Pages

Tuesday, September 28, 2021

Inventory Management yang Efektif

10 Tips Penting Cara Inventory Management yang Efektif

Inventory management adalah bagian penting yang membuat bisnis anda mendapatkan profit. Tapi, sayangnya banyak bisnis kecil ngga mempraktikkan manajemen yang baik dan efektif terkait dengan barang atau produk yang mereka jual.

Beberapa bisnis punya inventory yang terlalu sedikit. Mereka ngga bisa memenuhi harapan customer dengan memastikan produk mereka selalu tersedia.

Hal ini seringkali membuat customer pergi. Kadang mereka beralih ke bisnis lain, yaitu kompetitor Anda. Dan itu bisa berarti untuk seterusnya. Ya, Anda kehilangan customer Anda.

Di sisi lain, banyak juga bisnis yang melakukan hal sebaliknya. Mereka menimbun barang berlebihan dengan alasan “untuk berjaga-jaga”.

Betul, Anda akan selalu punya barang yang dicari customer Anda. Tapi, cara ini juga punya risiko. Anda akan mengeluarkan uang berlebihan dari bisnis Anda yang terikat dalam bentuk inventory. Tentu saja itu akan berpengaruh pada cash flow bisnis Anda.

Kelebihan inventory ngga cuma mengikat cash flow Anda yang berharga, tapi juga lebih mahal untuk disimpan dan dilacak.

Nah, inventory management yang efektif itu, terletak di antara dua sisi ekstrem ini.

Meskipun butuh lebih banyak pekerjaan dan perencanaan supaya bisa mencapai proses manajemen yang efisien, tapi keuntungan Anda akan tercermin dalam usaha Anda.


Jenis inventory

Sebelum Anda bisa menjalankan inventory management yang efektif, Anda harus paham dulu dengan tepat, apa yang termasuk dalam inventory.

Ini adalah beberapa dari banyak jenis inventory:

  • Bahan mentah, atau bahan yang Anda gunakan untuk memproduksi produk Anda.
  • Produk yang belum selesai (unfinished products), ini adalah produk work-in-process yang belum siap untuk dijual.
  • Produk jadi (finished products), yang biasanya Anda simpan di gudang sampai dijual atau dikirim.
  • Barang dalam perjalanan (in-transit goods), yang ngga lagi berada di gudang dan sedang dalam proses pengangkutan ke tujuan akhir.
  • Cycle inventory, atau produk yang dikirim ke bisnis Anda dari supplier atau produsen, kemudian segera dijual ke customer.
  • Anticipation inventory, atau kelebihan produk yang Anda simpan untuk mengantisipasi lonjakan penjualan.
  • Decoupling inventory, yaitu suku cadang, inventory, atau produk yang Anda sisihkan untuk mengantisipasi perlambatan atau penghentian produksi.
  • Barang MRO, yang merupakan singkatan dari Maintenance (pemeliharaan), Repair (perbaikan), dan Operating supplies,dan mendukung proses produksi.
  • Inventory penyangga (buffer inventory), atau inventory pengaman (safety stock), yang berfungsi sebagai bantalan kalau terjadi masalah yang ngga Anda duga atau membutuhkan lebih banyak inventory.

Daftar di atas bisa membantu untuk mengurutkan inventory Anda. Jadi, Anda tahu item mana saja yang termasuk dalam kategori yang sama. Dan kemudian, Anda bisa mengelolanya.

Misal, Anda akan menangani produk jadi Anda dengan cara yang berbeda dari bahan mentah Anda.


Apa program terbaik untuk inventory management?

Banyak program inventory management software yang tersedia untuk bisnis kecil. Tapi, yang terbaik untuk bisnis Anda tentunya bergantung pada banyak faktor.

Misal, Anda tentu ingin mempertimbangkan budget yang Anda punya, jenis bisnis Anda, dan fitur-fitur tertentu yang Anda cari, seperti aplikasi seluler atau cloud backup.

Terlepas dari software yang akan Anda gunakan, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara mengelola inventory dengan efektif?

Sebelum kita masuk ke bahasan penting ini, saya mau ajak Anda juga untuk bergabung dengan channel telegram scmguide karena ada banyak lagi tips dan artikel seputar inventory management yang saya bagikan di sana. Jadi, pastikan Anda juga bergabung ya.


Tips untuk mengelola inventory

Sekarang, ayo kita lihat 10 tips penting yang bisa Anda gunakan untuk mengelola inventory Anda secara efektif, yang pastinya bisa meningkatkan profitabilitas dan cash flow management Anda.


Buat prioritas pada inventory Anda

Mengelompokkan inventory Anda ke dalam beberapa kategori bisa membantu Anda memahami item mana yang perlu Anda pesan lebih banyak dan lebih sering. Juga, item mana yang penting bagi bisnis Anda, tapi mungkin lebih mahal dan bergerak lebih lambat.

Para ahli biasanya akan menyarankan untuk mengelompokkan inventory Anda ke dalam grup A, B, dan C.

Item dalam grup A adalah item dengan nilai inventory lebih tinggi, yang Anda butuhkan lebih sedikit.

Barang-barang dalam kategori C adalah barang-barang berbiaya rendah dan cepat habis.

Kelompok B berada di antara kategori A dan C. Itu adalah barang-barang yang punya harga sedang dan bergerak lebih lambat daripada barang-barang C, tapi lebih cepat daripada barang-barang A.


Lacak semua informasi produk

Pastikan Anda menyimpan catatan informasi produk untuk item dalam inventory Anda.

Informasi ini harus mencakup SKU, data barcode, supplier, negara asal, dan nomor lot.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk melacak biaya setiap item dari waktu ke waktu. Jadi, Anda tahu faktor-faktor apa yang bisa mengubah biaya, seperti kelangkaan dan musim, misalnya.


Audit inventory Anda

Beberapa bisnis melakukan penghitungan komprehensif inventory setahun sekali.

Yang lain melakukan penghitungan inventory bulanan, mingguan, atau bahkan harian, untuk barang-barang yang bernilai bagi mereka.

Banyak yang melakukan semua hal tersebut.

Terlepas dari seberapa sering Anda melakukannya, pastikan Anda menghitung inventory Anda secara fisik dengan teratur, untuk memastikannya sesuai dengan apa yang Anda pikir Anda miliki.


Menganalisis kinerja supplier

Supplier yang ngga bisa diandalkan bisa menyebabkan masalah pada inventory Anda.

Kalau Anda punya supplier yang biasanya terlambat dalam pengiriman, atau sering kekurangan dari sisi jumlah barang yang dikirim, inilah saatnya untuk Anda mengambil tindakan.

Diskusikan hal itu dengan supplier Anda dan cari tahu apa masalahnya.

Bersiaplah untuk mengganti supplier, atau Anda akan berurusan dengan tingkat stok yang ngga pasti dan kemungkinan kehabisan inventory sebagai akibatnya.


Terapkan aturan inventory 80/20

Sebagai aturan umum, 80% keuntungan Anda berasal dari 20% stok Anda.

Nah, Anda harus memprioritaskan pengelolaan inventory untuk 20% item ini.

Anda harus paham life cycle penjualan lengkap dari barang-barang ini, termasuk berapa banyak yang sudah Anda jual dalam seminggu atau sebulan, dan memantaunya dengan cermat.

Ini adalah barang-barang yang menghasilkan uang paling banyak untuk Anda. Jadi, jangan sampai Anda gagal dalam mengelolanya.


Konsisten dalam cara Anda menerima stok

Anda tentu tahu kalau inventory yang masuk itu harus diproses. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah Anda punya proses standar yang diikuti semua orang? Atau, apakah setiap karyawan Anda yang menerima dan memproses stok masuk melakukannya secara berbeda-beda?

Perbedaan kecil dalam bagaimana stok baru diterima bisa membuat Anda menggaruk-garuk kepala di akhir bulan atau tahun, bingung kenapa jumlah barang Anda ngga sesuai dengan pesanan pembelian (purchase order).

Jadi, pastikan semua staf yang menerima stok melakukannya dengan cara yang sama, semua boks diverifikasi, diterima, dibongkar bersama-sama, dihitung secara akurat, dan diperiksa keakuratannya.


Lacak penjualan

Anda harus tahu setiap hari, barang apa yang Anda jual dan berapa banyak, dan tentu saja memperbarui total inventory Anda.

Tapi di luar itu, Anda harus menganalisis data ini.

Apakah Anda tahu kapan barang-barang tertentu terjual lebih cepat atau malah drop? Apakah itu musiman? Apakah ada hari tertentu dalam seminggu ketika Anda menjual barang-barang tertentu lebih tinggi daripada hari-hari lainnya? Apakah beberapa barang hampir selalu dijual bersamaan?

Paham ngga cuma total penjualan Anda, tapi gambaran yang lebih luas tentang bagaimana barang terjual, penting untuk menjaga inventory Anda tetap terkendali.


Pesan restock sendiri

Beberapa vendor menawarkan untuk melakukan pemesanan ulang inventory untuk Anda.

Sekilas, kelihatannya baik ya? Anda jadi bisa menghemat tenaga staf dan waktu Anda dengan membiarkan orang lain mengelola proses untuk setidaknya beberapa item Anda.

Tapi ingat, prioritas vendor Anda, ngga sama dengan Anda.

Mereka berusaha untuk menjual barang-barang mereka, sedangkan Anda berusaha untuk menyimpan hanya barang-barang yang paling menguntungkan bisnis Anda.

Jadi, luangkan waktu untuk memeriksa inventory dan melakukan pemesanan ulang semua barang Anda sendiri.


Berinvestasi dalam teknologi inventory management

Kalau bisnis Anda cukup kecil, mengelola delapan hal pertama dari daftar ini secara manual, dengan spreadsheet dan buku catatan misalnya, bisa saja dilakukan.

Tapi, seiring tumbuhnya bisnis Anda, Anda malah akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengelola inventory daripada bisnis Anda. Atau, akan ada risiko stok Anda lepas kendali.

Inventory management software yang tepat, membuat semua tugas ini lebih mudah.

Sebelum Anda memilih salah satu solusi software, pastikan Anda paham apa yang Anda butuhkan, kalau solusi tersebut menyediakan Anda analitik yang penting bagi bisnis dan mudah digunakan.


Menggunakan teknologi yang terintegrasi dengan baik

Inventory management software bukan satu-satunya teknologi yang bisa membantu Anda mengelola stok.

Hal-hal seperti mobile scanner dan sistem POS juga bisa membantu Anda tetap di jalur yang tepat.

Saat Anda berinvestasi dalam teknologi, pastikan Anda memprioritaskan sistem yang bisa bekerja sama.

Punya sistem POS yang ngga bisa “berkomunikasi” langsung dengan inventory management software Anda memang bukan akhir dari segalanya. Tapi, Anda mungkin akan memerlukan waktu ekstra untuk mentransfer data dari satu sistem ke sistem lain. Dan itu mudah berakhir dengan penghitungan inventory yang ngga akurat.


Sumber :

https://scmguide.com/10-tips-penting-cara-inventory-management-yang-efektif/

Thursday, September 23, 2021

Logistik Targetkan 70 Persen

Pengusaha angkutan logistik targetkan faktor muat 70 persen

Jumat, 24 September 2021 5:03 WIB

Dokumentasi - Proyek Simpang Susun Teluk Lamong Surabaya dibangun untuk mempermudah akses angkutan logistik ke berbagai daerah yang berasal dari kapal-kapal yang berlabuh di Terminal Teluk Lamong Surabaya. (ANTARA Jatim/ Didik Suhartono)

Surabaya (ANTARA) - Salah satu usaha yang terdampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di masa pandemi virus corona (COVID-19) adalah angkutan logistik.

Faktor muat menurun hingga 40 persen di masa PPKM karena mayoritas supplier menghentikan pengiriman setelah barang-barangnya kurang laku akibat pembatasan jam operasional mal dan toko-toko, selain banyak penyekatan di jalan raya.

Setelah Jawa Timur dinyatakan berstatus zona kuning COVID-19, faktor muat angkutan logistik diyakini bakal kembali tumbuh hingga mencapai 70 persen.


Sumber :

https://jatim.antaranews.com/berita/528225/pengusaha-angkutan-logistik-targetkan-faktor-muat-70-persen

Tuesday, September 14, 2021

Rantai Pasok Caterpillar Terganggu

Kekurangan Tenaga Kerja Ganggu Rantai Pasok Caterpillar 

Perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

15 September 2021  |  11:25 WIB 

Produsen alat berat Caterpillar Inc. menghadapi kesulitan mendapatkan material akibat adanya kekurangan tenaga kerja dari pemasoknya. Hal ini memperparah bisnis industri alat berat yang tengah menghadapi kurangnya pasokan chip global. 

Chief Executive Officer Caterpillar Jim Umpleby mengatakan perusahaan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja untuk pabriknya, tetapi tidak ada yang signifikan bagi Caterpillar secara internal. 

Masalah yang lebih besar adalah kekurangan tenaga kerja yang dialami oleh para pemasok industri alat berat yang berimbas pada keterlambatan pengiriman material. 

"Ini lebih menjadi masalah bagi sejumlah pemasok kami yang bermasalah dengan tenaga kerja daripada yang kami alami, tetapi memang tenaga kerja sedang ketat, tidak ada keraguan soal itu,” kata Umpleby selama wawancara di Las Vegas, seperti dikutip Bloomberg pada Rabu (15/9/2021). 

Setelah banyaknya pekerja yang kehilangan mata pencaharian pada tahun lalu, sejumlah industri menderita akibat kekurangan tenaga kerja setelah perekonomian kembali aktif. Hal ini menambah kendala yang memperlambat rantai pasok dan memicu kekhawatiran inflasi. 

Sebuah laporan pekan lalu menunjukkan rekor tertinggi pada lowongan pekerjaan baru di AS. 

CEO Union Pacific Corp. mengatakan masalah kekurangan tenaga kerja akan meningkatkan kemacetan kargo pada tahun depan. Kekhawatiran tersebut menimbulkan risiko lebih lanjut dari hambatan rantai pasok setelah Caterpillar mengatakan pada April bahwa kelangkaan di industri semikonduktor dapat mengganggu pengiriman material tahun ini. 

Saat ini Caterpillar tengah membuka lowongan pekerjaan secara global dengan menawarkan gaji yang kompetitif. Ketika ditanya apakah akan menaikkan gaji atau memperbesar tunjangan, Umpleby mengiyakan, tetapi tidak menjelaskan secara spesifik. 

Caterpillar yang berbasis di Deerfield, Illinois akan terus mengimbangi kenaikan biaya bahan baku dengan menaikkan harga peralatannya, kata Umpleby. Menanggapi pertanyaan tentang apakah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dari pemasok domestik, Umpleby mengatakan akan terus mengeksplorasi opsi. Namun, dia menolak berkomitmen untuk mengambil dari produsen yang berbasis di AS.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210915/620/1442533/kekurangan-tenaga-kerja-ganggu-rantai-pasok-caterpillar?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

Sebelum Bersaing di Pasar Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Nasional

14 Sep 2021, 17:31 WIB

Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya mendorong pelaku UMKM untuk menjalin Kemitraan dengan pelaku usaha besar. Tujuannya agar UMKM bisa berkontribusi dalam rantai pasok nasional hingga global.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut salah satu upaya yang dilakukan KemenkopUKM, yaitu meminta e-commerce untuk menutup akses impor 13 jenis produk yang sebenarnya bisa diproduksi oleh UMKM.

“Kementerian Koperasi dan UKM terus melakukan upaya perlindungan produk lokal UMKM dalam perdagangan online atau perdagangan melalui sistem elektronik. Belum lama ini kami meminta salah satu e-commerce cross border untuk menutup 13 jenis produk yang dapat diproduksi UMKM,” kata Teten dalam Webinar Nasional Umkm Naik Kelas Melalui Pengawasan Kemitraan, Selasa (14/9/2021).

Selain itu, upaya lainnya KemenkopUKM bersama dengan Kementerian Perdagangan menyiapkan revisi Peraturan Menteri perdagangan Nomor 64 tahun 2020 tentang perubahan atas peraturan menteri perdagangan tentang pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik.

Tak berhenti disitu, KemenkopUKM juga menggandeng Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian untuk melakukan piloting melalui kemitraan dengan 291 UMKM dengan 6 BUMN, yaitu Pertamina, PLN, Kimia Farma, Perhutani, RNI dan Krakatau Steel.

“Kemitraan usaha besar dengan UMKM ini termasuk BUMN ini menjadi strategi kita untuk mendorong UMKM kita bertransformasi dari usaha-usaha kecil-kecil, usaha mandiri menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional atau global dan menjadi rantai pasok BUMN,” ujarnya.

Dengan begitu, Teten berharap para pelaku UMKM bisa bertransformasi ke produk-produk yang berbasis inovasi teknologi, sehingga usahanya tidak melulu di sektor-sektor yang tidak punya daya saing.

“Oleh karena itu Kemitraan menjadi penting. Idealnya kalau usaha tumbuh berkembang maka UMKM juga tertarik terangkat skala usahanya,”’ ujarnya.

Melalui upaya tersebut , Menkop Teten berharap usaha besar tidak bersaing dengan usaha kecil melainkan menjalin kemitraan.

“Karena  itu maka menjadi penting kemitraan dan karena itu salah satu nafas undang-undang cipta kerja adalah mendorong kemitraan yang sehat antara usaha kecil dan besar,” pungkasnya.   


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4658084/sebelum-bersaing-di-pasar-global-umkm-harus-masuk-rantai-pasok-nasional

DHL Supply Chain di Tengah Covid-19

DHL Supply Chain Raup Untung Rp55,81 T di Tengah Covid-19

Selasa, 14/09/2021 

DHL Supply Chain meraup keuntungan sebesar 3,31 miliar euro atau setara Rp55,81 triliun (kurs Rp16.863 per euro) pada kuartal II 2021. Angkanya naik 21,3 persen dari periode yang sama tahun lalu, yakni 2,73 miliar euro atau sekitar Rp46,03 triliun.

CEO DHL Supply Chain Oscar de Bok menjelaskan kinerja perusahaan juga menanjak sepanjang 2020 atau ketika pandemi covid-19 mulai merebak di dunia. Sepanjang tahun lalu, perusahaan membukukan keuntungan sebesar 12,54 miliar euro atau Rp211,46 triliun.

"Pada awalnya banyak pelanggan yang mengurangi aktivitas, tetapi jika membicarakan Deutsche Post DHL Group sepanjang 2020, kami justru melihat ada peningkatan," ungkap Bok dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

Ia menjelaskan DHL Supply Chain adalah perusahaan yang bergerak di bidang logistik untuk rantai pasok. Perusahaan ini bagian dari Deutsche Post DHL Group.

Layanan yang diberikan DHL Supply Chain meliputi pergudangan, transportasi, distribusi, dan manufaktur.

Ia mengatakan aktivitas perusahaan selama pandemi justru meningkat. Hal ini seiring dengan perkembangan e-commerce yang kian pesat.

"Ada percepatan perkembangan terkait e-commerce dan optimalisasi rantai pasok. Oleh karena itu, kami melihat aktivitas kami benar-benar meningkat. Saat ini, kami sangat dekat dengan konsumen," jelas Bok.

Bok memaparkan kenaikan pendapatan ditopang oleh sejumlah sektor. Misalnya saja, industri otomotif dan fesyen yang mulai bangkit.

"Semua sektor sedang bangkit. Industri otomotif telah bangkit meski saat ini menghadapi masalah yang berbeda karena gangguan dalam rantai pasok," terang Bok.

Sementara, industri makanan dan minuman (mamin) selalu berada di puncak tertinggi. Menurutnya, mayoritas sektor mulai bangkit pasca krisis pandemi tahun lalu.

"Di awal krisis, kami mengurangi aktivitas kami di negara-negara yang melakukan lockdown. Namun, ada juga beberapa negara seperti AS yang masih bergerak," jelas Bok.

Berdasarkan catatannya, DHL Supply Chain meraup untung dari bisnisnya di AS sebesar 1,21 miliar euro atau Rp20,48 triliun pada kuartal II 2021. Angkanya naik 16,8 persen dari kuartal II 2020 yang sebesar 1,04 miliar euro atau Rp17,54 triliun.

Lebih lanjut Bok menjelaskan pihaknya akan fokus mengembangkan sistem digital di perusahaan. Pasalnya, ia mengklaim rantai pasokan semakin kompleks saat ini.

"Karena pertumbuhan e-commerce, kompleks mengandalkan rantai pasokan dan itu membutuhkan fleksibilitas," ujar Bok.

Untuk itu, kata Bok, perusahaan terus berinvestasi untuk mengembangkan digitalisasi. Salah satunya dengan membangun smart warehouse di Cikarang.

"Juga dalam robotik, tidak hanya dalam robotik fisik tapi juga robotic process automation (RPA) yang memastikan kami mengoptimalkan proses," jelas Bok.

Dalam warehouse tersebut, kata Bok, karyawan dapat mendapatkan instruksi secara digital, akses ke analisis data, perencanaan, dan akses yang lebih baik ke rantai pasokan pelanggan perusahaan.

"Kami terus melakukan investasi pada tempat-tempat seperti Cikarang dan kami juga menyediakan investasi untuk fasilitas baru, gudang, dan juga transportasi di 27 kota di seluruh Indonesia," tutup Bok.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210914143109-92-694097/dhl-supply-chain-raup-untung-rp5581-t-di-tengah-covid-19

Monday, September 6, 2021

Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s

Forget Finance. Supply-Chain Management Is the Pandemic Era’s Must-Have MBA Degree

The just-in-time inventory systems embraced by many businesses led to empty shelves and costly bottlenecks. That’s put a rare spotlight on supply-chain programs, which are attracting more students.

By Matthew Boyle

September 3, 2021, 3:00 PM GMT+7

Stores with no toilet paper. Colossal cargo ships run aground in the Suez Canal. Factory shutdowns in Vietnam. Ports closed in China. It almost seems that not a day goes by without reports of another supply-chain snafu wrought by the pandemic, which dismantled just-in-time inventory systems that couldn’t cope with massive, simultaneous disruptions of supply and demand.

Companies have struggled to adapt, with some taking unusual steps. Walmart Inc. and Home Depot Inc. are chartering their own private cargo vessels so they don’t get caught short as the holiday season approaches, and logistics experts say disruptions from congested ports won’t end anytime soon. The tumult has forced companies to lavish more attention on their supply-chain professionals, who typically toil in obscurity until disaster strikes. It’s also prompted business schools to refresh their supply-chain curricula to make sure the next generation of logistics managers are prepared for future crises.

“For years, we had sort of taken logistics for granted,” says Skrikant Datar, the dean of Harvard Business School. “The pandemic caused us to rethink it.”

The problem, says Hitendra Chaturvedi, a supply-chain management professor at Arizona State University’s W.P. Carey School of Business, was that supply-chain education and theories had grown as rigid as some of the practices out in the real world. “After years of teaching without any tremors,” he says, “our courses had become less flexible.”

In response to those tremors, business schools are now emphasizing things such as risk mitigation, data analytics, and production reshoring—while also carving out room to explore more intangible topics like ethics, communication, and sustainability. Penn State’s Smeal College of Business is adding a master’s course in supply-chain risk management next year, with lessons taken straight from the pandemic experiences of corporate partners including Hershey Co. and Dell Technologies Inc. The course will count toward a new certificate program in risk management that’s also in the works. The W.P. Carey School of Business also plans to offer a certificate in supply-chain resilience.

“It’s not like we don’t cover risk already, but this would give them a deeper dive,” says Kevin Linderman, chair of Smeal’s Department of Supply Chain and Information Systems, which has grown more popular with students thanks to high-profile incidents such as the grounding of the Ever Given cargo ship in the Suez Canal in March, which snarled global commerce for nearly a week. This academic year more than 400 juniors in Smeal’s undergrad program have declared their intent to major in supply-chain management, up from about 270 the previous year.

Incoming business students who once defaulted to finance or marketing now want to explore supply-chain management, says Alok Baveja, a professor at Rutgers Business School, whose faculty includes former executives of nearby pharmaceutical giants such as Johnson & Johnson. When they graduate, they’ll have plenty of options: A record 50 companies plan to attend a supply-chain career fair at Georgia Tech in September—about double the number that typically come to recruit students of the program—including newcomers Honda, Honeywell, and Procter & Gamble.

Students who pursue supply-chain degrees this fall are certain to get an earful about the limitations of just-in-time inventory systems, which grew in popularity during the 1990s as companies aimed to mimic the success of auto makers like Toyota Motor Corp., the gold standard of lean manufacturing. For some companies, though, getting lean “became a religion,” says Penn State’s Linderman, and their orthodoxy became their undoing when the pandemic hit and there was no surplus stock to be found.

Covid-19 exposed the weaknesses of legacy inventory systems, which typically emphasize cost reduction above all else, says Hyun-Soo Ahn, a professor at University of Michigan’s Ross School of Business. The pendulum is now shifting the other way: At Walmart, whose bottom-line focus is legendary, U.S. inventory rose 20% last quarter as it doesn’t want product shortages come Christmastime. Still, shuttered factories, port congestion, and trucker shortages have brought more chaos to already overtaxed supply chains, raising prices on groceries and jeopardizing the delivery of millions of presents for the holidays.

Classroom discussions at Penn State and other supply-chain specialists will now delve into the downsides of sourcing too much from China or any single country, while they also explore the role that new technologies like machine learning and artificial intelligence can play in manufacturing and inventory decisions. Old research, meanwhile, is getting reinterpreted through the pandemic’s lens, says Gopalakrishnan Mohan, chair of ASU’s supply-chain department.

What’s also needed, though, is a realization in corporate C-suites that logistics isn’t just an expense—it can actually create value when done well, according to MIT’s Jarrod Goentzel. He’s the principal research scientist at the school’s Center for Transportation and Logistics, which works with corporations such as Amazon.com Inc. and Intel Corp. and also a lecturer in the center’s one-year master’s program in supply-chain management. It helps that high-profile chief executive officers like Apple Inc.’s Tim Cook and Mary Barra of General Motors Co. spent time running complex supply chains before they got the top jobs, but logistics educators say greater boardroom acknowledgement of the make-or-break role such skills play is long overdue.

“Any company that says they fully understand their supply chain is lying,” says Goentzel, who believes that supply-chain practitioners should be certified just like accountants. “It’s time for the profession to wake up. The 20th century was about finance. The 21st century should be about supply chains.”


Sumber :

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-09-03/business-school-mba-students-forgo-finance-for-supply-chain-management-degree

Friday, September 3, 2021

Warehouse vs Logistik

Apa sih perbedaan perusahaan Warehouse dan Logistik?

5 Apr 2020

Masih banyak orang yang mengira kalau perusahaan Logistics dan Perusahaan Warehouse adalah perusahaan yang sama. Memang sama-sama memiliki gudang, tapi jika dilihat lebih dalam lagi, penggunaan gudang tersebut bisa dikatakan berbeda walaupun cuma sedikit.

Yuk kita bahas apa itu perusahaan Logistics dan apa itu perusahaan Warehouse.


Perusahaan Warehouse

Biasanya perusahaan ini adalah perusahaan pergudangan yang di mana di gudang ini akan memproduksi suatu bahan/barang dan menghasilkan jumlah dalam periode waktu tertentu yang nanti akan dikirimkan ke pelanggan sesuai pesanan. Warehouse tidak hanya menyimpan barang, tapi juga membuat, mengolah, dan mengirimkan ke para pelanggan.

Contoh perusahaan Warehouse : perusahaan STOQO, HappyFresh, PT.Gumindo, dan ID Commerce


Perusahaan Logistics

Perusahaan ini bisa disebut sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan juga pergudangan. Pergudangan di perusahaan logistik digunakan untuk menyimpan barang untuk sementara. Barang ini bisa berasal dari produsen atau perusahaan lain, yang menggunakan jasa perusahaan logistik untuk mengirimkan barang tersebut ke pelanggan.

Contoh perusahaan Logistik : ID Express, Ninja Xpress, Rara Delivery, JET Express, dan lain-lain


Intinya, kedua perusahaan ini bisa disatukan menjadi satu kategori menjadi Logistics&Warehouse. Soalnya, perusahaan ini sama-sama menggunakan gudang dan sama-sama melakukan pengiriman dari gudang ke konsumen atau ke produsen yang lain. Bedanya hanya penggunaan gudang yang ke dua perusahaan ini miliki.

Sumber : https://www.workmate.asia/id/blog/apasih-perbedaan-perusahaan-warehouse-dan-logisitik


Ketahui Apa Itu Warehouse & Logistik, Serta Kegunaannya

June 2, 2021

Warehouse dan logistik mempunyai fungsi yang berbeda meskipun tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mari kita pahami lebih dalam mengenai perusahaan warehouse dan perusahaan logistik serta perbedaan mendasar dari keduanya.


Pengertian Perusahaan Warehouse

Perusahaan warehouse adalah perusahaan yang bergerak di jasa pergudangan. Akan tetapi, perusahaan warehouse tidak hanya menyimpan barang. Perusahaan ini juga memproduksi produk dengan jumlah tertentu pada periode tertentu untuk kemudian dikirimkan kepada para pelanggan sesuai dengan pesanan yang dibuat.


Pengertian Perusahaan Logistik

Perusahaan logistik lebih fokus di jasa transportasi dan pergudangan. Memang benar bahwa perusahaan logistik dan warehouse adalah perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang pergudangan. Akan tetapi, perusahaan logistik menggunakan pergudangannya hanya untuk menyimpan produk untuk sementara. 

Perusahaan logistik tidak memproduksi barang yang disimpan di dalam warehouse sendiri. Barang yang disimpan dalam pergudangan perusahaan logistik berasal dari perusahaan lain yang menggunakan layanan perusahaan logistik untuk mengirimkan barang tersebut ke alamat pengiriman pelanggan.


Warehouse Logistik

Jika disederhanakan, perusahaan warehouse adalah pergudangan perusahaan yang memproduksi barang untuk dikirim langsung ke pelanggan, sementara perusahaan logistik adalah perusahaan jasa pengiriman yang menggunakan pergudangan untuk menyimpan barang kiriman pelanggan untuk sementara.

Akan tetapi, kedua jenis perusahaan ini sering disatukan ke dalam satu kategori, yaitu warehouse logistik. Mengapa demikian? Lihat saja, kedua perusahaan tersebut sama-sama memakai pergudangan dalam rantai produksinya. Selain itu, keduanya juga sama-sama mengirim produk dari gudang ke pelanggan baik konsumen maupun produsen lain. Tidak heran jika kedua perusahaan tersebut sering dianggap sama walaupun pemanfaatan gudang logistik dan warehouse adalah berbeda sama sekali.


Manfaat Warehouse Logistik

Berikutnya kita bahas manfaat warehouse logistik sehingga kita tak perlu ragu untuk menggunakan jasa perusahaan warehouse logistik. 

Alasan pertama untuk menggunakan jasa perusahaan warehouse logistik adalah kontrol kualitas barang yang disimpan di dalamnya. Perusahaan warehouse logistik menyediakan fasilitas yang sesuai dengan barang yang akan disimpan. Gudang produk makanan misalnya mempunyai fasilitas yang berbeda dengan gudang penyimpanan barang bukan makanan. Kualitas produk yang disimpan dalam gudang tetap terjaga sebelum dikirim karena kondisi produk akan dicatat secara berkala.

Selain itu, warehouse juga menjadi pusat informasi yang berguna bagi perusahaan. Dari warehouse, perusahaan bisa mendapatkan informasi mengenai ketersediaan produk, permintaan dan penawaran, perputaran produk, dan pergerakan produk tersebut ke konsumen. Dari data tersebut, produsen bisa mengambil keputusan berdasarkan produk mana yang akan tren maupun tidak.

Karena lengkapnya data warehouse, pengiriman produk akan menjadi lebih efisien. Tak hanya membuat produk lebih cepat diterima oleh konsumen, menggunakan jasa warehouse juga akan membuat kepuasan pelanggan meningkat.

Walaupun pada dasarnya warehouse adalah tempat untuk menyimpan produk, warehouse juga bisa memberikan ruang untuk merakit barang sebelum dikirim ke konsumen. Warehouse juga bisa menjadi pusat pengembalian barang.

Sumber : https://blog.shipper.id/tips/ketahui-apa-itu-warehouse/

Related Posts