Pages

Sunday, December 13, 2020

Supply Chain and VCOR Modeling

Pemodelan Rantai Pasokan dan Rantai Nilai Kerangka umum pertama untuk SCM, Model Referensi Rantai Suplai (SCOR) dikembangkan oleh Supply Chain Council (SCOR, 2005); model bersifat umum, mendefinisikan proses standar rantai pasokan dan menetapkannya terminologi standar dalam istilah yang cukup luas. SCOR menjangkau pelanggan dan pasar interaksi dan transaksi material fisik. 

Model ini juga bisa membantu pabrikan untuk melakukan benchmarking terhadap mapan lainnya perusahaan, untuk itu model mengusulkan beberapa praktik terbaik dan Kunci Indikator Kinerja (KPI). Model SCOR telah dikembangkan untuk mendeskripsikan aktivitas bisnis yang terkait dengan semua tahapan kepuasan permintaan pelanggan; itu terdiri dari proses rencana, sumber, pembuatan dan pengiriman elemen (level 1 model) yang berputar di sekitar rantai pasokan.

Asumsi utama dari model ini adalah dengan mengintegrasikan elemen-elemen proses di sepanjang rantai pasokan, perusahaan harus menjadi lebih kompetitif. Tetapi fungsi pendukung seperti administrasi, R&D, dan layanan pelanggan tidak termasuk (Bolstorff dan Rosenbaum, 2003).

Saat ini manufaktur di Eropa sedang mengalami perubahan besar. Peningkatan produktivitas telah memusatkan perhatian pada pendekatan untuk pencapaian keunggulan kompetitif melalui tindakan dan proses efisiensi optimasi. 

Selain itu, perusahaan-perusahaan Eropa telah menyadari bahwa jenis inisiatif pelengkap diperlukan untuk desain produk dan proses rekayasa. Faktanya, sangat diperlukan untuk menjaga pengetahuan yang lebih baik agar tetap kompetitif dan dapat menawarkan produk baru dan canggih ke pasar. 

Pengenalan konsep seperti PLM menjadi penting memperoleh klien baru dan segmen pasar baru, dan untuk mengadopsi konsep Nilai Manajemen Rantai di seluruh jaringan.

Pada akhir 2003 dan awal 2004 serangkaian pertemuan mencapai puncaknya pada pengembangan iterasi pertama Referensi Operasi Rantai Nilai (VCOR). Peserta dalam pertemuan ini berasal dari kumpulan global pakar pengetahuan proses bisnis yang banyak di antaranya bekerja untuk pengguna akhir besar, perusahaan konsultan atau perangkat lunak, organisasi nirlaba khusus domain, atau akademisi; mereka menciptakan Grup Rantai Nilai: VCG (Grup Rantai Nilai, 2005). 

Model VCOR mampu mencapai beberapa manfaat yang dirangkum oleh perusahaan sebagai berikut:

  • Pendekatan berbasis standar untuk menentukan kolaborasi penting antara mitra dagang.
  • Kesepakatan tentang tujuan siklus hidup produk dan bagaimana mencapainya.
  • Templat proses yang dapat digunakan kembali berdasarkan praktik terbaik.
  • Integrasi sistem manajemen informasi yang ada dan yang baru.
  • Respons cepat terhadap perubahan sambil mempertahankan dan memperluas nilai kinerja rantai.

Sumber :
https://arxiv.org/ftp/arxiv/papers/1811/1811.01683.pdf

Friday, December 11, 2020

Mengembangkan Operasi Sales & Operation Planning (S&OP)

3 Masalah dan Tips Tingkatkan Supply Chain Management Anda


Suatu bisnis khususnya bisnis yang bergerak di bidang logistik, supply chain management tentu memegang peranan penting dalam keberlangsungan bisnis yang dijalankannya. Dimana dengan manajemen yang baik, Anda dapat meningkatkan tingkat efisiensi, menekan ongkos, menaikan keuntungan bisnis Anda, dsb. 

Supply chain management adalah manajemen barang dan jasa yang mencakup semua proses pengolahan bahan baku menjadi barang akhir di sebuah perusahaan. Yang mana supply chain managementini pun telah menjadi suatu jaringan yang menghubungkan individu, organisasi, sumber daya, kegiatan, dan teknologi dalam pembuatan serta penjualan barang dan jasa. 

Masalah Supply Chain Management Adanya sebuah supply chain management kini telah membuat sebuah perusahaan lebih mudah dalam mengatur proses pengolahan produk. Namun sayangnya, di balik itu, ada beberapa masalah yang membuat supply chain management ini tidak dapat berjalan sesuai dengan kemauan kita. Lebih lanjut mengenai masalah-masalah yang terdapat disupply chain management. 

Berikut ini ragam masalahnya yang patut Anda ketahui: 

• Lemahnya Akuntabilitas 

Masalah pertama dalam supply chain management yakni lemahnya akuntabilitas. Sebagian pemilik perusahaan berpikir bahwa Chief Production Officer (CPO) bertanggung jawab atas gangguan supply chain. 

Umumnya urusan terkait gangguan supply chain tersebut tidak dapat ditangani oleh staf dari level operasional manapun termasuk pula yakni level pengadaan. Lemahnya akuntabilitas terkait siapa yang bertanggung jawab atas persoalan tersebut saat masalah yang timbul tidak seperti masalah yang terjadi sebelumnya menyebabkan kebingungan tentang siapa dan cara yang harus digunakan untuk memulihkan supply chain tersebut. 

Misalnya, baru-baru ini suatu perusahaan memutuskan hubungan kerja sama dengan mitra bisnisnya. Namun sayangnya, ketika sang mitra kerja mengetahui bahwa mereka telah kehilangan nilai sebesar 50 persen, maka mereka menyalahkan para supplier dan bukannya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi 


• Tidak Mengembangkan Operasi Sales & Operation Planning (S&OP) 

Dalam sebuah perusahaan Sales & Operation Planning (S&OP) merupakan salah satu aspek penting dalam bisnis. Masalah ini pun timbul di suatu perusahaan karena beragam kegagalan antara lain kegagalan untuk mengikuti struktur proses yang layak, kegagalan pemimpin senior untuk terlibat dalam S&OP, kurangnya pemberdayaan diantara peserta S&OP, kurangnya teknologi yang digunakan untuk mendukung proses. Namun, seragaman kegagalan tersebut masih dapat diatasi. 

Apa caranya? Caranya yakni dengan berinvestasi pada sumber daya manusia dan teknologi agar demi meningkatkan operasi bisnis utamanya dalam bidang logistik 


• Tidak Tersedianya Layanan Customer Services 

Kepuasan customer tentu menjadi hal yang diinginkan oleh setiap perusahaan demi menjaga kelangsungan bisnisnya. Masalah terakhir yang disebabkan oleh salah pengelolaan pada supply chain management yakni tidak tersedianya layanan customer services. Memang, apa saja dampak yang ditimbulkan oleh tidak adanya layanan ini? 

Customer Anda tak punya lini komplain jika tidak puas terhadap layanan Anda, manajemen perusahaan Anda tak memiliki panduan untuk bertindak, dan buruknya keputusan yang diambil dapat menyebabkan pembengkakan biaya. Lalu, apa manfaatnya jika layanan ini ada di perusahaan Anda? 

Jika kebijakan customer services ini dikembangkan dan didiskusikan bersama seluruh petinggi perusahaan, maka tim logistik Anda akan mampu bereaksi secara cepat dalam menyelesaikan keluhan customer Image By soltius.co.id Tips Tingkatkan Supply Chain Management Anda pun tentu ingin agar urusan supply chain management dapat berjalan lancar dengan minim gangguan di setiap aktivitas bisnis Anda. 

Guna terhindar dari beragam masalah yang terdapat pada supply chain management, ada beberapa tips yang harus Anda ketahui saat Anda menerapkannya pada bisnis Anda. 


Tips-tips meningkatkan supply chain management yakni seperti berikut: 

• Otomasikan Order Anda 

Tips pertama untuk meningkatkan supply chain management di perusahaan Anda yakni berkaitan dengan tren teknologi terkini: otomasi. Pengotomasian kini telah menjadi sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap perusahaan demi mencapai efisiensi dan efektifitas kerja. 

Lalu, bagaimana dengan otomasi di supply chain management? Otomasi pada urusan terkait supply chain management dapat Anda capai dengan mengunakan softwareERP. Dimana dengan menggunakan ERP macam Midsuit Anda dapat menempatkan order secara otomatis dengan vendor dan berguna untuk mengecek level inventory sedang turun dibawah level yang telah ditentukan. 

Dimana dengan ERP tersebut Anda dapat mengurangi keterlibatan pegawai Anda pada suatu operasi bisnis sehingga mereka pun dapat mengerjakan tugas-tugas lainnya 


• Tracking Inventory Anda 

Tips kedua untuk meningkatkan supply chain management Anda yaitu gunakanlah inventory tracking pada bisnis Anda. Kemudahan yang diberikan oleh inventory tracking dalam hal mengurutkan, menyortir, dan mengklasifikasikan produk berdasarkan indikator tertentu semisal dari tingkat lakunya produk tersebut, hal itu dapat dilakukan oleh inventory tracking ini. 

Lalu, bagaimana hubungannya dengan supply chain management? Lewat inventory tracking ini, Anda dapat mengetahui stok produk yang Anda punya hingga kondisinya. Guna memastikan bahwa supply chain management Anda dalam kondisi stabil, Anda dapat melakukan pengawasan terhadap apa yang dikerjakan oleh mitra bisnis Anda dan menjamin bahwa kerja sama berjalan efektif, dan lacak aset inventory Anda secara berkala 


• Tingkatkan Visibilitas Supply Chain Anda 

Memastikan produk sampai ke tangan customer dengan baik adalah salah satu aspek penting dalam menjalankan suatu bisnis. Yang mana tips terakhir untuk meningkatkan supply chain management berhubungan dengan hal itu yakni visibilitas supply chain. 

Istilah visibilitas supply chainitu sendiri mengacu pada upaya yang dilakukan oleh perusahaan Anda untuk melacak setiap komponen produk Anda dari tangan supplier ke tangan kita sampai dalam kondisi baik. 

Untuk dapat mewujudkan visibilitas pada supply chain management Anda, Anda pun dapat melakukannya dengan mudah melalui pemberian izin akses kepada supplier untuk mengecek kondisi inventory Anda secara real-time berkat dukungan software ERP yang mampu mengotomasikan tugas Anda terkait urusan inventory tersebut. 

Apabila hal ini dapat Anda wujudkan di perusahaan Anda maka supplier pun juga dapat dengan mudah memberi masukan untuk inventory Anda guna meningkatkan supply chain management Anda. 


Sumber :

https://midsuit.com/2020/10/07/3-masalah-dan-tips-tingkatkan-supply-chain-management-anda/

Wednesday, December 9, 2020

SCOR Model dalam Supply Chain Management

Pengertian SCOR Model dalam Manajemen Rantai Pasok


SCOR Model adalah singkatan dari The Supply Chain Operations Reference Model. Secara pengertian, SCOR Model adalah sebuah metode pendekatan untuk melakukan pengukuran terhadap kinerja dari sebuah supply chain.


Sejarah SCOR Model

SCOR Model adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Supply Chain Council atau Dewan Rantai Suplai. Supply Chain Council adalah sebuah lembaga nonprofit yang berdiri pada tahun 1996 dan digagas oleh beberapa organisasi dan perusahaan.

Perusahaan pemrakarsa dari Supply Chain Council antara lain seperti Bayer, Procter & Gamble, Lockheed Martin, Compaq, Rockwell Semiconductor, Texas Instruments, Nortel, 3M, Rabin, Todd, & McGrath (PRTM), Cargill, Pittiglio, dan AMR (Advance Manufacturing Research).

Pada awal berdirinya dewan rantai pasok ini memiliki anggota sebanyak 69 perusahaan, namun saat ini telah mencapai 1000 perusahaan.


Perkembangan SCOR Model

Kelebihan dari SCOR model adalah sebagai kemampuannya untuk mengintegrasikan Business Process Reengineering (BPR), benchmarking dan Best Practice Analyze (BPA) ke dalam kerangka kerja supply chain.

SCOR model adalah metode yang terus berevolusi dan dapat dikembangkan terus metriks-metriks di dalamnya dengan fleksibel sesuai kebutuhan tiap supply chain.

Berikut ini gambaran proses kunci dalam SCOR Model yaitu plan, source, make, deliver dan return yang berada dalam proses mata rantai.



Level dalam SCOR Model

Menurut Supply Chain Council (2010), ada 4 level tahapan pemetaan SCOR version 10.0, yaitu: Top Level (Level 1), Configuration Level (Level 2), Process Element Level (Level 3), dan Implementation Level (Level 4).


Level 1

Level 1, mendefinisikan ruang lingkup dan isi dari SCOR model.

Setidaknya ada 5 proses kunci dalam top level pertama ini yaitu plan, source, make, deliver dan return lalu mengukur metrik kinerja.

Hasil pengukuran metrik yang didapatkan kemudian di compare dengan target perusahaan untuk mengetahui apakah kinerja supply chain sudah mencapai target atau belum.

Berikut ini proses kunci tersebut.


Plan

Perencanaan: Sebuah proses untuk menyeimbangkan antara permintaan dan penawaran (supply and demand) dalam rangka membangun strategi terbaik dari tiap aktivitas rantai pasok sambil tetap menyesuaikan aturan bisnis yang berlaku.

Pada perencanaan ini segalanya dikalkulasikan dari mulai tingkat efisiensi dan resiko bisnis yang akan dihadapi.


Make

Membuat (make): Proses yang mengubah barang ke tahap penyelesaian (Mengolah, memproduksi, dan melakukan packaging finish good) untuk memenuhi kebutuhan yang direncanakan.


Deliver

Pengiriman (deliver): Proses yang pendistribusian barang jadi dan jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Di sini, termasuk manajemen pemesanan, manajemen gudang seperti pengemasan produk sesuai prosedur perusahaan. Manajemen transportasi seperti melakukan pengiriman dengan transportasi yang tepat dan tepat waktu – untuk memenuhi kebutuhan yang direncanakan.


Return

Return adalah proses pengelolaan pengembalian barang.

Di tahap supplier, bahan baku yang tidak sesuai permintaan dari perusahaan dan menyediakan transportasi untuk pengiriman bahan baku pengganti. Pembuatan klaim atas bahan baku yang tidak sesuai permintaan ke pemasok di tahap manufaktur. Pengelolaan klaim atas finish good yang tak sesuai di tahap distributor. Dan hingga pembuatan klaim atas produk akhir yang rusak di tahap pengecer.


Level 2

Level 2, merupakan tahap konfigurasi. Pada level kedua ini setiap proses inti dalam SCOR akan ditampilkan lebih rinci dari proses-proses mata rantai suplai perusahaan.

Hal itu dimulai dari proses yang berkaitan dengan pemasok, aktivitas produksi dan distribusi hingga produk yang diterima oleh konsumen. Terdapat pengklasifikasian proses seperti berikut:


1 = Make-to-stock

2 = Make-to-order

3 = Engineering-to-order

4 = Retail product


Level 3, merupakan tahap dekomposisi proses-proses yang ada pada rantai pasok menjadi elemen-elemen yang mendefinisikan kemampuan perusahaan untuk berkompetisi.


Level 4, merupakan tahap implementasi yang memetakan program-program penerapan secara spesifik serta mendefinisikan perilaku-perilaku untuk mencapai competitive advantage dan beradaptasi terhadap perubahan kondisi bisnis.


Metriks dalam SCOR Model

Metriks adalah sebuah alat untuk mengukur kinerja standar dari proses-proses dalam supply chain. Salah satu syarat utama pengukuran kinerja ini adalah reliable dan valid. Reliability berhubungan dengan konsistensi dari instrumen-instrumen penelitian. Sementara validitas berhubungan dengan ketepatan definisi dari sebuah variabel.

SCOR model memberikan ruang bagi para peneliti untuk melakukan penyesuaian atau kustomisasi terhadap tipe industri masing-masing.


Atribut Kinerja

Atribut Kinerja berhubungan dengan strategi perusahaan. Setiap atribut akan memiliki tolok ukur masing-masing dalam Metriks SCOR Model. Berikut ini adalah atribut yang sering ada dalam metriks standard dari SCOR Model:

Reliability berkaitan dengan kemampuan melaksanakan setiap pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan. Fokus dari reliability adalah ketepatan waktu, ketepatan kuantitas dan ketepatan kualitas.

Responsiveness berkaitan dengan kecepatan waktu respon setiap pelaksanaan fungsi-fungsi yang berada di setiap mata rantai.

Agility berkaitan dengan kemampuan untuk fleksibel dan beradaptasi dalam menghadapi setiap perubahan yang dipicu oleh faktor eksternal.

Cost berkaitan dengan biaya-biaya di dalam Supply chain. Termasuk di dalamnya terdapat labor costs, material costs, management and transportation costs.

Asset Management Efficiency atau efisiensi dalam pengelolaan asset berkaitan dengan utilitas nilai suatu barang, penyusutan inventori, insourcing vs outsourcing dll.


Sumber :

https://mgt-logistik.com/pengertian-scor-model/

Monday, December 7, 2020

Sales and Operation Planning

Sales and Operation Planning dan Daya Saing Perusahaan

Pernahkah perusahaan Anda mengalami masalah operasional seperti ini? Demand forecast yang dilakukan tidak akurat, terjadi stock out atas produk yang sedang banyak diminta oleh pelangan, namun sebaliknya banyak slow moving stock atas produk yang tidak diminati pelangan. Perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan pelangan dengan cepat dan on time. Sehingga perusahaan pun kehilangan business opportunity dan target perusahaan pun tidak akan bisa di capai.

Dengan banyaknya death stock yang menumpuk di gudang, akhirnya menimbulkan keributan antar departemen. Tim manufaktur dan gudang komplain ke tim perencanaan produksi, dan berlanjut tim perencanaan produksi pun komplain ke tim sales untuk segera melalukan penjualan lebih banyak lagi. Hal ini terjadi karena demand forecast yang diberikan oleh tim sales tidak akurat, realisasi penjualan jauh dari nilai forecast. Sehingga barang menumpuk di gudang dan pabrik. Tim pabrik pun menjadi tidak percaya lagi dengan demand forecast yang dilakukan tim sales.

Jika perusahaan Anda masih mengalami maka jangan kawatir, Anda tidak sendirian. Banyak perusahaan yang mengalami hal serupa. Namun, jika hal ini dibiarkan maka kinerja tim dan perusahaan akan terganggu.

Menurut Supply Chain Planning Benchmark Study 2013 oleh Supply Chain Digest, di sebutkan bahwa hanya 8.91% perusahaan yang sudah menerapkan highly integrated planning environment top-down & bottom-up oriented, 10.12% perusahaan sudah menerapkan highly integrated planning environment top-down oriented. Sebanyak 55.47% yang tergolong moderat, 22.27% yang tergolong disconnected planning, sisanya 3.24% tidak jelas.


Survey Top Ten Supply Chain Challenges

Dalam salah satu survey kepada praktisi bidang supply chain di berbagai industri dengan pertanyaan “hal apa saja yang menjadi kendala dalam operasional perusahaan dan hal apa yang diharapkan bisa dilakukan perbaikan?” Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 70% responden mengatakan bahwa tidak adanya proses perencanaan yang terintegrasi antar divisi dan ketidakakuratan demand forecast menjadi kendala terbesar perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan berjalan tidak optimal, terjadi ketidak-efisienan proses produksi, biaya produksi yang lebih besar, kehilangan potensi penjualans dan business opportunity. Plus, tim menjadi stress dan bad mood karena munculnya berbagai komplain dan masalah operasional yang muncul akibat tidak akuratnya demand planning tersebut.

Maka tepat sekali istilah ‘If you fail to plan, you plan to fail’, jika kita gagal dalam membuat perencanaan maka kita merencanakan untuk gagal. Oleh karena marilah kita perbaiki proses perencanaan di perusahaan kita agar meningkat akurasinya dibandingkan realisasi penjualan.

Seperti bullwhip effect, ketidak-akuratan demand planning akan menyebabkan proses yang lebih besar di rantai produksi selanjutnya. Jika proses demand planning sudah bagus, maka operational excellence dalam proses procurement, supply planning dan proses produksi akan mudah diimplementasikan. Akhirnya daya saing perusahaan akan meningkat.

Untuk memperbaiki proses perencanaan dan meningkatkan akurasi dari perencanaan operasional perusahaan, di dalam konsep supply chain dikenal proses Sales & Operation Planning (S&OP). Berdasarkan Supply Chain Planning Benchmark Study 2013 oleh Supply Chain Digest, S&OP di yakini sebagai salah satu proses terpenting yang bisa mendorong perbaikan operasional perusahaan dan meningkatkan daya saing perusahaan. Menerapkan S&OP yang baik itu tidak lah terlalu sulit, sepanjang ada dukungan dari top manajemen.

Singkatnya, S&OP ini menyelaraskan antara permintaan pasar/pelanggan (demand planning) dan kemampuan dan ketersediaan sumber daya internal perusahaan (supply planning).

Berikut contoh perusahaan yang sudah menerapkan integrated planning melalui proses S&OP dengan baik, yaitu dua perusahaan yang masuk kelompok saham blue chips, Unilever Indonesia dan Astra International. Saham kedua perusahaan itupun menjadi idola para investor.


PT Unilever Indonesia Tbk. (UI)

Menarik untuk mengetahui sekaligus mempelajari mengapa UI bisa menjelma menjadi perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan yang konsisten positif dalam waktu yang cukup lama (profitable growth company).

Hasil diskusi saya dengan Bapak Robertus Hendra, ex GM Demand Planning & Supply Planning UI beberapa bulan lalu di kantor, dikatakan bahwa salah satu keunggulan UI adalah di proses perencanaan yang sudah baik dan terintegrasi, proses S&OP sudah dijalankan secara mature, top-down and bottom-up oriented. Kabarnya proses ini sudah dijalankan oleh seluruh divisi dalam organisasi sudah sangat lama, sudah lebih dari 20 tahun yang lalu.

Awalnya proses S&OP ini bersifat top-down approach, namun sekararng sudah menjadi komitmen bersama seluruh manajemen baik di level lokal, regional maupun level group. Dengan banyaknya kategori yang dikelola, UI telah berhasil menjalankan proses integrated planning ini dengan sangat baik, sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan yang strategik buat perusahaan. Bahkan UI masuk menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berhasil masuk menjadi 10 besar perusahaan dengan operasional terbaik dunia. Maka tak heran jika saat ini UI menjadi perusahaan FMCG terbesar di Indonesia sampai saat ini.

Kesimpulan saya setelah diskusi panjang dengan Pak Robertus saat itu adalah salah satu key success factors UI selama ini adakah tingginya komitmen manajemen dan organisasi atas integrated planning melalui proses S&OP yang sudah mature dan bagian budaya organisasi.  Bahkan proses S&OP ini menjadi KPI dari CEO UI, jika gagal menjalankan S&OP dengan baik maka CEO siap-siap menerima konsekuensi.


PT Astra International Tbk (AI)

Sebagai perusahaan automotif terbesar di Indonesia yang masuk perusahaan blue chips, AI ternyata mempunyai kesamaan dengan UI, dimana AI sangat ungul dalam hal perencanaan baik untuk demand planning dan supply planning. Contoh sederhana demand planning yang baik dilakukan AI adalah melalui sistem penjualan mobil inden (pesan di awal). Jika ada produk atau varian baru yang akan di launch ke pasar, maka AI menawarkan pembelian melalui inden dengan membayar uang muka terlebih dahulu. Bahkan sering kita jumpai waktu inden bisa mencapai tiga-enam bulan.

Mengapa perlu AI menerapkan strategi inden? Ini sebenarnya untuk mendapatkan kepastian forecast demand atas mobil jenis tertentu. Sehingga sejak awal perusahaan bisa mendapatkan estimasi forecast yang sangat jelas dan akurat atas permintaan unit mobil dan sekaligus mengetahui distribusi lokasi pemesanan. Hal ini penting untuk efisiensi penyediaan bahan baku dan optimalisasi utilisasi kapasitas pabrik. Ujungnya, perusahaan akan mendapatkan biaya produksi yang paling optimal dengan demand planning yang baik ini. Maka tak heran AI pun juga menjadi salah satu perusahaan yang dengan keunggulan operasional excellence nya. Yang semua nya di mulai dengan perencanaan terintegrasi antara demand planning dan supply planning. Sedangkan untuk supply planning, AI sudah sangat terkenal dengan operational excellence yang di jalankan di perusahaan ini.


Garuda Indonesia Travel Fair (GITF)

Dalam event GITF September 2017, Garuda Indonesia (GI) menawarkan promo tiket Jakarta-Hongkong hanya 2.3 juta pp, Jakarta-London yang hanya 8 jutaan pp, Jakarta-Seoul hanya 2.9 juta pp dan masih banyak promo ke destinasi lainnya. Tapi ingat promo tersebut jumlahnya terbatas hanya bisa digunakan di tanggal dan bulan tertentu saja dan harus di bayar di depan. Mengapa tiket promo ini bisa dijual sangat murah? Kira-kira strategi apa yang di terapkan oleh GI? Ternyata promo seperti ini dilakukan juga dalam rangka mendapatkan estimasi forecast demand yang lebih baik. Jumlah dan waktu promo akan mengacu data tren realisasi occupation rate tahun-tahun sebelumnya. Setiap tanggal, bulan dan tujuan destinasi mempunyai tren occupation rate yang berbeda. Nah, GITF inilah berguna untuk meningkatkan occupation rate setiap destinasi penerbangan. Kursi yang biasanya kosong pun akhirnya terisi oleh penumpang. Yang ujungnya adalah meningkatkan utilisasi pesawat dan profit perusahaan.

Saking pentingnya travel fair untuk mendongkrak occupation rate, maka dari Garuda Online Travel Fair (GOTF) 2017 pada 3-9 Agustus 2017 ditarget dua juta orang akan berkunjung ke situs http://www.garuda-indonesia.com. Inilah salah satu upaya agar Garuda mendapatkan perencanaan yang baik dari sisi forecast permintaan pelangan (demand planning).

Selain ketiga contoh di atas, tentunya banyak lagi perusahaan hebat lainnya yang sukses menggunakan integrated planning S&OP ini untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Ternyata membuat planning tidak sekedar untuk menjalankan perusahaan semata, tapi penting untuk memenangkan di kompetisi yang sengit ini. Jika perusahaan Anda ingin memenangkan kompetisi dan menjadi sebuah sustainable profitable company, maka saatnya mulailah menjalankan integrated planning S&OP ini. S&OP merupakan proses terintegrasi dari demand planning-supply planning-monitoring-execution & strategic decision untuk mencapai target penjualan yang sudah disepakati. Pimpinan tertinggi perusahaan pun terlibat dalam proses S&OP ini.


Sales & Operation Planning (S&OP)

Dari tadi kita bicara mengenai pentingya integrated planning melalui S&OP process. Trus, apa yang sebenarnya di sebut proses S&OP itu?

S&OP adalah sebuah proses yang membantu pimpinan perusahaan untuk merumuskan hal-hal strategik yang berkaitan dengan bisnis untuk meraih keunggulan kompetitif secara terus menerus. S&OP merupakan proses yang sangat penting perannya untuk menghubungkan antara strategi perusahaan dan business plan. Seperti terlihat di dalam ilustrasi berikut (Ilustrasi 1).

Proses S&OP ini meliputi aktivitas yang dilakukan secara regular dan rutin minimal setiap bulan dengan mendatangkan semua tim terkait seperti tim Sales, Marketing, Supply Chain, Finance dan Manufacturing. Dalam S&OP meeting ada proses diskusi, review dan rekonsiliasi terkait dengan demand planning, supply planning, new product dan new marketing plans. Seperti dalam flow process di bawah ini (Ilustrasi 2).

Untuk menjamin proses ini bisa berjalan sukses dan efektif, maka di perlukan komitmen dari seluruh executive committees terutama top manajemen karena proses ini bersifat top-down.


Beberapa faktor penting untuk implementasi S&OP ini adalah:

Proses yang komprehensif dan proven

Adanya sharing data dan informasi secara terbuka dengan tim terkait, sehingga semua mempunyai informasi yang sama

Komunikasi antar menjadi lancar sehingga segala kendala yang muncul terkait dengan sales, production planning dan marketing bisa dicarikan solusi dengan segera

 Dengan mempertimbangkan begitu besarnya manfaat proses S&OP dalam mencapai target dan meningkatkan daya saing perusahaan. Tahun lalu, saya memperkenalkan ide S&OP ini kepada seluruh executive committees dan telah disetujui untuk diimplementasi mulai tahun ini. Tidak mudah di saat awal implementasi proses S&OP ini, namun kami pun sudah merasakan dampak positif dari penerapan S&OP ini. Kolaborasi antar tim semakin baik dan solid, akurasi forecast pun meningkat dan terjadi peningkatan layanan ke pelanggan yang signifikan. Dengan peningkatan operational excellence ini diharapkan daya saing perusahaan pun terus meningkat di tengah persaingan yang sangat ketat ini.


Pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana menjadikan proses S&OP ini bisa menjadi budaya organisasi dengan proses yang semakin mature, top-down & bottom-up oriented. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Selamat mencoba.


Referensi: modul Certified Supply Chain & Logistic Profesional (CSLP), Asosiasi Logistic Indonesia (ALI) untuk Ilustrasi 1 & 2.


Salam Pembelajar!



Sumber :

https://martoyoconsulting.wordpress.com/2017/09/26/sales-and-operation-planning-dan-daya-saing-perusahaan/

Saturday, December 5, 2020

Integrated Business Planning (IBP)

What is Integrated Business Planning (IBP)?

Apa itu Perencanaan Bisnis Terpadu (IBP)?

Perencanaan Bisnis Terpadu (IBP) adalah bentuk yang diperluas dari Perencanaan Penjualan dan Operasi (S&OP) yang mencakup rantai nilai ujung ke ujung dari suatu bisnis, dan mengikat tujuan strategis terkait profitabilitas dengan keputusan perencanaan operasional jangka pendek dan menengah melalui analisis skenario lintas fungsi - menginformasikan keputusan seputar kolaborasi pemasok yang lebih menguntungkan, pembentukan permintaan, pemasaran, pertumbuhan / pengembangan produk, dan banyak lagi.

Yang terbaik, IBP sepenuhnya selaras dengan metrik pertumbuhan dan inovasi, yang telah mengubah S&OP menjadi mitra bisnis strategis. Visualisasikan menyelaraskan keputusan operasional perusahaan Anda dengan kinerja keuangan berwawasan ke depan di berbagai kerangka waktu, mewakili pertukaran yang kompleks, kendala, dan realitas bisnis waktu nyata di seluruh rantai nilai; seperti inilah IBP yang sukses!

Selama lebih dari satu dekade, pelanggan kami telah berjuang dengan istilah IBP dan kaitannya dengan penjualan dan perencanaan operasi (S&OP), penjualan dan pelaksanaan operasi (SOE) perencanaan operasi inventaris penjualan (SIOP), penjualan dan manajemen operasi (S&OM), dan proses lainnya.

Meskipun mengetahui pentingnya, bisnis lambat dalam mengadopsi perencanaan bisnis terintegrasi. Banyak yang belum membuat proses S&OP yang lancar.

Mengapa Perusahaan Kesulitan Mengadopsi IBP

Jadi ... mengapa perusahaan masih berjuang untuk mengadopsi IBP? Beberapa alasannya meliputi:

  • Sasaran yang saling bertentangan antara unit bisnis dan hambatan karena evolusi proses dan teknologi
  • Desain teknologi yang ada
  • Metode tradisional dalam berbisnis

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa 79% perusahaan terus menggunakan perencanaan spreadsheet, namun hanya 39% yang mengatakan bahwa spreadsheet mendukung proses perencanaan kolaboratif.

Inilah masalahnya: Alat yang tidak fleksibel seperti spreadsheet tidak memungkinkan representasi lintas fungsi dari bisnis. Selain itu, spreadsheet tidak memberikan wawasan berwawasan ke depan - persyaratan untuk IBP. Sebaliknya, spreadsheet menghasilkan rencana yang tidak layak, menghambat perencanaan kolaboratif, dan menyedot banyak waktu yang dapat dihabiskan dengan lebih baik di tempat lain.

Dalam satu studi kasus, raksasa makanan ringan tidak memenuhi permintaan untuk produknya yang paling menguntungkan karena kapasitas yang terbatas. Ketika mencoba memanfaatkan 20+ spreadsheetnya, mereka terus gagal mencapai target dan menjadi sangat sadar bahwa mereka kehilangan peluang keuntungan besar.

Spreadsheet dapat berfungsi untuk skenario yang terisolasi tetapi tidak mengintegrasikan fungsi untuk menyelesaikan satu tujuan bersama (memenuhi permintaan) sambil menyelaraskan dengan tujuan strategis (misalnya, mengenali peluang keuntungan tambahan). Inilah inti dari perencanaan bisnis yang terintegrasi)


Sumber :

https://www.riverlogic.com/blog/what-is-integrated-business-planning

https://www.slideteam.net/integrated-business-planning-showing-harmonize-processes-alignment-and-integration.html

Related Posts