanggung jawab penjual (seller) terhadap kargo yang rusak atau hilang selama kargo transit. Ini disebabkan karena ketika kargo transit, penjual (seller) masih diasumsikan sebagai pemilik.


Bagaimana untuk mengetahui siapa yang mengatur dan membayar biaya pengiriman termasuk yang mengontrak pengangkutan?

Bills of lading adalah dokumen hukum antara pengirim kargo dan pengangkut (carrier), yang memberi rincian jenis, jumlah dan tujuan kargo yang diangkut. Ini berfungsi untuk penerimaan kargo di pelabuhan tujuan yang telah ditentukan.

Pada Bills of lading sebagai dokumen hukum, harus tertera dengan jelas istilah mana yang digunakan dari salah satu istilah tersebut, sehingga dapat diketahui siapa yang mengatur dan membayar biaya pengiriman dan pihak mana yang mengontrak pengangkut untuk pengangkutan kargo.

Pengingat : Penggunaan FOB akan menguntungkan bagi pembeli (buyer) dan penggunaan CIF akan menguntungkan bagi penjual (seller)*


Sumber :
https://readmaritime.wordpress.com/2017/10/03/freight-collect-dan-freight-prepaid/

Friday, February 11, 2022

Zero ODOL 2023

Ini Alasan Kenapa Pengusaha Truk Jarang Patuhi Larangan ODOL

Jumat, 11 Februari 2022

| 17:02 WIB

Codey Fredy Lamahayu Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Khusus Tanjung Perak Surabaya membongkar alasan kenapa pengusaha truk atau pemilik angkutan jarang mematuhi larangan over dimension over loading (ODOL) dari pemerintah. Padahal, pemerintah menargetkan Indonesia akan Zero ODOL atau bebas kendaraan barang kelebihan dimensi dan kelebihan muatan tahun depan.

“Jadi begini, ongkos angkut saat ini sudah sangat rendah. Kira-kira sekitar Rp500-Rp550 per ton kilometer. Sehingga semua truk itu ingin mengangkut lebih banyak, bak lebih besar, agar dapat ongkos untuk membiayai perusahaannya. Itu penyebab utama sehingga mereka tidak mau mematuhi zero ODOL. Tapi kami di Organda mendukung penuh Zero ODOL 2023,” ujarnya.

Problemnya, kata dia, lebih banyak truknya daripada yang diangkut. Para pengusaha pemilik barang ingin mendapatkan angkutan yang murah. Sementara, karena jumlah truk yang terlalu banyak, para pengusaha truk akhirnya saling berebut sehingga satu sama lain saling menurunkan harga dan berupaya supaya bisa mengangkut lebih banyak barang.

“Kebijakan Zero ODOL ini, kalau keseluruhan (pengusaha truk) bisa bersama-sama menerapkannya akan menguntungkan. Tapi kalau cuma satu dua saja, akan merugikan para pengusaha yang patuh. Ukuran kepatuhan ini kan hanya bisa dengan jembatan timbang,” katanya ketika mengudara di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/2/2022).

Tidak hanya pengusaha angkutan, Codey menegaskan, berkaitan upaya Zero ODOL ini para pemilik barang juga harus menerima konsekuensi dan mau mendukung penerapan kebijakan itu. Sebab, ketika semua pengusaha truk benar-benar patuh pada larangan ODOL, dia menegaskan, ongkos angkut akan terkerek naik.

“Kalau nanti sudah Zero ODOL, ongkos angkut itu akan naik antara 100-200 persen. Bahkan bisa 200-300 persen. Nah, pemilik barang harus mematuhi ongkos baru itu, harus mau membayar,” ujarnya.

Codey menjelaskan bagaimana penerapan Zero ODOL akan berpengaruh pada kenaikan ongkos atau tarif jasa angkut barang. Sebagaimana diketahui, batas angkut sebuah truk yang dalam aturan pemerintah terkait larangan ODOL ini adalah 12 ton. Padahal, selama ini, truk-truk itu bahkan dimodifikasi sedemikian rupa supaya bisa mengangkut lebih dari 20 ton.

“Jadi kalau Zero ODOL diterapkan, pengangkutan barang jadi terbatas. Sesuai aturan larangan ODOL, satu dump truk itu hanya bisa mengangkut maksimal 12 ton. Padahal, tadinya, satu dump truk bisa mengangkut 25-30 ton. Jadi, mau enggak mau, kalau kami (pengusaha truk) patuh pada aturan Zero ODOL, ongkos angkut itu akan naik sampai 300 persen,” ujarnya.

Codey pun mengakui, bila ongkos angkut barang sudah meningkat, hal itu juga akan berdampak pada kenaikan harga barang. Sebab, para pemilik barang yang memanfaatkan jasa angkut bukan tidak mungkin akan ikut menaikkan harga barang mereka untuk menjaga margin keuntungannya.

Bagi para pengusaha truk, Codey mengakui, larangan ODOL ini memang akan mengurangi margin keuntungannya. Karena itulah, perlu ada penyesuaian tarif angkut supaya pengusaha truk bisa lebih patuh. Sementara, fenomena kendaraan barang ODOL ini tidak hanya berdampak ekonomi, seringkali truk yang kelebihan muatan juga memunculkan korban di jalan raya.

Codey kembali menegaskan, Organda di seluruh Indonesia, dari pusat sampai di daerah mendukung penuh target pemerintah Zero ODOL pada 2023. Hanya saja, dia meminta pemerintah tegas dalam menerapkan kebijakan. Termasuk melakukan sosialisasi kepada semua pihak secara masif dan terus menerus.

“Baru-baru ini Dirjen Hubdat sudah mengeluarkan kebijakan, untuk truk yang masih ODOL dilarang melakukan uji KIR. Organda mendukung ini, asalkan ini diterapkan kepada semuanya, dan semua pihak menjalankan aturan ini bersama-sama,” ujarnya.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2022/ini-alasan-kenapa-pengusaha-truk-jarang-patuhi-larangan-odol/

Thursday, February 10, 2022

Supply Chain Management, Karier Incaran Milenial

Mengenal Supply Chain Management, Karier Incaran Milenial yang Belum Banyak Orang Tahu

Kamis, 10 Februari 2022

Mengutip Investopedia, definisi supply chain management (manajemen rantai pasokan) adalah manajemen aliran barang dan jasa yang mencakup semua proses yang mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi.

Aktivitas ini melibatkan efisiensi aktivitas dari sisi penawaran bisnis untuk memaksimalkan nilai pelanggan dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar.

I Gede Agus Widyadana, Dosen Fakultas Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya mengatakan, pekerja yang terlibat dalam aktivitas supply chain management (SCM) sangat luas. Dimulai dari perencanaan, produksi, persediaan, pembelian, lalu ketika barang tersebut datang penanganan penyimpanannya di gudang seperti apa, hingga barang tersebut dikirimkan kepada konsumen.

“Sangat membutuhkan orang di bagian itu. Tren yang ada sekarang butuh efisiensi, dibutuhkan analisis dengan baik terkait biaya persediaan, transportasi dan sebagainya,” kata Agus saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Kamis (10/2/2022).

Dia pun mengakui profesi ini punya peluang besar untuk generasi milenial, namun tantangannya adalah kurang populer. Padahal konsep supply chain yang kerap dikaitkan dengan aktivitas pergudangan berbeda jauh.

“Dalam konsep SCM lebih banyak membangun relasi dengan rekan di luar industri kita, kemudian pola/tren transportasi yang menunjang logistik dan supply chain makin maju dan berkembang. Pola baru untuk bisa lebih efisien butuh pemikiran baru yang segar, dan menariknya selalu ada tantangan baru. Saya yakin anak sekarang suka akan tantangan,” ujarnya.

Selain itu, saat ini beberapa universitas sudah membuka program studi logistic and supply chain. Bahkan universitas di luar negeri sudah terlebih dahulu membuka program studi ini.

Agus menambahkan, skill yang dibutuhkan dalam industri ini adalah kemampuan melakukan analisa untuk selalu melakukan perbaikan terutama cost efficiency. Lalu skill mendapatkan barang/material yang tepat, selain itu kemampuan untuk membangun relasi yang baik dengan pemasok, distributor, dan toko.

Dia mencontohkan salah satu profesi dalam industri ini adalah analis supply chain yang bertugas untuk menganalisa pasokan bahan baku.

“Analis supply chain akan menganalisa dari pasokan bahan baku yang ada, pemasok mana yang bisa diajak kerja sama, bentuk kerja samannya seperti apa, dan bagaimana kerja sama ini menguntungkan satu dengan yang lain,” paparnya.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2022/mengenal-supply-chain-management-karier-incaran-milenial-yang-belum-banyak-orang-tahu/

Friday, February 4, 2022

Logistics Engineering Adalah

Logistics engineering

Logistics engineering is a field of engineering dedicated to the scientific organization of the purchase, transport, storage, distribution, and warehousing of materials and finished goods. Logistics engineering is a complex science that considers trade-offs in component/system design, repair capability, training, spares inventory, demand history, storage and distribution points, transportation methods, etc., to ensure the "thing" is where it's needed, when it's needed, and operating the way it's needed all at an acceptable cost.

Logistics is generally concerned with cost centre service activities, but provides value via improved efficiency and customer satisfaction. It can quickly lose that value if the customer becomes dissatisfied. The end customer can include another process or work center inside of the manufacturing facility, a warehouse where items are stocked or the final customer who will use the product. 

Another approach which has appeared in recent years is the supply chain management. The supply chain also looks at an efficient chaining of the supply / purchase and distribution sides of an organization. 

While logistics looks at single echelons with the immediate supply and distribution linked up, supply chain looks at multiple echelons/stages, right from procurement of the raw materials to the final distribution of finished goods up to the customer. 

It is based on the basic premise that the supply and distribution activities if integrated with the manufacturing / logistic activities, can result in better profitability for the organization. The local minimum of total cost of the manufacturing operation is getting replaced by the global minimum of total cost of the whole chain, resulting in better profitability for the chain members and hence lower costs for the products.

Logistics engineering as a discipline is a very important aspect of systems engineering that also includes reliability engineering. It is the science and process whereby reliability, maintainability, and availability are designed into products or systems. 

It includes the supply and physical distribution considerations above as well as more fundamental engineering considerations. Logistics engineers work with complex mathematical models that consider elements such as mean time between failures (MTBF), mean time to failure (MTTF), mean time to repair (MTTR), failure mode and effects analysis (FMEA), statistical distributions, queueing theory, and a host of other considerations. 

For example, if we want to produce a system that is 95% reliable (or improve a system to achieve 95% reliability), a logistics engineer understands that total system reliability can be no greater than the least reliable subsystem or component. 

Therefore, our logistics engineer must consider the reliability of all subcomponents or subsystems and modify system design accordingly. If a subsystem is only 50% reliable, one can concentrate on improving the reliability of that subsystem, design in multiple subsystems in parallel (5 in this case would achieve approximately 97% reliability of that subsystem), purchase and store spare subsystems for rapid change out, establish repair capability that would get a failed subsystem back in operation in the required amount of time, and/or choose any combination of those approaches to achieve the optimal cost vs. reliability solution. Then the engineer moves onto the next subsystem.


Sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Logistics_engineering

Logistics Engineering

WHAT IS LOGISTICS ENGINEERING?

Logistics Engineering is the professional engineering discipline responsible for the integration of support considerations in the design and development; test and evaluation; production and/or construction; operation; maintenance; and the ultimate disposal/recycling of systems and equipment (whole system life cycle).


Logistics Engineering: CLEP Notional Definitions

Logistics Engineers

A professional practitioner who possesses the knowledge and demonstrated skills required for successful application of scientific and mathematical principles, quantitative and qualitative analysis and deductive reasoning to develop and implement solutions to practical problems in the discipline of logistics engineering.

CLEP, 2019


Logistics Engineering

The professional engineering discipline responsible for the integration of support considerations in the design and development; test and evaluation; production and/or construction; operation; maintenance; and the ultimate disposal/recycling of systems and equipment. Additionally, this discipline defines and influences the supporting infrastructure for these systems and equipment (i.e., maintenance, personnel, facilities, support equipment, spares, supply chains, and supporting information/data). The practice of logistics engineering is exercised throughout the system life-cycle by conducting the iterative process of supportability analysis and the accomplishment of trade-off studies to optimize costs and system, logistics, and performance requirements.

CLEP, 2019


Logistics Engineering: System Life Cycle

Logistics Engineers are utilised throughout the entire system life cycle, from concept to disposal, see figure below for the system life cycle stages as per ISO/IEC 15288.

ISO/IEC 15288 System Life Cycle Stages

The roles and responsibilities that Logistics Engineers undertake over the system life cycle are both broad and specialised, see below for some examples of Logistics Engineers tasks.


Concept, Development and Production Stages

When engaged early in the system or capability development, Logistics Engineers are responsible for the integration of support considerations in the design and development; test and evaluation; production and/or construction of the mission system (such as reliability, maintainability, availability, standardisation etc) and also the supporting infrastructure design aka support system design (including maintenance, personnel, facilities, support equipment, spares, supply chains, and supporting information/data).


Utilisation & Support Stage

When engaged during the utilisation stage, Logistics Engineers conduct iterative updates of the supportability analysis (established during the Concept, Design and Development stage). These updates arise due to the program of improvement (supportability optimisation), obsolescence and mission system design changes.


Disposal Stage

When engaged during the disposal phase, Logistics Engineers assist disposal managers with the planning and staged disposal of systems.


Sumber :

https://napessolutions.com/logistics-engineering/

Profesi Logistik Engineer

Apa Itu Logistik Engineer? 

Artikel kali ini akan mengulas mengenai logistik engineer sehingga anda akan mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang yang menjabat posisi ini dan seperti apa keseharian mereka dalam bekerja. Saat ini kita tentu sering melihat lowongan kerja yang menyediakan posisi sebagai logistik engineer, maka dari itu perlu bagi kita untuk memahami cara kerja, skill yang diperlukan, dan kompetensi yang menunjang posisi ini.

Dikutip dari Wikipedia, Logistik engineer adalah suatu bidang teknik yang didedikasikan untuk organisasi/perusahaan transportasi, penyimpanan, distribusi, dan pergudangan bahan dan bahan jadi. Seorang logistik engineer umumnya menerapkan ilmu sains dan matematika untuk memastikan bahan maupun jasa dapat didistribusikan dengan cara yang paling efisien dan tentunya menguntungkan.

Untuk gelar pendidikan, profesi ini umumnya diisi oleh orang dengan gelar sarjana, namun banyak juga perusahaan yang menginginkan kandidat dengan gelar master. Pelatihan dan sertifikasi juga diperlukan untuk profesi ini.


Deskripsi Pekerjaan Logistik Engineer

Kata logistik berlaku untuk kegiatan atau proses dimana jasa maupun barang didistribusikan. Dalam kegiatan  tersebut, seorang logistik Engineer berperan merancang dan melakukan analisis terhadap sistem yang akan digunakan untuk mendistribusikan barang maupun jasa tersebut.


Berikut di bawah ini beberapa deskripsi pekerjaan bagi logistik engineer:

  • Menentukan persyaratan untuk keperluan dukungan logistik, seperti jumlah staff yang diperlukan, detail fasilitas, rencana keselamatan dan pemeliharaan.
  • Melakukan analisa dan penafsiran data logistik yang meliputi layanan pelanggan, pengadaan, perkiraan, pembuatan, inventaris, transportasi dan pergudangan.
  • Mengembangkan metrik logistik, analisis internal dan indikator kinerja utama untuk unit bisnis.
  • Mengindentifikasi peluang pengurangan biaya
  • Mengusulkan solusi logistik bagi pelanggan
  • Meninjau komitmen kontrak, spesifikasi pelanggan maupun calon pelanggan, atau informasi terkait untuk menentukan persyaratan logistik atau dukungan.
  • Mengevaluasi efektivitas proses logistik saat ini dan masa depan
  • Mempersiapkan dan memvalidasi dokumen logistik, dan pelaporan data pemeliharaan.
  • Melakukan studi atau analisis logistik, seperti studi waktu, analisis laju, jaringan, dan analisis rantai pasokan
  • Mengembangkan spesifikasi untuk peralatan pendukung, tata letak fasilitas, dan sistem penanganan material, bahan, atau produk
  • Mengidentifikasi dan mengembangkan aturan bisnis maupun prosedur operasi untuk merampingkan proses operasi
  • Mencari informasi dari staf kunci maupun staf lapangan lainnya dengan tujuan mengidentifikasi peluang peningkatan efisiensi maupun pengurangan biaya operasional
  • Melakukan perencanaan serta desain operasional secara komprehensif untuk meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan maupun biaya.
  • Mengevaluasi penggunaan teknologi pelacakan inventaris, perangkat lunak pergudangan berbasis web, atau sistem lainnya untuk memaksimalkan efisiensi pabrik atau pusat distribusi.
  • Menyediakan fasilitas logistik dan menganalisa perencanaan kapasitas untuk keperluan distribusi atau transportasi.
  • Mengevaluasi penggunaan teknologi, seperti GPS, identifikasi frekuensi radio (RFID), perangkat lunak navigasi rute, atau sistem sambungan satelit, untuk meningkatkan efisiensi transportasi.
  • Membuat model atau skenario untuk memprediksi dan menghadapi dampak perubahan keadaan, seperti biaya bahan bakar, penetapan harga jalan, pajak, maupun aturan-aturan lainnya.
  • Menentukan perancangan fasilitas baru atau memodifikasi fasilitas yang ada, berdasarkan faktor-faktor seperti biaya, ruang yang tersedia, jadwal, persyaratan teknis, dan ergonomi.

 

Aktivitas Pekerjaan Utama Bagi Seorang Logistik Engineer

Terdapat beberapa aktivitas yang paling utama bagi seorang yang berprofesi sebagai logistik engineer, meliputi:

  • Berinteraksi Dengan Komputer - Seorang logistik engineer menggunakan komputer untuk memprogram, menulis, memasukkan data, atau memproses informasi.
  • Memperoleh Informasi - Mengamati, menerima, dan mendapatkan informasi dari semua sumber yang relevan terkait kegiatan logistik.
  • Menganalisis Data atau Informasi - Mengidentifikasi prinsip, alasan, atau fakta informasi yang mendasarinya dengan memecah informasi atau data menjadi bagian yang terpisah.
  • Memecahkan Masalah dan Membuat Keputusan- Menganalisis informasi dan mengevaluasi hasil untuk memilih solusi terbaik dan menyelesaikan masalah baik itu masalah administrasi maupun kondisi di lapangan.
  • Berkomunikasi dengan Orang di Luar Organisasi/Perusahaan - Berkomunikasi dengan orang-orang di luar organisasi, mewakili organisasi kepada pelanggan, publik, pemerintah, dan sumber eksternal lainnya. Informasi ini dapat ditukar secara langsung, secara tertulis, atau melalui telepon atau email.
  • Mendokumentasikan / Merekam Informasi - Memasukkan, menyalin, merekam, menyimpan, atau memelihara informasi dalam bentuk tertulis maupun elektronik.
  • Memperbarui dan Menggunakan Pengetahuan yang Relevan - Menjaga agar selalu terbarui secara teknis dan menerapkan pengetahuan baru pada pekerjaan Anda.
  • Mengorganisir, Merencanakan, dan Memprioritaskan Pekerjaan - Mengembangkan tujuan dan rencana spesifik untuk memprioritaskan, mengatur, dan menyelesaikan pekerjaan Anda.
  • Mengevaluasi Informasi untuk Memastikan Kepatuhan terhadap Standar - Menggunakan informasi yang relevan dan penilaian individu untuk memastikan apakah aktivitas atau proses mematuhi hukum, peraturan, atau standar.
  • Membangun dan Memelihara Hubungan Interpersonal - Mengembangkan hubungan kerja yang konstruktif dan kooperatif dengan orang lain khususnya pelanggan, dan menjaga hubungan tersebut dari waktu ke waktu.
  • Berpikir Kreatif - Mengembangkan, merancang, atau membuat aplikasi, ide, hubungan, sistem, atau produk baru, termasuk kontribusi artistik.
  • Mengidentifikasi Objek, Tindakan, dan Peristiwa - Mengidentifikasi informasi dengan mengelompokkan, memperkirakan, mengenali perbedaan atau persamaan, dan mendeteksi adanya suatu perubahan.
  • Pelatihan dan Pengajaran Untuk Orang Lain - Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan orang lain, mengembangkan program atau kelas pendidikan atau pelatihan formal, dan mengajar. Pelatihan ini umumnya diberikan kepada staff yang berhubungan dengan logistik.
  • Mengembangkan dan Membangun Tim - Mendorong dan membangun rasa saling percaya, rasa hormat, dan kerja sama di antara anggota tim.
  • Memperkirakan Karakteristik Produk, dan Informasi yang Dapat Dihitung - Memperkirakan ukuran, jarak, dan jumlah, atau menentukan waktu, biaya, sumber daya, atau bahan yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas kerja.
  • Membuat Pekerjaan dan Kegiatan - Penjadwalan program, kegiatan, serta pekerjaan orang lain.
  • Drafting, Laying Out, dan Menentukan Perangkat Teknis, Bagian, dan Peralatan - Menyediakan dokumentasi, instruksi rinci, gambar, atau spesifikasi untuk memberi tahu orang lain tentang bagaimana perangkat, bagian, peralatan, atau struktur dibuat, dirakit, dirubah, dimodifikasi, dipelihara , dan cara digunakan.
  • Memantau dan Mengontrol Sumber Daya - Memantau dan mengendalikan sumber daya dan mengawasi pengeluaran biaya.
  • Mengembangkan Tujuan dan Strategi - Menetapkan tujuan jangka panjang dan menentukan strategi dan tindakan untuk mencapainya.
  • Membimbing, Mengarahkan, dan Memotivasi Bawahan - Memberikan bimbingan dan arahan kepada bawahan, termasuk menetapkan standar kinerja dan memantau kinerja.
  • Memeriksa Peralatan, Struktur, atau Bahan - Memeriksa peralatan, struktur, atau bahan untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan atau masalah atau cacat lainnya.
  • Memperbaiki dan Pemeliharaan Peralatan - Servis, perbaikan, kalibrasi, pengaturan, fine-tuning, atau pengujian mesin, perangkat, dan peralatan yang beroperasi.
  • Melakukan Kegiatan Administrasi - Melakukan tugas administrasi sehari-hari seperti memelihara file informasi dan memproses dokumen.
  • Unit Organisasi Kepegawaian - Merekrut, mewawancarai, memilih, merekrut, dan mempromosikan karyawan dalam suatu organisasi.


Kemampuan yang diperlukan untuk menjadi Logistik Engineer

Untuk menjadi seorang yang berposisi sebagai logistik engineer maka ada beberapa kemampuan atau skill yang dibutuhkan untuk posisi ini. Adapun skill yang dimaksud sebagai berikut:

  • Berpikir Kritis - Menggunakan logika dan penalaran untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari solusi alternatif, kesimpulan atau pendekatan untuk masalah.
  • Reading Comprehension - Seorang logistic engineer harus mampu memahami kalimat tertulis dan paragraf dalam dokumen terkait pekerjaan.
  • Mengevaluasi Sistem - Mengidentifikasi tindakan atau indikator sistem kinerja dan tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan atau memperbaiki kinerja.
  • Analisis Sistem - Menentukan bagaimana sistem harus bekerja dan bagaimana perubahan kondisi, operasi, dan lingkungan akan mempengaruhi hasil.
  • Pendengar Aktif - Memberi perhatian penuh pada apa yang dikatakan orang lain, meluangkan waktu untuk memahami poin yang dibuat, dan mengajukan pertanyaan yang sesuai.
  • Manajemen Waktu - Mengelola waktu sendiri dan waktu orang lain
  • Pemecahan Masalah - Mengidentifikasi masalah dan meninjau informasi terkait untuk mengembangkan dan mengevaluasi opsi dan mengimplementasikan solusi.
  • Matematika - Menggunakan matematika untuk dalam bekerja, baik itu untuk pemecahan masalah maupun perhitungan kuantitas barang.
  • Pengambilan Keputusan - Mempertimbangkan biaya relatif dan manfaat dari tindakan potensial untuk memilih yang paling tepat.
  • Menulis dan berbicara - Berkomunikasi secara efektif dalam tulisan yang sesuai untuk kebutuhan audiens, dan berbicara kepada orang lain untuk menyampaikan informasi secara efektif.
  • Kemauan Belajar- Memahami implikasi informasi baru untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan saat ini dan di masa depan
  • Koordinasi - Menyesuaikan tindakan terkait dengan tindakan orang lain.
  • Analisis Operasi - Menganalisis kebutuhan dan persyaratan produk untuk membuat desain.
  • Manajemen Sumber Daya Personalia - Memotivasi, mengembangkan, dan mengarahkan orang saat mereka bekerja, mengidentifikasi orang-orang terbaik untuk pekerjaan itu.
  • Persepsi Sosial - Menyadari reaksi orang lain dan memahami mengapa mereka bereaksi seperti yang mereka lakukan.
  • Monitoring - Memantau / Menilai kinerja diri Anda, orang lain, atau organisasi untuk melakukan perbaikan atau mengambil tindakan korektif.
  • Analisis Kontrol Kualitas - Melakukan tes dan inspeksi produk, layanan, atau proses untuk mengevaluasi kualitas atau kinerja.
  • Manajemen Sumber Daya Material - Memperoleh dan melihat penggunaan peralatan, fasilitas, dan material yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan tertentu.
  • Pemecahan masalah - Menentukan penyebab kesalahan operasi dan memutuskan apa yang harus dilakukan tentang hal itu.
  • Pemilihan Peralatan - Menentukan jenis alat dan peralatan yang paling tepat untuk melakukan suatu pekerjaan.


Gaya Kerja

Setiap posisi kerja memiliki gaya kerja masing-masing. Berikut ini beberapa cara kerja logistik engineer:

  • Ketergantungan - Pekerjaan membutuhkan keandalan, tanggung jawab, dan dapat diandalkan, serta memenuhi kewajiban.
  • Perhatian pada Detail - Pekerjaan membutuhkan kehati-hatian tentang detail dan menyeluruh dalam menyelesaikan tugas kerja.
  • Kerja Sama - Pekerjaan membutuhkan kesenangan dengan orang lain dan menunjukkan sikap kooperatif yang baik.
  • Berpikir Analitis - Pekerjaan membutuhkan analisis informasi dan menggunakan logika untuk mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan pekerjaan.
  • Integritas - Pekerjaan membutuhkan kejujuran dan etika.
  • Inisiatif - Pekerjaan membutuhkan kemauan untuk mengambil tanggung jawab dan tantangan.
  • Kegigihan - Pekerjaan membutuhkan kegigihan dalam menghadapi rintangan baik itu tantangan internal maupun external.
  • Kepemimpinan - Pekerjaan ini membutuhkan kemauan untuk memimpin, mengambil alih, dan menawarkan pendapat dan arahan.
  • Toleransi Stres - Pekerjaan mengharuskan menerima kritik dan berurusan dengan masalah yang tak terduga sehingga diperlukan mental yang prima.
  • Inovasi - Pekerjaan membutuhkan kreativitas dan pemikiran alternatif untuk mengembangkan ide dan jawaban baru untuk masalah yang terkait dengan pekerjaan.
  • Kepedulian terhadap Orang Lain - Pekerjaan membutuhkan kepekaan terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain serta pengertian dan membantu dalam pekerjaan.
  • Kontrol Diri - Pekerjaan membutuhkan ketenangan, mengendalikan emosi, mengendalikan amarah, dan menghindari perilaku agresif, bahkan dalam situasi yang sangat sulit.
  • Orientasi Sosial - Pekerjaan ini mensyaratkan lebih memilih bekerja dengan orang lain daripada sendirian, dan terhubung secara pribadi dengan orang lain di tempat kerja.
  • Kemandirian - Pekerjaan membutuhkan pengembangan cara sendiri dalam melakukan sesuatu, membimbing diri sendiri dengan sedikit atau tanpa pengawasan, dan bergantung pada diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu.


Kompetensi yang diperlukan

Untuk menjadi seorang logistik engineer ada beberapa kompetensi yang perlu kita kuasai, namun kompetensi yang diperlukan juga bergantung dengan bidang organisasi/perusahan kita bergerak. Adapun kompetensi yang dimaksud meliputi:

  • Matematika - Pengetahuan tentang aritmatika, aljabar, geometri, kalkulus, statistik, dan aplikasinya.
  • Bahasa Inggris - Pengetahuan tentang struktur dan isi bahasa Inggris termasuk makna dan ejaan kata, aturan komposisi, dan tata bahasa.
  • Teknik dan Teknologi- Pengetahuan tentang aplikasi praktis dan teknologi rekayasa, ini termasuk penerapan teknik, prosedur, dan peralatan untukkeperluan desain dan produksi berbagai barang dan jasa.
  • Komputer - kemampuan mengoperasikan komputer merupakan hal yang wajib bagi seorang logistik engineer, baik itu penggunaan internet maupun aplikasi pendukung lainnya.
  • Administrasi dan Manajemen - Pengetahuan tentang prinsip-prinsip bisnis dan manajemen yang terlibat dalam perencanaan strategis, alokasi sumber daya, pemodelan sumber daya manusia, teknik kepemimpinan, metode produksi, dan lain sebagainya.
  • Mekanik - Pengetahuan mesin dan alat, termasuk desain, penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaannya.
  • Transportasi - Pengetahuan tentang prinsip dan metode untuk memindahkan orang atau barang melalui udara, kereta api, laut, atau jalan, termasuk biaya dan manfaat.
  • Customer and Personal Service - Pengetahuan tentang prinsip dan proses untuk menyediakan layanan pelanggan dan pribadi. Ini termasuk penilaian kebutuhan pelanggan, memenuhi standar kualitas untuk layanan, dan evaluasi kepuasan pelanggan.
  • Produksi dan Pemrosesan - Pengetahuan tentang bahan baku, proses produksi, kontrol kualitas, biaya, dan teknik lain untuk memaksimalkan pembuatan dan distribusi barang yang efektif.
  • Hukum dan Pemerintahan - Pengetahuan tentang hukum, kode hukum, prosedur pengadilan, preseden, dan peraturan pemerintah.
  • Ekonomi dan Akuntansi - Pengetahuan tentang prinsip dan praktik ekonomi dan akuntansi, pasar keuangan, perbankan dan analisis serta pelaporan data keuangan.
  • Personil dan Sumber Daya Manusia - Pengetahuan tentang prinsip dan prosedur untuk perekrutan, seleksi, pelatihan, kompensasi dan tunjangan personil.


Insinyur logistik harus memiliki pengetahuan dasar tentang praktik bisnis, karena hubungan antara pemasok, distributor, dan pelanggan sangat penting bagi industri mereka. Namun, insinyur logistik bekerja jauh lebih banyak di belakang layar dunia konsumen, memastikan semuanya berjalan dengan lancar.


Sumber :

https://www.prosesindustri.com/2019/10/apa-itu-logistik-engineer.html

Wednesday, February 2, 2022

Inventory Control vs Inventory Management

Apa Perbedaan Inventory Control dan Inventory Management

by Dicky Saputra

Januari 30, 2022

Kali ini kita akan membahas apa perbedaan antara inventory control dan inventory management, serta bagaimana kedua fungsi tersebut saling terkait satu sama lain.

Postingan ini juga akan membahas tentang fitur yang perlu Anda pertimbangkan ketika Anda sedang mencari inventory system untuk bisnis Anda.

Sebelum kita masuk lebih jauh, pastikan juga Anda sudah bergabung dengan scmguide telegram channelkarena bakal banyak lagi yang akan saya bagikan di sana seputar supply chain management yang pastinya bermanfaat.


Inventory management vs. inventory control

Inventory management dan inventory control memang serupa. Tapi, keduanya punya fokus yang berbeda. Inventory management berhubungan dengan forecasting dan pemesanan stok.

Sedangkan inventory control, atau dikenal sebagai sebagai stock control, adalah bagian dari inventory management yang berfungsi untuk menangani on-hand stock.


Apa itu inventory management?

Inventory management mengelola proses pemesanan, penyimpanan, dan penggunaan inventory, baik pada tingkat bahan baku, maupun barang jadi. Inventory management membantu Anda mengidentifikasi stok mana yang harus Anda pesan, berapa banyak, dan kapan Anda harus membuat pesanan.

Proses yang terkadang kita kenal juga sebagai stock management, melibatkan pelacakan life cycle barang mentah dan barang jadi, mulai saat memesan produk dari supplier sampai mengirimkannya ke customer, termasuk segala sesuatu di antaranya.

Inventory management adalah bagian penting dari supply chain yang memastikan stok cukup tersedia untuk memenuhi pesanan customer, tapi ngga lebih dari yang bisa bisnis jual. Misalnya, truk penjual makanan bisa menggunakan data inventory mereka untuk memprediksi dengan akurat kalau mereka butuh lima kilogram tomat selama seminggu.

Maka, bisnis tersebut ngga akan membuang-buang uang dengan membeli tomat matang yang ngga akan digunakan. Begitu juga, seorang event organizer ngga akan menghabiskan uang untuk menyewa ruang ekstra cuma untuk menyimpan cangkir kertas yang ngga akan mereka gunakan.

Menerapkan praktik inventory management yang efektif bisa membantu bisnis Anda menyimpan lebih sedikit inventory, meningkatkan akurasi pemenuhan pesanan, dan mengurangi biaya.

Beberapa elemen dasar dari inventory management meliputi:

  • Mengelola stok end-to-end, mulai dari pemesanan sampai penjualan.
  • Peramalan permintaan menggunakan data penjualan masa lalu untuk memperkirakan permintaan produk customer di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kemungkinan permintaan, Anda bisa membuat keputusan yang lebih baik tentang inventory. Anda bisa menggunakan data ini untuk memahami potensi pasar, menyesuaikan harga, dan mengidentifikasi cara untuk lebih berkembang.
  • Menentukan kapan harus mengisi kembali stok Anda.
  • Melacak perputaran inventory, atau seberapa sering suatu barang terjual, atau berpindah, dalam waktu tertentu.
  • Melakukan cycle count, atau pemeriksaan rutin terhadap sejumlah kecil barang untuk memastikan tingkat akurasi inventory.
  • Melakukan audit untuk memverifikasi kalau penghitungan inventory sudah benar saat stok bergerak melalui setiap tahap.


Apa itu inventory control?

Inventory control adalah bagian dari proses inventory management.

Ini adalah kegiatan sehari-hari pengelolaan stok di dalam gudang.

Kegiatan inventory control termasuk menerima, menyimpan dan mentransfer stok, serta melacak dan memenuhi pesanan, juga pengembalian. Memegang kendali atas rotasi stok Anda adalah bagian penting dari inventory control dan proses inventory management yang efisien secara keseluruhan.

Mendefinisikan aliran stok memastikan Anda punya kendali atas barang apa yang Anda gunakan untuk memenuhi pesanan customer, dan kapan. Tergantung pada portofolio produk Anda, Anda bisa menentukan bagaimana produk tersebut Anda gunakan untuk memenuhi pesanan customer.

 

Beberapa metode inventory control yang umum adalah:

  • FIFO (First in, First out) – inventory tertua Anda gunakan lebih dahulu untuk memenuhi pesanan customer.
  • LIFO (Last in, First out) – inventory yang diterima paling akhir Anda gunakan untuk memenuhi pesanan customer.
  • FEFO (First Expired, First Out) – inventory yang paling dekat dengan tanggal kedaluwarsa Anda gunakan untuk memenuhi pesanan customer.

Organisasi gudang juga berada di bawah inventory control. Ketika produk baru tiba, staf memindai barcode atau tag RFID menggunakan scanner. Setiap jenis produk yang diterima punya kode unik. Anda juga bisa menetapkan kode unik untuk produk bernilai tinggi. Misalnya, perangkat mahal seperti sound system kelas atas bisa Anda tandai berdasarkan nomor seri uniknya.

Tim memeriksa pesanan pengiriman yang masuk dan mencatat detail pengiriman. Ketika suatu produk Anda jual, tim pemenuhan pesanan mencatat dan mengemas pesanan untuk keluar dari gudang.

Vendor-Managed Inventory (VMI) adalah model bisnis yang bisa meniadakan fungsi inventory management dari pengecer. Customer berhubungan langsung dengan vendor yang memasok barang (walaupun mereka ngga selalu tahu tentang pengaturan semacam ini).

Vendor kemudian memutuskan kapan harus mengisi ulang pesanan dan berapa banyak yang harus mereka kirim. Seringkali pilihan ini didasarkan pada data yang diterimanya dari sistem Point-of-Sale (POS).

Beberapa elemen dasar inventory control meliputi:

  • Menyimpan stok dan melacak lokasi persisnya di dalam gudang.
  • Memastikan stok tetap dalam kondisi baik, ngga rusak, dan digunakan sebelum tanggal kedaluwarsa.
  • Meletakkan barang-barang fast moving di dekat area pengepakan untuk mempercepat pemenuhan pesanan.

Manfaat inventory control mencakup pendapatan yang lebih tinggi dan customer yang lebih puas. Saat Anda melacak stok secara akurat, Anda akan mengurangi kemungkinan terjadinya kehabisan stok dan backorder.

Mengurangi kelebihan stok dan inventory usang bisa membantu Anda meminimalkan terjadinya kerusakan inventory dan menghilangkan perlunya biaya penyimpanan tambahan.


Perbedaan antara inventory control dan inventory management

Inventory control bertanggung jawab atas pergerakan inventory di dalam gudang. Dengan stock control, Anda melacak barang atau bahan mana yang Anda punya dan berapa jumlahnya. Anda juga melacak kondisi dan status barang.

Sebaliknya, inventory management mencakup seluruh proses peramalan permintaan, pemesanan, dan pengelolaan stok yang ada (on-hand). Proses ini melihat ke masa depan untuk melihat apa yang customer ingin beli dan membuat pesanan sesuai dengan forecast tersebut.


Kesamaan inventory control dan inventory management

Inventory control dan inventory management melacak dan mengelola stok. Inventory control adalah bagian dari keseluruhan proses inventory management dan melacak tren harian untuk setiap item. Inventory management mengikuti tren yang lebih luas selama periode yang lebih lama.

Kedua fungsi tersebut menggunakan perangkat seluler untuk memindai barcode dan RFID untuk pembaruan data secara real-time dan akurat.


Mana yang Anda urus lebih dulu: inventory control atau inventory management?

Stock management yang sukses dimulai dengan stock control yang baik. Anda bisa memulainya dengan memahami stok apa yang ada di gudang Anda dan bagaimana kondisinya. Selanjutnya, tinjau topik strategis, seperti lokasi dan tata letak gudang, prakiraan, dan musim.

Terakhir, sesuaikan jenis stok, jumlah, dan siklus pemesanan untuk memenuhi perubahan permintaan, supplier, dan events. Keuntungan nyata akan datang sesudah Anda memahami ke mana arah bisnis Anda dari sudut pandang inventory.

Inventory management harus Anda dahulukan sebelum inventory control. 


Inventory management system vs. inventory control system

Inventory management system dan inventory control system keduanya merupakan tools untuk mengelola stok. Anda bisa menggunakan satu program yang sama dengan fitur untuk manajemen dan inventory control, atau Anda juga bisa menggunakan sistem terpisah untuk setiap tugas.

Idealnya, Anda harus memastikan kedua sistem inventory tersebut saling “berkomunikasi”.


Inventory management system

Mayoritas bisnis saat ini menjual produk mereka lewat berbagai saluran, seperti online, di dalam toko, dan melalui pengecer pihak ketiga. Selain itu, banyak juga bisnis menyimpan inventory mereka di beberapa gudang, dan banyak juga yang menggunakan 3PL untuk menyimpan stok mereka.

Semua ini menambah kerumitan dalam mengelola inventory Anda secara efisien dan efektif. Sistem yang memberikan visibilitas untuk melacak inventory di beberapa lokasi, memungkinkan Anda menggunakan inventory Anda secara lebih efektif dan menyimpan lebih sedikit inventory.

Inventory management system memungkinkan komunikasi dan pelacakan produk yang lancar di seluruh dunia. Sistem ini juga punya API yang terhubung dengan banyak sistem Enterprise Resources Planning (ERP) perusahaan.

Perusahaan dengan banyak gudang dan beberapa saluran penjualan menggunakan ERP untuk mengoordinasikan sistem inventory management mereka.

ERP menghasilkan informasi produk, biaya, penawaran, dan permintaan secara real-time, jadi perusahaan ngga perlu lagi menyimpan banyak inventory, bisa lebih memenuhi permintaan customer, dan merencanakan fluktuasi pasar.


Sumber :

https://scmguide.com/apa-perbedaan-inventory-control-dan-inventory-management/

Related Posts