Taufik Fajar, Jurnalis ·
Senin 30 September 2019 21:01 WIB
Sektor logistik merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Indonesia. Sejumlah upaya perbaikan logistik, termasuk melalui pembangunan infrastruktur, membuat kinerja logistik Indonesia meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Menurut Indeks Kinerja Logistik Bank Dunia, Indonesia kini berada di peringkat ke-46 secara global dibandingkan tiga tahun lalu yang bertengger di peringkat ke-63. Pesatnya perkembangan sektor logistik dan seiring dengan cepatnya kemajuan teknologi,
"Saat ini sektor logistik di Indonesia tumbuh sejalan dengan pertumbuhan sektor lainnya seperti e-commerce," kata CEO dan Co-Founder Logisly Roolin Njotosetiadi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (30/9/2019).
Namun sayangnya, secara umum manajemen perusahaan truk yang ada saat ini masih banyak yang bersifat tradisional sehingga seringkali ditemukan truk berjalan tanpa muatan atau hanya berada di pool saja karena tidak adanya order dari pengguna sehingga secara bisnis merugikan pemilik usaha truk.
"Dengan teknologi yang diaplikasikan secara digital, memungkinkan para pengusaha truk UKM untuk mendapatkan order dari shipper dari jaringan pengguna layanan. Selain itu juga membantu memperbaiki cash flow yang lebih terjaga melalui sistem pembayaran yang diterapkan," katanya.
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap tim menteri ekonomi yang baru bisa menekan biaya logistik ke angka 20% terhadap PDB agar Indonesia memiliki daya saing tinggi dibandingkan negara-negara lain.
"Kalau biaya logistik itu bisa turun ke angka 20% atau 18%, bisa dibayangkan bagaimana dana yang bisa kita hemat itu bisa kita gunakan untuk program pembangunan dan lain-lain. Tentu kalau biaya logistiknya murah, kita bisa memiliki nilai daya saing dibandingkan negara-negara lain," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Logistik dan Supply Chain Rico Rustombi di Jakarta belum lama ini.
Rico menjelaskan bahwa upaya untuk menekan biaya logistik itu kembali lagi pada masalah niat baik dari pemerintah, apakah melihat logistik tersebut membantu posisi indonesia dalam ekspor-impor perdagangan.
Jika biaya logistik Indonesia tidak lebih efisien dibandingkan negara-negara lain, maka sulit untuk mengharapkan biaya distribusi barang-barang bisa lebih murah.
Sumber :
https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/320/2111203/tingkatkan-daya-saing-sektor-logistik-harus-berbenah-di-industri-4-0?page=1
Supply Chain Management (SCM) adalah serangkaian kegiatan yang meliputi koordinasi, penjadwalan, dan pengendalian terhadap pengadaan, produksi, persediaan dan pengiriman produk ataupun layanan jasa kepada pelanggan yang mencakup administrasi harian, operasi , logistik dan pengolahan informasi mulai dari customer hingga supplier.
Monday, September 30, 2019
Sunday, September 29, 2019
Peluang Besar Bisnis Logistik
Aris Kurniawan
Minggu, 29 September 2019 - 21:39 WIB
E-commerce terus berkembang seiring dengan tumbuhnya marketplace atau pasar daring, toko daring, dan berbagai bisnis lainnya yang berbasis digital merupakan anak sah dari kemajuan teknologi digital.
Hampir setiap hari Nur Mursidi mengirim sekurangnya 200 paket pesanan ke nyaris seluruh kota di Indonesia. Nur yang memilik merek hijab Finoura dan Arafa ini berjualan secara daring (dalam jaringan) sejak lima tahun terakhir. Dari tahun ke tahun transaksi penjualannya meningkat. 50% dari kirimannya menggunakan JNE.
“Saya bikin merek sendiri sejak tiga tahun belakangan,” katanya kepada Sindonews ditemui di tokonya di Cililitan, Jakarta Timur, Sabtu (21/9/2019).
Pedagang daring seperti Nur Mursidi jumlahnya jutaan. Belum termasuk merchant-merchant terkenal yang berjualan secara daring. Tokopedia, marketplace terbesar di Indonesia, menjual sekurangnya 40 juta jenis produk dari jutaan merchant.
Maraknya pertumbuhan e-commerce tak lepas dari kemajuan teknologi digital yang melahirkan model bisnis yang berbeda. E-commerce terus berkembang seiring dengan tumbuhnya marketplace atau pasar daring, toko daring, dan berbagai bisnis lainnya yang berbasis digital merupakan anak sah dari kemajuan teknologi digital.
Berbelanja aneka barang kebutuhan kini terasa kuno ketika harus melakukannya secara offline. Kekunoan itu bukan semata karena menghabiskan waktu yang berharga apalagi di tengah kondisi lalulintas yang sering macet, tapi juga sudah bukan zamannya lagi mengantre di depan toko untuk membeli barang yang kita butuhkan. Belanja daring dengan demikian bukan lagi gaya hidup atau sekadar gaya-gayaan, melainkan merupakan cara rasional pada era serba era digital.
Nilai perputaran uang dalam e-commerce terus membengkak. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat, penjualan e-commerce global tumbuh 13%, menjadi kurang lebih sebesar USD29 triliun pada 2017. Seperti dikutip
okezone.com, e-commerce business to business (B2B) terus mendominasi dengan menyumbang 88% dari semua penjualan daring, B2C (business to consumer) adalah segmen dengan pertumbuhan terbanyak, naik 22% hingga mencapai USD3,9 triliun pada 2017.
Data tersebut meenggambarkan besarnya peluang bagi industri logistik atau jasa pengantar barang dan dokumen pada era digital. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memprediksi potensi pertumbuhan bisnis logistik bisa mencapai lebih dari 30% hingga 2020.
Menurut Ketua Kompartemen Bidang e-commerce DPP ALFI Yan Henry Joewana, seperti dikutip katadata.co.id, potensi ini akan terus bertumbuh. Estimasi pertumbuhan sektor tersebut secara menyeluruh bisa mencapai Rp40 triliun atau lebih per tahunnya. Bahkan bisa di atas angka tersebut mengingat sejak awal tahun ini banyak pemain baru di bisnis ini seperti Waresix dan Ritase, perusahaan logistik yang mendapat pendanaan dari investor kakap.
McKinsey memperkirakan terdapat 1,6 miliar paket transaksi lewat e-commerce dikirim per tahun pada 2022. Para pemain lama di bidang logistik seperti JNE dan Pos Indonesia menyambut baik persaingan bisnis tersebut. Presiden Direktur JNE Mohamad Feriadi mengatakan, potensi yang besar di industri logistik seiring meningkatnya e-commerce memunculkan startup-startup logistik baru.
Google dan Temasek merilis laporan lonjakan aktivitas ekonomi digital yang sangat besar, dengan perputaran uang sebesar US$ 27 miliar atau sekitar Rp 378 triliun dari aktivitas ekonomi digital di Indonesia sepanjang tahun 2018. Pertumbuhan ini meningkat hingga 49% sejak 2015. Sementara itu, transaksi e-commerce tercatat menyumbang sekitar US$ 12 miliar dari total ekonomi digital tersebut.
JNE sendiri saat ini telah melewati target 1 juta kiriman barang per hari. Feriadi optimis angka tersebut akan terus tumbuh.
Sumber :
https://ekbis.sindonews.com/read/1444079/34/peluang-besar-bisnis-logistik-1569767983
Minggu, 29 September 2019 - 21:39 WIB
E-commerce terus berkembang seiring dengan tumbuhnya marketplace atau pasar daring, toko daring, dan berbagai bisnis lainnya yang berbasis digital merupakan anak sah dari kemajuan teknologi digital.
Hampir setiap hari Nur Mursidi mengirim sekurangnya 200 paket pesanan ke nyaris seluruh kota di Indonesia. Nur yang memilik merek hijab Finoura dan Arafa ini berjualan secara daring (dalam jaringan) sejak lima tahun terakhir. Dari tahun ke tahun transaksi penjualannya meningkat. 50% dari kirimannya menggunakan JNE.
“Saya bikin merek sendiri sejak tiga tahun belakangan,” katanya kepada Sindonews ditemui di tokonya di Cililitan, Jakarta Timur, Sabtu (21/9/2019).
Pedagang daring seperti Nur Mursidi jumlahnya jutaan. Belum termasuk merchant-merchant terkenal yang berjualan secara daring. Tokopedia, marketplace terbesar di Indonesia, menjual sekurangnya 40 juta jenis produk dari jutaan merchant.
Maraknya pertumbuhan e-commerce tak lepas dari kemajuan teknologi digital yang melahirkan model bisnis yang berbeda. E-commerce terus berkembang seiring dengan tumbuhnya marketplace atau pasar daring, toko daring, dan berbagai bisnis lainnya yang berbasis digital merupakan anak sah dari kemajuan teknologi digital.
Berbelanja aneka barang kebutuhan kini terasa kuno ketika harus melakukannya secara offline. Kekunoan itu bukan semata karena menghabiskan waktu yang berharga apalagi di tengah kondisi lalulintas yang sering macet, tapi juga sudah bukan zamannya lagi mengantre di depan toko untuk membeli barang yang kita butuhkan. Belanja daring dengan demikian bukan lagi gaya hidup atau sekadar gaya-gayaan, melainkan merupakan cara rasional pada era serba era digital.
Nilai perputaran uang dalam e-commerce terus membengkak. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat, penjualan e-commerce global tumbuh 13%, menjadi kurang lebih sebesar USD29 triliun pada 2017. Seperti dikutip
okezone.com, e-commerce business to business (B2B) terus mendominasi dengan menyumbang 88% dari semua penjualan daring, B2C (business to consumer) adalah segmen dengan pertumbuhan terbanyak, naik 22% hingga mencapai USD3,9 triliun pada 2017.
Data tersebut meenggambarkan besarnya peluang bagi industri logistik atau jasa pengantar barang dan dokumen pada era digital. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memprediksi potensi pertumbuhan bisnis logistik bisa mencapai lebih dari 30% hingga 2020.
Menurut Ketua Kompartemen Bidang e-commerce DPP ALFI Yan Henry Joewana, seperti dikutip katadata.co.id, potensi ini akan terus bertumbuh. Estimasi pertumbuhan sektor tersebut secara menyeluruh bisa mencapai Rp40 triliun atau lebih per tahunnya. Bahkan bisa di atas angka tersebut mengingat sejak awal tahun ini banyak pemain baru di bisnis ini seperti Waresix dan Ritase, perusahaan logistik yang mendapat pendanaan dari investor kakap.
McKinsey memperkirakan terdapat 1,6 miliar paket transaksi lewat e-commerce dikirim per tahun pada 2022. Para pemain lama di bidang logistik seperti JNE dan Pos Indonesia menyambut baik persaingan bisnis tersebut. Presiden Direktur JNE Mohamad Feriadi mengatakan, potensi yang besar di industri logistik seiring meningkatnya e-commerce memunculkan startup-startup logistik baru.
Google dan Temasek merilis laporan lonjakan aktivitas ekonomi digital yang sangat besar, dengan perputaran uang sebesar US$ 27 miliar atau sekitar Rp 378 triliun dari aktivitas ekonomi digital di Indonesia sepanjang tahun 2018. Pertumbuhan ini meningkat hingga 49% sejak 2015. Sementara itu, transaksi e-commerce tercatat menyumbang sekitar US$ 12 miliar dari total ekonomi digital tersebut.
JNE sendiri saat ini telah melewati target 1 juta kiriman barang per hari. Feriadi optimis angka tersebut akan terus tumbuh.
Sumber :
https://ekbis.sindonews.com/read/1444079/34/peluang-besar-bisnis-logistik-1569767983
Thursday, September 26, 2019
Genjot Daya Saing, Sektor Logistik Implementasikan Industri 4.0
Bisnis logistik Indonesia masih sering menghadapi banyak kendala. Apa yang harus dilakukan?
26 Sep 2019, 11:08 WIB
Jakarta - Sektor logistik merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Indonesia. Sejumlah upaya perbaikan logistik, termasuk melalui pembangunan infrastruktur, membuat kinerja logistik Indonesia meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Perbaikan ini pun membawa Indonesia kini berada di peringkat ke-46 secara global dibandingkan tiga tahun lalu yang bertengger di peringkat ke-63, menurut Indeks Kinerja Logistik Bank Dunia.
Dengan pesatnya perkembangan sektor logistik dan seiring dengan cepatnya kemajuan teknologi, Logisly hadir di Indonesia untuk menjembatani pengguna jasa truk dengan ribuan truk milik pengusaha kecil dan menengah (UKM). Logisly merupakan perusahaan e-forwarding rintisan yang mempertemukan pengguna (shipper) dan penyedia jasa (transporter) logistik.
CEO dan Co-Founder Logisly Roolin Njotosetiadi menyatakan saat ini sektor logistik di Indonesia tumbuh sejalan dengan pertumbuhan sektor lainnya seperti e-commerce.
Namun sayangnya, secara umum manajemen perusahaan truk yang ada saat ini masih banyak yang bersifat tradisional sehingga seringkali ditemukan truk berjalan tanpa muatan atau hanya berada di pool saja karena tidak adanya order dari pengguna sehingga secara bisnis merugikan pemilik usaha truk.
“Logisly hadir dengan platform teknologi B2B [business to business] untuk meningkatkan utilisasi truk. Dengan teknologi yang diaplikasikan secara digital, Logisly memungkinkan para pengusaha truk UKM untuk mendapatkan order dari shipper dari jaringan pengguna layanan Logisly, selain itu juga membantu memperbaiki cash flow yang lebih terjaga melalui sistem pembayaran yang diterapkan Logisly," jelas Roolin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Sejak awal berdiri pada April 2019 hingga September ini, sebanyak 5.000 transportir penyedia truk telah bergabung di platformnya. Secara total, Logisly menyatakan telah melayani setidaknya 1.000 pesanan dari shipper dalam masa operasinya yang belum lama ini. Mayoritas rute yang dilayani masih berada di Lintas Jabodetabek, diikuti Lintas Jawa-Sumatera dan Lintas Jawa-Bali.
Dengan teknologi yang ditawarkan Logisly, setiap perusahaan mendapatkan kepastian untuk mendapatkan truk. Setiap truk juga terkoneksi dengan GPS sehingga mudah untuk dipantau. Pesanan dan tagihan mengenai pengantaran barang juga dilakukan dalam bentuk digital sehingga lebih efisien.
Dukungan Infrastruktur
Keberadaan kereta api peti kemas dari Gedebage, Bandung ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju ke terminal peti kemas diharapkan transportasi logistik lebih tepat waktu dan hemat biaya, Jakarta, Jumat (13/1). (Liputan6.com/Faizal Fanani)Dalam aktivitasnya sebagai platform logistik, Logisly membutuhkan dukungan infrastruktur back-end yang dapat diandalkan untuk menjalankan keseluruhan operasional perusahaan. Oleh karena itu mereka memilih menggunakan layanan dari Amazon Web Services (AWS).
CTO dan Co-Founder Logisly Robbi Baskoro menjelaskan bahwa mereka memilih menggunakan AWS karena melihat inovasi-inovasinya yang benar-benar akan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Salah satunya adalah kemampuan AWS untuk merespon kebutuhan bisnis Logisly yang dinamis. Sehingga jika Logisly ingin memberikan layanan kepada customer yang bisa langsung go live, AWS bisa menyediakan perangkat yang dapat mendukungnya.
“Dari awal dibangun, Logisly sudah menggunakan infrastruktur dengan dukungan AWS mulai dari cloud computing, database, storage file, bahkan teknologi-teknologi terbaru yakni seperti serverless, kami sudah mulai menggunakannya secara intensif di layanan-layanan yang membutuhkannya seperti aplikasi,” jelas Robbi.
Dia menjelaskan Logisly menggunakan beberapa layanan utama AWS untuk menjawab kebutuhan operasional antara lain adalah Amazon VPC dan turunannya untuk layanan networking, Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2) untuk cloud computing berbasis server dan Amazon Aurora Serverless untuk database tanpa server, Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) untuk menyimpan dokumen statistik, dan AWS Lambda sebagai serverless computing platform.
Ke depannya Logisly akan selalu berusaha untuk berinovasi, dengan menyajikan fitur layanan yang baru maupun memberikan pembaruan terhadap fitur yang sudah ada. Salah satu fitur tambahan yang akan dikembangkan adalah flow atau alur khusus untuk container karena ternyata banyak customer yang order trailer (truk yang membawa container).
Sumber :
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4072609/genjot-daya-saing-sektor-logistik-implementasikan-industri-40
26 Sep 2019, 11:08 WIB
Jakarta - Sektor logistik merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Indonesia. Sejumlah upaya perbaikan logistik, termasuk melalui pembangunan infrastruktur, membuat kinerja logistik Indonesia meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Perbaikan ini pun membawa Indonesia kini berada di peringkat ke-46 secara global dibandingkan tiga tahun lalu yang bertengger di peringkat ke-63, menurut Indeks Kinerja Logistik Bank Dunia.
Dengan pesatnya perkembangan sektor logistik dan seiring dengan cepatnya kemajuan teknologi, Logisly hadir di Indonesia untuk menjembatani pengguna jasa truk dengan ribuan truk milik pengusaha kecil dan menengah (UKM). Logisly merupakan perusahaan e-forwarding rintisan yang mempertemukan pengguna (shipper) dan penyedia jasa (transporter) logistik.
CEO dan Co-Founder Logisly Roolin Njotosetiadi menyatakan saat ini sektor logistik di Indonesia tumbuh sejalan dengan pertumbuhan sektor lainnya seperti e-commerce.
Namun sayangnya, secara umum manajemen perusahaan truk yang ada saat ini masih banyak yang bersifat tradisional sehingga seringkali ditemukan truk berjalan tanpa muatan atau hanya berada di pool saja karena tidak adanya order dari pengguna sehingga secara bisnis merugikan pemilik usaha truk.
“Logisly hadir dengan platform teknologi B2B [business to business] untuk meningkatkan utilisasi truk. Dengan teknologi yang diaplikasikan secara digital, Logisly memungkinkan para pengusaha truk UKM untuk mendapatkan order dari shipper dari jaringan pengguna layanan Logisly, selain itu juga membantu memperbaiki cash flow yang lebih terjaga melalui sistem pembayaran yang diterapkan Logisly," jelas Roolin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Sejak awal berdiri pada April 2019 hingga September ini, sebanyak 5.000 transportir penyedia truk telah bergabung di platformnya. Secara total, Logisly menyatakan telah melayani setidaknya 1.000 pesanan dari shipper dalam masa operasinya yang belum lama ini. Mayoritas rute yang dilayani masih berada di Lintas Jabodetabek, diikuti Lintas Jawa-Sumatera dan Lintas Jawa-Bali.
Dengan teknologi yang ditawarkan Logisly, setiap perusahaan mendapatkan kepastian untuk mendapatkan truk. Setiap truk juga terkoneksi dengan GPS sehingga mudah untuk dipantau. Pesanan dan tagihan mengenai pengantaran barang juga dilakukan dalam bentuk digital sehingga lebih efisien.
Dukungan Infrastruktur
Keberadaan kereta api peti kemas dari Gedebage, Bandung ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju ke terminal peti kemas diharapkan transportasi logistik lebih tepat waktu dan hemat biaya, Jakarta, Jumat (13/1). (Liputan6.com/Faizal Fanani)Dalam aktivitasnya sebagai platform logistik, Logisly membutuhkan dukungan infrastruktur back-end yang dapat diandalkan untuk menjalankan keseluruhan operasional perusahaan. Oleh karena itu mereka memilih menggunakan layanan dari Amazon Web Services (AWS).
CTO dan Co-Founder Logisly Robbi Baskoro menjelaskan bahwa mereka memilih menggunakan AWS karena melihat inovasi-inovasinya yang benar-benar akan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Salah satunya adalah kemampuan AWS untuk merespon kebutuhan bisnis Logisly yang dinamis. Sehingga jika Logisly ingin memberikan layanan kepada customer yang bisa langsung go live, AWS bisa menyediakan perangkat yang dapat mendukungnya.
“Dari awal dibangun, Logisly sudah menggunakan infrastruktur dengan dukungan AWS mulai dari cloud computing, database, storage file, bahkan teknologi-teknologi terbaru yakni seperti serverless, kami sudah mulai menggunakannya secara intensif di layanan-layanan yang membutuhkannya seperti aplikasi,” jelas Robbi.
Dia menjelaskan Logisly menggunakan beberapa layanan utama AWS untuk menjawab kebutuhan operasional antara lain adalah Amazon VPC dan turunannya untuk layanan networking, Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2) untuk cloud computing berbasis server dan Amazon Aurora Serverless untuk database tanpa server, Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) untuk menyimpan dokumen statistik, dan AWS Lambda sebagai serverless computing platform.
Ke depannya Logisly akan selalu berusaha untuk berinovasi, dengan menyajikan fitur layanan yang baru maupun memberikan pembaruan terhadap fitur yang sudah ada. Salah satu fitur tambahan yang akan dikembangkan adalah flow atau alur khusus untuk container karena ternyata banyak customer yang order trailer (truk yang membawa container).
Sumber :
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4072609/genjot-daya-saing-sektor-logistik-implementasikan-industri-40
Monday, September 23, 2019
Big Data Analytics in Supply Chain
Analisis data besar dalam rantai pasokan
Jumlah data yang tersedia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari globalisasi ekonomi dunia dan semakin didorong oleh keberadaan internet, jaringan media sosial, dan perangkat seluler. Jumlah data saat ini berlipat ganda dalam volume setiap dua tahun dan diperkirakan mencapai 40 triliun GB pada tahun 2020.
Jumlah data yang tersedia yang terus tumbuh telah mempercepat munculnya berbagai aplikasi intelijen bisnis yang dirangkum dalam istilah Big Data Analytics (BDA). Akselerator pertumbuhan volume data meliputi, antara lain, internet of things (IoT), teknologi pelacakan sensor, komputasi awan, umpan media sosial, dan perangkat seluler terkomputerisasi.
Semua fungsi dari "sumber untuk menjual" akan terpengaruh, inisiatif BDA di SCM. Berikut ini adalah bidang perhatian kritis untuk implementasi BDA:
Jumlah data yang tersedia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari globalisasi ekonomi dunia dan semakin didorong oleh keberadaan internet, jaringan media sosial, dan perangkat seluler. Jumlah data saat ini berlipat ganda dalam volume setiap dua tahun dan diperkirakan mencapai 40 triliun GB pada tahun 2020.
Jumlah data yang tersedia yang terus tumbuh telah mempercepat munculnya berbagai aplikasi intelijen bisnis yang dirangkum dalam istilah Big Data Analytics (BDA). Akselerator pertumbuhan volume data meliputi, antara lain, internet of things (IoT), teknologi pelacakan sensor, komputasi awan, umpan media sosial, dan perangkat seluler terkomputerisasi.
Semua fungsi dari "sumber untuk menjual" akan terpengaruh, inisiatif BDA di SCM. Berikut ini adalah bidang perhatian kritis untuk implementasi BDA:
- Transisi peran tradisional SCM dalam organisasi akan meningkatkan pentingnya keahlian manusia dan pengambilan keputusan strategis.
- Meningkatnya dinamika dalam lingkungan bisnis SCM berujung pada era baru volatilitas dan kompleksitas.
- SC perlu diselaraskan dengan perubahan preferensi pelanggan untuk memungkinkan penyediaan produk dan layanan logistik yang berkelanjutan dan individual.
- Digitalisasi operasi dalam produksi, pergudangan dan transportasi logistik mengintensifkan transformasi digital SCM.
- Berbagai teknologi yang mengganggu dan inovasi model bisnis trans-formatif sedang meningkat dengan potensi untuk membentuk kembali seluruh ekosistem pasokan.
Proses rantai pasokan (SC) akan menjadi semakin otomatis dan tugas-tugas tradisional SCM akan diganti sebagai hasilnya, mengikuti peningkatan kinerja yang patut dicontoh yang diharapkan dengan aplikasi BDA:
- Peramalan permintaan diharapkan menjadi jauh lebih akurat.
- Persediaan dapat dikurangi secara substansial ke tingkat yang lebih rendah.
- Manajemen pemasok akan ditingkatkan.
- Peningkatan efisiensi dan produktivitas operasional.
- Pengurangan ketidakpastian operasi SC.
- Pengambilan keputusan yang cepat dan respons terhadap gangguan SC.
- Meningkatkan visibilitas dan transparansi jaringan.
- Dampak besar pada ketahanan SC, ketangkasan dan responsifitas SC, kesinambungan SC, dan kemampuan inovasi SC.
SCM memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi intinya ke tugas-tugas pengambilan keputusan yang lebih canggih, karena intuisi, kepercayaan, dan pengalaman diharapkan tetap menjadi kompetensi utama yang tidak dapat disimulasikan dalam waktu dekat.
Sumber :
https://www.vcare.ca/post/big-data-analytics-in-supply-chain
Friday, September 13, 2019
Kadin Usulkan Platform Digital Logistik Untuk UMKM
Kadin tahun ini akan mengusulkan platform digital logistik yang terintegrasi untuk menunjang kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ingin go internasional.
Peni WidartiPeni Widarti - Bisnis.com
13 September 2019 | 18:04 WIB
Bisnis.com, SURABAYA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tahun ini akan mengusulkan platform digital logistik yang terintegrasi untuk menunjang kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ingin go internasional.
Chairman of Regional Invesment Development Kadin, Reza Valdo Maspaitella mengatakan platform tersebut nantinya akan terhubung dengan berbagai instansi berkaitan seperti Bea Cukai serta berbagai jenis perizinan.
“Tahun ini kami akan bawa inisiatif integrated logistic system ini agar UMKM di Indonesia termasuk Jawa Timur yang jadi prioritas bisa tumbuh dan sekaligus dapat menunjang kinerja ekspor kita,” jelasnya, Jumat (13/9/2019).
Dia mengatakan platform digital ini menjadi insiatif yang bisa dikembangkan, menyusul diskusi yang dilakukan Presiden Joko Widodo dengan Jack Ma, bos Alibaba tahun lalu.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas tentang talent building untuk e-commerce dan internet di Indonesia. Bagaimana hal ini bisa mendorong anak muda pelaku UKM menangkap kesempatan bisnis dari e-commerce dan internet.
"Dari kerja sama itu, sudah ada 50 digital talent yang telah menembus pasar China melalui Alibaba," imbuhnya.
Reza menambahkan, meski ke depan tantangan global ekonomi semakin besar, tetapi pengusaha harus mampu melihat bagaimana tantangan menjadi kesempatan, termasuk para UMKM agar terus berusaha melihat kesempatan yang ada.
Sumber :
https://surabaya.bisnis.com/read/20190913/532/1148187/kadin-usulkan-platform-digital-logistik-untuk-umkm
Peni WidartiPeni Widarti - Bisnis.com
13 September 2019 | 18:04 WIB
Bisnis.com, SURABAYA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tahun ini akan mengusulkan platform digital logistik yang terintegrasi untuk menunjang kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ingin go internasional.
Chairman of Regional Invesment Development Kadin, Reza Valdo Maspaitella mengatakan platform tersebut nantinya akan terhubung dengan berbagai instansi berkaitan seperti Bea Cukai serta berbagai jenis perizinan.
“Tahun ini kami akan bawa inisiatif integrated logistic system ini agar UMKM di Indonesia termasuk Jawa Timur yang jadi prioritas bisa tumbuh dan sekaligus dapat menunjang kinerja ekspor kita,” jelasnya, Jumat (13/9/2019).
Dia mengatakan platform digital ini menjadi insiatif yang bisa dikembangkan, menyusul diskusi yang dilakukan Presiden Joko Widodo dengan Jack Ma, bos Alibaba tahun lalu.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas tentang talent building untuk e-commerce dan internet di Indonesia. Bagaimana hal ini bisa mendorong anak muda pelaku UKM menangkap kesempatan bisnis dari e-commerce dan internet.
"Dari kerja sama itu, sudah ada 50 digital talent yang telah menembus pasar China melalui Alibaba," imbuhnya.
Reza menambahkan, meski ke depan tantangan global ekonomi semakin besar, tetapi pengusaha harus mampu melihat bagaimana tantangan menjadi kesempatan, termasuk para UMKM agar terus berusaha melihat kesempatan yang ada.
Sumber :
https://surabaya.bisnis.com/read/20190913/532/1148187/kadin-usulkan-platform-digital-logistik-untuk-umkm
Thursday, September 12, 2019
Bagaimana Amazon Mengubah Manajemen Rantai Pasokan?
How Amazon Is Changing Supply Chain Management
Kembali pada tahun 2005, Amazon meluncurkan layanan Amazon Prime-nya. Pelanggan, membayar biaya keanggotaan tahunan, menerima pengiriman dua hari dijamin pada ratusan ribu produk. Bahkan, pengenalan pengiriman dua hari adalah pengubah permainan dan membangun dominasi Amazon dalam industri ritel online. Ketika banyak pengecer lain mulai mengejar strategi itu dengan menawarkan pengiriman dua hari gratis mereka sendiri, Amazon membuka jalan dengan menawarkan pengiriman satu jam dengan layanan Amazon Prime Now.
Meskipun Amazon baru-baru ini membuatnya pengiriman gratis dua jam untuk Amazon Prime Now, itu selalu membuat hidup sulit bagi pesaing utamanya sebagai hasil dari strategi inovatifnya.
Amazing Supply Chain Management Practices
Praktek Manajemen Rantai Pasokan Yang Luar Biasa
Amazon menikmati pengikut sesat. Ini adalah pilihan favorit bagi pelanggan karena satu alasan penting: manajemen rantai pasokan yang cepat dan efisien. Kombinasi teknologi informasi yang canggih, jaringan gudang yang luas, manajemen persediaan multi-tier dan transportasi yang sangat baik menjadikan rantai pasokan Amazon yang paling efisien di antara semua perusahaan besar di dunia.
Outsourcing Inventory Management dan Insourcing Logistics
Rantai pasokan Amazon sangat bergantung pada outsourcing manajemen inventarisnya. Terutama produk yang tidak sering dibeli atau dipesan tidak disimpan di gudang Amazon biasa. Mungkin mengejutkan Anda bahwa hampir 82 persen penjualan Amazon terdiri dari penjual pihak ketiga. Itu mencapai $ 22,9 miliar pada 2016. Pengiriman satu jam atau hari yang sama di Amazon dimungkinkan karena ketergantungannya pada logistiknya sendiri. Hanya karena menjual produk pihak ketiga tidak berarti menggunakan logistik pihak ketiga untuk mengirimkan produk pesanan pelanggan di Amazon.
Amazon mengerti terlalu baik bahwa tergantung pada logistik pihak ketiga hanya akan memperpanjang waktu pengiriman produk. Itu sebabnya Amazon sebagian besar menggunakan kendaraan pengiriman sendiri untuk pengiriman hari yang sama atau opsi pengiriman satu jam.
Delivery Options To Customers
Opsi Pengiriman Ke Pelanggan
Amazon memiliki gudang yang berbeda untuk berbagai jenis produk dan preferensi pelanggan untuk opsi pengiriman. Pengiriman pelanggan utama, pengiriman satu hari, pengiriman kelas satu, dan pengiriman super hemat gratis adalah beberapa opsi pengiriman umum yang tersedia untuk pelanggan Amazon. Upaya terus menerus Amazon untuk membuat pengiriman produk dalam waktu secepat mungkin menjadikannya raksasa logistik dan bukan hanya pemimpin dalam industri ritel.
Push/Pull Strategy for Supply Chain Success
Strategi Dorong / Tarik untuk Sukses Rantai Pasokan
Gudang Amazon sendiri ditempatkan secara strategis, bergerak lebih dekat dan lebih dekat ke daerah metropolitan utama dan pusat kota. Sebagai hasilnya, ia menggunakan strategi push murni untuk produk-produk yang disimpannya di gudang. Di sisi lain, ia menggunakan strategi tarikan murni ketika menjual produk dari penjual pihak ketiga.
Classes and Zones
Kelas dan Zona
Amazon memiliki lebih dari 70 pusat pemenuhan di AS dan lebih dari 90.000 karyawan penuh waktu. Untuk memenuhi janji pengiriman yang semakin cepat, perusahaan telah memposisikan banyak gudang baru di dekat pasar perkotaan lokal. (Strategi online Wal-Mart di China sekarang juga menggunakan model pemenuhan pelanggan yang lebih dekat, mengoperasikan jaringan gudang mini.) Lokasi, ukuran, dan jumlah gudang adalah faktor penting dalam keberhasilan rantai pasokan Amazon.
Gudang-gudang dibagi menjadi lima area penyimpanan. Pustaka penyimpanan utamanya menyimpan buku dan majalah. Selanjutnya, tempat penyimpanan palet utamanya menyimpan produk-produk kasing penuh yang memiliki permintaan sangat tinggi. Selanjutnya, case flow prime storage menyimpan produk-produk dengan permintaan tinggi dalam jumlah yang sedikit. Penyimpanan terbaliknya mengakomodasi produk yang bentuknya tidak beraturan dan permintaan rendah. Akhirnya, area penyimpanan acaknya menyimpan permintaan modern, barang-barang kecil.
Automation
Otomatisasi
Kembali pada tahun 2012, Amazon mengakuisisi penyedia solusi gudang robot otomatis dan disebut Sistem Kiva. Dan pada 2015, perusahaan itu diganti namanya menjadi Robotika Amazon. Robot dari Robotika Amazon dapat memilih dan berkemas tanpa memerlukan bantuan manusia, memungkinkan Amazon untuk menyelesaikan aktivitas gudang dengan sangat cepat. Selama bertahun-tahun, Amazon telah secara signifikan meningkatkan pasukan robot gudang. Robot gudangnya, pada kenyataannya, telah tumbuh pada tingkat 15.000 per tahun dari tahun 2015. Pada Januari 2017, Amazon memiliki lebih dari 45.000 robot gudang, dan invasi robot berlanjut.
Itu memiliki jumlah 15.000 dan 30.000 masing-masing pada tahun 2015 dan 2016. Sampai saat ini, robotika Amazon telah bertujuan untuk membawa barang kepada orang-orang untuk memilih pesanan. Generasi robot berikutnya akan melihat mereka mengambil pesanan sendiri untuk mengurangi kebutuhan akan pemetik pesanan manusia.
Sementara Amazon telah meningkatkan pasukan robotnya di gudang, pengecer online lainnya pada awalnya lambat untuk mengikuti. Namun sekarang, robot menangkap baik di dalam negeri dan luar negeri, untuk kedua fasilitas besar, serta untuk pulau-pulau kecil otomatisasi dalam fasilitas yang ada. Autostore adalah contoh penyedia otomatisasi robot yang dapat mengakomodasi pulau-pulau otomatisasi tersebut.
Supply Chain Cost
Biaya Rantai Pasokan
Karena skala ekonomi yang sangat besar dan satu bundel strategi rantai pasokan yang terkemuka di industri, Amazon telah mampu menjaga biaya pasokan per unit secara keseluruhan seminimal mungkin. Akibatnya, sulit bagi perusahaan lain dengan volume penjualan yang jauh lebih rendah dan hanya gudang mereka sendiri yang bersaing.
Sumber :
https://www.thebalancesmb.com/how-amazon-is-changing-supply-chain-management-4155324
Wednesday, September 11, 2019
Procurement dan Purchasing
Banyak orang yang sering tertukar dalam menggunakan istilah Procurement dan Purchasing. Hal ini terjadi karena memang terdapat kesamaan antara Procurement dan Purchasing.
Namun demikian antara Procurement dan Purchasing tetaplah suatu hal yang berbeda. Oleh karena itu mari kita meluruskan perbedaan diantara keduanya.
A. Procurement
Procurement melibatkan banyak proses seperti perencanaan strategis, penentuan kebutuhan, sistem persetujuan atas permintaan suatu kebutuhan, pemilihan vendor, manajemen kontrak, pembelian barang atau jasa, proses penerimaan barang atau jasa dan pencatatan aset.
Procurement berkaitan dengan mengakuisisi (pengadaan) semua barang, jasa dan pekerjaan yang sangat penting untuk sebuah organisasi. Procurement pada dasarnya adalah keseluruhan (general) dari suatu proses pembelian itu sendiri.
Karena Procurement merupakan istilah umum yang mencakup beberapa fungsi bisnis inti. Oleh karena itu Procurement harus dianggap sebagai bagian inti dari strategi perusahaan setiap organisasi.
B. Purchasing
Purchasing adalah salah satu bagian dari Procurement. Purchasing pada umumnya hanya mengacu pada pada pembelian barang dan atau jasa, penerimaan dan pembayaran saja.
Sumber :
http://eprocurement.co.id/procurement-vs-purchasing/
Namun demikian antara Procurement dan Purchasing tetaplah suatu hal yang berbeda. Oleh karena itu mari kita meluruskan perbedaan diantara keduanya.
A. Procurement
Procurement melibatkan banyak proses seperti perencanaan strategis, penentuan kebutuhan, sistem persetujuan atas permintaan suatu kebutuhan, pemilihan vendor, manajemen kontrak, pembelian barang atau jasa, proses penerimaan barang atau jasa dan pencatatan aset.
Procurement berkaitan dengan mengakuisisi (pengadaan) semua barang, jasa dan pekerjaan yang sangat penting untuk sebuah organisasi. Procurement pada dasarnya adalah keseluruhan (general) dari suatu proses pembelian itu sendiri.
Karena Procurement merupakan istilah umum yang mencakup beberapa fungsi bisnis inti. Oleh karena itu Procurement harus dianggap sebagai bagian inti dari strategi perusahaan setiap organisasi.
B. Purchasing
Purchasing adalah salah satu bagian dari Procurement. Purchasing pada umumnya hanya mengacu pada pada pembelian barang dan atau jasa, penerimaan dan pembayaran saja.
Sumber :
http://eprocurement.co.id/procurement-vs-purchasing/
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Dalam Supply Chain Management (SCM) , strategi Push dan Pull adalah dua pendekatan utama dalam mengelola arus barang, informasi, dan permi...
-
Airlangga: RI Perlu Memperkuat Ekosistem Rantai Pasok Halal Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia ...
-
Inventory managers are faced with the challenge of managing tens or hundreds of thousands of items, each with their own characteristics, req...
-
PPIC (Production Planning and Inventory Control) PPIC, atau Production Planning and Inventory Control , adalah bagian penting dalam manajeme...
-
Peletakan dan penataan barang menggunakan kaidah FIFO yaitu: Jika barang diletakkan dengan arah atas - bawah , maka yang atas merupak...

