Pages

Tuesday, August 17, 2021

Paradigma Pembangunan Infrastruktur Perlu Diubah

Dalam Pidato Kenegaraan (16/8), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan walaupun sangat berkonsentrasi dalam menangani permasalahan kesehatan, tetapi perhatian terhadap agenda-agenda besar menuju Indonesia maju tidak berkurang sedikit pun.

Presiden juga menegaskan penyelesaian pembangunan infrastruktur yang memurahkan logistik, untuk membangun dari pinggiran dan mempersatukan Indonesia, terus diupayakan.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan, infrastruktur merupakan salah satu pilar penting peningkatan efisiensi logistik nasional.

“Salah satu pemicu biaya logistik yang tinggi adalah masalah penyebaran infrastruktur yang tidak merata antar wilayah,” ungkap Setijadi dalam keterangannya, Selasa (17/8).

Membangun dari pinggiran menurut Setijadi penting untuk meningkatkan keseimbangan pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Pada tahun 2020, distribusi Produk Domestik Bruto (PDB) masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen). Empat wilayah lainnya masih harus ditingkatkan kontribusinya, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen).

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) memerlukan perubahan paradigma dari ship follow the trade menjadi ship promote the trade. 


Sumber:

https://fin.co.id/2021/08/17/paradigma-pembangunan-infrastruktur-perlu-diubah/

Sunday, August 15, 2021

Garuda Bikin Gudang Logistik Canggih, Kirim Barang e-Commerce Makin Cepat

PT Garuda Indonesia (Persero) melakukan kerja sama pembuatan fasilitas warehouse alias gudang logistik. Hal itu dilakukan dengan PT Perigi Raja Terpadu, alias Perigi Logistic.

Gudang ini akan terintegrasi untuk layanan logistik impor dan e-commerce. Gudang ini memiliki fasilitas canggih, yang memudahkan arus barang logistik dan impor di bandara.

Di dalamnya ada sistem dan peralatan terbaru yang terintegrasi dengan smart conveyer belt dan terhubung langsung dengan sistem Bea Cukai, sehingga proses pelayanan importasi barang akan lebih cepat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengungkapkan bahwa pengembangan layanan ini merupakan salah satu upaya Garuda Indonesia memaksimalkan layanan pengiriman logistik yang aman dan terpercaya.

"Peluncuran layanan ini menjadi salah satu upaya kami dalam menghadirkan nilai tambah bagi para pengguna jasa kami, khususnya untuk pengiriman barang impor serta transaksi e-commerce," kata Irfan dalam keterangannya, dikutip Minggu (15/8/2021).

Sementara itu, Direktur Utama PT Perigi Jasa Terpadu, Indra Buana, mengungkapkan kerja sama ini dapat mengoptimalkan pertumbuhan pengiriman barang e-commerce yang saat ini terus meningkat. Menurutnya, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan barang e-commerce mencapai 500%.

"Kerja sama ini diharapkan dapat mengoptimalkan layanan bea cukai dalam rangka peningkatan pertumbuhan pengiriman e-commerce di mana yang saat ini perkembangan logistik khususnya e-commerce sedang melesat tinggi," kata Indra.


Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5682812/garuda-bikin-gudang-logistik-canggih-kirim-barang-e-commerce-makin-cepat


Thursday, August 12, 2021

Turunkan Biaya Logistik, SCI Rekomendasikan Perbaikan Infrastruktur

Transportasi.co | Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan biaya logistik Indonesia sebelas persen lebih mahal 13 persen dari rata-rata biaya logistik dunia, pada Rabu (11/8). Biaya logistik Indonesia sebesar 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) berdampak Indonesia kurang bersaing dengan negara-negara lain.

Erick menyebut biaya logistik Indonesia yang mahal disebabkan oleh fasilitas infrastruktur dalam negeri yang kurang memadai, sehingga infrastruktur BUMN tetap harus diperbaiki meski di tengah pandemi.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan evaluasi atas daya saing dan kondisi infrastruktur Indonesia bisa mengacu terhadap The Global Competitiveness Index yang dikeluarkan World Economic Forum secara berkala.

The Global Competitiveness Index 4.0 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat 50 dari 141 ekonomi. Dengan peringkat itu, Indonesia turun 5 peringkat dari tahun sebelumnya. Di antara negara-negara ASEAN, posisi Indonesia itu di bawah Singapura (peringkat ke-1), Malaysia (27), dan Thailand (40).

Setijadi menyampaikan analisis atas infrastruktur Indonesia yang berada pada peringkat 72. Untuk pilar infrastruktur, khususnya konektivitas, peringkat terendah pada konektivitas jalan (peringkat 109), diikuti liner shipping connectivity (36). Airport connectivity Indonesia sangat baik pada peringkat 5.


Sumber:

http://transportasi.co/turunkan_biaya_logistik_sci_rekomendasikan_perbaikan_infrastruktur_4635.htm

Wednesday, August 11, 2021

Erick Thohir Sebut Biaya Logistik RI Lebih Mahal dari Dunia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan biaya logistik Indonesia sebelas persen lebih mahal dari dunia.

Menurutnya, porsi biaya logistik Indonesia 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi ketimbang rata-rata dunia yang sebesar 13 persen. Hal ini mengakibatkan biaya logistik Indonesia kurang bersaing dengan negara lain.

"Biaya logistik Indonesia kurang lebih 24 persen, dunia rata-rata 13 persen. Jadi logistik kita jauh lebih mahal 11 persen, gimana mau compete (bersaing)?" ujarnya pada siaran live Chat Room CNN Indonesia, Rabu (11/8).

Erick menyebut mahalnya biaya logistik disebabkan oleh minimnya fasilitas infrastruktur dalam negeri. Karena itu, ia menyebut meski di tengah pandemi, infrastruktur BUMN tetap harus diperbaiki.

Ini termasuk penyuntikan Penanaman Modal Negara (PMN) kepada BUMN yang beberapa saat lalu sempat dikritik ekonom dan anggota DPR. Menurut Erick, infrastruktur tetap harus dibangun selama pandemi karena pembangunan ditujukan untuk jangka panjang.

"Kemarin banyak yang bilang ini PMN BUMN buat apa? Sedangkan ini Covid. Tapi, kita membangun bangsa tidak hanya sekarang, tapi pasca Covid. Infrastruktur tetap kunci," ujarnya.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210811120857-92-679117/erick-thohir-sebut-biaya-logistik-ri-lebih-mahal-dari-dunia


Tuesday, June 22, 2021

Rantai pasok yang Boros

Rantai pasok yang boros dan sampah makanan bisa bernilai Rp550 triliun

21/06/2021 06:03 WIB

Tahukah Anda bahwa nilai sisa makanan kita ditambah kehilangan (loss) dalam proses produksi bahan makanan bisa mencapai Rp550 triliun? Hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menunjukkan betapa besarnya manfaat yang hilang akibat inefisiensi dalam proses produksi dan cara makan yang keliru.

Kementerian PPN mengkaji masalah tersebut bersama Waste4Change dan didukung oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta United Kingdom Foreign, Commonwealth, and Development Office (UKFCDO). Fokus penelitian ini pada Food Loss and Waste (FLW).

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang antara proses panen dan proses konsumsi. Food loss adalah hilangnya kualitas makanan pada proses rantai pasokan, mulai dari produksi (panen), pengemasan, penyimpanan, distribusi, penjualan, sampai diterima konsumen.

Sementara itu, food waste mengacu pada sisa makanan yang timbul pada bagian akhir supply chain, yaitu penjualan dan konsumsi, baik karena tidak termakan, rusak, atau kedaluwarsa. Saban tahun, setiap orang rata-rata membuang lebih dari 100 kilogram sampah makanan atau setara dengan 61 sampai 125 juta porsi makanan.

Kerugian ekonomi akibat food waste selama 20 tahun terakhir bahkan setara 4 sampai 5 persen PDB, atau mencapai Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahun. Fakta ini mengemuka dalam webinar yang mendiskusikan hasil kajian Food Loss and Waste (FLW) Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (9/6/2021).

Dalam webinar tersebut juga dikemukakan bahwa kerugian di sektor lingkungan akibat timbulan FLW pada periode 2000-2019 atau selama dua dekade, mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan limbah per kapita sebesar 115-184 kilogram per tahun.

Pada periode yang sama, efek kehilangan pasca-produksi dan sampah makanan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) ternyata sangat besar. Timbulan sampah makanan tersebut menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara 7,29 persen rata-rata emisi GRK Indonesia per tahun.

Kehilangan (loss) dalam mata rantai pasokan didominasi oleh jenis padi-padian, seperti beras, jagung, gandum, dan produk-produk sejenis. Namun, jenis pangan yang prosesnya paling tidak efisien adalah sayur-sayuran. Kehilangannya bisa mencapai 62,8 persen dari seluruh suplai domestik sayur-sayuran yang ada di Indonesia.

“Dengan menyajikan sejumlah hasil analisis yang bersifat evidence-based, kajian Food Loss and Waste di Indonesia ini bisa menjadi pedoman atau referensi bagi para pengambil kebijakan, sehingga implementasi pembangunan rendah karbon di Indonesia dapat memenuhi target” ujar Menteri Suharso Monoarfa dalam webinar tersebut.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan komposisi sampah di Indonesia pada 2020 didominasi sisa makanan, yakni mencapai 39,74 persen.

William, mantan chef hotel bintang empat di Indonesia berkisah, sebelum pandemi, setiap hari sampah dari dapur hotel bisa lebih dari tiga tempat sampah ukuran 240 liter. “Setiap hari ada bahan dan makanan yang harus dibuang. Tidak boleh dibagikan atau dibawa pulang karyawan karena alasan liabilitas,” ujar William kepada Lokadata, Jumat (11/6/2021).

Produk makanan seperti daging ayam, sapi, dan ikan hampir 80 persennya bisa diolah. Sisanya ada yang bisa dimanfaatkan, tapi tidak semua hotel melakukannya. Lain halnya dengan sayur-mayur. Biasanya hanya 60 persen yang layak olah. "Kehilangan banyak terjadi saat mengupas kulit atau membuang bagian sayur yang tidak layak olah."

Banyaknya volume sampah yang dibuang hotel tergantung aktivitas pada hari itu. Semakin banyak event dan orang yang terlibat, semakin banyak pula sampah makanan yang dibuang.


Memanfaatkan makanan terbuang

Lewat gerakan food bank, Garda Pangan mencoba mengumpulkan dan memanfaatkan makanan yang terbuang atau tidak laku terjual. Social enterprise yang berbasis di Surabaya dan Malang, Jawa Timur ini melakukannya lewat penyelamatan makanan dari berbagai industri hospitality dan bisnis makanan.

Garda Pangan bekerja sama dengan restoran, toko roti, distributor buah, dan lain sebagainya. “Kalau ada makanan yang tidak terjual hari itu dan masih sangat layak makan, dijemput oleh teman-teman relawan. Kemudian kita sortir untuk memastikan higienitas dan keamanannya, dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Eva Bachtiar, salah satu pendiri Garda Pangan.

Sumber food waste lain adalah acara berskala besar seperti festival atau resepsi perkawinan. Garda Pangan pernah menyelamatkan 500 porsi makanan yang akan dibuang pada satu pesta.

Masalah food loss dan food waste kian mendesak untuk diatasi. Mengurangi 50 persen sampah makanan pada 2030 juga jadi salah satu target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.

Menurut Rosa Vivien Ratnawati, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup, dalam webinar yang sama mengungkapkan, setidaknya ada tiga aktor besar yang punya andil dalam masalah food loss dan food waste ini.

Pertama, peritel atau distributor. Misalnya, promosi buy one get two seringkali membuat konsumen membeli makanan yang tidak perlu. Karena itu, manajemen stok yang efisien sangat dibutuhkan agar stok yang tersedia menjadi sampah. Upaya ini seharusnya masuk dalam strategi pemasaran, dan penyimpanan produk.

Kedua, industri jasa makanan. Semua restoran memiliki standar porsi yang sama untuk semua orang. Akibatnya, kata Rosa, selalu saja ada makanan tersisa. Selain itu, model penjualan all you can it juga menjadi penyumbang sampah makanan. Model ini membuat konsumen mengambil makanan yang berlebihan.

Ketiga, konsumen juga menjadi penyumbang yang besar. Misalnya, banyak konsumen membeli makanan yang sebetulnya tidak dibutuhkan, tidak menghabiskan makanan yang sudah dibeli, dan membeli bahan makanan yang terlalu banyak, sehingga mengakibatkan busuk atau kedaluwarsa.

Menurut Rosa, setiap tahun Indonesia membuang sampah makanan sebanyak 20,8 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 30,58 persen dari total makanan yang dikonsumsi. Rata-rata sampah makanan di Indonesia masih lebih rendah dari negara-negara Asia Tenggara yang mencapai 43,5 persen.

Tapi, tentu saja, hal itu tak bisa jadi pembenar bahwa sampah makanan kita tak sebanyak negara tetangga.


Sumber :

https://lokadata.id/artikel/rantai-pasok-yang-boros-dan-sampah-makanan-bisa-bernilai-rp550-triliun

Wednesday, April 14, 2021

5 Supply Chain Myths—Busted

Whether you have established your career or are just starting out in supply chain management, you'll come up against persistent misconceptions. Inbound Logistics puts five of the most common myths to the test.

Like any industry segment, the supply chain offers fertile ground for myths to propagate. Here are five of the most persistent supply chain myths, along with the thorough debunking they deserve.


MYTH 1: SUPPLY CHAIN MANAGEMENT IS BORING.

No way, say the folks educating the next generation of supply chain professionals. A logistics whiz may not become the hit of happy hour by spouting supply chain trivia, but the field—contrary to its bum rap—does not induce spontaneous comas.

Still, the "supply chain is boring" myth looms large among the general public, among college students looking for a major, and even among business professionals with spreadsheet expertise.

"The main reason is that they don't understand what supply chain is," says Nick Little, director of railway education at Michigan State University's Center for Railway Research and Education.

For example, when high school and college students begin thinking of career options, they are likely to link the supply chain with its less strategic jobs. "If Johnny went home and said to his family, 'I want a supply chain career,' they might answer, 'You don't really want to be a truck driver, do you?'

"The other thing that people sometimes don't understand is that working in supply chain involves a lot of trade-offs," Little adds—noggin-taxing trade-offs that require informed decision-making. That's true in every link of the chain, from product design, materials management, and procurement—"Do we go with cheap materials or something that is more reliable?"—to transportation and distribution. No part of the job can be executed on autopilot.

Supply chain's relationship to the entire business enterprise attracts Little. "Supply chain is strategic because it is so closely linked to the business model," he says. "Supply chain is touched by every part of the business and every part of the business is touched by the supply chain.

"The good thing about supply chain management," he says, "is that no two days are ever the same, and you don't know what tomorrow will bring."


MYTH 2: YOU NEED AN ENGINEERING DEGREE TO NEGOTIATE THE SUPPLY CHAIN.

Tell that to Lamar Johnson, who as a college student never dreamed that he would spend 15 rewarding years in supply chain management at a major brand.

"I retired in 2004 from Procter & Gamble but I had a finance undergraduate degree and 18 years in sales," he says. "When I retired I was managing all of the outbound portion of Procter & Gamble North America's supply chain," he says, adding that he was unusual at that time, a bird with different plumage in an aviary of engineers.

"What I brought to the party was a knowledge of our customer," Johnson says. "I had analytical skills—at one point I had been a math major. I also had very good soft skills: leadership skills, collaboration skills—all of the things you need to knit together not only the parts of your own discipline but also other entities within the company."

Johnson is now senior associate director of the University of Texas' Supply Chain Management Center at the McCombs School of Business. And he's all about reminding business leaders that supply chain professionals benefit from a strong foundation of business and communication skills.

"Most supply chain leadership historically has come from engineering; therefore they tend to value people who come along behind them that have an engineering degree," Johnson explains. "It's kind of a fraternity or sorority. I don't mean that to be unfair. I am saying that they value the skills that engineers bring to the party and sometimes discount the skills of people with backgrounds other than engineering."

That's changing, he says, and it's a good thing. Professionals with engineering expertise will always be an essential part of the supply chain equation but, "We need different kinds of leaders in the future," Johnson notes. "We need leaders who have strong business skills, analytical skills, and soft skills. If you take that on face value, lots of different backgrounds belong at the table."


MYTH 3: SUPPLY CHAINS THAT RELY ON AUTOMATION INSTEAD OF PEOPLE ARE ALWAYS BETTER.

"False," says Jack Buffington, who is responsible for warehousing and fulfillment for Colorado-based brewing company MillerCoors.

At least for now.

Buffington, who is also a professor of supply chain management at the Daniels College of Business, University of Denver, says it's not uncommon for business ventures to overvalue the automated supply chain.

Take the case of a celebrated technology company and its much-ballyhooed all-electric luxury vehicle. "The company obviously makes a good product that people want," Buffington says. "And as production has ramped up, it has had challenges meeting its targets. The reason why is the manufacturing facilities were overautomated. The company looked at what the big automakers were doing and thought, 'Well, that's good, but more automation would be better.'"

But that's not how manufacturing facilities should work, particularly on questions related to cadence—and to keeping things flowing consistently and in accordance with business strategy. When it comes to the big picture, "It's not about maximizing; it's about optimizing," Buffington explains.

"Automation is good for doing things quickly, but it may not necessarily be good for flexibility," he adds. "The company found that it needed to take some automation out of the process, because, as an overall system, it didn't work as effectively."

Such case-by-case thinking also should prevail in warehousing and distribution, Buffington argues. If the operation does not require troubleshooting or flexibility, a fully automated warehouse may be the ticket.

"Automated facilities are super efficient: Robots move pallets of product, they never take breaks, they take the same path," Buffington says. "But when orders get too complex, they run into some difficulties."

In fact, any time there is a change in plans, he notes, "you have to redesign the control system."

Complexity can certainly confound human beings, but unlike robots, they can puzzle their way through a problem. And at the very least, they can ask for help and advice, Buffington says.


MYTH 4: IN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT, DATA—NOT PEOPLE—RULES.

Like most of his peers, John Magee, president and CEO of Houston-based 3PL Crane Worldwide Logistics, believes that data should inform decisions. But he also says that supply chain management is as much about craft as it is about terabytes. Without the former, the latter only gets you so far.

"Data paints a picture, but it doesn't tell a story," he says. "There are times when the picture is enough. But there are times when you need the story."

And that's where the craft comes in. "Data can be misleading if you don't know what you are looking for," Magee says. "If you look at a slice of information the wrong way, it can be bad."

A good supply chain professional always wants to know more. But it's also important to know what to do with all that data and to understand what is happening behind the scenes. That may seem like common sense, but it takes experience to put data in context.

Say a client complains that your firm's service is slipping. And the data supports that contention: It now takes 23 days to deliver a product, up from 22.

The data doesn't tell you what's behind that slippage—whether it's attributable to inefficient operations at home base, whether a carrier went out of business, or whether a natural disaster necessitated route changes. A response to the data, Magee explains, can only be crafted by someone savvy enough to ask the right questions.

With blockchain on the rise, businesses along the chain are ever-more committed to using data in decision-making. But, Magee says, "I am not so sure blockchain is going to become everything that people say it is." After all, the "garbage in/garbage out" rule still applies, and blockchain as envisioned depends on what Magee calls "flawless execution of integrated systems."

"People are saying they need more data, but they're still trying to figure out how to use it better," Magee says. And no matter how much data is on hand, one fundamental truth remains: When it comes to managing the supply chain, Magee says, "you can't take the craft out of it."


MYTH 5: COST CUTTING IS THE FIRST GOAL OF EVERY SUPPLY CHAIN.

As a working professional with warehousing and distribution operations to monitor, Jack Buffington of MillerCoors knows that cost pressures are real and require constant attention. But in his role as a professor, the preoccupation with reducing costs sends his blood pressure well north of healthy.

"The goal isn't to reduce costs; it's to reduce waste and improve efficiency," he says.

In fact, the supply chain might be one place where increasing costs makes sense. Spending a little to improve efficiency could pay off in increased sales.

"It's a bad way to think about things," Buffington says of the cost-cutting obsession. It can even backfire. "Too many supply chain people try to reduce costs and they end up actually increasing costs or impacting sales.

"Cost can help solve a problem," he adds. "If you increase costs, you can actually reduce problems and increase opportunities and grow markets. But the problem is we focus too much on the short term and lose sight of the bigger picture."

Well, that's not universally true. "The best supply chain people in the world focus on reducing waste, improving efficiency, and increasing sales," Buffington says. "Cost is a factor in those goals, but it's not discrete."


Sumber :

https://inboundlogistics.com/cms/article/5-supply-chain-myths-busted/

Monday, March 15, 2021

Tujuan Supply Chain Management

Tujuan Supply Chain Management dan PenerapannyaTujuan Supply Chain Management dan Penerapannya

Supply chain management atau SCM sangat penting bagi perusahaan. Perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing melalui penyesuaian produk, mutu tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan distribusi maka penting untuk memperhatikan supply chain. Management rantai pasokan merupakan integrasi dari berbagai macam aktivitas. Aktivitas tersebut seperti pengadaan bahan, mengubah barang menjadi produk akhir, pengiriman ke seluruh pelanggan. Hal tersebut akan mencakup aktivitas pembelian dan outsourcing, kemudian ditambah dengan fungsi lainnya yang penting antara hubungan pemasok dengan distributor. 

Definisi sederhana supply chain management adalah mekanisme yang menjadi penghubung antara semua pihak yang bersangkutan. Kemudian mengonversikan bahan mentah dan mengubahnya menjadi barang jadi. Semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan bertanggung jawab untuk bisa memberikan barang-barang hasil produksi kepada pelanggan tepat waktu dan di tempat yang tepat. Jadi pada dasarnya SCM ini akan melibatkan pemasok, pabrik, manufaktur, penyedia logistik, dan tentunya yang paling terlibat adalah pelanggan.


Tujuan Manajemen Rantai Pasokan

Tujuan umum dari supply chain management ini adalah menyeimbangkan antara permintaan dan juga penawaran agar lebih efektif dan juga efisien. Sejumlah masalah utama dalam rantai pasokan ini berhubungan dengan penentuan tingkat outsourcing yang tepat, manajemen pengadaan barang, manajemen pemasok, pengelola hubungan dengan pelanggan, identifikasi masalah dan merespons masalah tersebut, yang terakhir adalah manajemen risiko. Tujuan strategis yang ingin dicapai dari rantai pasokan adalah memenangkan persaingan minimal perusahaan bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat. Oleh sebab itu jika menjadi pemenang dalam persaingan pasar maka rantai pasokan tersebut harus mampu menyediakan produk dengan harga murah, berkualitas, tepat waktu, dan juga lebih bervariasi.


Hal yang Dikendalikan SCM

Ada sejumlah hal yang dikendalikan oleh supply chain management yaitu mengetahui wilayah jaringan distribusi, jumlah, fasilitas produksi, lokasi supplier, pusat distribusi, dan gudang sampai dengan pelanggan. Dalam melakukan distribusi umumnya mereka akan berpikir tentang strategi distribusi yang akan dilakukan seperti desentralisasi atau sentralisasi. Manajemen rantai pasokan memerlukan sistem informasi yang bisa di integrasikan secara langsung dan cepat supaya proses distribusi barang ini bisa berjalan dengan lancar. Informasi yang harus dibagikan saat itu pula adalah harga, inventaris sampai dengan urusan transportasi. SCM ini juga mewajibkan dalam mengatur syarat pembayaran beserta metologinya.


Penerapan Supply Chain Management

SCM menjadi konsep atau mekanisme untuk bisa meningkatkan produktivitas perusahaan secara total di dalam rantai pasok dengan optimalisasi waktu, pengelolaan lokasi, dan juga aliran kuantitas bahan. Dalam kegiatan manufaktur penerapan SCM akan mendorong perusahaan untuk bisa memenuhi kepuasan pelanggan, pengembangan produk tepat waktu, menghemat biaya saat menyediakan dan menyerahkan produk, pengelolaan industri secara cermat dan fleksibel. 

Saat ini konsumen semakin kritis sehingga menuntut penyediaan produk secara tepat watu sehingga menyebabkan perusahaan harus melakukan antisipasi agar tidak kehilangan pelanggan. Menggunakan software yang mendukung SCM menjadi solusi terbaik untuk bisa memperbaiki tingkat produktivitas diantara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Untuk SCM ini sangat cocok diterapkan karena memiliki kelebihan berupa mampu mengelola aliran barang atau produk di dalam suatu rantai pasok. Dalam hal ini SCM akan mengaplikasikan bagaimana jaringan produksi bersama distribusi mampu bekerja bersama-sama untuk bisa memenuhi semua tuntutan konsumen. 

Ada beberapa hal dalam penerapan SCM yang harus diperhatikan supaya tidak terjadi hambatan saat menjalankan rantai pasokan tersebut yaitu pengukuran kinerja, customer service yang harus bisa didefinisikan dengan jelas, ukuran keterlambatan respons dalam pelayanan, status data pengiriman yang akurat, sistem informasi yang efisien, analisis metode pengiriman yang lengkap, dan lain sebagainya.


Sumber :

https://www.soltius.co.id/id/blog/read/tujuan-supply-chain-management-dan-penerapannya

Related Posts