Pages

Sunday, March 8, 2020

Pengertian Logistik


Pengertian Logistik, Tujuan, Manfaat, dan Aktivitas Logistik

Apa yang dimaksud dengan logistik? Secara umum, pengertian Logistik adalah suatu ilmu pengetahuan atau seni dalam melakukan proses penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan, dan penghapusan terhadap berbagai barang atau alat-alat tertentu.

Ada juga yang menyebutkan bahwa pengertian logistik adalah serangkaian proses yang meliputi kegiatan perencanaan, implementasi, hingga pengawasan terhadap suatu proses perpindahan, baik itu barang/ jasa, energi, atau sumber daya lainnya, dari titik awal menuju titik penggunaan.

Dari penjelasan arti logistik tersebut dapat disimpulkan bahwa logistik adalah bagian dari ilmu manajemen dimana rangkaian kegiatannya saling berhubungan dan dilakukan secara bertahap, serta bertujuan untuk mengelola dan memelihara barang atau perlengkapan tertentu.


Pengertian Logistik Menurut Para Ahli

Agar lebih memahami apa arti logistik, maka kita dapat merujuk pada pendapat para ahli berikut ini:

1. Burg dalam Lysons; 2000
Menurut Burg, pengertian logistik adalah integrasi dari pengadaan, transportasi, manajemen persediaan, dan aktifitas pergudangan dalam menyediakan alat/cara yang berbiaya efektif, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, baik internal maupun eksternal.

2. Christopher; 2005
Menurut Christopher, pengertian logistik adalah proses yang secara strategis mengelola pengadaan, pergerakan, dan penyimpanan material, suku cadang dan barang jadi beserta aliran informasi terkait melalui organisasi dan kanal-kanal pemasarannya, dalam cara dimana keuntungan perusahaan, baik untuk saat ini maupun diwaktu yang akan datang, dapat dimaksimalkan dengan cara pemenuhan pesanan yang berbiaya efektif.

3. Donald Walters (2003:3-4)
Menurut Donald Walters, pengertian logistik adalah fungsi yang melibatkan perpindahan, mengatur perpindahan barang, dan penyimpanan material dalam perjalanannya dari pengirim awal, melalui rantai pasok dan sampai ke pelanggan akhir.


Tujuan dan Manfaat Logistik

Semua kegiatan logistik adalah untuk mencapai suatu tujuan, yaitu tersedianya suatu barang yang tepat pada waktu dan tempat yang tepat. Dengan begitu, perusahaan harus melaksanakan serangkaian kegiatan logistik, yaitu:
  • Proses pengadaan barang (procurement)
  • Kegiatan produksi (manufacturing support)
  • Distribusi (physical distribution)

Dalam pelaksanaannya, kegiatan logistik memiliki standar performa yang harus dicapai. Adapun tingkat performa yang ingin dicapai dalam kegiatan logistik adalah terjadinya keseimbangan antara kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan dengan semua biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Menurut Bowersox, ada dua faktor utama yang menentukan tingkat performa logistik, yaitu
  • Faktor pelayanan (service), yaitu tingkat pelayanan perusahaan kepada konsumen.
  • Faktor biaya (cost), yaitu biaya yang dihabiskan perusaaan untuk menangani pelayanan kepada konsumen.


Aktivitas Logistik

Menurut Gunawan, ada beberapa aktivitas logistik yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Adapun aktivitas-aktivitas logistik tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Pelayanan Pelanggan (Customer Service)
  2. Prediksi Permintaan (Demand Forecasting)
  3. Manajemen Persediaan (Inventory Management)
  4. Komunikasi Logistik (Logistic Communication)
  5. Penanganan Material (Material Handling)
  6. Proses Pemesanan (Order Precessing)
  7. Pengemasan (Packaging)
  8. Komponen-komponen dan Pelayanan Pendukung (Parts and Service Support)
  9. Seleksi Lokasi Pabrik dan Tempat penyimpanan/ Gudang (Plant and Warehouse Site Selection)
  10. Procurement/ Purchasing
  11. Reverse Logistics
  12. Transportasi (Transportation)
  13. Pergudangan dan penyimpanan (Warehousing & Storage)

Sumber :
https://www.maxmanroe.com/vid/bisnis/pengertian-logistik.html

Pengertian Manajemen Logistik

Pengertian Manajemen Logistik, Tujuan, Fungsi, Prinsip dan Manfaat 

Pengertian Manajemen Logistik – Dalam berbicara logistik atau distribusi fisik maka hal ini dapat meliputi 2 (dua) kegiatan utama yaitu pengangkutan dan penyimpanan.

Menurut Swastha (1990 ; 321), Pengertian pengangkutan adalah pemindahan barang melalui sebuah jalan atau jalur yang berada di antara lembaga saluran dengan konsumen sedangkan penyimpanan atau penggudangan merupakan pengamanan barang selama dibutuhkan.


Pengertian manajemen logistik adalah aliran barang yang dilakukan secara efektif dan efisien, dimulai dari pengiriman barang dari pamasok atau supplier ke toko , penyimpanan barang di gudang, pendistribusian hingga barang tersebut sampai ke konsumen.


Pengertian Manajemen logistik menurut para ahli

Berikut beberapa pendapat tentang pengertian manajemen logistik menurut para ahli :

Subagya (1994)
Menurut Subagya, pengertian manajemen logistik adalah kegiatan yang memiliki tujuan untuj mencapai daya guna efisiensi yang maksimal dalam memanfaatkan barang dan jasa.

Donald J. Bowersox (1995)
Menurut Donald J. Bowersox, Pengertian manajemen logistik adalah kegiatan perusahaan yang terkait dengan lokasi, fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi , pengurusan serta penyimpanan.

Boy S. Sabarguna (2005)
Menurut Boy S. Sabarguna, pengertian manajemen logistik adalah manajemen dan pengendalian atas barang-barang, layanan dan perlengkapan dimulai dari akuisisi sampai disposisi.


Tujuan manajemen logistik

Tujuan manajemen logistik adalah agar barang atau bahan yang digunakan dalam proses produksi atau kegiatan operasional dapat tersedia dalam kualitas, kuantitas, waktu, serta tempat pada tempat yang tepat dengan biaya yang efisiesn.

Menurut Lumenta (1990), tujuan manajemen logistik dapat di bagi menjadi 3 (tiga tujuan utama, yaitu :

1. Tujuan operasional
Manajemen logistik bertujuan untuk Menyediakan barang atau bahan yang diperlukan dalam proses produksi dalam jumlah, kualitas serta waktu yang sesuai.

2. Tujuan keuangan
Dengan terlaksananya tujuan operasional diatas maka biaya yang yang dibutuhkan akan semakin rendah dan hasil yang dihasilkan akan tetap maksimal.

3. Tujuan pengamanan
Manajemen logsitik memiliki tujuan Agar persedian tidak mengalami kerusakan, penggunaan tanpa hak, pemborosan , penyusutan secara tidak wajar dan pecurian.


Fungsi manajemen logistik

Di dalam manajemen logistik terdapat beberapa fungsi yang kesemuanya saling terkait satu sama lainnya.

Berikut beberapa fungsi menajemen logistik, yaitu :

1. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan adalah menetapkan panduan, tujuan serta dasar hukum untuk mengatur proses penyediaan barang yang dibutuhkan.

Hal yang harus diperhatikan dalam fungsi perencanaan ini diantaranya Jenis barang, waktu, biaya, orang-orang yang bertanggung jawab,alasan produk tersebut dibutuhkan, dll.

2. Fungsi Penganggaran
Penganggaran adalah usaha untuk membuat rumus perincian untuk menentukan kebutuhan dalam bentuk standarisasi, yaitu dalam skala mata uang dan jumlah biaya dengan memperhatikan pengarahan dan pembatasan yang berlaku terhadapnya.

Menurut Subagya, Semua rencana yang berasal fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan harus dianalisa lebih lanjut dengan jumlah biaya yang dibutuhkan dengan dana yang tersedia.

3. Fungsi Pengadaan
Pengertian pengadaan menurut Subagya adalah kegiatan dalam menambah serta memenuhi kebutuhan barang atau jasa yang didasarkan pada peraturan yang berlaku yaitu membuat barang menjadi ada yang sebelumnya tidak ada.

Fungsi pengadaan ini dapat berupa pembelian, hibah, sewa. perbaikan, pembuatan, peminjaman, penukaran, dll.

4. Fungsi Penyimpanan
Pengertian penyimpanan adalah suatu cara mengelola pergudangan barang-barang dengantujuan untuk mempertahankan kualitasnya, terhindar dari kerusakan, aman dari pencurian, terbakar serta mempermudah dan mempercepat pencarian barang ketika dibutuhkan.

Penyimpanan ini merupakan hal pokok dalam manajemen logistik karena dapat menentukan kelancaran dari pendistribusian barang.

5. Fungsi Pendistribusian
Fungsi pendistribusian merupakan aktivitas menyalurkan barang yang sesuai dengan permintaan, tepat waktu, jumlah yang tepat dan sesuai dengan spesifikasinya.

Hal-hal ini harus diperhatikan dengan baik dalam proses pendistribusian atau tempat penyimpanan agar logistik dapat disampaikan dengan baik.

6. Fungsi Pemeliharaan
Fungsi pemeliharaan ini sangat berkaitan dengan fungsi penyimpanan dan pendistribusian baik secara fisik maupun prosedural.

Dengan adanya fungsi pemeliharaan ini akan menjamin suatu barang tetap dalam kondisi yang baik.

Pemeliharaan ini merupakan salah satu usaha agar meningkatkan kegunaan barang serta dapat meningkatkan efisiensi dan juga penghematan anggaran.

7. Fungsi Penghapusan
Fungsi penghapusan adalah usaha untuk membebaskan barang dari tanggung jawab sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku.

Kegiatan ini dapat dilakukan disaat kondisi risiko atau bahaya lebih besar dari manfaatnya.

Dalam fungsi penghapusan ini dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan kembali, pemindahan, penjualan, hibah atau bahkan pemusnahan.

8. Fungsi Pengendalian
Pengendalian merupakan sistem pengawasan yang diperoleh dari hasil pemantauan, pelaporan, penilaian, serta pemeriksaan terhadap proses manajemen logistik yang sedang atau telah berlangsung.

Tujuan dari fungsi pengendalian ini adalah agar manajemen logistik dapat berjalan dengan terkendali dan sesuai dengan perencanaan yang sudah ditetapkan.

Dengan adanya fungsi pengendalian ini maka manajemen logistik dapat dijalankan secara efektif dan efisien.


Prinsip manajemen logistik

Berikut adalah beberapa prinsip manajemen logistik, yaitu :

Barang dan jasa harus dapat tersedia dalam jumlah yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan
Barang dan jasa harus dapat diperoleh dengan harga serendah mungkin tanpa harus mengubah spesifikasinya


Inventori harus dapat dipertahankan dalam jumlah seminimal mungkin dengan tetap menjaga ketersediaan persediaan.
Barang harus berbentuk dan dalam kondisi siap untuk dipakai
Pengawasan serta pengendalian terhadap jumlah dan kualitas barang atau jasa
Barang atau peralatan harus ada perawatan sehingga tidak menimbulkan bahaya
Baca juga | Pengertian Perencanaan


Manfaat manajemen logistik

Berdasarkan dari pembahasan diatas maka dapat kita lihat tentang adanya beberapa manfaat manajemen logistik.

Setidaknya ada 9 (sembilan) manfaat manajemen logistik, yaitu :

1. Persediaan
Dengan adanya manajemen logistik tentunya persedaiaan yang dimiliki akan selalu terjaga dan juga kebutuhan perusahaan akan dapat terpenuhi sehingga perusahaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

2. Transportasi
Manfaat manajemen logistik selanjutnya adalah pendistribusian barang akan menjadi lebih baik dan perusahaan harus memiliki layanan transportasi sendiri sehingga dapat membantu mobilitas perusahaan.

3. Fasilitas
Supaya manajemen logistik dapat berjalan dengan maksimal maka selain transportasi, perusahaan juga harus memiliki berbagai fasilitas yang memadai sesuai dengan kebutuhan.

Dengan adanya manajemen logistik ini perusahaan harus memiliki berbagai fasilitas pendukung seluruh kegiatan perusahaan.

4. Layanan
Di dalam manajemen logistik, perusahaan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

Hal ini merupakan hal penting bagi perusahaan karena mereka tidak hanya dapat melayani pelanggan tapi juga bisa melayani stakeholder seperti supplier.

5. Manajemen dan administrasi
Dengan adanya pelaksanaan manajemen logistik maka dapat membantu manajemen dan tim administrasi karena seluruh persediaan lebih teratur dan tertata rapi sehingga pencatatan informasi akan semakin mudah.

6. Inbound transportasi
Inbound transportasi ini memiliki tujuan untuk mengatasi pendistribusian barang atau bahan baku dari supplier menuju ke perusahaan.

Dengan hal ini maka perusahaan memiki kesempatan untuk mendapatkan suplier yang terbaik dan sesuai dengan standar perusahaan.

7. Outbound transportasi
Bila inbound transportasi bergerak menuju kedalam perusahaan, maka outbond transportasi bergerak menuju keluar perusahaan (konsumen).

Outbound transportasi dapat diartikan sebagai pendistribusian barang dari perusahaan menuju kepada konsumen.

Dengan manfaat manajemen logistik ini maka perusahaan dapat memberikan jaminan pelayanan serta pengiriman yang baik sehingga mereka bisa mendapatkan dan menjaga kepercayaan konsumen.

8. Pemecahan permasalahan
Ketika perusahaan menggunakan manajemen logsitik maka perusahaan dapat mengatasi dan memecahkan masalah yang tidak wajar seperti keinginan pelanggan yang sulit untuk dipenuhi.

9. Memberikan informasi pelanggan.
Pada umumnya pelanggan akan memeriksa progres pengiriman barang yang mereka pesan.

Dengan adanya manajemen logistik yang baik ini maka perusahaan dapat memberikan ifnormasi kepada pelanggan yang terkait dengan proses pendistribusian barang dengan lebih terarah.


Sumber :
https://www.pahlevi.net/pengertian-manajemen-logistik/

Logistik

Logistik merupakan seni dan ilmu, barang, energi, informasi, dan sumber daya lainnya, seperti produk, jasa, dan manusia, dari sumber produksi ke pasar dengan tujuan mengoptimalkan penggunaan modal . Manufaktur dan marketing akan sulit dilakukan tanpa dukungan logistik. Logistik juga mencakup integrasi informasi, transportasi, inventori, pergudangan, reverse logistics dan pemaketan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka misi logistik adalah "mendapatkan barang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan jumlah yang tepat, kondisi yang tepat, dengan biaya yang terjangkau, dengan tetap memberikan kontribusi profit bagi penyedia jasa logistik"

Karenanya, logistik selalu berkutat dalam menemukan keseimbangan untuk 2 hal yang amatlah sulit untuk disinergikan, yaitu menekan biaya serendah-rendahnya tetapi tetap menjaga tingkat kualitas jasa dan kepuasan konsumen. Dalam dunia bisnis yang selalu berubah, manajemen logistik yang baik merupakan sebuah keharusan.


Asal-usul

Kata logistik berasal dari bahasa Yunani logos (λόγος) yang berarti “rasio, kata, kalkulasi, alasan, pembicaraan, orasi”. Kata logistik memiliki asal kata dari Bahasa Prancis loger yaitu untuk menginapkan atau menyediakan. Kegunaan asalnya untuk menjelaskan ilmu dari pergerakan, suplai & perawatan dari pasukan militer di lapangan. Nantinya digunakan untuk mendeskripsikan manajemen arus barang di sebuah organisasi, dari barang mentah menjadi barang jadi.

Logistik adalah konsep yang dianggap berevolusi dari kebutuhan pihak militer untuk memenuhi persediaan mereka ketika mereka beranjak ke medan perang dari markas. Pada kekaisaran Yunani, Romawi dan Bizantium kuno, ada perwira militer dengan gelar ‘Logistikas’, yang bertanggung jawab atas distribusi dan pendanaan persediaan perang.

Oxford English Dictionary mendeskripsikan logistik sebagai "the branch of military science relating to procuring, maintaining and transporting materiel, personnel and facilities." Definisi lainya adalah "the time-related positioning of resources." Maka dari itu, logistik biasanya dilihat sebagai cabang umum dari ilmu teknik yang membuat "sistem manusia" bukan "sistem mesin".

Sejarah Logistik

Selama perang Troya Yunani mengirimkan 1200 kapal ke Troya. Untuk perang ini, bangsa Yunani tidak mampu membawa cukup makanan dan uang. Maka dari itu, mereka harus menanam makanan di Troya dan terus menerus melakukan penyerbuan kecil untuk mecari suplai. Karena masalah logistik ini, mereka tidak bisa melancarkan serangan yang menentukan dan signifikan untuk mengakhiri perlawanan bangsa Troya. Perang ini berlangsung selama sepuluh tahun. Sejarawan Yunani Thucydides (460-400 SM) menjelaskan isu ini dan menekankan pentingnya keberadaan atau ketiadaan logistik dalam peperangan.

Akan tetapi ada juga bukti-bukti yang menyatakan bahwa bangsa Yunani kala itu telah mengerti pentingnya logistik. Di antara kalimat2 dalam epik karangan Homer ialah mengenai perisai baru milik Achilles. Pada pahatanya dijelaskan tentang kota Troya yang di kepuung, tetapi bukanya menyerang kamp-kamp milik bangsa Yunani, para pasukan Troya malah menyerang domba-domba milik bangsa Yunani, dan ini melambatkan laju pasukan Yunani. Bukan hanya orang Troya, pasukan Yunani juga dengan segala daya upaya berusaha menyelamatkan domba mereka mengingat betapa pentingya pasokan pangan bagi kelanjutan pengepungan mereka atas kota Troya.

Salah satu kampanye perang pertama pada masa kuno ialah Perang Persia. Raja Persia Xerxes I pergi bertempur pada tahun 480 SM dengan membawa sekitar 100.000 pasukan bersamanya menuju beberapa kota-kota di Yunani. Karena pasukan Persia yang begitu banyak, pasokan logistik hanya bisa dilakukan melalui laut karena melalui jalan darat terlalu susah pada masa itu. Maka dari itu, pasukan Xerxes maju bertempur dengan dikawal oleh armada kapal perang dan kapal barang. Setelah kalah di pertempuran Salamis sang raja harus mundur karena dia mengkhawatirkan akan hilangnya koneksi antara rantai suplai dengan pasukannya di depan.


Logistik militer

Dalam ilmu militer, menjaga agar jalur suplai sambil mengganggu jalur musuh amatlah krusial — Napoleon bahkan mengatakan logistik adalah faktor terpenting — dalam strategi militer, karena sebuah angkatan bersenjata tanpa sumber daya dan transportasi itu tidak berdaya. Kekalahan Inggris di Perang Kemerdekaan Amerika dan kekalahan Poros di medan Afrika Perang Dunia II semua disebabkan oleh kegagalan logistik. Pemimpin bersejarah speerti Hannibal Barca, Alexander the Great, dan Duke Wellington dianggap sebagai jenius dalam logistik.

ILS Integrated Logistics Support adalah disiplin yang digunakan oleh tentara/militer untuk memastikan sistem pendukung yang kuat dengan layanan perbekalan (logistik) konsep pemikirannya adalah biaya terendah dan sesuai dengan kebutuhan, handal, persediaan yang mencukupi, maintainability dan lain-lain sebagai persyaratan yang ditetapkan untuk itu.

Dalam logistik militer, perwira logistik mengatur bagaimana dan kapan memindahkan sumber daya ke tempat di mana mereka dibutuhkan. Manajemen rantai suplai di logistik militer biasanya bersinggungan dengan variabel-variabel tertentu untuk memprediksi biaya, penurunan kualitas, konsumsi dan permintaan masa depan. Pengelompokan kategori AD AS yaitu klasifikasi suplai dikembangkan sedemikian rupa sehingga suplai dengan kategori konsumsi yang mirip dikelompokan menjadi grup-grup tersendiri untuk kegunaan perencanaan lebih lanjut. Contohnya, konsumsi pada masa damai untuk amunisi dan bahan bakar akan lebih sedikit dibandingkan pada masa peperangan, di mana suplai lainya seperti makanan dan baju memiliki rasio konsumsi yang konstan tanpa menghiraukan perang maupun damai. Pasukan akan selalu membutuhkan seragam dan makanan, lebih banyak pasukan berarti kebutuhan makanan dan seragam akan lebih banyak.


Manajemen logistik

Manajemen logistik merupakan bagian dari proses supply chain yang berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan penyimpanan dan aliran barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Logistik

Monday, February 24, 2020

Dampak Virus Corona, Larangan Truk Obesitas Ditunda Sampai 2023


Larangan penggunaan truk Over Dimension Over Load (ODOL) atau truk obesitas resmi mundur, dari awalnya 2021 menjadi 31 Desember 2022. Pelemahan ekonomi sebagai dampak virus Corona menjadi salah satu alasan penundaan ini.

"Kami tahu, ini sedang menghadapi masalah resesi dengan adanya corona dan sebagainya," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta Selatan, Senin, 24 Februari 2020.

Awalnya, Budi Karya ingin melarang seluruh truk ODOL beroperasi mulai 2021. Sebab, keberadaan ODOL menyebabkan gangguan lalu lintas dan kerusakan jalan.

Namun, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang meminta larangan ini ditunda sampai 2024 untuk menunggu kesiapan industri. Apalagi, dampak virus corona ke industri dalam negeri cukup besar.

Di sisi lain, kata Budi, pemerintah punya keinginan bahwa aturan penggunaan truk ODOL ini harus ditegakkan. Untuk itulah, dipilih jalan tengah yaitu melarang truk ODOL mulai 1 Januari 2023.

Keputusan ini dicapai dalam rapat tiga menteri. Selain Budi Karya, dua menteri lain yaitu Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Sejumlah perwakilan pengusaha juga hadir. Di antaranya seperti Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida hingga Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar.

Terakhir, Budi Karya mengatakan larangan penggunaan truk ODOL di 2023 ini akan dilakukan bertahap. Menjelang batas waktu itu, Budi Karya pun meminta pengusaha angkutan logistik tidak membeli truk baru dengan kualifikasi ODOL.


Sumber :
https://bisnis.tempo.co/read/1311426/dampak-virus-corona-larangan-truk-obesitas-ditunda-sampai-2023/full&view=ok

Sumber foto :
https://ekbis.rmol.id/read/2018/07/24/349080/pengusaha-minta-pemerintah-tertibkan-truk-obesitas

Friday, February 14, 2020

1PL, 2PL, 3PL, 4PL, 5PL Definitions


Perusahaan penyedia jasa logistik hadir untuk memberikan solusi pengelolaan logistik. Perkembangan perusahaan logistik semakin pesat seiring dengan adanya kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk meng-out source-kan aktivitas logistik ke perusahaan penyedia jasa logistik.

Kemitraan logistik antara perusahaan dengan penyedia jasa logistik pun semakin berkembang dan melahirkan berbagai bentuk model perusahaan penyedia jasa logistik. Berbagai literatur manajemen logistik setidaknya menyebutkan bentuk kemitraan logistik, seperti yang disampaikan oleh konsultan dan riset logistik terkemuka Frost & Sullivan (2018) dan Cap Gemini (2017):

1 PL (one-party logistics). Perusahaan sebagai pemilik barang mengelola aktivitas logistik (transportasi dan pergudangan) sendiri. Perusahaan melakukan investasi kendaraan dan gudang yang diperlukan dalam penyelenggaraan aktivitas logistiknya.
2 PL (two-party logistics). Perusahaan sebagai pemilik barang menyerahkan sebagian aktivitas logistiknya terutama transportasi ke transporter. Perusahaan mulai mengurangi investasi truck karena sebagian aktivitas transportasi dikelola pihak transporter.
3 PL (third-party logistics). Penyedia jasa logistik ini memberikan layanan solusi logistik ke pelanggan dengan melakukan kontrak pengelolaan logistik pelanggan dan memberikan service lainnya seperti customs clearance, freight forwarding, dan lain-lain. Seringkali 3PL dikenal dengan contract logistics.
4 PL (fourth-party logistics). Perusahaan penyedia jasa logistik 4 PL bertindak sebagai integrator yang mengelola hampir semua aktivitas logistik pelanggan dengan memberikan solusi logistik secara end-to-end. Dalam memberikan layanan logistik ini, perusahaan 4PL bekerjasama dengan beberapa perusahaan 3PL.
5 PL (fifth-party logistics). Perusahaan 5PL menjalankan peran sebagai agregrator. Perusahaan ini memberikan solusi logistik pelanggan berbasis on-demand. Pemanfaatan big data dari IoT (internet of things) dan ekonomi berbagi sumberdaya (sharing economy) yang memungkinkan perusahaan 5PL menyediakan solusi logistics on-demand.

Sumber :
https://master-fit.uii.ac.id/2018/06/04/kemitraan-logistik/
https://supplychainindonesia.com/new/daya-saing-perusahaan-penyedia-jasa-logistik-nasional/
https://www.warehouseanywhere.com/resources/3pl-vs-4pl-logistics-definition-and-comparison/

Wednesday, February 12, 2020

Multi Supplier vs Single Supplier

Saat rapat rutin mingguan, Divisi Purchasing dari Departemen SCM sebagai pintu gerbang awal dari Perusahaan mengungkapkan bahwa diperkirakan beberapa hari kedepan akan terjadi problem di lantai Produksi dikarenakan terdapat beberapa komponen bahan baku yang masih belum datang.


Hal tersebut dikarenakan dampak dari supplier di China yang setelah masuk 1 hari dari libur imlek, lalu diinstruksikan lagi oleh pemerintah setempat agar tutup kembali. Bahkan Presiden China Xi Jinping mengatakan tidak ada PHK massal karena wabah virus corona. Para karyawan, tetap bekerja hanya saja dilakukan dari rumah masing-masing hingga 10 hari ke depan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, saat ini Indonesia masih menggantungkan 60% pasokan bahan bakunya pada China.  Untuk industri otomotif disebutkan hampir 70% bahan baku industri masih diimpor, salah satunya dari China. Dimana Wuhan merupakan daerah produsen onderdil atau suku cadang kendaraan bermotor. Bahkan untuk kebutuhan bahan baku produksi farmasi di Indonesia ketergantungan pasokan impor bahkan mencapai 90%.

Banyak impor dari China dikarenanakan bahan baku dari China memiliki keunggulan kompetitif dan komperatifnya .

Dengan mandeknya impor bahan baku tersebut menjadi peluang bagi Indonesia meningkatkan bahan baku industri dalam negeri sekaligus dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap China.

Selain mencari jalan keluar dengan mencari sumber bahan baku dari negara lain, misalnya dari India, Korea, Jepang dan Eropa Timur, kita juga harus mulai menerapkan dan meningkatkan utilisasi konsumsi daripada bahan baku dalam negeri maka hal ini dapat memberikan kesempatan untuk industri dalam negeri.

Memang virus yang ada bukanlah faktor langsung pendorong di balik kerugian yang dialami. Tapi bagaimana sikap dari konsumen, bisnis, dan pemerintah dalam merespon wabah tersebutlah yang memiliki peran paling besar.

Orang-orang cenderung akan tinggal di rumah selama wabah untuk menghindari sakit, mencegah mereka untuk bepergian, belanja, ataupun bekerja. Perusahaan-perusahaan dan pemerintah pun menutup toko dan pabrik, membatasi produksi.

Sehingga virus Corona ini berdampak pada pasokan bahan baku industri di Indonesia. Bahan baku industri menjadi hilang, atau setidaknya membuat biaya pengiriman menjadi lebih mahal. Ekononi akan sangat rentan jika terlalu bergantung pada faktor ketidakpastian dari supply chain dan pasar.

Terlebih bagi perusahaan yang mengandalkan single vendor atau single supplier di Divisi Purchasing.  Terdapat 5 strategi yang dapat dipilih perusahaan untuk melakukan pembelian kepada supplier yaitu adalah sebagai berikut:

  1. Multi Supplier 
  2. Single Supplier
  3. Vertical Integration, pengembangan kemampuan memproduksi barang atau jasa yang sebelumnya dibeli
  4. Kairetsu Network, perusahaan manufaktur mengambil jalan tengah antara membeli dari sedikit pemasok dan integrasi vertical dengan cara misalnya mendukung secara financial pemasok melalui kepemilikan atau pinjaman. 
  5. Virtual Company, mengandalkan berbagai hubungan pemasok untuk memberikan pelayanan pada saat diperlukan.

Memang single vendor memiliki keuntungan dan kekurangan. Keuntungan single-vendor adalah sebagai berikut :
  1. Secara logistik, lebih mudah berurusan dengan hanya satu vendor.
  2. Saat ada masalah dalam suatu lingkungan multi-vendor, ada kemungkinan setiap vendor akan menyalahkan produk dari vendor lain. Pendekatan single-vendor menghilangkan saling tuduh seperti ini.
  3. Mengurangi biaya support dan training.
  4. Lebih hemat biaya, menghabiskan lebih banyak uang untuk satu vendor berrati mendapatkan diskon besar.
  5. Melangsingkan manajemen jaringan.
  6. Mengurangi upaya pengadaan.

Sedangkan kerugian single-vendor adalah:
  1. Hilangnya kemampuan berbelanja dengan kesepakatan terbaik, karena terpaksa mengikuti ketentuan vendor tunggal.
  2. Kurang kekuatan untuk menegosiasikan harga yang lebih rendah.
  3. Hilangkan kepekaan terhadap teknologi baru di pasar.
  4. Resiko besar bagi organisasi, jika support habis, terdapat bug pada produk, atau akibat dari kebijakan politik terhadap vendor.
  5. Dapat dipaksa meng-upgrade produk sesuai dengan jadwal vendor, bukan sesuai kebutuhan organisasi sendiri.

Strategi lain adalah Divisi Purchasing bisa mengaplikasikan strategi multi-vendor. Beberapa kelebihan dari multi-vendor, adalah sebagai berikut :
  1. Kebebasan memilih. Strategi jaringan multi-vendor memberikan wewenang kepada organisasi untuk memilih sehingga memungkinkan terjadinya evolusi dan inovasi terbaik, memunculkan persaingan kualitas dan harga yang pada akhirnya akan menguntungkan pelanggan.
  2. Mendapatkan produk terbaik sesuai dengan kebutuhan organisasi. Vendor tertentu biasanya mempunyai kelebihan pada suatu sisi namun lemah pada sisi lain. Tersedianya banyak vendor, dengan berbagai kualifikasi.
  3. Fleksibel terhadap perkembangan Inovasi. perusahaan akan mampu mengadopsi solusi-solusi baru, sesuai dengan pertumbuhan dan kebutuhan bisnisnya. Vendor juga harus terus berinovasi dan berkompetisi, menghasilkan solusi dengan kinerja lebih tinggi namun biaya lebih rendah.
  4. Mengurangi biaya dan resiko. Karena banyak pilihan, persaingan antar vendor semakin ketat, harga kemungkinan besar akan semakin rendah. 
  5. Tidak begitu terpengaruh oleh ketidakstabilan vendor

Sumber :
https://komputasi.wordpress.com/2008/09/22/single-vendor-vs-multi-vendor/
https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/10/053000765/terus-mewabah-menimbang-risiko-dan-kerugian-akibat-virus-corona-wuhan?page=all.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/menko-airlangga-virus-corona-di-wuhan-bisa-berdampak-global-value-chain-indonesia/
https://finance.detik.com/industri/d-4895366/pasokan-bahan-baku-industri-ri-bisa-terganjal-corona
https://www.cnbcindonesia.com/market/20200211161723-17-137031/corona-mengganas-emiten-farmasi-cari-alternatif-bahan-baku
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200207/257/1198372/virus-corona-bikin-industri-garmen-krisis-bahan-baku
https://www.msn.com/id-id/berita/dunia/presiden-china-tidak-ada-phk-massal-karena-virus-corona/ar-BBZRhZx
https://sites.google.com/site/operasiproduksi/manajemen-rantai-pasokan

Tuesday, February 11, 2020

12 Best Practices Of Inventory Optimization

Inventory managers are faced with the challenge of managing tens or hundreds of thousands of items, each with their own characteristics, requiring complex and time-consuming calculations. Without a structured methodology and powerful analytical tools, the proactive management of large inventories becomes an impossible task.
   
Determining the optimal stock levels for MRO spares should be a science, not an art. But for most organizations, it represents an impossible numbers game.

Inventory managers are faced with the challenge of managing tens or hundreds of thousands of items, each with their own characteristics, requiring complex and time-consuming calculations. Without a structured methodology and powerful analytical tools, the proactive management of large inventories becomes an impossible task, resulting in rapidly increasing inventory levels combined with critical shortages of spare parts.

Today, organizations without optimized inventory run the risk of overpaying and underperforming.

In order to avoid costly shortages, MRO inventory managers often choose to err on the side of caution when it comes to determining stocking levels.

But that strategy has its costs. Inventory consumes space, gets damaged, and sometimes becomes obsolete — and carrying surplus inventory costs the organization. Over time, massive amounts of unused or obsolete inventory translate to waste and loss.

Simply, optimizing inventory means finding the perfect balance between demand and supply. Optimized service spares inventory maintains a level of inventory that virtually eliminates out-of-stock situations while improving efficiency and cutting inventory costs.

Optimizing MRO Inventory

To achieve key business benefits, companies need an approach that supports the unique management requirements of MRO inventory, including:

• High criticality
• Long lead time
• High price
• Generally infrequent and highly variable usage
• Low data quality

Optimized inventory requires frequently obtained data points and evolution of the inventory in question based on those measurements in real time. A decision support system that incorporates best practice methodologies gives inventory managers a powerful tool to manage their business objectives and make their teams significantly more effective.

By leveraging technology tools, automated processes and inventory management best practices to optimize MRO spares and consumables, asset-intensive organizations can consistently produce results like these:

• 15-25 percent reduction in funds invested in safety stock
• 5-20 percent decrease in write-offs of surplus and obsolete stock
• 10-25 percent fewer stock-outs, for improved availability and productivity
• 10-25 percent drop in administrative costs for replenishing inventory
• 33-66 percent less resource time spent managing inventory.

The 12 best practices of inventory optimization

These best practices — the new business requirements for MRO inventory optimization — are based on specialist inventory analysis and optimization methodologies developed by Oniqua — and supported by Oniqua Analytics Solution (OAS). These proven best practices are fundamental to achieving the significant inventory reductions and substantial bottom-line savings that are the hallmarks of inventory optimization.


1. Criticality Analysis

Generate a recommended criticality (business impact code) for each stock item by analyzing:

Application (where used and fitted.
Commodity classifications
Practical “real-world” considerations or “workarounds”
Supplier or OEM
Price


2. Demand Forecasting

Commissioning of additional equipment may be expected to increase demand for certain inventory items. Demand forecasting capabilities should include:

Selection of appropriate forecasting algorithms
Automatic selection of algorithms for each stock item
Use of forecasting and statistical distributions that are appropriate for a wide range of spares items including slow moving and lumpy demand
Clipping and filtering techniques to manage abnormal data
The ability to isolate planned maintenance and project demand from unplanned demand
Capabilities to use knowledge of expected future events or trends to apply demand profiles to future forecasts


3. Lead Time Forecasting

Forecast lead time is a key factor in determining optimal safety stocks — aspire to achieve these capabilities:

Forecast average lead time using purchase order and receipts history
Filtering and clipping techniques to eliminate abnormal data
Override lead times as required, and calculate lead time variance to assess expected service level


4. Issue Size Forecasting

The number of units typically required for an application (the issue size) is also a key factor in determining stock levels — a good inventory optimization solution will provide:

The ability to forecast average issue size using issues history
Appropriate filtering and clipping techniques to eliminate abnormal data
Capabilities to override forecast issue size as required
Calculation of issue size variance and use of this variable in calculating expected service level


5. Economic Modeling

Economic modeling capabilities should allow for “what-if” modeling of inventory trade-off decisions:

Inventory holding costs for different types of items
Total replenishment costs for different purchasing methods
Expediting or emergency freight costs
Stock-out costs, based on criticality and duration of stock-out
Comparing existing and optimized results for metrics such as inventory value, service level and more


6. Optimization of Reordering Parameters

The reordering parameters — minimum and maximum levels (MIN/MAX) — used by the ERP materials management system to generate replenishment orders are the main determinants of inventory outcomes. Reordering parameters should be optimized periodically to reflect changes. The optimization process addresses:

Selection of appropriate algorithms to optimize minimum and maximum stocking levels
Use of an economic cost model that considers costs of holding inventory, replenishment, expediting and stock-outs as a preferred alternative to a fixed service level approach
Analysis of groups of items rather than one-by-one, one at a time
The ability to perform “what-if” modelling and compare optimized results against current inventory performance
Consideration of “real-world” constraints including maximum bin capacity, storage capacity and more


7. Exception Management

For large, complex MRO inventories, a “management by exception” approach ensures that inventory review time is focused on high value or problem items. Exception management capabilities include:

Tools for users to define any number of exception conditions with related alert thresholds
The ability to search, sort and filter by exceptions
Mechanisms to exclude changes to reordering parameters for items with exception conditions


8. Inventory Segmentation

Inventory segmentation provides a management framework for inventory that recognizes that a number of different management techniques are required for various item profiles:

Segment the inventory based on characteristics such as usage or holding value, movement frequency and more
Apply structured policies or business rules to the management of each inventory segment, such as manual control of special items or review or potentially obsolete items


9. Spares Risk Assessment

Some MRO inventories will include a high proportion of spares that are high cost, critical, have little or no expected usage and require long lead times to receive. Managing these items requires specific techniques:

Risk modelling of the effect of holding zero, one or two sets
The ability to perform sensitivity analysis around expected mean-time-between-demand and stock-out cost
The ability to model or override all inputs to the stocking decision


10. Spares Pooling

Significant reductions in overall safety stock investment are possible through the pooling or sharing of high value, infrequent items (insurance spares) across multiple sites. To facilitate such arrangements, companies should:

Identify common spares that are suitable for sharing
Establish the optimal number of pooled spares to be held
Determine the optimal location for holding the spares


11. Knowledge Capture

Capturing organizational knowledge relating to inventory items is an important business process in preventing mistakes and re-investigation; the inventory optimization solution should:

Capture notes and commentary about inventory items
Provide an audit trail for decisions
Ensure high data quality for input parameters and classification codes
Provide reminders when reviews are due


12. Reporting Inventory KPIs

Inventory KPI reporting is important to allow progress in improving inventory to be tracked. KPI reporting should include:

A selection of pre-defined inventory management reports
The ability to automatically capture a large selection of pre-defined inventory KPIs
The ability for users to customize reports and statistics
Conclusion

For today’s asset-intensive companies, competitive advantage requires a positive mindset towards innovation and technology. Without technology solutions and best practices, companies are left to struggle with manual processes, standard ERP system functionality, and ad hoc databases or spreadsheets. These manually intensive approaches are prone to error and impossible to sustain on a repetitive basis.

Inventory optimization is just good business. Achieving and maintaining inventory optimization is possible and profitable, with the right tools and the right type of help.


Sumber :
https://www.manufacturing.net/industry40/article/13185006/12-best-practices-of-inventory-optimization?

Related Posts