Pages

Showing posts with label Supply Chain Management. Show all posts
Showing posts with label Supply Chain Management. Show all posts

Thursday, June 12, 2025

Bullwhip Effect

Getaran Kecil yang Mengguncang Rantai Pasok

Dalam dunia manajemen rantai pasok (supply chain management), salah satu fenomena paling merugikan namun sering terjadi adalah bullwhip effect. Istilah ini menggambarkan bagaimana fluktuasi kecil dalam permintaan konsumen di ujung rantai bisa menyebabkan perubahan yang jauh lebih besar di seluruh sistem distribusi—ibarat cambuk yang hanya disentak sedikit di ujungnya, namun menghasilkan gelombang besar ke arah pegangan.

Apa Itu Bullwhip Effect?

Bullwhip effect adalah kondisi di mana variasi permintaan menjadi semakin besar ketika bergerak naik ke arah hulu rantai pasok, dari pengecer ke distributor, produsen, hingga pemasok bahan baku. Fluktuasi kecil di tingkat konsumen diperparah oleh keputusan masing-masing pihak dalam rantai, terutama saat memesan persediaan.

Misalnya, jika konsumen tiba-tiba membeli sedikit lebih banyak dari biasanya, pengecer akan menambah pesanan mereka secara proporsional—kadang berlebih karena ingin berjaga-jaga. Distributor melihat kenaikan pesanan dari pengecer dan menyimpulkan bahwa permintaan sedang naik tajam, lalu memesan lebih banyak ke produsen. Begitu seterusnya, menciptakan efek berantai yang berlebihan.

Penyebab Bullwhip Effect

Beberapa faktor utama penyebab bullwhip effect antara lain:

  • Kurangnya visibilitas informasi permintaan antar level rantai pasok.

  • Order batching, yaitu praktik memesan dalam jumlah besar sekaligus untuk menghemat biaya pengiriman.

  • Fluktuasi harga/promosi, yang mendorong pembelian dalam jumlah besar secara tidak teratur.

  • Lead time panjang, yang mendorong spekulasi dalam jumlah pemesanan.

  • Perilaku manusia, seperti overreacting terhadap data historis yang terbatas.

Dampak Bullwhip Effect

Dampak negatif dari bullwhip effect sangat besar bagi perusahaan, antara lain:

  • Overstocking atau penumpukan stok yang tidak diperlukan.

  • Stockout (kehabisan barang) karena ketidaktepatan dalam memperkirakan kebutuhan riil.

  • Inefisien biaya produksi dan distribusi, karena perubahan mendadak dalam kapasitas dan jadwal.

  • Penurunan layanan pelanggan, akibat keterlambatan atau ketidaksesuaian pengiriman.

Cara Mengurangi Bullwhip Effect

Untuk mengendalikan bullwhip effect, perusahaan dapat menerapkan beberapa strategi:

  • Berbagi informasi permintaan aktual secara real-time antar anggota rantai pasok.

  • Koordinasi dan kolaborasi dalam perencanaan, seperti dalam sistem VMI (Vendor Managed Inventory).

  • Mengurangi waktu tunggu (lead time) dalam pengiriman dan produksi.

  • Menghindari fluktuasi harga yang ekstrem agar permintaan lebih stabil.

  • Penerapan sistem digital dan forecasting berbasis data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat.


Bullwhip effect adalah tantangan klasik dalam rantai pasok, namun pemahamannya sangat penting dalam menciptakan sistem distribusi yang adaptif dan efisien. Di era supply chain modern yang semakin terintegrasi secara digital, kolaborasi dan transparansi menjadi kunci untuk meredam efek cambuk ini.

Thursday, March 13, 2025

Push vs Pull Strategy dalam Supply Chain Management

Dalam Supply Chain Management (SCM), strategi Push dan Pull adalah dua pendekatan utama dalam mengelola arus barang, informasi, dan permintaan pelanggan. Kedua strategi ini memiliki perbedaan dalam cara produk diproduksi, disimpan, dan dikirimkan kepada pelanggan. Pemahaman yang baik tentang strategi ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan meminimalkan biaya operasional.


1. Apa Itu Push Strategy dalam Supply Chain?

Strategi Push dalam supply chain adalah pendekatan di mana produk diproduksi berdasarkan prediksi permintaan dan kemudian didistribusikan ke pasar. Dalam strategi ini, keputusan produksi dan distribusi dibuat jauh sebelum ada permintaan aktual dari pelanggan.

📌 Karakteristik Push Strategy:

  • Produksi berdasarkan perkiraan (forecasting)
  • Persediaan barang disiapkan di gudang atau toko sebelum ada permintaan
  • Cocok untuk produk dengan permintaan stabil
  • Risiko overstock atau understock jika perkiraan tidak akurat

📍 Contoh dalam Industri:

  • Industri otomotif: Pabrik mobil memproduksi kendaraan dalam jumlah besar berdasarkan perkiraan permintaan tahunan.
  • Industri pakaian: Produsen merancang dan memproduksi pakaian untuk musim tertentu jauh sebelum musim tiba.
  • Produk makanan kemasan: Makanan kaleng dan snack diproduksi dalam jumlah besar dan disimpan sebelum dijual ke ritel.

📉 Kelemahan Push Strategy:

  • Jika perkiraan permintaan meleset, perusahaan bisa mengalami kelebihan stok (overstock) atau kekurangan stok (stockout).
  • Biaya penyimpanan tinggi, karena barang harus disimpan sebelum dijual.
  • Kurang fleksibel dalam menyesuaikan dengan perubahan permintaan pasar.

2. Apa Itu Pull Strategy dalam Supply Chain?

Strategi Pull dalam supply chain adalah pendekatan di mana produksi dan distribusi berlangsung hanya ketika ada permintaan nyata dari pelanggan. Dalam strategi ini, produk tidak dibuat atau dikirim sampai ada pesanan dari pelanggan.

📌 Karakteristik Pull Strategy:

  • Produksi berbasis permintaan aktual (demand-driven)
  • Mengurangi kebutuhan persediaan besar di gudang
  • Fleksibel terhadap perubahan tren pasar
  • Cocok untuk produk dengan permintaan yang berfluktuasi

📍 Contoh dalam Industri:

  • Industri manufaktur lean (Just-in-Time/JIT): Toyota menggunakan sistem produksi JIT, di mana suku cadang baru dipesan hanya ketika dibutuhkan dalam produksi.
  • E-commerce & dropshipping: Barang hanya dibuat atau dikirim setelah ada pesanan pelanggan.
  • Fast food restaurants: Makanan diproses sesuai pesanan pelanggan, bukan disiapkan sebelumnya.

📈 Keunggulan Pull Strategy:

  • Mengurangi biaya penyimpanan, karena persediaan minimal.
  • Menghindari pemborosan, karena hanya memproduksi barang sesuai permintaan.
  • Lebih responsif terhadap perubahan tren dan permintaan pelanggan.

📉 Kelemahan Pull Strategy:

  • Ketergantungan tinggi pada rantai pasok yang andal – jika pemasok terlambat, produksi bisa terhambat.
  • Kesulitan dalam memenuhi lonjakan permintaan mendadak, karena tidak ada stok yang siap tersedia.
  • Tidak selalu cocok untuk produk dengan proses produksi panjang, seperti industri otomotif atau farmasi.

3. Perbandingan Push vs Pull Strategy

AspekPush StrategyPull Strategy
ProduksiBerdasarkan perkiraanBerdasarkan permintaan aktual
PersediaanStok besar sebelum ada permintaanStok minimal, diproduksi sesuai pesanan
FleksibilitasKurang fleksibel dalam menghadapi perubahan permintaanSangat fleksibel terhadap permintaan pasar
RisikoRisiko overstock atau stockout jika perkiraan tidak akuratRisiko keterlambatan produksi jika pasokan tidak siap
Biaya PenyimpananTinggi karena perlu gudang besarRendah karena stok barang lebih sedikit
Contoh IndustriRitel, manufaktur massal, produk FMCGE-commerce, manufaktur lean, makanan cepat saji

4. Hybrid Strategy: Push-Pull dalam Supply Chain

Banyak perusahaan modern tidak hanya menggunakan strategi push atau pull secara eksklusif, tetapi menggabungkan keduanya dalam hybrid push-pull strategy. Dalam pendekatan ini:

  • Bagian awal supply chain menggunakan push strategy (contoh: produksi bahan baku dalam jumlah besar berdasarkan perkiraan).
  • Bagian akhir menggunakan pull strategy (contoh: produk akhir baru dirakit atau dikirim setelah ada pesanan).

📍 Contoh Hybrid Strategy dalam Industri:

  • Industri elektronik (PC dan smartphone): Produsen seperti Dell menggunakan strategi push untuk menyiapkan komponen dalam jumlah besar, tetapi merakit produk sesuai pesanan pelanggan (pull).
  • Industri otomotif: Mobil dirancang dan diproduksi dalam jumlah tertentu (push), tetapi pelanggan dapat memilih spesifikasi tambahan sebelum mobil dikirim (pull).


  1. Push Strategy cocok untuk produk dengan permintaan stabil dan produksi massal, tetapi memiliki risiko kelebihan stok dan biaya penyimpanan tinggi.
  2. Pull Strategy lebih fleksibel terhadap permintaan pasar dan mengurangi pemborosan, tetapi bisa menghadapi keterlambatan pasokan.
  3. Hybrid Push-Pull Strategy menjadi solusi optimal di banyak industri, memanfaatkan keunggulan kedua strategi untuk efisiensi rantai pasok.

Dalam dunia supply chain yang terus berkembang, perusahaan harus memilih strategi yang paling sesuai dengan karakteristik produknya dan kebutuhan pasarnya untuk mencapai efisiensi, kepuasan pelanggan, dan profitabilitas yang optimal. 🚀

Wednesday, February 19, 2025

Supply Chain Management: Komponen Utama dalam Rantai Pasokan

Supply Chain Management (SCM) adalah proses mengelola aliran barang, informasi, dan sumber daya dari pemasok hingga ke tangan pelanggan. SCM bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan memastikan kualitas produk atau layanan tetap terjaga. Dalam implementasinya, SCM mencakup beberapa elemen utama, yaitu Procurement, Warehousing, Planning & Forecasting, Logistics & Transportation, dan Information Technology. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai masing-masing elemen tersebut.

1. Procurement (Pengadaan)

Procurement adalah proses memperoleh bahan baku, barang, atau jasa yang dibutuhkan untuk produksi atau operasional bisnis. Fungsi utama procurement meliputi:

  • Pemilihan Pemasok: Menentukan vendor yang dapat menyediakan bahan berkualitas dengan harga kompetitif.

  • Negosiasi Kontrak: Mengatur perjanjian harga, volume pembelian, dan syarat pengiriman untuk mendapatkan kesepakatan terbaik.

  • Manajemen Risiko Pemasok: Memastikan pemasok dapat memenuhi permintaan tanpa gangguan dalam rantai pasokan.

  • Evaluasi Kinerja Pemasok: Menilai keandalan dan kualitas produk yang dikirim oleh vendor.

2. Warehousing (Pergudangan)

Warehousing adalah kegiatan menyimpan barang sebelum didistribusikan ke pelanggan atau diproses lebih lanjut dalam produksi. Pergudangan yang efisien dapat meningkatkan kelancaran operasional perusahaan. Beberapa aspek penting dalam warehousing adalah:

  • Layout Gudang: Mengoptimalkan penyimpanan agar alur barang lebih efisien.Inventory Management: Mengontrol stok barang agar tidak mengalami kelebihan (overstock) atau kekurangan (stockout).

  • Automasi Pergudangan: Menggunakan teknologi seperti barcode scanning, sistem manajemen gudang (WMS), dan robotika untuk meningkatkan efisiensi.

  • Penyimpanan yang Aman: Menjamin barang tetap dalam kondisi baik selama berada di gudang.

3. Planning & Forecasting (Perencanaan & Peramalan)

Planning & Forecasting berperan dalam mengantisipasi kebutuhan pasar dan menyesuaikan kapasitas produksi serta distribusi. Beberapa metode utama dalam perencanaan dan peramalan adalah:

  • Demand Forecasting: Memprediksi permintaan pasar menggunakan data historis dan tren industri.

  • Capacity Planning: Menentukan kapasitas produksi dan distribusi agar dapat memenuhi permintaan dengan efisien.

  • Inventory Planning: Menjaga keseimbangan stok untuk mencegah kelebihan atau kekurangan persediaan.

  • Scenario Planning: Menyiapkan strategi alternatif untuk menghadapi perubahan kondisi pasar.

4. Logistics & Transportation (Logistik & Transportasi)

Logistics & Transportation bertanggung jawab atas pergerakan barang dari satu titik ke titik lain dalam rantai pasokan. Efisiensi dalam logistik sangat memengaruhi kecepatan pengiriman dan biaya operasional. Beberapa aspek penting dalam logistik dan transportasi meliputi:

  • Order Processing: Mengelola pesanan dari pelanggan hingga pengiriman dilakukan.

  • Transportation Management: Mengoptimalkan rute dan moda transportasi untuk mengurangi biaya dan waktu pengiriman.

  • Freight Management: Mengatur pengangkutan barang dalam jumlah besar dengan cara yang paling efisien.

  • Last Mile Delivery: Mengelola pengiriman barang hingga ke tangan pelanggan dengan cepat dan akurat.

5. Information Technology (Teknologi Informasi)

Teknologi informasi memainkan peran kunci dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi Supply Chain Management. Sistem digital membantu dalam pengambilan keputusan berbasis data dan otomatisasi berbagai proses. Beberapa contoh penerapan teknologi dalam SCM adalah:

  • Enterprise Resource Planning (ERP): Mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis dalam satu platform.

  • Supply Chain Management Software: Mengelola alur barang, informasi, dan transaksi di seluruh rantai pasokan.

  • Internet of Things (IoT): Menggunakan sensor dan perangkat cerdas untuk memantau kondisi barang dalam perjalanan.

  • Blockchain Technology: Meningkatkan transparansi dan keamanan dalam transaksi rantai pasokan.


Supply Chain Management adalah elemen krusial dalam bisnis modern yang memastikan aliran barang dan informasi berjalan dengan lancar. Dengan mengoptimalkan Procurement, Warehousing, Planning & Forecasting, Logistics & Transportation, serta Information Technology, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Dalam dunia yang semakin kompetitif, pengelolaan rantai pasokan yang efektif menjadi faktor utama dalam kesuksesan bisnis.

Saturday, February 15, 2025

Customer Lead Time: Faktor yang Mempengaruhi Waktu Pengiriman ke Pelanggan

Customer lead time adalah total waktu yang dibutuhkan sejak pelanggan melakukan pemesanan hingga produk diterima. Lead time ini terdiri dari tiga elemen utama: material lead time, production lead time, dan delivery lead time.

  1. Material Lead Time
    Material lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh bahan baku dari pemasok sebelum proses produksi dimulai. Faktor yang mempengaruhi material lead time meliputi jarak pemasok, ketersediaan bahan, dan efisiensi rantai pasokan. Pengelolaan stok yang baik dan hubungan erat dengan pemasok dapat membantu mengurangi waktu ini.

  2. Production Lead Time
    Production lead time adalah waktu yang diperlukan untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Ini mencakup berbagai tahap seperti perakitan, pengecekan kualitas, dan penyelesaian akhir. Efisiensi produksi sangat dipengaruhi oleh kapasitas produksi, metode manufaktur, dan teknologi yang digunakan. Teknik lean manufacturing dan otomatisasi dapat membantu mempercepat proses ini.

  3. Delivery Lead Time
    Delivery lead time adalah waktu yang diperlukan untuk mengirimkan produk jadi dari pabrik atau gudang ke pelanggan. Faktor utama yang memengaruhi waktu pengiriman ini meliputi metode transportasi, jarak pengiriman, dan kondisi logistik. Perusahaan yang memiliki sistem distribusi yang efisien dapat mengoptimalkan lead time dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Dengan mengelola ketiga komponen lead time ini secara efektif, perusahaan dapat meningkatkan respons terhadap permintaan pelanggan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan daya saing di pasar.

Thursday, February 13, 2025

Top Supply Chain Planning Activities

Perencanaan rantai pasok adalah elemen kunci dalam memastikan efisiensi operasional, ketahanan bisnis, dan kepuasan pelanggan. Berikut adalah aktivitas utama dalam perencanaan rantai pasok:

1. Planning Strategy

Strategi perencanaan supply chain melibatkan penentuan tujuan bisnis, kebijakan operasional, serta pendekatan dalam menghadapi tantangan rantai pasok. Perusahaan harus memilih strategi yang selaras dengan kebutuhan pasar, baik itu berbasis efisiensi (cost-driven) atau fleksibilitas (responsive supply chain).

2. Planning Technology

Teknologi memainkan peran penting dalam rantai pasok modern. Penggunaan sistem ERP, kecerdasan buatan (AI), serta analitik data memungkinkan perencanaan yang lebih akurat, mengurangi risiko, dan meningkatkan transparansi dalam seluruh rantai pasok.

3. Planning Organization

Perencanaan organisasi mencakup struktur tim supply chain, koordinasi antar departemen, serta pembagian tanggung jawab. Kolaborasi yang efektif antara tim logistik, produksi, dan keuangan sangat penting untuk menghindari silo dan meningkatkan efisiensi.

4. Planning Performance

Evaluasi kinerja supply chain dilakukan melalui Key Performance Indicators (KPIs), seperti On-Time Delivery (OTD), Inventory Turnover, dan Cost-to-Serve. Dengan memantau metrik ini, perusahaan dapat mengidentifikasi area untuk perbaikan dan melakukan optimasi yang diperlukan.

5. Product Portfolio Planning

Perencanaan portofolio produk memastikan bahwa perusahaan memiliki kombinasi produk yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mengoptimalkan sumber daya. Ini mencakup analisis profitabilitas produk, manajemen siklus hidup produk, serta strategi diversifikasi atau penghapusan produk yang kurang menguntungkan.

6. Demand Planning

Perencanaan permintaan melibatkan analisis tren pasar, pola konsumsi, serta data historis untuk memperkirakan kebutuhan pelanggan. Dengan prediksi yang akurat, perusahaan dapat menghindari kelebihan atau kekurangan stok yang berpotensi merugikan bisnis.

7. Supply Planning

Perencanaan pasokan memastikan bahwa perusahaan memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan. Ini meliputi pengelolaan kapasitas produksi, strategi pengadaan bahan baku, serta mitigasi risiko keterlambatan pasokan.

8. Sales & Operations Planning (S&OP)

S&OP adalah proses lintas departemen yang menyelaraskan perencanaan permintaan, pasokan, dan keuangan agar operasional berjalan optimal. Melalui pertemuan rutin, perusahaan dapat menyesuaikan strategi berdasarkan perubahan pasar dan memastikan keseimbangan antara supply dan demand.

9. Sales & Operations Execution (S&OE)

S&OE adalah implementasi jangka pendek dari S&OP, yang berfokus pada keputusan operasional harian atau mingguan. Proses ini bertujuan untuk merespons perubahan pasar dengan cepat, mengelola gangguan rantai pasok, serta mengoptimalkan ketersediaan produk.


Perencanaan supply chain adalah proses kompleks yang melibatkan berbagai aspek, mulai dari strategi hingga implementasi operasional. Dengan mengoptimalkan setiap aktivitas dalam perencanaan ini, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Monday, January 20, 2025

Rangkaian Penting dalam Supply Chain, Logistics, dan Transportation

1. Supply Chain

Supply chain adalah sistem kompleks yang mengelola alur barang, informasi, dan layanan dari pemasok hingga konsumen. Elemen utamanya mencakup:

  • Manufacturing: Produksi barang melalui proses yang efisien.
  • Product Development: Pengembangan produk yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan pasar.
  • Performance Measurement: Evaluasi kinerja untuk memastikan target tercapai.
  • Integration of Supply: Penyelarasan antara pemasok, manufaktur, dan distribusi.
  • Information Sharing: Berbagi informasi untuk kelancaran operasi.
  • Customer Service: Meningkatkan pengalaman pelanggan.
  • Logistics: Mengatur penyimpanan dan pengiriman barang.

2. Logistics

Logistik berfokus pada pengelolaan barang dari titik asal hingga tujuan akhir. Komponen pentingnya meliputi:

  • Order Processing: Pengelolaan pesanan untuk memastikan akurasi.
  • Inventory Management: Mengatur persediaan agar optimal.
  • Material Planning: Perencanaan kebutuhan material secara tepat waktu.
  • Warehousing: Penyimpanan barang untuk efisiensi distribusi.
  • Information Sharing: Pertukaran data antar pihak.
  • Transportation: Pengiriman barang secara efisien.

3. Transportation

Transportasi adalah elemen kunci dalam logistik untuk memastikan barang mencapai tujuan dengan aman dan efisien. Fokus utamanya adalah:

  • Warehousing: Koordinasi penyimpanan sebelum pengiriman.
  • Inventory Control: Memastikan barang siap untuk dikirim.
  • Order Administration: Manajemen pesanan dan jadwal pengiriman.
  • Outbound Transportation: Pengiriman barang ke pelanggan.
  • Material Handling: Pengelolaan fisik barang selama transit.
  • Packaging: Pengemasan untuk melindungi barang.
  • Data Processing: Pemrosesan data untuk pelacakan.
  • Communication: Kolaborasi antara pihak terkait untuk kelancaran distribusi.

Kesimpulan

Supply chain, logistics, dan transportation adalah elemen saling terkait yang bekerja secara sinergis. Efisiensi dalam setiap tahap akan meningkatkan produktivitas, meminimalkan biaya, dan memastikan kepuasan pelanggan. Integrasi sistem dan penggunaan teknologi modern menjadi kunci keberhasilan pengelolaan rantai pasok.

Monday, December 23, 2024

Supply Chain 4.0: Era Baru dalam Manajemen Rantai Pasok

Supply Chain 4.0 adalah transformasi digital dalam manajemen rantai pasok, yang mengintegrasikan teknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan responsivitas. Konsep ini berakar pada Revolusi Industri 4.0 dan memanfaatkan inovasi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), blockchain, dan big data.

Ciri Utama Supply Chain 4.0

  1. Digitalisasi: Proses manual digantikan dengan teknologi otomatis.
  2. Konektivitas Real-Time: IoT memungkinkan pelacakan aset secara langsung.
  3. Analitik Prediktif: AI dan big data menganalisis pola untuk keputusan proaktif.
  4. Fleksibilitas dan Responsivitas: Meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan permintaan.
  5. Otomasi: Robotika dan otomasi menggantikan pekerjaan rutin untuk efisiensi.

Manfaat Supply Chain 4.0

  • Efisiensi Operasional: Mengurangi biaya melalui proses yang lebih cepat dan akurat.
  • Peningkatan Transparansi: Blockchain memungkinkan jejak produk dari hulu ke hilir.
  • Pengalaman Pelanggan Lebih Baik: Respons cepat terhadap permintaan konsumen.
  • Keberlanjutan: Optimalisasi sumber daya mendukung inisiatif ramah lingkungan.

Tantangan dalam Implementasi

  • Biaya Awal: Investasi besar dalam infrastruktur teknologi.
  • Kendala Data: Keamanan data menjadi perhatian utama.
  • Keterampilan SDM: Membutuhkan pekerja dengan keahlian digital yang relevan.

Kesimpulan

Supply Chain 4.0 adalah masa depan manajemen rantai pasok, memungkinkan perusahaan untuk tetap kompetitif di pasar global yang dinamis. Meskipun ada tantangan, manfaat jangka panjang dari efisiensi, transparansi, dan pengalaman pelanggan menjadikan Supply Chain 4.0 investasi yang berharga.

Sunday, November 24, 2024

Supply Chain is Not Logistic

Memahami Esensi dan Perbedaan

Banyak orang sering salah kaprah menganggap supply chain dan logistik adalah hal yang sama. Supply chain dan logistik sering dianggap sama, tetapi sebenarnya memiliki fokus dan cakupan yang berbeda. Memahami perbedaan ini penting untuk mengelola rantai pasok secara efektif. Padahal, keduanya memiliki fokus dan cakupan yang berbeda.

Supply chain mencakup keseluruhan alur, mulai dari perencanaan kebutuhan bahan baku, pengadaan, proses produksi, hingga distribusi barang ke pelanggan. Fokus utamanya adalah menciptakan efisiensi dan kolaborasi di seluruh proses tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara itu, logistik adalah salah satu bagian dari supply chain. Logistik berfokus pada pengelolaan fisik, yaitu transportasi, penyimpanan, pengiriman barang, dan pengelolaan inventaris.

Karena Logistik merupakan salah satu komponen dari supply chain, maka untuk memastikan keberhasilan supply chain, logistik harus berjalan dengan efisien, tetapi supply chain juga mencakup fungsi lain seperti perencanaan strategis dan hubungan dengan pemasok.

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada cakupannya. Supply chain adalah sistem yang menyatukan berbagai elemen, termasuk logistik, untuk mengelola aliran barang, informasi, dan dana dari pemasok hingga pelanggan. Logistik hanya menjadi salah satu komponen di dalam supply chain yang menjalankan tugas operasional spesifik.

Supply chain adalah konsep yang lebih luas, strategis, dan mencakup keseluruhan proses, sementara logistik adalah elemen penting yang mendukung pelaksanaan teknis dari rantai pasok tersebut. Memahami perbedaan ini memungkinkan perusahaan mengoptimalkan perencanaan strategis dan operasional secara sinergis.

Thursday, November 14, 2024

Sales and Operations Planning (S&OP)

Mengintegrasikan Penjualan dan Operasional untuk Efisiensi Bisnis

S&OP (Sales and Operations Planning) adalah proses perencanaan bisnis terpadu yang bertujuan untuk menyelaraskan fungsi penjualan dan operasi. Dengan S&OP, perusahaan dapat menyinkronkan perencanaan penjualan, produksi, inventaris, hingga rantai pasokan agar mencapai efisiensi dan hasil yang optimal.

Tujuan S&OP

S&OP bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara permintaan pasar dan kapasitas operasional. Dengan sinkronisasi ini, perusahaan dapat meminimalkan kelebihan stok, mengurangi biaya produksi, dan memastikan pelanggan mendapatkan produk tepat waktu.

Langkah-langkah dalam Proses S&OP

Proses S&OP umumnya meliputi lima langkah:

  • Perencanaan Demand: Memperkirakan kebutuhan pasar.
  • Perencanaan Supply: Menyiapkan kapasitas produksi.
  • Balancing Supply dan Demand: Menyusun rencana agar produksi sesuai permintaan.
  • Meeting Keputusan: Pertemuan eksekutif untuk menentukan strategi akhir.
  • Eksekusi dan Tinjauan: Pelaksanaan rencana serta evaluasi berkala.

Manfaat S&OP untuk Bisnis

S&OP membantu perusahaan dalam merespons permintaan dengan lebih cepat, mengurangi biaya inventaris, serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu, koordinasi antara tim penjualan, produksi, dan keuangan menciptakan komunikasi yang lebih efektif sehingga perusahaan bisa lebih fleksibel dalam menyesuaikan strategi bisnisnya.

S&OP adalah alat strategis yang penting bagi perusahaan yang ingin memperkuat kolaborasi antar departemen, meningkatkan efisiensi, dan responsif terhadap perubahan pasar. Dengan penerapan S&OP yang baik, perusahaan dapat lebih kompetitif, efisien, dan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan secara optimal.

Wednesday, January 11, 2023

FOB, CFR, dan CIF

FOB, CFR, dan CIF diambil dari International Commercial Terms yang disingkat Incoterms. Saat ini yang terbaru adalah Incoterms 2018.

FOB secara sederhana diartikan sebagai Harga Barang, CFR adalah harga barang + ongkos kirim sedangkan CIF adalah harga + ongkir + asuransi #eduBC


Sumber :

https://twitter.com/beacukaiRI/status/1044933082808086533?t=aAk5cSXT_L44WwyFcx4FMg&s=08

Thursday, February 10, 2022

Supply Chain Management, Karier Incaran Milenial

Mengenal Supply Chain Management, Karier Incaran Milenial yang Belum Banyak Orang Tahu

Kamis, 10 Februari 2022

Mengutip Investopedia, definisi supply chain management (manajemen rantai pasokan) adalah manajemen aliran barang dan jasa yang mencakup semua proses yang mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi.

Aktivitas ini melibatkan efisiensi aktivitas dari sisi penawaran bisnis untuk memaksimalkan nilai pelanggan dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar.

I Gede Agus Widyadana, Dosen Fakultas Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya mengatakan, pekerja yang terlibat dalam aktivitas supply chain management (SCM) sangat luas. Dimulai dari perencanaan, produksi, persediaan, pembelian, lalu ketika barang tersebut datang penanganan penyimpanannya di gudang seperti apa, hingga barang tersebut dikirimkan kepada konsumen.

“Sangat membutuhkan orang di bagian itu. Tren yang ada sekarang butuh efisiensi, dibutuhkan analisis dengan baik terkait biaya persediaan, transportasi dan sebagainya,” kata Agus saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Kamis (10/2/2022).

Dia pun mengakui profesi ini punya peluang besar untuk generasi milenial, namun tantangannya adalah kurang populer. Padahal konsep supply chain yang kerap dikaitkan dengan aktivitas pergudangan berbeda jauh.

“Dalam konsep SCM lebih banyak membangun relasi dengan rekan di luar industri kita, kemudian pola/tren transportasi yang menunjang logistik dan supply chain makin maju dan berkembang. Pola baru untuk bisa lebih efisien butuh pemikiran baru yang segar, dan menariknya selalu ada tantangan baru. Saya yakin anak sekarang suka akan tantangan,” ujarnya.

Selain itu, saat ini beberapa universitas sudah membuka program studi logistic and supply chain. Bahkan universitas di luar negeri sudah terlebih dahulu membuka program studi ini.

Agus menambahkan, skill yang dibutuhkan dalam industri ini adalah kemampuan melakukan analisa untuk selalu melakukan perbaikan terutama cost efficiency. Lalu skill mendapatkan barang/material yang tepat, selain itu kemampuan untuk membangun relasi yang baik dengan pemasok, distributor, dan toko.

Dia mencontohkan salah satu profesi dalam industri ini adalah analis supply chain yang bertugas untuk menganalisa pasokan bahan baku.

“Analis supply chain akan menganalisa dari pasokan bahan baku yang ada, pemasok mana yang bisa diajak kerja sama, bentuk kerja samannya seperti apa, dan bagaimana kerja sama ini menguntungkan satu dengan yang lain,” paparnya.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2022/mengenal-supply-chain-management-karier-incaran-milenial-yang-belum-banyak-orang-tahu/

Tuesday, September 14, 2021

Rantai Pasok Caterpillar Terganggu

Kekurangan Tenaga Kerja Ganggu Rantai Pasok Caterpillar 

Perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

15 September 2021  |  11:25 WIB 

Produsen alat berat Caterpillar Inc. menghadapi kesulitan mendapatkan material akibat adanya kekurangan tenaga kerja dari pemasoknya. Hal ini memperparah bisnis industri alat berat yang tengah menghadapi kurangnya pasokan chip global. 

Chief Executive Officer Caterpillar Jim Umpleby mengatakan perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

Masalah yang lebih besar adalah kekurangan tenaga kerja yang dialami oleh para pemasok industri alat berat yang berimbas pada keterlambatan pengiriman material. 

"Ini lebih menjadi masalah bagi sejumlah pemasok kami yang bermasalah dengan tenaga kerja daripada yang kami alami, tetapi memang tenaga kerja sedang ketat, tidak ada keraguan soal itu,” kata Umpleby selama wawancara di Las Vegas, seperti dikutip Bloomberg pada Rabu (15/9/2021). 

Setelah banyaknya pekerja yang kehilangan mata pencaharian pada tahun lalu, sejumlah industri menderita akibat kekurangan tenaga kerja setelah perekonomian kembali aktif. Hal ini menambah kendala yang memperlambat rantai pasok dan memicu kekhawatiran inflasi. 

Sebuah laporan pekan lalu menunjukkan rekor tertinggi pada lowongan pekerjaan baru di AS. 

CEO Union Pacific Corp. mengatakan masalah kekurangan tenaga kerja akan meningkatkan kemacetan kargo pada tahun depan. Kekhawatiran tersebut menimbulkan risiko lebih lanjut dari hambatan rantai pasok setelah Caterpillar mengatakan pada April bahwa kelangkaan di industri semikonduktor dapat mengganggu pengiriman material tahun ini. 

Saat ini Caterpillar tengah membuka lowongan pekerjaan secara global dengan menawarkan gaji yang kompetitif. Ketika ditanya apakah akan menaikkan gaji atau memperbesar tunjangan, Umpleby mengiyakan, tetapi tidak menjelaskan secara spesifik. 

Caterpillar yang berbasis di Deerfield, Illinois akan terus mengimbangi kenaikan biaya bahan baku dengan menaikkan harga peralatannya, kata Umpleby. Menanggapi pertanyaan tentang apakah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dari pemasok domestik, Umpleby mengatakan akan terus mengeksplorasi opsi. Namun, dia menolak berkomitmen untuk mengambil dari produsen yang berbasis di AS.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210915/620/1442533/kekurangan-tenaga-kerja-ganggu-rantai-pasok-caterpillar?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

Sebelum Bersaing di Pasar Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

14 Sep 2021, 17:31 WIB

Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya mendorong pelaku UMKM untuk menjalin Kemitraan dengan pelaku usaha besar. Tujuannya agar UMKM bisa berkontribusi dalam rantai pasok nasional hingga global.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut salah satu upaya yang dilakukan KemenkopUKM, yaitu meminta e-commerce untuk menutup akses impor 13 jenis produk yang sebenarnya bisa diproduksi oleh UMKM.

“Kementerian Koperasi dan UKM terus melakukan upaya perlindungan produk lokal UMKM dalam perdagangan online atau perdagangan melalui sistem elektronik. Belum lama ini kami meminta salah satu e-commerce cross border untuk menutup 13 jenis produk yang dapat diproduksi UMKM,” kata Teten dalam Webinar Nasional Umkm Naik Kelas Melalui Pengawasan Kemitraan, Selasa (14/9/2021).

Selain itu, upaya lainnya KemenkopUKM bersama dengan Kementerian Perdagangan menyiapkan revisi Peraturan Menteri perdagangan Nomor 64 tahun 2020 tentang perubahan atas peraturan menteri perdagangan tentang pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik.

Tak berhenti disitu, KemenkopUKM juga menggandeng Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian untuk melakukan piloting melalui kemitraan dengan 291 UMKM dengan 6 BUMN, yaitu Pertamina, PLN, Kimia Farma, Perhutani, RNI dan Krakatau Steel.

“Kemitraan usaha besar dengan UMKM ini termasuk BUMN ini menjadi strategi kita untuk mendorong UMKM kita bertransformasi dari usaha-usaha kecil-kecil, usaha mandiri menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional atau global dan menjadi rantai pasok BUMN,” ujarnya.

Dengan begitu, Teten berharap para pelaku UMKM bisa bertransformasi ke produk-produk yang berbasis inovasi teknologi, sehingga usahanya tidak melulu di sektor-sektor yang tidak punya daya saing.

“Oleh karena itu Kemitraan menjadi penting. Idealnya kalau usaha tumbuh berkembang maka UMKM juga tertarik terangkat skala usahanya,”’ ujarnya.

Melalui upaya tersebut , Menkop Teten berharap usaha besar tidak bersaing dengan usaha kecil melainkan menjalin kemitraan.

“Karena  itu maka menjadi penting kemitraan dan karena itu salah satu nafas undang-undang cipta kerja adalah mendorong kemitraan yang sehat antara usaha kecil dan besar,” pungkasnya.   


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4658084/sebelum-bersaing-di-pasar-global-umkm-harus-masuk-rantai-pasok-nasional

DHL Supply Chain di Tengah Covid-19

DHL Supply Chain Raup Untung Rp55,81 T di Tengah Covid-19

Selasa, 14/09/2021 

DHL Supply Chain meraup keuntungan sebesar 3,31 miliar euro atau setara Rp55,81 triliun (kurs Rp16.863 per euro) pada kuartal II 2021. Angkanya naik 21,3 persen dari periode yang sama tahun lalu, yakni 2,73 miliar euro atau sekitar Rp46,03 triliun.

CEO DHL Supply Chain Oscar de Bok menjelaskan kinerja perusahaan juga menanjak sepanjang 2020 atau ketika pandemi covid-19 mulai merebak di dunia. Sepanjang tahun lalu, perusahaan membukukan keuntungan sebesar 12,54 miliar euro atau Rp211,46 triliun.

"Pada awalnya banyak pelanggan yang mengurangi aktivitas, tetapi jika membicarakan Deutsche Post DHL Group sepanjang 2020, kami justru melihat ada peningkatan," ungkap Bok dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

Ia menjelaskan DHL Supply Chain adalah perusahaan yang bergerak di bidang logistik untuk rantai pasok. Perusahaan ini bagian dari Deutsche Post DHL Group.

Layanan yang diberikan DHL Supply Chain meliputi pergudangan, transportasi, distribusi, dan manufaktur.

Ia mengatakan aktivitas perusahaan selama pandemi justru meningkat. Hal ini seiring dengan perkembangan e-commerce yang kian pesat.

"Ada percepatan perkembangan terkait e-commerce dan optimalisasi rantai pasok. Oleh karena itu, kami melihat aktivitas kami benar-benar meningkat. Saat ini, kami sangat dekat dengan konsumen," jelas Bok.

Bok memaparkan kenaikan pendapatan ditopang oleh sejumlah sektor. Misalnya saja, industri otomotif dan fesyen yang mulai bangkit.

"Semua sektor sedang bangkit. Industri otomotif telah bangkit meski saat ini menghadapi masalah yang berbeda karena gangguan dalam rantai pasok," terang Bok.

Sementara, industri makanan dan minuman (mamin) selalu berada di puncak tertinggi. Menurutnya, mayoritas sektor mulai bangkit pasca krisis pandemi tahun lalu.

"Di awal krisis, kami mengurangi aktivitas kami di negara-negara yang melakukan lockdown. Namun, ada juga beberapa negara seperti AS yang masih bergerak," jelas Bok.

Berdasarkan catatannya, DHL Supply Chain meraup untung dari bisnisnya di AS sebesar 1,21 miliar euro atau Rp20,48 triliun pada kuartal II 2021. Angkanya naik 16,8 persen dari kuartal II 2020 yang sebesar 1,04 miliar euro atau Rp17,54 triliun.

Lebih lanjut Bok menjelaskan pihaknya akan fokus mengembangkan sistem digital di perusahaan. Pasalnya, ia mengklaim rantai pasokan semakin kompleks saat ini.

"Karena pertumbuhan e-commerce, kompleks mengandalkan rantai pasokan dan itu membutuhkan fleksibilitas," ujar Bok.

Untuk itu, kata Bok, perusahaan terus berinvestasi untuk mengembangkan digitalisasi. Salah satunya dengan membangun smart warehouse di Cikarang.

"Juga dalam robotik, tidak hanya dalam robotik fisik tapi juga robotic process automation (RPA) yang memastikan kami mengoptimalkan proses," jelas Bok.

Dalam warehouse tersebut, kata Bok, karyawan dapat mendapatkan instruksi secara digital, akses ke analisis data, perencanaan, dan akses yang lebih baik ke rantai pasokan pelanggan perusahaan.

"Kami terus melakukan investasi pada tempat-tempat seperti Cikarang dan kami juga menyediakan investasi untuk fasilitas baru, gudang, dan juga transportasi di 27 kota di seluruh Indonesia," tutup Bok.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210914143109-92-694097/dhl-supply-chain-raup-untung-rp5581-t-di-tengah-covid-19

Monday, September 6, 2021

Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s

Forget Finance. Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s Must-Have MBA Degree

The just-in-time inventory systems embraced by many businesses led to empty shelves and costly bottlenecks. That’s put a rare spotlight on supply-chain programs, which are attracting more students.

By Matthew Boyle

September 3, 2021, 3:00 PM GMT+7

Stores with no toilet paper. Colossal cargo ships run aground in the Suez Canal. Factory shutdowns in Vietnam. Ports closed in China. It almost seems that not a day goes by without reports of another supply-chain snafu wrought by the pandemic, which dismantled just-in-time inventory systems that couldn’t cope with massive, simultaneous disruptions of supply and demand.

Companies have struggled to adapt, with some taking unusual steps. Walmart Inc. and Home Depot Inc. are chartering their own private cargo vessels so they don’t get caught short as the holiday season approaches, and logistics experts say disruptions from congested ports won’t end anytime soon. The tumult has forced companies to lavish more attention on their supply-chain professionals, who typically toil in obscurity until disaster strikes. It’s also prompted business schools to refresh their supply-chain curricula to make sure the next generation of logistics managers are prepared for future crises.

“For years, we had sort of taken logistics for granted,” says Skrikant Datar, the dean of Harvard Business School. “The pandemic caused us to rethink it.”

The problem, says Hitendra Chaturvedi, a supply-chain management professor at Arizona State University’s W.P. Carey School of Business, was that supply-chain education and theories had grown as rigid as some of the practices out in the real world. “After years of teaching without any tremors,” he says, “our courses had become less flexible.”

In response to those tremors, business schools are now emphasizing things such as risk mitigation, data analytics, and production reshoring—while also carving out room to explore more intangible topics like ethics, communication, and sustainability. Penn State’s Smeal College of Business is adding a master’s course in supply-chain risk management next year, with lessons taken straight from the pandemic experiences of corporate partners including Hershey Co. and Dell Technologies Inc. The course will count toward a new certificate program in risk management that’s also in the works. The W.P. Carey School of Business also plans to offer a certificate in supply-chain resilience.

“It’s not like we don’t cover risk already, but this would give them a deeper dive,” says Kevin Linderman, chair of Smeal’s Department of Supply Chain and Information Systems, which has grown more popular with students thanks to high-profile incidents such as the grounding of the Ever Given cargo ship in the Suez Canal in March, which snarled global commerce for nearly a week. This academic year more than 400 juniors in Smeal’s undergrad program have declared their intent to major in supply-chain management, up from about 270 the previous year.

Incoming business students who once defaulted to finance or marketing now want to explore supply-chain management, says Alok Baveja, a professor at Rutgers Business School, whose faculty includes former executives of nearby pharmaceutical giants such as Johnson & Johnson. When they graduate, they’ll have plenty of options: A record 50 companies plan to attend a supply-chain career fair at Georgia Tech in September—about double the number that typically come to recruit students of the program—including newcomers Honda, Honeywell, and Procter & Gamble.

Students who pursue supply-chain degrees this fall are certain to get an earful about the limitations of just-in-time inventory systems, which grew in popularity during the 1990s as companies aimed to mimic the success of auto makers like Toyota Motor Corp., the gold standard of lean manufacturing. For some companies, though, getting lean “became a religion,” says Penn State’s Linderman, and their orthodoxy became their undoing when the pandemic hit and there was no surplus stock to be found.

Covid-19 exposed the weaknesses of legacy inventory systems, which typically emphasize cost reduction above all else, says Hyun-Soo Ahn, a professor at University of Michigan’s Ross School of Business. The pendulum is now shifting the other way: At Walmart, whose bottom-line focus is legendary, U.S. inventory rose 20% last quarter as it doesn’t want product shortages come Christmastime. Still, shuttered factories, port congestion, and trucker shortages have brought more chaos to already overtaxed supply chains, raising prices on groceries and jeopardizing the delivery of millions of presents for the holidays.

Classroom discussions at Penn State and other supply-chain specialists will now delve into the downsides of sourcing too much from China or any single country, while they also explore the role that new technologies like machine learning and artificial intelligence can play in manufacturing and inventory decisions. Old research, meanwhile, is getting reinterpreted through the pandemic’s lens, says Gopalakrishnan Mohan, chair of ASU’s supply-chain department.

What’s also needed, though, is a realization in corporate C-suites that logistics isn’t just an expense—it can actually create value when done well, according to MIT’s Jarrod Goentzel. He’s the principal research scientist at the school’s Center for Transportation and Logistics, which works with corporations such as Amazon.com Inc. and Intel Corp. and also a lecturer in the center’s one-year master’s program in supply-chain management. It helps that high-profile chief executive officers like Apple Inc.’s Tim Cook and Mary Barra of General Motors Co. spent time running complex supply chains before they got the top jobs, but logistics educators say greater boardroom acknowledgement of the make-or-break role such skills play is long overdue.

“Any company that says they fully understand their supply chain is lying,” says Goentzel, who believes that supply-chain practitioners should be certified just like accountants. “It’s time for the profession to wake up. The 20th century was about finance. The 21st century should be about supply chains.”


Sumber :

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-09-03/business-school-mba-students-forgo-finance-for-supply-chain-management-degree

Tuesday, June 22, 2021

Rantai pasok yang Boros

Rantai pasok yang boros dan sampah makanan bisa bernilai Rp550 triliun

21/06/2021 06:03 WIB

Tahukah Anda bahwa nilai sisa makanan kita ditambah kehilangan (loss) dalam proses produksi bahan makanan bisa mencapai Rp550 triliun? Hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menunjukkan betapa besarnya manfaat yang hilang akibat inefisiensi dalam proses produksi dan cara makan yang keliru.

Kementerian PPN mengkaji masalah tersebut bersama Waste4Change dan didukung oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta United Kingdom Foreign, Commonwealth, and Development Office (UKFCDO). Fokus penelitian ini pada Food Loss and Waste (FLW).

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang antara proses panen dan proses konsumsi. Food loss adalah hilangnya kualitas makanan pada proses rantai pasokan, mulai dari produksi (panen), pengemasan, penyimpanan, distribusi, penjualan, sampai diterima konsumen.

Sementara itu, food waste mengacu pada sisa makanan yang timbul pada bagian akhir supply chain, yaitu penjualan dan konsumsi, baik karena tidak termakan, rusak, atau kedaluwarsa. Saban tahun, setiap orang rata-rata membuang lebih dari 100 kilogram sampah makanan atau setara dengan 61 sampai 125 juta porsi makanan.

Kerugian ekonomi akibat food waste selama 20 tahun terakhir bahkan setara 4 sampai 5 persen PDB, atau mencapai Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahun. Fakta ini mengemuka dalam webinar yang mendiskusikan hasil kajian Food Loss and Waste (FLW) Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (9/6/2021).

Dalam webinar tersebut juga dikemukakan bahwa kerugian di sektor lingkungan akibat timbulan FLW pada periode 2000-2019 atau selama dua dekade, mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan limbah per kapita sebesar 115-184 kilogram per tahun.

Pada periode yang sama, efek kehilangan pasca-produksi dan sampah makanan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) ternyata sangat besar. Timbulan sampah makanan tersebut menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara 7,29 persen rata-rata emisi GRK Indonesia per tahun.

Kehilangan (loss) dalam mata rantai pasokan didominasi oleh jenis padi-padian, seperti beras, jagung, gandum, dan produk-produk sejenis. Namun, jenis pangan yang prosesnya paling tidak efisien adalah sayur-sayuran. Kehilangannya bisa mencapai 62,8 persen dari seluruh suplai domestik sayur-sayuran yang ada di Indonesia.

“Dengan menyajikan sejumlah hasil analisis yang bersifat evidence-based, kajian Food Loss and Waste di Indonesia ini bisa menjadi pedoman atau referensi bagi para pengambil kebijakan, sehingga implementasi pembangunan rendah karbon di Indonesia dapat memenuhi target” ujar Menteri Suharso Monoarfa dalam webinar tersebut.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan komposisi sampah di Indonesia pada 2020 didominasi sisa makanan, yakni mencapai 39,74 persen.

William, mantan chef hotel bintang empat di Indonesia berkisah, sebelum pandemi, setiap hari sampah dari dapur hotel bisa lebih dari tiga tempat sampah ukuran 240 liter. “Setiap hari ada bahan dan makanan yang harus dibuang. Tidak boleh dibagikan atau dibawa pulang karyawan karena alasan liabilitas,” ujar William kepada Lokadata, Jumat (11/6/2021).

Produk makanan seperti daging ayam, sapi, dan ikan hampir 80 persennya bisa diolah. Sisanya ada yang bisa dimanfaatkan, tapi tidak semua hotel melakukannya. Lain halnya dengan sayur-mayur. Biasanya hanya 60 persen yang layak olah. "Kehilangan banyak terjadi saat mengupas kulit atau membuang bagian sayur yang tidak layak olah."

Banyaknya volume sampah yang dibuang hotel tergantung aktivitas pada hari itu. Semakin banyak event dan orang yang terlibat, semakin banyak pula sampah makanan yang dibuang.


Memanfaatkan makanan terbuang

Lewat gerakan food bank, Garda Pangan mencoba mengumpulkan dan memanfaatkan makanan yang terbuang atau tidak laku terjual. Social enterprise yang berbasis di Surabaya dan Malang, Jawa Timur ini melakukannya lewat penyelamatan makanan dari berbagai industri hospitality dan bisnis makanan.

Garda Pangan bekerja sama dengan restoran, toko roti, distributor buah, dan lain sebagainya. “Kalau ada makanan yang tidak terjual hari itu dan masih sangat layak makan, dijemput oleh teman-teman relawan. Kemudian kita sortir untuk memastikan higienitas dan keamanannya, dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Eva Bachtiar, salah satu pendiri Garda Pangan.

Sumber food waste lain adalah acara berskala besar seperti festival atau resepsi perkawinan. Garda Pangan pernah menyelamatkan 500 porsi makanan yang akan dibuang pada satu pesta.

Masalah food loss dan food waste kian mendesak untuk diatasi. Mengurangi 50 persen sampah makanan pada 2030 juga jadi salah satu target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.

Menurut Rosa Vivien Ratnawati, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup, dalam webinar yang sama mengungkapkan, setidaknya ada tiga aktor besar yang punya andil dalam masalah food loss dan food waste ini.

Pertama, peritel atau distributor. Misalnya, promosi buy one get two seringkali membuat konsumen membeli makanan yang tidak perlu. Karena itu, manajemen stok yang efisien sangat dibutuhkan agar stok yang tersedia menjadi sampah. Upaya ini seharusnya masuk dalam strategi pemasaran, dan penyimpanan produk.

Kedua, industri jasa makanan. Semua restoran memiliki standar porsi yang sama untuk semua orang. Akibatnya, kata Rosa, selalu saja ada makanan tersisa. Selain itu, model penjualan all you can it juga menjadi penyumbang sampah makanan. Model ini membuat konsumen mengambil makanan yang berlebihan.

Ketiga, konsumen juga menjadi penyumbang yang besar. Misalnya, banyak konsumen membeli makanan yang sebetulnya tidak dibutuhkan, tidak menghabiskan makanan yang sudah dibeli, dan membeli bahan makanan yang terlalu banyak, sehingga mengakibatkan busuk atau kedaluwarsa.

Menurut Rosa, setiap tahun Indonesia membuang sampah makanan sebanyak 20,8 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 30,58 persen dari total makanan yang dikonsumsi. Rata-rata sampah makanan di Indonesia masih lebih rendah dari negara-negara Asia Tenggara yang mencapai 43,5 persen.

Tapi, tentu saja, hal itu tak bisa jadi pembenar bahwa sampah makanan kita tak sebanyak negara tetangga.


Sumber :

https://lokadata.id/artikel/rantai-pasok-yang-boros-dan-sampah-makanan-bisa-bernilai-rp550-triliun

Wednesday, April 14, 2021

5 Supply Chain Myths—Busted

Whether you have established your career or are just starting out in supply chain management, you'll come up against persistent misconceptions. Inbound Logistics puts five of the most common myths to the test.

Like any industry segment, the supply chain offers fertile ground for myths to propagate. Here are five of the most persistent supply chain myths, along with the thorough debunking they deserve.


MYTH 1: SUPPLY CHAIN MANAGEMENT IS BORING.

No way, say the folks educating the next generation of supply chain professionals. A logistics whiz may not become the hit of happy hour by spouting supply chain trivia, but the field—contrary to its bum rap—does not induce spontaneous comas.

Still, the "supply chain is boring" myth looms large among the general public, among college students looking for a major, and even among business professionals with spreadsheet expertise.

"The main reason is that they don't understand what supply chain is," says Nick Little, director of railway education at Michigan State University's Center for Railway Research and Education.

For example, when high school and college students begin thinking of career options, they are likely to link the supply chain with its less strategic jobs. "If Johnny went home and said to his family, 'I want a supply chain career,' they might answer, 'You don't really want to be a truck driver, do you?'

"The other thing that people sometimes don't understand is that working in supply chain involves a lot of trade-offs," Little adds—noggin-taxing trade-offs that require informed decision-making. That's true in every link of the chain, from product design, materials management, and procurement—"Do we go with cheap materials or something that is more reliable?"—to transportation and distribution. No part of the job can be executed on autopilot.

Supply chain's relationship to the entire business enterprise attracts Little. "Supply chain is strategic because it is so closely linked to the business model," he says. "Supply chain is touched by every part of the business and every part of the business is touched by the supply chain.

"The good thing about supply chain management," he says, "is that no two days are ever the same, and you don't know what tomorrow will bring."


MYTH 2: YOU NEED AN ENGINEERING DEGREE TO NEGOTIATE THE SUPPLY CHAIN.

Tell that to Lamar Johnson, who as a college student never dreamed that he would spend 15 rewarding years in supply chain management at a major brand.

"I retired in 2004 from Procter & Gamble but I had a finance undergraduate degree and 18 years in sales," he says. "When I retired I was managing all of the outbound portion of Procter & Gamble North America's supply chain," he says, adding that he was unusual at that time, a bird with different plumage in an aviary of engineers.

"What I brought to the party was a knowledge of our customer," Johnson says. "I had analytical skills—at one point I had been a math major. I also had very good soft skills: leadership skills, collaboration skills—all of the things you need to knit together not only the parts of your own discipline but also other entities within the company."

Johnson is now senior associate director of the University of Texas' Supply Chain Management Center at the McCombs School of Business. And he's all about reminding business leaders that supply chain professionals benefit from a strong foundation of business and communication skills.

"Most supply chain leadership historically has come from engineering; therefore they tend to value people who come along behind them that have an engineering degree," Johnson explains. "It's kind of a fraternity or sorority. I don't mean that to be unfair. I am saying that they value the skills that engineers bring to the party and sometimes discount the skills of people with backgrounds other than engineering."

That's changing, he says, and it's a good thing. Professionals with engineering expertise will always be an essential part of the supply chain equation but, "We need different kinds of leaders in the future," Johnson notes. "We need leaders who have strong business skills, analytical skills, and soft skills. If you take that on face value, lots of different backgrounds belong at the table."


MYTH 3: SUPPLY CHAINS THAT RELY ON AUTOMATION INSTEAD OF PEOPLE ARE ALWAYS BETTER.

"False," says Jack Buffington, who is responsible for warehousing and fulfillment for Colorado-based brewing company MillerCoors.

At least for now.

Buffington, who is also a professor of supply chain management at the Daniels College of Business, University of Denver, says it's not uncommon for business ventures to overvalue the automated supply chain.

Take the case of a celebrated technology company and its much-ballyhooed all-electric luxury vehicle. "The company obviously makes a good product that people want," Buffington says. "And as production has ramped up, it has had challenges meeting its targets. The reason why is the manufacturing facilities were overautomated. The company looked at what the big automakers were doing and thought, 'Well, that's good, but more automation would be better.'"

But that's not how manufacturing facilities should work, particularly on questions related to cadence—and to keeping things flowing consistently and in accordance with business strategy. When it comes to the big picture, "It's not about maximizing; it's about optimizing," Buffington explains.

"Automation is good for doing things quickly, but it may not necessarily be good for flexibility," he adds. "The company found that it needed to take some automation out of the process, because, as an overall system, it didn't work as effectively."

Such case-by-case thinking also should prevail in warehousing and distribution, Buffington argues. If the operation does not require troubleshooting or flexibility, a fully automated warehouse may be the ticket.

"Automated facilities are super efficient: Robots move pallets of product, they never take breaks, they take the same path," Buffington says. "But when orders get too complex, they run into some difficulties."

In fact, any time there is a change in plans, he notes, "you have to redesign the control system."

Complexity can certainly confound human beings, but unlike robots, they can puzzle their way through a problem. And at the very least, they can ask for help and advice, Buffington says.


MYTH 4: IN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT, DATA—NOT PEOPLE—RULES.

Like most of his peers, John Magee, president and CEO of Houston-based 3PL Crane Worldwide Logistics, believes that data should inform decisions. But he also says that supply chain management is as much about craft as it is about terabytes. Without the former, the latter only gets you so far.

"Data paints a picture, but it doesn't tell a story," he says. "There are times when the picture is enough. But there are times when you need the story."

And that's where the craft comes in. "Data can be misleading if you don't know what you are looking for," Magee says. "If you look at a slice of information the wrong way, it can be bad."

A good supply chain professional always wants to know more. But it's also important to know what to do with all that data and to understand what is happening behind the scenes. That may seem like common sense, but it takes experience to put data in context.

Say a client complains that your firm's service is slipping. And the data supports that contention: It now takes 23 days to deliver a product, up from 22.

The data doesn't tell you what's behind that slippage—whether it's attributable to inefficient operations at home base, whether a carrier went out of business, or whether a natural disaster necessitated route changes. A response to the data, Magee explains, can only be crafted by someone savvy enough to ask the right questions.

With blockchain on the rise, businesses along the chain are ever-more committed to using data in decision-making. But, Magee says, "I am not so sure blockchain is going to become everything that people say it is." After all, the "garbage in/garbage out" rule still applies, and blockchain as envisioned depends on what Magee calls "flawless execution of integrated systems."

"People are saying they need more data, but they're still trying to figure out how to use it better," Magee says. And no matter how much data is on hand, one fundamental truth remains: When it comes to managing the supply chain, Magee says, "you can't take the craft out of it."


MYTH 5: COST CUTTING IS THE FIRST GOAL OF EVERY SUPPLY CHAIN.

As a working professional with warehousing and distribution operations to monitor, Jack Buffington of MillerCoors knows that cost pressures are real and require constant attention. But in his role as a professor, the preoccupation with reducing costs sends his blood pressure well north of healthy.

"The goal isn't to reduce costs; it's to reduce waste and improve efficiency," he says.

In fact, the supply chain might be one place where increasing costs makes sense. Spending a little to improve efficiency could pay off in increased sales.

"It's a bad way to think about things," Buffington says of the cost-cutting obsession. It can even backfire. "Too many supply chain people try to reduce costs and they end up actually increasing costs or impacting sales.

"Cost can help solve a problem," he adds. "If you increase costs, you can actually reduce problems and increase opportunities and grow markets. But the problem is we focus too much on the short term and lose sight of the bigger picture."

Well, that's not universally true. "The best supply chain people in the world focus on reducing waste, improving efficiency, and increasing sales," Buffington says. "Cost is a factor in those goals, but it's not discrete."


Sumber :

https://inboundlogistics.com/cms/article/5-supply-chain-myths-busted/

Monday, March 15, 2021

Tujuan Supply Chain Management

Tujuan Supply Chain Management dan PenerapannyaTujuan Supply Chain Management dan Penerapannya

Supply chain management atau SCM sangat penting bagi perusahaan. Perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing melalui penyesuaian produk, mutu tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan distribusi maka penting untuk memperhatikan supply chain. Management rantai pasokan merupakan integrasi dari berbagai macam aktivitas. Aktivitas tersebut seperti pengadaan bahan, mengubah barang menjadi produk akhir, pengiriman ke seluruh pelanggan. Hal tersebut akan mencakup aktivitas pembelian dan outsourcing, kemudian ditambah dengan fungsi lainnya yang penting antara hubungan pemasok dengan distributor. 

Definisi sederhana supply chain management adalah mekanisme yang menjadi penghubung antara semua pihak yang bersangkutan. Kemudian mengonversikan bahan mentah dan mengubahnya menjadi barang jadi. Semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan bertanggung jawab untuk bisa memberikan barang-barang hasil produksi kepada pelanggan tepat waktu dan di tempat yang tepat. Jadi pada dasarnya SCM ini akan melibatkan pemasok, pabrik, manufaktur, penyedia logistik, dan tentunya yang paling terlibat adalah pelanggan.


Tujuan Manajemen Rantai Pasokan

Tujuan umum dari supply chain management ini adalah menyeimbangkan antara permintaan dan juga penawaran agar lebih efektif dan juga efisien. Sejumlah masalah utama dalam rantai pasokan ini berhubungan dengan penentuan tingkat outsourcing yang tepat, manajemen pengadaan barang, manajemen pemasok, pengelola hubungan dengan pelanggan, identifikasi masalah dan merespons masalah tersebut, yang terakhir adalah manajemen risiko. Tujuan strategis yang ingin dicapai dari rantai pasokan adalah memenangkan persaingan minimal perusahaan bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat. Oleh sebab itu jika menjadi pemenang dalam persaingan pasar maka rantai pasokan tersebut harus mampu menyediakan produk dengan harga murah, berkualitas, tepat waktu, dan juga lebih bervariasi.


Hal yang Dikendalikan SCM

Ada sejumlah hal yang dikendalikan oleh supply chain management yaitu mengetahui wilayah jaringan distribusi, jumlah, fasilitas produksi, lokasi supplier, pusat distribusi, dan gudang sampai dengan pelanggan. Dalam melakukan distribusi umumnya mereka akan berpikir tentang strategi distribusi yang akan dilakukan seperti desentralisasi atau sentralisasi. Manajemen rantai pasokan memerlukan sistem informasi yang bisa di integrasikan secara langsung dan cepat supaya proses distribusi barang ini bisa berjalan dengan lancar. Informasi yang harus dibagikan saat itu pula adalah harga, inventaris sampai dengan urusan transportasi. SCM ini juga mewajibkan dalam mengatur syarat pembayaran beserta metologinya.


Penerapan Supply Chain Management

SCM menjadi konsep atau mekanisme untuk bisa meningkatkan produktivitas perusahaan secara total di dalam rantai pasok dengan optimalisasi waktu, pengelolaan lokasi, dan juga aliran kuantitas bahan. Dalam kegiatan manufaktur penerapan SCM akan mendorong perusahaan untuk bisa memenuhi kepuasan pelanggan, pengembangan produk tepat waktu, menghemat biaya saat menyediakan dan menyerahkan produk, pengelolaan industri secara cermat dan fleksibel. 

Saat ini konsumen semakin kritis sehingga menuntut penyediaan produk secara tepat watu sehingga menyebabkan perusahaan harus melakukan antisipasi agar tidak kehilangan pelanggan. Menggunakan software yang mendukung SCM menjadi solusi terbaik untuk bisa memperbaiki tingkat produktivitas diantara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Untuk SCM ini sangat cocok diterapkan karena memiliki kelebihan berupa mampu mengelola aliran barang atau produk di dalam suatu rantai pasok. Dalam hal ini SCM akan mengaplikasikan bagaimana jaringan produksi bersama distribusi mampu bekerja bersama-sama untuk bisa memenuhi semua tuntutan konsumen. 

Ada beberapa hal dalam penerapan SCM yang harus diperhatikan supaya tidak terjadi hambatan saat menjalankan rantai pasokan tersebut yaitu pengukuran kinerja, customer service yang harus bisa didefinisikan dengan jelas, ukuran keterlambatan respons dalam pelayanan, status data pengiriman yang akurat, sistem informasi yang efisien, analisis metode pengiriman yang lengkap, dan lain sebagainya.


Sumber :

https://www.soltius.co.id/id/blog/read/tujuan-supply-chain-management-dan-penerapannya

Monday, January 25, 2021

Teknologi Supply Chain Masa depan

Sistem Manajemen Rantai Pasokan, Gebrakan Teknologi Masa depan


Rantai Pasokan Terbaru

International Investor Club – Pertumbuhan bisnis yang mengesankan, dibarengi dengan pengembangan teknologi berkelanjutan menjadikan Amazon sebagai salah satu kiblat inovasi di sektor e-commerce.

Menyadur data terakhir perusahaan tersebut, pertumbuhan bisnis dari tahun 2018 ke 2019 telah mencapai 30%. Sementara 13% keuntungan didapat dari transaksi global, termasuk di kawasan Asia Pasifik.


Rantai pasokan

Secara lebih mendetail, banyak hal yang bisa dipelajari dari kesuksesan perusahaan yang dibangun Jeff Bezos tersebut. Manajemen rantai pasokan menjadi salah satunya, memungkinkan Amazon mengakomodasi ekspektasi pelanggan terkait pengiriman barang yang dilakukan cepat. Salah satu realisasinya dalam fitur “same day delivery”.

Saat ini, konsep serupa tengah masif diterapkan oleh pemain e-commerce di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Transformasi besar-besaran dilakukan agar memungkinkan jalur distribusi barang menjadi lebih efisien. Untuk beberapa pengiriman ke kota besar, khususnya wilayah Jabodetabek, platform seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan sebagainya sudah mungkinkan pengiriman sehari, memanfaatkan kerja sama dengan aplikasi ride-sharing seperti GoJek, Grab, dll.

Dalam sajian berita KataData dituliskan, proses rantai pasokan telah berubah dari masa ke masa. Di era sebelum e-commerce, prosesnya hanya melibatkan pembeli dan pemilik toko, karena transaksi terjadi secara langsung di tempat.

Di era jual-beli online, aktivitasnya menjadi lebih panjang. Pada setiap aspek rantai pasokan terdapat berbagai aktivitas pertukaran informasi, transaksi dana, pengelolaan barang, manajemen logistik, hingga proses pelaporan.


Pengantaran

Kemitraan strategis dengan pihak ketiga dijadikan solusi agar alurnya efisien. Masing-masing perusahaan dengan kompetensinya melakukan pengelolaan di masing-masing bidang.

Misalnya, platform e-commerce fokus menyediakan kanal, perusahaan logistik konsentrasi pada distribusi produk dan perusahaan rantai pasokan sediakan gudang.

Di titik sekarang ini, fragmentasi layanan e-commerce justru menghadirkan permasalahan baru. Dengan ekspektasi sama soal pengiriman cepat, sistem logistik sering terseok-seok hadapi traksi pesanan yang membludak. Hal ini rutin terjadi di momen-momen khusus, misalnya perayaan hari belanja atau mendekati hari raya.

Tak mau pasrah dengan keadaan, beberapa perusahaan e-commerce mulai bangun infrastruktur secara mandiri. Seperti yang dilakukan Tokopedia melalui visinya untuk menjadi “Infrastruktur as a Services” di sektor ritel. Mereka membangun layanan pemenuhan (fullfilment) TokoCabang untuk memperlancar proses distribusi produk.


Head of Fulfillment Tokopedia, Erwin Dwi Saputra kepada DailySocial menjabarkan cara kerjanya.

TokoCabang memungkinkan penjual menitipkan stok produk di gudang Tokopedia di berbagai daerah, terutama di wilayah di mana permintaan produk cenderung tinggi. Dengan layanan pemenuhan yang efisien, penjual kini tidak perlu lagi mempertimbangkan isu operasional pemenuhan pesanan, terutama ketika usaha penjual mulai berkembang pesat.


Rantai Pengiriman

Selanjutnya barang-barang tersebut dikelola pengirimannya oleh 12 mitra logsitik yang telah bekerja sama dengan Tokopedia. Selain lebih cepat, memungkinkan perusahaan memberikan ongkos kirim yang lebih terjangkau. Tokopedia menyebut fitur tersebut sebagai “instant delivery”.

Visi penguatan logistik turut digaungkan oleh perusahaan lain. JD.id salah satunya, disampaikan President & CEO Zhang Li bahwa prioritas mereka saat ini mengupayakan layanan “same day delivery”, dimulai dari seluruh wilayah Jabodetabek. Layanan yang dimaksud memungkinkan pesanan dikirim ke pelanggan pada hari yang sama jika pemesanan dilakukan sebelum pukul 10.00 WIB.

Zhang mengklaim 85% pesanan di Jabodetabek telah memakai same day delivery. Angka tersebut turut menjadi pendorong memperkuat infrastruktur logistik, karena saat ini kecepatan tersebut jadi layanan unggulan.

Untuk perluasan, pihaknya sudah bangun 11 gudang yang tersebar di berbagai kota, termasuk Medan, Makassar, Surabaya, Semarang dan Pontianak.


Sumber :

https://internationalinvestorclub.com/2020/01/14/sistem-manajemen-rantai-pasokan-gebrakan-teknologi-masa-depan/

https://id.pinterest.com/pin/528539706265972669/

Related Posts