Pages

Monday, April 1, 2019

E-Commerce Ramai-ramai Buka Layanan O2O

Senin, 01 April 2019 10:32 WIB

Pelaku bisnis e-commerce berlomba-lomba memberikan layanan omni-channel atau memberikan lebih dari satu channel penjualan, seperti e-commerce, m-commerce, social commerce hingga toko fisik. Ada beberapa tujuan layanan omni-channel, antara lain melakukan riset, menciptakan pengalaman pelanggan secara efektif, konsisten, dan saemless (tanpa hambatan).

Seperti yang dilakukan oleh JD.id, e-commerce asal China JD.com, pada Agustus 2018 lalu meluncurkan JD.id X Mart di Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue. Menariknya, toko ini mengadopsi konsep yang sudah diterapkan di China, yakni toko tanpa kasir. Semua barang di toko ini telah dilengkapi dengan teknologi radio frequency identification (RFID) untuk mengetahui barang apa saja yang dibawa keluar oleh pengunjung. Pada saat pengunjung keluar, secara otomatis barang yang dibawa tercatat dan masuk ke tagihan kartu kredit yang dimiliki oleh pengunjung.

Teddy Ariafianto, Head of Corporate Communications and Public Affairs JD.id mengatakan, dalam 1-2 tahun terakhir telah terjadi pergeseran perilaku konsumen, di mana e-commerce menjadi katalisatornya. Menurutnya, saemless berarti tidak membedakan antara online dan offline. Layanan JD.id X Mart, menurutnya, untuk meningkatkan pengalaman konsumen saat berbelanja.

Hal yang sama dilakukan oleh Tokopedia dengan meluncurkan Tokopedia Official Store, yang hadir sebagai solusi bagi pengguna untuk berbelanja produk-produk yang ada di platform Tokopedia secara langsung, mudah, cepat, dan nyaman. Salah satu official store itu hadir di Lippo Mal Puri, yang dibuka pada Jumat (29/3/2019) lalu.

Inna Chandika, Vice President of Merchants Tokopedia menjelaskan, layanan tersebut untuk meningkatkan cakupan dan kualitas layanan. Kehadiran Tokopedia Official Store menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi permintaan pelanggan akan pengalaman belanja yang lebih nyaman. Tokopedia Official Store juga memberikan perlindungan produk berupa garansi pengiriman dan pengembalian produk.

"Tokopedia bekerja sama dengan lebih dari 2.000 mitra untuk menghadirkan jutaan produk pilihan melalui official store," ujar Inna.

Sementara itu, Bukalapak menempuh langkah yang sedikit berbeda dalam menghadirkan layanan offline. Fajrin Rasyid, CEO Bukalapak, mengatakan, pihaknya tidak akan terburu-buru untuk membuka toko atau official store milik Bukalapak sendiri. Tapi pihaknya akan menggandeng pemilik toko yang sudah ada menjadi agen offline Bukalapak.

Menurutnya, saat ini sudah ada lebih dari 500 ribu jaringan warung yang bermitra dengan Bukalapak. Jaringan itu dapat menjadi mitra terpercaya Bukalapak bagi masyarakat yang ingin berbelanja secara offline. Menurutnya, konsep tersebut juga seperti diterapkan oleh perusahaan di China, yang memberdayakan jutaan warung.

"Mungkin kami juga akan bikin store, tapi biayanya besar, jadi testing eksperimen dulu," ujar Fajrin.


Sumber :
https://www.wartaekonomi.co.id/read221848/e-commerce-ramai-ramai-buka-layanan-o2o.html

Related Posts